
Keputusan Via
"Hufff, aku bingung. Apa aku bisa hidup bersama si kulkas? Tapi kalau nolak, apa ayah bunda tidak kecewa? Mereka begitu baik kepadaku, menyayangi aku dengan tulus. Tanpa mereka, aku nggak tahu bagaimana menjalani hidup ini setelah aku nggak punya mama dan papa."
"Mungkin kamu butuh waktu untuk mempertimbangkan hal ini. Silakan kamu pikirkan baik-baik. Kalau ada yang mengganjal, sampaikan saja kepada kami," kata Bu Aisyah.
"Bun, apa Via masih boleh kuliah?" tanya Via.
"Tentu. Tidak hanya kuliah, kamu pun masih boleh bergaul dengan teman-teman kamu," jawab Bu Aisyah seolah tahu apa yang Via pikirkan.
Ada kelegaan terpancar dari wajah Via. Ia masih terdiam, memikirkan pinangan Farhan.
"Kok aku masih bingung, ya? Soalnya Mas Farhan kan orangnya dingin gitu sama aku. Aku nggak begitu mengenal dia meski sering ketemu. Aku lebih mengenal Mas Azka. Tapi nggak mungkin, kan, aku minta Mas Azka saja? Masa Mas Farhan belum nikah malah adiknya duluan. Lagian Mas Azka kan belum bekerja. Tentu ayah dan bunda keberatan. Apalagi latar belakang pendidikan Mas Azka bukan ekonomi. Yang diharapkan Pak Andi agar bisa membantu perusahaan papa kan yang punya latar belakang pendidikan ekonomi. Syukur-syukur yang sudah berpengalaman. Haduuh, kenapa itu ada pada Mas Farhan semua? Aku jadi bingung cari alasan punya alasan buat nolak."
Via mengambil nafas panjang untuk menghilangkan kegundahan hatinya.
"Apa lagi yang harus aku tanyakan kepada ayah dan bunda, ya? Eh, kalau aku nikah sama si kulkas, mau tinggal di mana? Jangan-jangan dia sudah menyiapkan rumah atau apartemen untuk ditempati berdua. Kalau hanya berdua, dia punya banyak kesempatan untuk .... Ah, aku ngeri memikirkannya."
Setelah terdiam beberapa saat, Via bertanya
"Seandainya Via jadi menikah dengan Mas Farhan, kami tinggal di mana?"
Bu Aisyah menatap Pak Haris memberi isyarat meminta pendapat. Sang suami paham lalu memberi jawaban.
"Via maunya bagaimana?"
Via kaget. Ia tidak mengira pertanyaan itu dikembalikan kepadanya.
"Via... Via tidak tahu, Yah."
"Kalau begitu, kita bicarakan bersama besok. Kita juga perlu tahu keinginan Farhan."
"Yang jelas, jangan ada keterpaksaan. Bicarakan masalah secara terbuka. Jadi, tidak ada ganjalan apa pun. Mengerti?" Bu Aisyah menambahkan.
"Seandainya Via mau di sini bersama Ayah dan Bunda, boleh?"
Bu Aisyah tertawa. Pak Haris menyusul ikut tertawa.
"Tentu saja kami tidak keberatan. Apa lagi untuk ikut mengasuh cucu nantinya," jawab Pak Haris.
"Hah? Jadi Ayah menginginkan cucu secepatnya?" tanya Via kaget. Jantungnya berdegup kencang lagi.
"Itu bergantung kepada Allah kapan menitipkan cucu kepada kami. Intinya, kami tidak memaksa anak-anak kami memiliki anak. Itu bukan wewenang kami. Kebahagiaan dan ketenangan dalam rumah tangga anak-anak itu lebih penting," sambung Bu Aisyah bijaksana.
Via bernafas lega.
"Kirain aku disuruh cepet-cepet hamil terus punya anak. Untunglah, ayah dan bunda memang bijaksana. Eh, memang aku menerima lamaran si kulkas itu? Tapi, aku tidak memiliki alasan yang logis untuk menolak. Masa bilang nggak cinta. Terus, aku cinta sama siapa? Ya Allah, aku harus bagaimana ini? Papa, Mama, apa aku harus menikah dengan anak dari orang tua angkatku? Apa manusia kulkas itu bisa menerimaku? Ah, kutanyakan saja."
__ADS_1
"Mmm, boleh Via tanya lagi?"
"Tentu saja boleh. Tanyakan saja apa yang ingin kamu ketahui," jawab Bu Aisyah.
"Apa Mas Farhan menyukai Via? Apa dia bisa menerima Via? Atau dia disuruh Ayah dan Bunda untuk menikah dengan Via?"
Bu Aisyah tersenyum lembut lalu menjawab, "Kami tidak menyuruh Farhan menikahimu. Tapi, kami menawarinya. Beda lo, menyuruh dan menawari. Nah, ternyata Farhan mau. Bunda juga sudah menanyakan kesiapannya menikahimu. Dia bilang siap menerima kelebihan dan kekurangan yang kamu miliki."
Via melongo mendengar penjelasan bunda angkatnya. Dia merasa semakin terpojok.
"Aku benar-benar tidak memiliki alasan lagi untuk menolak. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu. Beri jalan terbaik."
"Via, kami tidak mengharuskan kamu menjawab sekarang. Silakan kamu pertimbangkan masak-masak. Hanya, waktunya semakin sempit. Calon investor itu mau bertemu dalam waktu empat hari lagi. Ingat, jangan ada keterpaksaan!"
Via mengambil nafas panjang, lalu berkata pelan, "Via putuskan sekarang saja, Yah. Bismillahirrahmanirrahim, Via menerima lamaran ini. Via bersedia menikah dengan Mas Farhan."
Pak Haris dan Bu Aisyah kembali saling tatap. Mereka tersenyum lega.
"Alhamdulillah, mudah-mudahan keputusan ini adalah keputusan yang Allah ridhai, menjadi awal yang baik untuk kehidupan kalian nantinya," kata Bu Aisyah.
"Kita harus bicarakan dengan eyang dan Om Andi. Nanti Ayah kabari mereka."
Bu Aisyah membelai kepala Via lembut lalu berkata, "Sekarang, istirahatlah! Bunda dan Ayah juga mau kembali ke kamar.
Assalamualaikum."
Via mengantar ayah dan bunda sampai pintu kamarnya. Setelah menutup pintu kamarnya lagi, ia kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Pandangannya menerawang. Kantuk yang biasanya datang pada jam 9 malam, belum mau hinggap.
"Apa keputusanku sudah benar? Semoga saja begitu. Semoga memang si kulkas itu jodoh yang Allah kirimkan untukku."
Pandangan Via terbentur pada album foto yang tergeletak di meja belajarnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil album foto itu.
Ditatapnya foto-foto keluarganya saat kedua orang tuanya masih hidup. Album itu berisi foto-foto masa kecil Via, saat Via masih TK hingga SD.
Tak terasa air mata mulai merayapi pipinya. Setetes demi setetes jatuh di atas foto.
"Pa, Ma, Via mau menikah. Restui pernikahan ini. Via sangat sedih menikah tanpa kehadiran Papa dan Mama. Via bakal menikah dengan wali hakim. Sebenarnya, Via berat menikah sekarang. Via belum sepenuhnya siap. Insya Allah, demi perjuangan Papa, Via berusaha ikhlas. Semoga bisa menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah, meski begitu mendadak."
Di kamar Pak Haris dan Bu Aisyah, mereka tengah membicarakan keputusan Via.
"Apa kita akan mengadakan resepsi pernikahan secara besar-besaran? Resepsinya mau di rumah atau di gedung? Waktunya kan sudah sangat mepet. Apa bisa kita menyiapkan resepsi dalam waktu dua hari?" Bu Aisyah membuka pembicaraan.
"Wah...wah, yang mau punya menantu, semangat bener? Mas kawinnya apa? Seserahannya apa saja? Baju pengantinnya bagaimana?" canda Pak Haris.
"Ih, kok malah meledek gitu, sih? Ini serius," sergah Bu Aisyah.
__ADS_1
"Iya, ini juga serius. Ayang Bunda kan memikirkan itu juga?"
Bu Aisyah terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan suaminya.
"Nih, ya, jangan terlalu tegang memikirkan pernikahan anak kita. Aku takut ayangku ini malah jatuh sakit."
"Lalu, aku harus bagaimana? Di satu sisi aku bahagia anakku mau menikah. Apalagi dengan anak angkatku yang kusayang, yang kukenal memiliki karakter yang baik. Tapi...."
"Sssttt...anak kita," potong Pak Haris.
"Iya, anak kita, anak angkat kita. Nih, waktu yang kita punya untuk mempersiapkan pernikahan itu sangat singkat. Apa bisa?"
"Menurutku, yang penting mereka menikah secara resmi, sah dalam agama maupun aturan negara. Soal resepsi kita pikirkan nanti. Kan tidak harus begitu nikah langsung resepsi. Aku kira anak-anak bisa menerima hal itu. Resepsi itu kan untuk mengumumkan kepeda orang-orang bahwa mereka suami istri agar tidak menjadi fitnah."
Bu Aisyah menatap suaminya. Ada kelegaan terpancar di matanya. Senyumnya pun merekah.
"Nah, begitu! Kalau senyum begitu kan cantik."
"Kalau nggak senyum berarti nggak cantik?" tanya Bu Aisyah kesal.
"Bukan begitu, kalau senyum Ayang jauh lebih cantik, lebih memesona, lebih.... Aduh!"
Kalimat Pak Haris belum selesai diganti teriakan. Ternyata sebuah cubitan kecil mendarat di pinggang.
"Ni mulai nakal, ya! Anaknya sudah mau jadi pengantin, terus ingat waktu baru jadi pengantin? Mau mengulangi, iya?" ledek Pak Haris.
Bu Aisyah hanya mencebik. Sikap itu dibalas dengan pelukan oleh suaminya.
"Udah, lepasin. Pembicaraan kita belum selesai," kata Bu Aisyah sambil meronta.
Pak Haris melepaskan pelukannya dan bertanya, "Apa lagi?"
"Apa kita tidak perlu membicarakan dengan eyang dan Pak Andi?"
Pak Haris tersentak. Ia bangkit dari duduknya.
"Iya, aku lupa. Sebentar, aku telepon saja mereka. Semoga belum tidur."
****
**Bersambung
Bagaimana tanggapan Eyang Probo dan Pak Andi, ya?
Tunggu episode 53 besok. 😍
Jangan lupa tinggalkan like, ya! Terima kasih 🙏
__ADS_1
Kalau dikasih vote, author lebih berterima kasih. 🙏🙏🙏**