
Farhan berdiri perlahan. Namun, mendadak nyeri terasa menusuk kepalanya. Tangan kanan Farhan reflek memegang kepalanya. Tentu saja Via menjadi panik. Ia segera berdiri
memegangi tubuh Farhan.
Pak Haris dengan sigap membantu Via. Ia menyuruh Via menepi karena Via sendiri belum sepenuhnya pulih. Pak Haris mengkhawatirkan kondisi Via jika menopang beban berat.
Dengan hati-hati, Pak Haris membaringkan tubuh Farhan. Ia memeriksa tanda vital Farhan. Beberapa saat kemudian, dokter senior itu menarik nafas lega.
“Bagaimana, Yah?” tanya Bu Aisyah sambil mendekat.
“Alhamdulillah, tidak ada gangguan yang serius. Mudah-mudahan hasil CT-scan juga bagus. Kita tunggu hingga kondisi Farhan membaik dulu. Nanti kita bawa ke radiologi kalau sudah kuat duduk. Sekarang, biarkan dia beristirahat dulu.”
Mereka menarik nafas panjang. Rasa khawatir mereka sedikit berkurang.
Edi berpamitan keluar. Ia menghubungi anak buahnya yang bertugas pada jam pagi sampai siang. Ia mengecek kesiapan mereka.
Sementara, di dalam ruangan, Via dan Bu Aisyah menunggu Farhan sambil terus memperhatikan keadaannya. Meski dokter Haris sudah mengatakan kalau tidak ada masalah serius, mereka tetap tidak mau mengabaikan begitu saja.
Dokter Haris dan Eyang Probo mengobrol di teras ruangan. Eyang Probo mencecar putranya dengan banyak pertanyaan tentang kondisi Farhan. Kakek tua itu belum sepenuhnya percaya dengan yang dikatakan dokter Haris.
Setelah setengah jam berlalu, Farhan mulai membuka matanya. Ia melihat sekeliling. Pandangannya sedikit kabur.
“Cinta, Bunda, kepala Farhan nyeri. Auh... astaghfirullahal azim,” rintih Farhan.
“Sabar, Nak. Teruslah istighfar,” kata Bu Aisyah menghibur putranya.
Via mengusap kepala Farhan dengan lembut. Sebenarnya, ia sedih melihat kondisi suaminya. Namun, ia tak mau menampakkannya di depan Farhan.
Farhan kembali memejamkan matanya. Dalam hati ia terus melafalkan istighfar.
Pak Haris masuk bersama Eyang Probo. Ia melihat putranya masih memejamkan mata.
“Bagaimana, Yah? Farhan masih kesakitan, tuh,” bisik Bu Aisyah cemas.
“Bunda yang sabar, ya. Cedera Farhan itu kan belum ditangani dengan benar. Mudah-mudahan belum terlambat. Kita tunggu hasil CT scan, ya!” Pak Haris menenangkan istrinya.
“Kapan dilakukan?” tanya Bu Aisyah.
“Tunggu tiga jam lagi. Kan mesti puasa 4 jam. Ayah sudah menghubungi petugas radiologi. Nanti jam 10.30 bagian radiologi akan disterikan. Ini untuk menjamin keselamatan Farhan.” Pak Haris menerangkan dengan sabar.
“Disterilkan?” Bu Aisyah meminta penjelasan.
“Iya. Jam 10.30 sampai jam 11.30, instalasi radiologi tidak digunakan untuk pemeriksaan pasien lain. Biar Farhan terjamin keselamatannya di samping nyaman. Pelayanan hanya terhenti satu jam, kok.”
Bu Aisyah terdiam. Ia memandang wajah putra sulungnya. Rasa sedih, haru, bahagia
bercampur dalam hati.
Via hanya menyimak pembicaraan kedua mertuanya. Ia sebenarnya ingin segera mengetahui kondisi Farhan.
“Ayah tinggal dulu karena belum visit pasien. Nanti Ayah kembali sesudah selesai memeriksa pasien.” Pak Haris berpamitan sebelum meninggalkan ruangan.
Mendadak terdengar notifikasi panggilan masuk melalui ponsel Bu Aisyah. Si pemilik
ponsel pun bergegas mengambil benda pipih nan pintar miliknya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Bunda di mana?” terdengar suara Azka dari seberang.
“Di rumah sakit, nunggui kakakmu.”
“Memangnya Mas Farhankenapa, Bunda?” tanya Azka khawatir.
“Sakit kepalanya kambuh. Ini memang berulang terus,” jawab Bu Aisyah.
“Pindah ke video call ya, Bun,” ucap Azka.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, di layar ponsel Bu Aisyah muncul gambar cowok tampan, anak bungsunya.
“Mana Mas Farhan?” tanya Azka.
“Itu, lagi istirahat. Nanti sekitar jam 10.30 baru dilakukan pemeriksaan di bagian
radiologi,” jawab Bu Aisyah sambil menunjuk ke arah Farhan.
“Siapa, Bunda?” tanya Via seraya menoleh ke Bu Aisyah.
“Azka,” jawab Bu Aisyah singkat.
“Hai Mbak Via! Apa kabar? Itu suami manjamu kenapa?” tanya Azka mulai mengeluarkan pertanyaan isengnya.
“Azka, kakakmu sedang sakit beneran. Kamu jangan meledeknya!” tegur Bu Aisyah.
‘Hehe... Iya, iya, Bunda. Eh, aku mau pulang lo! Ini beneran. Nanti siang aku berangkat. Mas
Farhan bilang mau jitak aku. Please, Mas Farhan bisa jitak sepusnya deh! Yang
penting, jangan sampai bikin benjol. Aku nggak mau kadar ketampananku berkurang,” ucap Azka dengan senyum khasnya.
Farhan membuka matanya. Ia menoleh ke bundanya, memperhatikan sang bunda yang tengah melakukan video call.
“Bunda sedang bicara dengan siapa?” tanya Farhan lirih.
Bu Aisyah yang tengah berbicara dengan Azka tidak mendengar pertanyaan Farhan. Via menjawab pertanyaan suaminya.
“Bunda sedang bicara dengan Dek Azka.”
“Hei, anak nakal! Kapan mau pulang?” tanya Farhan. Suaranya masih terdengar lemah.
Via mendekati Bu Aisyah. Dicoleknya lengan sang bunda.
“Bunda, itu Mas Farhan tanya,” ucap Via.
“Hallo kakakku tersayang! Lemes amat? Memang belum dapat vitamin dari Mbak Via, hem? Kasihan,” ledek Azka.
“Dasar adik ga sopan! Kapan pulang?”
“Kenapa? Kangen?” tanya Azka dengan senyum jahilnya.
“Iya, kangen jitak kamu,” jawab Farhan.
“Bunda, tuh kan Mas Farhan nakal. Masak yang dikangenin bukan aku, adiknya yang cakep dan imut ini. Dia malah kangen jitak aku. Itulah, makanya kepala Mas Farhan sakit. Kuwalat namanya!” Azka mengadu.
“Kuwalat apaan? Nggak ada itu. Anak kecil kayak kamu nggak bakal bikin kuwalat,” bantah Farhan.
Bu Aisyah menggeleng-gelengkan kepala melihat pertengkaran kedua puteranya melalui video call.
Via hanya tersenyum. Ia justru senang Farhan berdebat dengan adiknya seperti itu.
Setidaknya, hal itu bisa menghibur Farhan hingga tidak terlalu merasakan sakitnya.
“Mas Farhan mau adikmu yang ganteng ini pulang? Beliin tiket, dong!” pinta Azka.
“Hei, kamu ni nggak pengertian banget, adik durhaka! Kamu nggak lihat kakakmu sakit? Kok malah minta dibelikan tiket?” gerutu Farhan.
“Kan nggak harus pergi. Beli tiket sambil tiduran juga bisa. Mas Farhan kan CEO, kaya raya. Masa nggak bisa,” bantah Azka.
“Kaya bagaimana? Kartuku saja nggak bisa dipakai, diblokir semua tuh. Kakak iparmu bikin Mas tersandra nggak bisa pulang-pulang.”
Via menahan senyum. Namun, terselip juga rasa bersalah di hati kecilnya.
“Salah Mas juga kenapa ngilang nggak bilang-bilang?” Azka balik menyalahkan kakaknya.
“Mas mesti bilang ke siapa? Kepada rumput yang bergoyang?” sanggah Farhan.
__ADS_1
“Sstt, sudah, jangan berdebat gitu! Azka, jadwal pesawatmu jam berapa?” Bu Aisyah menengahi.
“Jam 12.00, Bunda. Kenapa?”
“Berarti sekitar jam 3 sore landing, ya? Nanti mau dijemput?” tanya Bu Aisyah lagi.
“Nggak usah, Bun. Azka naik ojol saja. Lebih asyik, kok,” tolak Azka.
“Lho, memangnya kamu sendiri, Nak?” Bu Aisyah heran. Ia mengira Azka akan pulang bersama Pak Candra dan keluarganya.
“Iya, Bunda. Azka sendiri. Tadinya mau bareng Om Candra dan keluarga. Tapi, Om Candra akan menyelesaikan masalah Bang Tedi dulu.”
Bu Aisyah berpikir sejenak mengingat nama Tedi.
“Oh, yang bersama Farhan?”
“Betul, seratus untuk Bunda. Pak Candra nggak mau hanya menyuruh anak buah untuk menyampaikan kabar duka sekaligus menyerahkan santunan.”
Bu Aisyah termangu mendengar penjelasan Azka. Ia menjadi kagum terhadap sosok Candra Wijaya yang semula dikira orang kaya yang sombong.
“Selain itu, Dini lagi sakit. Sepertinya anak itu kelelahan,” lanjut Azka.
“Terserahlah. Yang penting, jaga diri baik-baik!” pesan Bu Aisyah.
“Hei kakakku! Sebentar lagi kita ketemu. Siap-siap untuk jadi foto model, ya!” Azka terkekeh.
“Hemm, awas saja kalau aku sudah baikan,” ancam Farhan.
“Nggak boleh dendam, Mas! Dendam itu nggak baik. Ikhlaskan adikmu ini lebih tenar karena ganteng maksimal. Hahaha...! Sampai jumpa nanti sore. Azka mau siap-siap.
Assalamualaikum.” Wajah Azka pun menghilang dari layar ponsel Bu Aisyah.
Farhan menyerahkan ponsel kembali kepada bundanya. Ia membetulkan posisinya.
“Kepalamu masih sakit?” tanya Bu Aisyah.
“Banyak berkurang, Bun. Cuma kadang pandanganku nggak begitu jelas, “ jawab Farhan.
Bu Aisyah menarik nafas panjang. Ia benar-benar prihatin dengan kondisi Farhan.
“Bunda nggak usah khawatir gitu. Farhan baik-baik saja, kok!” Farhan mencoba menenangkan bundanya.
“Halah, kalau kamu baik-baik saja, kenapa sekarang kamu jadi lebih parah dibanding waktu kamu datang?” celetuk Pak Haris, “Kamu nggak usah sok kuat. Sampaikan saja yang kamu rasakan. Kalau kamu tutup-tutupi, iu bisa menghambat kesembuhanmu.”
Farhan memaksa diri menarik bibirnya hingga sebuah senyum terlukis di sana.
“Iya, nanti kalau sama dokter, Farhan sampaikan yang dirasa. Memang ketemu dokter siapa saja? Dokter Haris juga?” tanya Farhan setengah bercanda.
“Kalau dokter Haris sih wajib. Nanti kamu ditangani dokter syaraf dan bedah ortopedi. Kamu kuat duduk, nggak?”
Farhan mencoba bangkit dari posisinya. Via dan Bu Aisyah membantu Farhan.
“Pusing nggak? Kalau pusing, jangan dipaksa untk duduk. Ayah minta perawat membawa brankar ke sini,” ucap dokter Haris.
“Enggak usah, Ayah. Farhan insya Allah kuat kok,” kata Farhan meyakinkan ayahnya.
Ia berusaha turun dari ranjang. Kemudian, perlahan-lahan dia berdiri. Namun, mendadak tubuhnya limbung dan dia terduduk lagi di atas ranjang.
***
kuwalat : terkena akibat perbuatan sendiri yang tidak baik kepada orang lain.
Bersambung
Jangan lupa klik
bintang 5 dan tinggalkan like + komen Kakak ya! Terima kasih 🙏
__ADS_1