SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Kejutan 3


__ADS_3

Episode ini mengandung kelebaian tingkat kecamatan. Mohon readers maklum 🙏


🌱🌱🌱🌱🌱


Dokter Haris berkaca-kaca mendengar penjelasan Farhan. Sebenarnya, ia pun merindukan kehadiran cucu. Namun, hal itu ia pendam agar tidak membebani Via.


"Apa kalian baru tahu tadi setelah diperiksa dokter Linda?" tanya dokter Haris.


"Farhan diberi tahu hasil testpack Dek Via tadi pagi. Kalau dia sudah dua kali tes tuh, tadi pagi dan kemarin. Tapi, kami belum mantap. Makanya, kami belum berani memberi tahu ayah bunda sebelum mendapatkan penjelasan dari dokter kandungan," kata Farhan menerangkan.


"Berarti bunda juga belum tahu, nih?" Pak Haris memastikan.


Farhan dan Via kompak menggeleng. Via menatap Farhan seolah minta pendapat.


"Bagaimana kalau kita kasih kejutan kepada yang lain?" usul Farhan.


"Kejutan? Seperti apa?" Via tak mengerti.


"Kita ajak makan malam bersama. Nanti setelah makan kita beri tahu kabar gembira ini," papar Farhan.


"Ayah setuju usul kamu."


Baru saja Via akan menanggapi, dari dalam tasnya terdengar notifikasi panggilan. Ia mengurungkan niatnya berbicara. Diambilnya benda pipih yang dijuluki benda cerdas itu.


"Assalamualaikum," ucap Via begitu tersambung.


"Waalaikumsalam. Kamu kok nggak ke ruko? Sibuk di kantor, ya?" tanya Ratna.


"Enggak. Aku ada urusan penting. Ada sesuatu? Tadi siang aku cek kayaknya aman terkendali," tutur Via.


"Nggak apa-apa, heran aja kamu nggak dateng nggak kasih tahu."


"Untuk menebus kesalahanku, nanti kutraktir makan malam, deh. Kalian bersiap saja habis magrib."


"Di mana? Tempat yang keren, dong!" Nada suara Ratna terdengar penuh harap.


"Tenang, saja. Salsa dan Mbak Mira diajak, ya! Aku tutup dulu. Assalamualaikum."


Via menyimpan kembali ponselnya. Ia kembali fokus ke obrolan dengan Farhan dan ayahnya.


"Kita mau makan malam di mana?" tanya Via.


"Cinta maunya di mana?" Farhan balik bertanya.


"Kalau boleh, di restoran bintang 5 yang ada menu Indonesia. Mbok Marsih, Bu Inah, Pak Yudi, juga Pak Nono kan belum pernah menikmati makan di restoran mewah. Waktu resepsi pernikahan kita, mereka nggak datang. Mereka pernah bilang ingin tahu rasanya makan di hotel atau restoran bintang 5. Sesekali boleh, ya," pinta Via.


Farhan tersenyum. Ia bahagia memiliki istri yang perhatian terhadap orang lain. Ia meminta makan di tempat mewah bukan untuk dirinya, melainkan orang lain.


"Okelah, Mas setuju. Ayah juga, kan?" Farhan melempar ke ayahnya.


"Ayah sih terserah kalian. Eyangmu diundang juga!" Pak Haris mengingatkan Farhan.


Farhan segera menghubungi Edi. Ia menyampaikan rencana makan malam bersama. Edi disuruh reservasi tempat dan membawa orang-orang yang bekerja di rumahnya ke restoran.


"Kalian pulang ke rumah Ayah, ya! Bunda pasti senang kalau kalian datang," ucap Pak Haris.


Farhan dan Via setuju. Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil dan mengikuti mobil Pak Haris.


"Hubbiy, kalau mereka dibeliin baju, gimana? Takutnya mereka minder dengan bajum mereka," usul Via.


"Tapi sekarang sudah hampir asar. Apa tidak terlalu sore?"


Via tersenyum. Ia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan kepada Farhan.

__ADS_1


"Cukup dengan ini. Di Azrina kayaknya ada yang pantas untuk mereka."


"Berarti kita ke ruko?" Farhan mengernyitkan keningnya.


"Suruh Ratna untuk mengambilkan dan pengantaran pakai jasa ojol. Praktis, kan?" Via tersenyum lagi.


Farhan hanya geleng kepala. Ia memang tidak terbiasa belanja online.


"Mas lupa kalau istri Mas seorang bos ol shop," ujar Farhan diiringi gelaknya.


Via tidak menyahut. Ia membuka gambar baju yang ada di Azrina. Setelah mantap, ia mengirim pesan kepada Ratna untuk mengirimkan barang yang dipesan ke rumahnya.


Dalam waktu singkat, Ratna sudah mengirimkan balasan.


[Siap, Bos. Semua ready. Sebentar lagi meluncur bersama mas ojol. Kok kayak lebaran beliin baju? Buat kami ada nggak?]


Via menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyum tipis. Jemari tangannya pun menari menjawab chatt Ratna.


[Kalian boleh pilih masing-masing satu stel deh]


Via membayangkan kehebohan di ruko. Biasanya Ratna akan berteriak histeris kalau mendapatkan sesuatu yang diidamkan.


Sesampai kediaman dokter Haris, mereka masuk rumah yang terlihat sepi itu.


"Bunda pulang jam berapa?" tanya Via kepada Pak Haris.


"Sekitar jam 4. Via, istirahatlah dulu! Farhan, kita siap- siap ke masjid," perintah Pak Haris.


"Ayah nggak praktek?" Farhan menanggapi dengan pertanyaan.


"Hari ini libur. Sebenarnya, Ayah berencana makan malam berdua bunda di luar."


Pak Haris terlihat malu-malu. Farhan dan Via hanya tersenyum.


"Mbak Via, ini ada acara apa? Kok kami diundang makan malam di restoran mewah begini?" Bu Inah bertanya dengan suara lirih.


Via tersenyum lalu menjawab, "Ingin mewujudkan keinginan Bu Inah dan Mbok Marsih. Bukannya ingin tahu rasanya makan di tempat begini?"


Bu Inah dan Mbok Marsih tersenyum malu.


"Tapi, kami belum pernah. Nanti kalau kami nggak bisa pakai alat makan yang aneh-aneh, gimana?" Mbok Marsih tampak cemas.


"Mbok, yang makan bersama kita cuma keluarga. Mbok nggak usah terbebani. Kalau perlu, makan pakai jari tangan saja." Via menenangkan.


Ketika teman-teman Via dari ruko datang bersama Edi, senyum cerah menghiasi bibir Via. Ia menyambut kedatangan ketiga temannya.


Seperti halnya Bu Inah, Ratna pun menanyakan maksud Via mengundang mereka. Lagi-lagi Via hanya menjawab dengan candaan meski garing.


"Tinggal eyang yang belum hadir, nih. Farhan, coba kamu telpon eyangmu. Barangkali perlu dijemput," perintah Pak Haris.


Farhan tidak segera melaksanakan perintah ayahnya. Ia hanya tersenyum tipis. Sebuah tepukan mendarat di bahu Pak Haris.


"Siapa yang butuh jemputan? Memangnya ayahmu ini masih TK?" ucap pria berambut putih tetapi masih tampak gagah.


"Eh, Ayah. Ayah bawa mobil sendiri atau ...." kata Pak Haris seraya mencium punggung tangan ayahnya.


"Atau dijemput? Ayah masih kuat nyetir," ujar Eyang Probo sembari memajukan bibirnya. Ia kemudian menyalami orang-orang yang ada.


Tak lama kemudian, waiters menyajikan hidangan. Mbok Marsih dan Bu Inah melongo melihat makanan yang tersaji di meja. Semua terlihat lezat menggiurkan.


"Ssstt, hapus air liurku! Jangan malu-maluin Mbak Via!" bisik Mbok Marsih.


Bu Inah spontan mengusap mulutnya. Mukanya bersemu merah.

__ADS_1


"Ayo, kita nikmati makan malam kita!" Farhan memecah kekakuan.


Baru saja akan menyantap makanan, mereka dikejutkan pekikan Via. Mata mereka mengikuti arah pandangan Via.


"Kakek, Om Candra!"


Dua pria yang sama-sama mengenakan kemeja biru muda lengkap dengan dasi berjalan mendekat. Senyum lebar mereka kembangkan.


"Silakan bergabung, Tuan," ucap Pak Haris ramah.


"Jangan panggil kami 'tuan'! Kita kan keluarga," kata Pak Candra ramah.


Mereka duduk di kursi yang masih kosong.


"Kakek dan Om kok nggak ngasih tahu Via kalau ke sini?" protes Via.


"Kakek dan om kamu mendapat undangan mendadak dari rekan bisnis. Kami tadi sudah makan. Silakan dinikmati," jawab Pak Adi.


"Besok kami diundang dalam acara perayaan ulang tahun perusahaan. Tadi ada sedikit pembicaraan kerja sama. Rencananya, Om ngabari Via kalau pertemuan dengan klien selesai. Nggak tahunya malah sudah bertemu di sini." Pak Candra kembali menyunggingkan senyum.


"Belum kasih kejutan malah dapat kejutan," bisik Farhan ke telinga Via.


Mendengar bisikan suaminya, Via hanya bisa tersenyum. Dalam hati ia membenarkan ucapan Farhan.


Setelah menghabiskan makanannya, Farhan melihat sekeliling. Para pria sudah menyelesaikan makannya.


"Mas yang bilang sekarang apa nunggu Cinta selesai?" Farhan kembali berbisik.


"Hubbiy saja," balas Via.


Farhan mengiyakan. Ia mengambil tisu untuk menyeka mulutnya terlebih dahulu.


"Ehem, maaf semuanya, saya mau menyampaikan sesuatu. Mungkin yang kami lakukan sedikit lebay, tapi ini mungkin keinginan seseorang yang akan hadir di masa depan."


Orang-orang menatap Farhan dengan tatapan kebingungan kecuali Via dan Pak Haris.


"Kamu ngomong apa, sih? Kok ribet begitu?" tegur Eyang Probo.


"Hehehe, iya nih. Farhan agak grogi. Intinya, Farhan mau ngasih tahu kalau Allah mengizinkan, sekitar 7 bulan lagi saya akan jadi ayah dari bayi dalam kandungan istri saya."


Orang-orang terperangah. Berita yang Farhan sampaikan benar-benar membuat mereka kaget.


"Alhamdulillah!" pekik Bu Aisyah menyadarkan mereka.


Bu Aisyah beranjak dari duduknya lalu menghambur memeluk Via. Pak Adi dan Pak Candra pun tak mau kalah. Mereka bergantian memeluk erat Via.


Ratna tak kalah heboh. Ia melompat dari tempat duduknya. Namun, hal itu mengakibatkan tangannya menyinggung gelas di dekatnya. Air dalam gelas pun membasahi baju Mira.


"Maaf, Mbak. Aku nggak sengaja," ucapnya sambil berlari kecil mendekati Via.


Edi merasa iba melihat Mira basah. Ia mengambil jaket yang semula ia pakai sebelum masuk restoran.


"Pakailah," kata Edi seraya menyodorkan jaket kepada Mira.


Gadis itu tampak ragu. Namun, tatapan Edi seperti memaksanya menerima pertolongan Edi.


Malam itu menjadi malam yang mengesankan. Kebahagiaan Via dan Farhan menyebar ke orang-orang yang menyayangi mereka.


***


Bersambung


Maaf agak telat 🙏

__ADS_1


Mohon tetap dukung author ya. Terima kasih 😘


__ADS_2