
Meski Azka dan Meli hanya melalui video call, keseruan percakapan mereka ditambah Via dan Farhan ternyata membawa efek positif bagi Eyang Probo. Pria berusia lanjut itu tampak bahagia meski tanpa sepatah kata pun terucap.
"Doakan thesis Azka cepat kelar, ya Eyang," pinta Azka sebelum menutup pembicaraan.
Eyang Probo tampak mengangguk meski tak begitu jelas. Via dan Farhan saling melempar senyum. Pak Haris pun ikut tersenyum bahagia.
Via dan Farhan menyimpan kembali gawai mereka setelah vicall usai.
"Pasti habis ini Dek Azka ganti vicall istrinya," gumam Farhan.
"Mereka kelihatannya selalu mesra meski cuma lewat vicall, ya?" Via menyambung.
Farhan mengangguk. Ia pun merasakan hal itu.
"Ayah, malam ini biar Farhan yang jaga Eyang Probo. Lebih baik Ayah istirahat di rumah. Jangan sampai Ayah jatuh sakit gara-gara kurang istirahat," kata Farhan.
"Ayah tetap bisa istirahat kok. Apalagi Ayah kan memang sehari-hari di rumah sakit," kilah dokter Haris.
"Tapi kan beda, Ayah. Via juga setuju malam ini Ayah istirahat di rumah. Biar Mas Farhan yang nunggu Eyang. Nanti Mas Farhan bisa minta ditemani Mas Edi atau Pak Yudi," ucap Via mendukung Farhan.
Akhirnya, dokter Haris setuju. Sore itu ia akan pulang. Ia pun berpamitan kepada Eyang Probo dan kedua anaknya, Farhan juga Via.
"Cinta juga segera pulang. Tolong siapkan baju ganti buat Mas, ya! Kalau nanti bersama Mas Edi, biar Mas Edi yang bawa. Kalau bersama Pak Yudi, ya Pak Yudi yang bawa," pinta Farhan.
"Oke, Hubbiy. O ya, ada sedikit yang mau Via sampaikan."
Farhan menatap wajah istrinya karena tak paham maksud ucapan Via.
"Sini, duduk dulu!" ajak Via.
Mereka menuju ranjang yang diperuntukkan bagi penunggu pasien.
"Kalau pas Eyang Probo tidur, coba Hubbiy ke sebelah jenguk adik Doni," kata Via lembut.
"Oh, itu. Ya, ya. Insya Allah nanti Mas jenguk," ucap Farhan.
Farhan teringat kebaikan Doni. Kalau tidak ada Doni, entah berapa lama lagi dia tertahan di Medan.
"Tolong provokasi dia" bisik Via.
"Maksud Cinta?"
"Biar dia segera menikah."
Farhan tertawa lirih. Ia paham maksud Via.
Setelah berbincang sebentar, Via berpamitan pulang. Pak Yudi mengantarkan Via.
Menjelang pukul 5 sore, Edi datang menenteng tas titipan dari Via. Ia menyerahkan kepada Farhan.
Farhan membuka tas tersebut. Ia tersenyum melihat makanan begitu banyak di dalam tas.
"Apa istriku begitu khawatir suaminya kelaparan?" gumam Farhan.
Farhan mengambil baju ganti. Kemudian, ia ke kamar mandi membersihkan diri.
Baru saja selesai salat isya, Farhan melihat eyangnya sudah terlelap. Farhan menarik nafas lega.
Farhan berpamitan kepada Edi ke ruangan sebelah. Ia bermaksud menjenguk adik Doni.
"Assalamualaikum" ucap Farhan.
"Waalaikumsalam. Masuk!" Terdengar suara pria.
Perlahan Farhan membuka pintu. Tampak seorang anak laki-laki berusia sekitar 15 tahun terbaring lemah.
"Mas Farhan!" seru Doni.
__ADS_1
"Iya. Aku nunggu Eyang malam ini biar ayah bisa istirahat. Sendirian, Don?" tanya Farhan.
"Saat ini iya. Insya Allah nanti ada papa yang menemani," jawab Doni.
Farhan mendekat ke ranjang pasien. Ia tersenyum kepada adik Doni.
"Bagaimana rasanya sekarang? Pusing?" tanya Farhan ramah.
"Iya, Om. Belum kuat duduk."
"Kalau begitu, istirahat saja. Ikuti perintah pak dokter, ya! Insya Allah akan cepat sembuh," hibur Farhan.
"Iya, Om."
"Sekarang kelas berapa?" Farhan kembali menanyai.
"Sepuluh, Om."
Farhan mengangguk-angguk. Ia menoleh ke Doni. Rupanya cowok itu tengah asyik dengan gawainya.
Farhan mengurungkan niatnya bertanya lagi kepada adik Doni karena ada seorang pria datang.
"Ferry sudah makan?" tanya pria itu.
"Belum, Pa," jawab adik Doni lemah.
"Nggak disuapi kakakmu?" tanya papa Doni.
"Ferry nggak mau. Tadi dimurahkan, Pa," adu Doni.
Ferry terlihat cemberut. Farhan tersenyum gemas.
"Eh, ada tamu. Maaf, saya tidak tahu. Sudah lama, Mas?" sapa papa Doni.
"Lumayan, Om. Perkenalkan saya Farhan. Saya sedang menunggui eyang saya di kamar sebelah," jawab Farhan sopan.
"Mas Farhan ini putra Bu Aisyah," kata Doni.
"Apa kita pernah bertemu? Rasanya sudah pernah bertemu, deh."
"Iya, di rumah Om Candra waktu keluarga Om ke sana melamar Dini, putri Om Candra," jawab Farhan.
"Ah, benar. Ya, Mas Farhan juga ada di sana," ucap papa Doni.
"Istri saya keponakan Om Candra," jelas Farhan.
Papa Doni terlihat senang. Ia mempersilakan Farhan duduk.
"Terima kasih, Om. Boleh saya ajak Doni ngobrol di luar?" Farhan meminta izin.
"Tentu! Silakan," sahut papa Doni.
Doni menurut. Ia mengekor langkah Farhan ke teras.
"Sebentar, aku ambil tikar." Farhan meninggalkan Doni sebentar untuk mengambil tikar dan camilan.
"Bagaimana kuliahmu? Lancar?" tanya Farhan sambil mengambil posisi duduk.
"Alhamdulillah, Mas, lancar," jawab Doni.
"Bagaimana dengan Dini?"
"Dini? Dia baik, kok. Kenapa?" Doni balik bertanya.
"Kamu tinggal dekat Dini?" Farhan tidak menjawab, justru bertanya lagi.
"Lumayan dekat. Sekitar 500 meter. Dia ngontrak rumah bersama 3 temannya. Kalau aku, sendirian," jawab Doni.
__ADS_1
"Tiap hari kalian bertemu?" Farhan masih terus bertanya.
"Hampir. Aku hampir tiap hari antar dia ke kampus."
Doni menatap Farhan heran. Dia merasa aneh dicecar terus dengan pertanyaan.
"Sambil dimakan kacang rebusnta, Don. Enak, kok," ujar Farhan untuk mencairkan ketegangan Doni.
"Iya, Mas."
Mereka terdiam sejenak. Farhan melirik Doni sekilas.
"Don, kamu nggak ingin nikahi Dini secepatnya?" tanya Farhan hati-hati.
Doni menghentikan kegiatan mengupas kulit kacang. Ia menatap Farhan tajam.
"Siapa yang nggak ingin nikah, Mas? Aku masih normal, tentu ingin. Tapi, Mas Farhan tahu sendiri aku dan Dini sama-sama masih kuliah," sahut Doni.
"Mahasiswa kan tidak dilarang menikah. Kalau anak SMA, baru belum boleh. Tuh, si Azka juga belum selesai S-2, sudah nikah. Tanpa pacaran, lo."
"Mas Azka sudah menikah? Kapan?" tanya Doni terkejut.
"Akhir liburan semester lalu. Belum ada walimatul ursy atau resepsi di Jogja. Baru dilakukan ijab dan walimah sederhana di Jember, asal istri Azka. Maklum, agak dadakan, yang penting sah," tutur Farhan.
"Dadakan? Kenapa?" tanya Doni.
Farhan menatap Doni. Ia bisa menebak yang Doni pikirkan. Tawanya pun pecah.
"Jangan berpikir adikku menghamili anak gadis, ya!" ucap Farhan di sela tawanya.
Doni memaksa tersenyum. Wajahnya bersemu merah. Ia malu karena Farhan menebak apa yang ia pikirkan dengan tepat.
"Azka menikah dadakan karena keputusan yang mendadak juga. Meli, istri Azka, waktu itu datang ke Jogja. Bunda menanyai dia mau menikah dengan Azka atau tidak. Ternyata mau. Dia pulang, lalu tak lama kami susul dia dengan melamar. Seminggu kemudian, mereka menikah," kata Farhan menjelaskan.
Doni melongo. Ia tidak pernah berpikir ada pernikahan kilat seperti itu.
"Mereka saling mencintai?" tanya Doni.
"Iya. Tidak ada unsur pemaksaan. Saat ini mereka malah LDR-an."
"Kenapa mereka menikah sedangkan posisi berjauhan?" tanya Doni heran.
"Untuk menghindari fitnah dan zina," jawab Farhan mantap.
"Dengan posisi berjauhan, mana mungkin zina?" bantah Doni.
"Bisa saja, zina pikiran. Mereka saling memikirkan yang tidak-tidak. Itu bisa jadi awal zina fisik saat bertemu. Karena merasa rindu, mereka berpelukan, berciuman, dan sebagainya. Itu kan bisa berlanjut ke hal yang jelas dilarang. Sesungguhnya, mendekati zina saja sudah dilarang agama, apalagi berzina. "
Doni merasa tertohok. Ia biasa berduaan dengan Dini, bergandengan tangan, bahkan dia pernah mencium pipi tunangannya. Kata-kata Farhan membuatnya seperti dikuliti.
"Menikah saja, Don! Yang halal itu lebih nikmat," bidik Farhan.
Doni tersenyum malu. Dalam hati ia membenarkan ucapan Farhan.
"Tapi, apa kira-kira Dini mau? Lalu, apa Om Candra juga akan mengizinkan?" gumam Doni ragu.
"Niat baik insya Allah akan mendapat kemudahan. Yakin dulu dengan niatmu! Selebihnya, serahkan kepada Yang Mahakuasa," saran Farhan.
Doni terdiam. Pikirannya dipenuhi dengan yang Farhan ucapkan.
***
Bersambung
Akankah Doni-Dini menyusul Azka-Meli? Bagaimana aktivitas Meli yang jauh dari Azka? Tentang Meli bisa diintip di novel keren Kak Indri Hapsari, ya!
Jangan lupa untuk selalu dukung kami dengan memberikan like dan komentar setiap episode.
__ADS_1
Barakallahu fiik