SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Baju Pengantin


__ADS_3

Mobil silver metalik memasuki halaman rumah dokter Haris. Setelah mesin mati, si pengemudi turun dan bergegas menuju teras.


"Assalamualaikum," ucapnya sambil membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Eh, Bunda sudah pulang?" ucap Via.


"Iya, jam terakhir kosong. Bunda izin pulang awal. Sudah salat asar?"


"Mau. Via baru saja selesai wudu."


"Tunggu Bunda sebentar, ya!"


Lima menit kemudian, mereka salat asar berjamaah. Selesai salat, Bu Aisyah mengajak Via pergi.


"Sana, mandi dulu! Habis itu, ikut Bunda!"


"Ke mana, Bun?" tanya Via sedikit bingung.


"Sudahlah, mandi sana! Bunda juga mau mandi."


"Via belum masak buat makan malam, Bun."


"Nanti kita beli saja," sahut Bu Aisyah sambil berjalan ke kamar.


Akhirnya, Via mengalah. Ia bergegas ke kamarnya. Tidak sampai setengah jam, mereka sudah siap.


Saat keluar, mereka berpapasan dengan Azka yang baru pulang dari masjid.


"Bunda sama Via mau ke mana?" tanya Azka.


"Ke butik," jawab Bu Aisyah singkat.


"Ngapain, Bun?" tanya Azka lagi.


"Ah, kamu kepo. Nyiapin baju pengantin buat calon kakak ipar kamulah."


Via kaget. Ia baru tahu kalau mau cari gaun pengantin. Ia juga merinding mendengar sebutan "kakak ipar."


"Bunda, jadi kita mau cari gaun pengantin?" tanya Via.


"Iya. Kenapa?"


"Bukannya pernikahan Via nggak dirayakan, dibuat rahasia?" tanya Via ragu.


"Lalu, apa masalahnya?" tanya Bu Aisyah balik.


"Ya, kita nggak usah cari gaun pengantin. Besok Via pakai baju yang ada, yang Via punya."


"Via, pernikahan kalian memang sederhana dan tertutup. Tapi, bukan untuk main-main. Bunda tidak mau kamu menyesal di kemudian hari karena tidak memiliki kenangan indah saat pernikahan kalian."


Via terdiam. Tak terbersit sedikit pun dalam benaknya akan ada persiapan gaun pengantin.


"Sudahlah, Vi, eh kakak ipar, nurut saja sama Bunda. Kan Bunda sudah pengalaman," kata Azka sambil cengengesan.


Via melotot ke Azka. Cowok itu membalas dengan menjulurkan lidahnya.


"Ya sudah, kami berdua berangkat dulu. Bilangin ke ayah kalau Bunda pergi sama Via, ya!"


"Beres, Bun! Jangan lupa, oleh-oleh buat yang ditinggal di rumah."


Bu Aisyah melotot ke Azka. Yang dipelototi justru tersenyum lebar.


"Kayak anak kecil aja! Sudah, Bunda berangkat sekarang. Assalamualaikum," ucap Bu Aisyah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Jaga calon menantu baik-baik!" teriak Azka.


"Kok hatiku agak sakit, ya. Ah, Via memang pantas menjadi rebutan. Tapi, nggak mungkin aku merebut dari kakakku sendiri. Ya Allah, tolong beri hamba keikhlasan," bisik Azka.


****


Sedan Bu Aisyah telah terparkir di depan sebuah butik di kompleks perbelanjaan. Butik itu tidak besar, tetapi terkesan elegan.


"Assalamualaikum," ucap Bu Aisyah.


"Waalaikumsalam. Eh, Mbak Aisyah. Sudah lama nggak ke sini. Mau ada acara?" tanya seorang perempuan yang usianya terlihat tidak jauh berbeda dengan Bu Aisyah.


"Iya, Jeng. Sini dulu, aku mau ngomong," kata Bu Aisyah sambil menarik lawan bicaranya menjauh dari orang-orang yang ada di butik.


"Anakku mau menikah, tapi belum mau dirayakan dulu. Yang penting resmi. Tolong jaga hal ini. Jeng Fani jangan cerita kepada siapa pun kalau Farhan menikah," kata Bu Aisyah dengan suara berbisik.


"Memang kenapa? Eh, maaf aku kepo," ucap perempuan yang dipanggil Fani.


"Ini ada kaitannya dengan keselamatan keluarga kami. Aku nggak bisa menjelaskan. Terlalu panjang kalau harus diceritakan. Pokoknya aku minta Jeng Fani jaga rahasia, ya."


"Baik, Mbak. Tenang saja, aku kan sudah anggap Mbak Aisyah saudara. Itu calonnya Farhan? Masih muda banget."


"Iya. Belum genap 19 tahun. Tolong pilihkan baju yang sesuai untuk dipakai pas ijab kabul."


"Mau desain khusus? Aku ada rancangan yang istimewa."


"Yang sudah jadi saja. Pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Ini agak mendadak."


" Ok. Mari ikut saya."


Bu Vina, pemilik butik yang juga sahabat Bu Aisyah, melangkah diiringi Bu Aisyah.


"Via, sini!" panggil Bu Aisyah.


"Ini ada tiga koleksi baju pengantin terbaru. Silakan dipilih," kata Bu Fani sambil menunjukkan gaun pengantin yang melekat di manekin.


"Via mau yang mana? Ini semua cocok untuk muslimah," kata Bu Aisyah.


"Via terserah Bunda saja," jawab Via lirih.


"Bingung, ya? Coba Jeng Fani pilihkan! Sekalian untuk Farhan, ya!" pinta Bu Aisyah.


Bu Fani tersenyum. Ia memperhatikan Via dengan saksama.


"Sepertinya yang ini, Mbak," ucap Bu Fani sambil menunjuk gaun berwarna putih tulang dengan hiasan manik-manik yang tidak terlalu banyak.


"Ini sederhana, tetapi elegan. Tidak banyak blink-blink. Cocok untuk gadis yang penampilan kalem," lanjut Bu Fina.


"Bagaimana, Via? Cocok?" tanya Bu Aisyah.


Via mengangguk setuju.


"Mbak Via bisa mencobanya. Nanti kalau ada bagian yang kurang nyaman, bisa kami perbaiki."


Bu Fani melepaskan gaun dari manekin. Lalu, ia berikan kepada Via.


Saat Via sedang berada di kamar pas, Bu Fani memilihkan jas untuk Farhan.


"Ini aku rasa cocok untuk Farhan. Tapi, aku nggak tahu ukuran Farhan. Apa dia tidak ikut ke sini?" tanya Bu Fani.


"Mungkin sebentar lagi datang," jawab Bu Aisyah.


Via keluar dari kamar pas dengan gaun pengantin.

__ADS_1


"Via rasa bagian lengan sedikit terlalu panjang, Tante," kata Via.


"Coba Tante lihat," sahut Bu Fani. Ia mencermati penampilan Via.


"Assalamualaikum. Wah, cantik sekali," kata seseorang yang berdiri di pintu masuk.


Ketiga orang perempuan yang tengah memperhatikan gaun yang dikenakan Via pun menoleh.


"Waalaikumsalam. Farhan! Sini! Kamu coba dulu jas ini. Jangan lihat-lihat Via! Belum halal," ujar Bu Aisyah.


Farhan tersenyum malu. Ia mendekat ke bundanya.


Via menunduk. Jantungnya mendadak disko saat ia tahu Farhan mendekat.


"Aduh, ini kenapa aku jadi deg-degan? Masa sih, gara-gara si kulkas itu mendekat jantungku dag dig dug. Aduuuh...."


Bu Fani memberikan jas yang dipegangnya.


"Silakan dicoba dulu di sana," kata Bu Fani sambil menunjuk arah kamar pas.


Farhan membawa jas tersebut masuk ke kamar pas. Tak lama kemudian, ia sudah selesai dan keluar.


"Saya rasa sudah pas, Tante."


"Gagahnya anak Bunda," celetuk Bu Aisyah.


Via tetap menunduk. Ia pura-pura membetulkan gaunnya.


"Berarti punya Farhan sudah tidak ada masalah. Gaun Mbak Via diperbaiki sedikit, ya."


Via mengangguk. Lalu ia kembali ke kamar pas untuk melepaskan gaunnya.


"Besok sudah bisa diambil, Jeng?" tanya Bu Aisyah.


"Insya Allah bisa. Setelah jam 9, ya!"


"Baik. Kalau begitu, kami pamit dulu. Assalamualaikum." Bu Aisyah menggandeng tangan Via keluar diikuti Farhan.


"Waalaikumsalam."


"Bunda bawa mobil?" tanya Farhan.


"Iya. Kamu mau pulang sekarang atau ...."


"Pulang, Bun"


"Ya, sudah sana. Hati-hati! Bunda mau belanja dulu."


"Bunda juga hati-hati. Farhan duluan. Assalamualaikum, Bunda, calis," ucap Farhan sambil mencium tangan bundanya.


"Waalaikumsalam. Calis?" Bu Aisyah bingung


"Calon istri," sahut Farhan cepat sambil membalikkan badan.


Bu Aisyah tertawa. Sementara Via hanya diam meski dalam hati ia merasa geli.


****


Bersambung


R: Kapan nikahnya, Thor?


A: Sabar! Via juga sabar, kok. Tenang, kalian nggak diundang, tak oerlu nyiapin kado. 😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2