SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Rencana Pernikahan


__ADS_3

Notifikasi pesan masuk berulang kali terdengar menandakan banyak pesan yang masuk. Azka mengabaikannya. Ia baru membuka gawai ketika mobil sudah sampai rumah.


Senyum mengembang di bibir yang tidak pernah tersentuh nikotin itu. Jemarinya terus bermain di layar gawainya.


“Pasti dapat kiriman dari Meli. Nanti saja, Ka! Kamu bantu turunkan barang-barang! Bunda mau bagiin suwar suwir sama prol tape,” ucap Bu Aisyah.


“Eh, iya, Bunda.” Azka segera menyimpan kembali gawainya.


Orang-orang beristirahat sejenak di rumah Pak Haris. Mereka meninggalkan kediaman dokter spesialis penyakit dalam itu dengan membawa oleh-oleh khas Jember dari Keluarga Meli.


Azka kembali berkutat dengan benda pintarnya. Berulangkali senyumnya terlukis di bibir yang agak tipis.


Mendadak ia seperti tersengat listrik. Ia mencermati layar ponselnya.


“Ah, beneran ni. Aku tak salah lagi,” desis  Azka.


“Ada apa sih, Ka?” tanya Pak Haris yang keheranan dengan perubahan ekspresi Azka.


“Eh, ini ayah Meli ternyata ....” ucapan Azka menggantung.


“Ternyata apa?” desak Pak Haris.


Azka terdiam sejenak. Ia  mengingat kejadian sebelum berangkat ke Jember.


“Eh, anu itu, Yah. Waktu Azka di rumah Eyang Probo, Azka menerima vicall dari nomor tak dikenal. Anehnya, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Salam Azka pun tak dijawab,” tutur Azka.


“Laki-laki atau perempuan?”  tanya Pak Haris.


“Laki-laki. Azka heran waktu itu. Eyang bilang mungkin itu orang iseng. Azka sudah melupakannya. Tapi, sekarang Azka ingat setelah lihat foto-foto ini.”


“Foto-foto apa?”


“Foto tadi malam di rumah Meli.”


“Foto lamaran?” Pak Haris menegaskan.


“Iya, Ayah.


Pak Haris mendekati Azka. Ia mengulurkan tangan meminta gawai  yang Azka pegang. Sejenak Pak Haris memperhatikan foto-foto tersebut.


“Tak ada yang aneh. Apa hubungannya dengan vicall yang kamu bilang tadi?” tanya Pak Haris lagi.


“Pria yang menelpon Azka itu mukanya persis Pak Roni. Azka yakin itu Pak Roni.”


“Maksudmu, Pak Roni ayahnya Meli?” Pak Haris mengklarifikasi.


Azka mengangguk.


“Buat apa dia meneleponmu tanpa bicara apa-apa? Atau jangan-jangan dia penasaran seperti apa wajah calon menantunya? Mungkin dia khawatir calon menantunya jelek,” gumam Pak Haris.


“Kalau cuma ingin tahu wajah Azka kan  bisa lihat foto Azka di HP Meli nggak usah vicall,” bantah Azka.


“Barangkali ingin lihat langsung, nggak cuma foto. Takutnya yang di HP Meli foto editan,” canda Pak Haris.

__ADS_1


Azka hanya mengangkat bahunya. Ia tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu.


“Sudahlah, sana mandi dulu! Mukamu sudah kucel begitu!” perintah Pak Haris sambil beranjak meninggalkan Azka.


Bukannya segera mandi, Azka masih memainkan gawainya. Ia membalas pesan-pesan yang Meli kirimkan.


*


Usai makan malam keluarga Pak Haris berdiskusi  tentang rencana pernikahan Azka. Meski banyak yang membantu, tetap saja banyak hal yang mesti mereka pikirkan.


“Bun, Mas Edi bilang Azka mesti mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan. Memang apa yang mesti Azka persiapkan?” tanya Azka lugu.


“Foto,” jawab Pak Haris singkat.


“Cuma itu?”


Bu Aisyah tertawa melihat keluguan putranya. Kemudian, ia menjelaskan dokumen yang mesti disiapkan.


“Besok habis ngantar Bunda kamu siapkan yang Bunda sebutkan tadi. Lalu, kamu ke kantor Via menemui Mas Edi. Biar selanjutnya Mas Edi yang urus.”


“Bukannya Mas Edi nyuruh anak buahnya yang namanya Sarno?” sanggah Azka.


“Iya, Mas Edi memang tidak turun tangan langsung. Tapi, memangnya kamu tahu yang namanya Sarno seperti apa, menghubunginya bagaimana?”


Azka hanya nyengir sambil garuk kepala.


“Kamu persiapkan juga mas kawin yang akan kamu berikan. Ujudnya apa, itu juga perlu kamu sampaikan kepada Mas Edi,” lanjut Bu Aisyah.


“Itu buat seserahan, Ka. Yang buat mahar beda lagi. Masa kamu nggak ingin memberikan mahar hasil keringatmu sendiri? Maharnya mau seperangkat alat salat?” ucap Pak Haris.


Azka terdiam. Ia tampak tengah berpikir.


“Bagusnya apa, ya?” gumam Azka.


“Sesuai kemampuanmu! Keluarga Meli kan tidak mempunyai permintaan apa pun,” sahut Pak Haris.


“Bagaimana kalau seperangkat alat salat dan uang tunai?” Azka bertanya meminta pendapat.


“Itu juga bagus. Bunda cuma berpesan, kalau ada uangnya, jangan dibuat hiasan dalam pigura. Kamu masukkan saja ke amplop,” saran Bu Aisyah.


“Memangnya kenapa? Bukankan biasanya mahar itu dihias biar menarik?”


“Kalau mukenany tidak apa-apa. Biasanya selesai acara pernikahan mukena dan sajadah dibongkar lalu dicuci, bisa dipakai lain waktu. Tapi kalau uang dalam pigura, biasanya dipajang di kamar,” tutur Bu Aisyah.


“Kan buat kenang-kenangan,” sahut Azka.


Bu Aisyah menatap putranya gemas.


“Itu yang tidak baik. Mahar yang baik itu ya yang bermanfaat. Kalau buat pajangan, apa manfaatnya?” kata Bu Aisyah.


Azka mengangguk-angguk paham.


“Besok kamu sampaikan juga ke Mas Edi wujud maharmu,” lanjut Bu Aisyah.

__ADS_1


“Itu juga diceritakan, Bun?” tanya Azka kaget.


Pak Haris dan Bu Aisyah terkekeh melihat keterkejutan putranya.


“Ujud mahar akan dicatat petugas KUA. Jadi, kamu harus memberi tahu. Atau kamu yang akan ke Jember ngurus langsung ke KUA?” seloroh Bu Aisyah.


Azka cengengesan mendengar ucapan bundanya.


“O ya, sekalian kalian diskusikan kapan dan bagaimana kita ke Jember lagi nantinya,” lanjut Bu Aisyah.


“Kok malah dengan Mas Edi? Bukannya lebih baik kita diskusikan dengan Mas  Farhan dan Eyang Probo?”


“Ka, kamu nggak ingat siapa kakak iparmu? Dia bagian dari keluarga Wijaya, cucu seorang Adi Wijaya yang sangat menyayanginya. Kita sudah masuk menjadi keluarga mereka. Kamu juga. Selama di Medan, kamu tinggal di rumah Tuan Candra Wijaya. Mereka itu sangat protek terhadap keluarganya. Selalu ada pengawal yang mengawasi kita,” kata Pak Haris menjelaskan.


“Jadi, selama ini kita dikawal?” Azka heran.


“Iya, tapi secara diam-diam. Via sendiri  risih mendapat pengwalan yang ketat. Itu sebabnya mereka mengawal dari jarak yang tidak terlalu jauh dengan pakaian biasa,” lanjut Pak Haris.


“O begitu. Pantas saja Azka merasa seperti dikuntit orang. Kalau di Medan sih anak buah Om Candra terang-terangan mengawal,” sahut Azka.


“Sejak mereka tahu Via putri tunggal Beni Wijaya, mereka memberikan pengawalan khusus. Edi ditugasi untuk mengkoordinir itu semua. Itu sebabnya Via menjadikan Edi asisten pribadinya. Tuan Adi dan Tuan Candra sanat percaya kepada Edi, sudah menganggap Edi sebagai bagian dari keluarga Wijaya,” tambah Bu Aisyah.


“O ya, kapan kita mau mengadakan kenduri, Bun?” tanya Pak Haris.


“Malam Kamis saja, Yah. Kamis kita sudah persiapan ke Jember,” jawab Bu Aisyah.


Azka menatap ayah dan bundanya bergantian.


“Kenapa, Ka? Kamu heran dengan kenduri? Itu bentuk permohonan doa restu untuk kalian sekaligus pengumuman kalau kamu mau menikahi gadis Jember. Jadi, sewaktu-waktu Meli ke sini, jalan berduaan sama kamu, tidak menjadi bahan gunjingan orang.” Pak Haris menerangkan.


Azka hanya mengangguk.


“Kamu tidak usah membandingkan dengan pernikahan kakakmu! Pernikahan Farhan kan diam-diam, jangan sampai diketahui orang. Itu pun Ayah tetap melapor ke RT.


Lagi-lagi Azka hanya menganggu.


“Ayah jangan lupa memberi kabar kepada  kakek Via. Untuk Tuan Candra, sebaiknya kamu saja, Ka. Nanti ayah yang menambahi. Kamu kan sudah seperti anak kandung mereka,” saran Bu Aisyah.


“Siap, Bunda. Sekarang atau besok>’


Terserah kamu,” jawab Bu Aisyah singkat.


Azka dengan cepat mengambil benda cerdasnya. Ia menggeser layar sebentar. Tak lama kemudian ia sudah terhubung dengan seseorang.


*


Bersambung


Maaf episode ini sedikit sekali karena aku sedang konsentrasi ke tugas di dunia nyata. Aku usahakan tetap update tiap pagi. Jangan lupa untuk mampir juga ke karya Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1. Like dan komen kalian kami tunggu.


Barakallahu fiik


__ADS_1


__ADS_2