
Bu Aisyah keluar bersama Via. Mereka tersenyum kepada kedua tamu yang sudah duduk di sofa.
"Apa kabar, Pak Andi?" sapa Bu Aisyah.
"Alhamdulillah, baik," kata Pak Andi sambil berdiri.
Surya ikut berdiri. Tangannya diulurkan, mengajak berjabat tangan. Bu Aisyah dan Via segera mengatupkan kedua telapak tangan mereka di depan dada sambil sedikit membungkukkan badan.
Pak Andi melakukan hal yang sama dengan Bu Aisyah dan Via. Sementara Surya segera menari uluran tangannya.
"Silakan duduk kembali," kata Bu Aisyah ramah.
"Ini Surya, keponakan saya."
"Oh, Nak Surya masih kuliah?" tanya Bu Aisyah seolah belum tahu.
"Sudah lulus, Tante. Sekarang bantu-bantu papah mengelola percetakan."
"O, begitu. Eh, Via, buatkan minuman dulu!" perintah Bu Aisyah.
"Iya, Bun. Permisi." Via bergegas ke belakang. Tak lama kemudian, ia keluar dengan membawa nampan dengan lima cangkir teh di atasnya. Setelah meletakkan cangkir ke meja, ia kembali untuk menyuguhkan makanan kecil.
"Silakan dinikmati," kata Pak Haris.
"Terima kasih," jawab Pak Andi.
Setelah berbincang untuk basa-basi, Pak Andi mulai membahas pokok permasalahan. Pria berusia hampir 50 tahun itu mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya.
"Begini, Mbak. Saat ini PT Wijaya Kusuma sudah mulai beroperasi mendekati normal. Keuangan berangsur membaik. Utang-utang jangka pendek sebagian besar sudah bisa diatasi. Memang, profitnya belum besar. Nah, kebetulan beberapa hari yang lalu ada calon investor besar yang tertarik dengan perusahaan almarhum. Namun, orang itu menghendaki bertemu dengan pemegang saham mayoritas."
Via menyimak penjelasan Pak Andi. Sesekali ia menunduk.
"Perusahaan butuh suntikan dana cukup besar kalau hendak bangkit. Itu yang dikatakan Pak Arman. Dan ini adalah peluang yang menggiurkan. Jarang orang melirik perusahaan yang sudah colaps," kata Pak Andi menutup penjelasannya.
"Semua terserah kepadamu, Via. Silakan kamu pertimbangkan masak-masak. Ini menyangkut masa depanmu," imbuh Pak Haris bijak.
"Iya, Yah. Via nggak bisa mengambil keputusan saat ini."
"Sholat istikharah, mohon petunjuk kepada Allah agar diberikan jalan terbaik," kata Bu Aisyah lembut.
"O ya, kamu ajak Nak Surya ngobrol sana. Kalian kan sama-sama orang ekonomi, masih muda. Obrolan kami para orang tua dengan latar belakang pendidikan beda dengan kalian tentu tidak menarik," cakap Pak Haris.
"Silakan ke ruang keluarga, Mas Surya. Kita bisa ngobrol sambil nonton TV," ajak Via.
Surya menurut. Ia mengekor langkah Via ke ruang keluarga.
Azka tengah duduk sambil asyik menonton TV. Remote control tidak lepas dari genggaman.
"Silakan duduk, Mas Surya," ujar Via ramah.
Azka menoleh. Dahinya mengernyit saat menatap Surya.
"O ya, ini Mas Azka, putra kedua ayah dan bunda. Mas Azka, ini Mas Surya, keponakan Pak Andi," lanjut Via memperkenalkan kedua cowok.
Azka mengulurkan tangan. Surya tampak sedikit ragu menyambut uluran tangan Azka. Mereka berjabat tangan sebentar. Senyum tipis mengembang di bibir Azka.
"Nggak usah sungkan, Bro. Kayaknya umur kita nggak beda jauh.
"Iya, Mas. Aku baru lulus sekitar tiga bulan yang lalu," ucap Surya.
"Jangan panggil mas. Azka saja. Lulus S1?"
__ADS_1
"Iya."
"Sama, dong. Tapi, aku belum wisuda. Sidang skripsi baru dua minggu yang lalu."
"Oh, gitu. Ambil jurusan apa?"
"Agronomi. Nggak populer ya? Hahaha... Kakakku saja tertawa waktu aku diterima di jurusan itu."
"Memang apa yang membuat kamu tertarik ambil agronomi? Aku kira kamu ambil kedokteran seperti papamu."
"Negara kita luas, Bro. Lahan yang belum diolah masih banyak. Subur lagi. Berarti peluang di bidang pertanian kan besar bagi yang mau bekerja penuh inovasi. Negara kita dikenal negara agraris, kan? Untuk dokter, entahlah kok tidak ada yang ikut jejak ayah. Via yang tadinya bilang mau jadi dokter anak, setelah lulus SMA banting setir ambil manajemen."
"Kakakmu ambil apa?"
"Manajemen juga. Tu si Via kayaknya ngekor Mas Farhan, deh."
"Enak aja!" protes Via sambil melempar bantal ke Azka.
Azka menangkap bantal yang Via lempar sambil tertawa.
"Kamu ambil apa?" tanya Azka kepada Surya.
"Akuntansi. Ngikut arahan papah."
"Hebat. Kamu anak yang berbakti. Kalau ayah kami nggak pernah mengarahkan anak-anak ambil jurusan tertentu. Kami bebas."
"Aku nurut biar kerja dibantu juga. Kalau aku nggak nurut papah, lulus kuliah harus cari kerja sendiri. Iya kalau dapat yang bagus, kalau enggak? Repot, kan? Papah juga gak akan bantu kalau kemauannya nggak dituruti."
Azka dan Via mengangguk-angguk.
"Sekarang kamu sudah kerja?" tanya Azka lagi.
"Oh, gitu."
"Eh, kakakmu mana?"
"Mas Farhan lagi di kamarnya. Semedi kali tu anak."
"Oh, namanya Farhan. Sudah berkeluarga?"
"Iya. Dia masih single. Tauk tuh, belum laku juga."
"Memang kakakmu umur berapa?"
"Seperempat abad."
"Tok..."
"Aduh!" Azka menjerit.
Ternyata sebuah jitakan mendarat manis di kepalanya.
"Siapa yang nggak laku?"
"Eh, Mas Farhan. Itu, Mas---a---anu---baju Via ada yang nggak laku," jawab Azka sedikit tergagap.
"Jangan bohong!"
"Siapa yang bohong?"
"Nggak usah pura-pura. Dikira aku nggak dengar yang kalian bicarakan, hem?"
__ADS_1
Via menutup mulutnya menahan tawa. Sementara Surya terlihat gugup melihat Farhan.
"Iyalah. Kalau emang udah nguping, ngapain nanya?" gerutu Azka.
"Mau memastikan aja. Ternyata adikku suka menggunjing, tidak jujur...."
"Stop! Nggak sejelek itu, kali."
Farhan hanya mencebik. Ia mengambil posisi duduk di samping Azka.
"Ini siapa?" tanya Farhan sambil melihat ke Surya.
"Sa---saya Surya, Mmass," jawab Surya grogi.
Farhan mengulurkan tangannya lalu membalas, "Farhan, kakaknya Azka yang paling ganteng.
Via terkejut. Tawanya hampir meledak. Untunglah, ia masih bisa menahan.
"Diiih, ternyata si kulkas punya tingkat kepedean tinggi," bisik Via dalam hati.
Surya tampak gelisah. Cara duduknya menunjukkan ia tidak nyaman.
"Wah, ternyata kalian berempat ada di sini. Anak-anak muda berkumpul tentu membahas hal yang seru." Tiba-tiba Pak Haris muncul dari ruang tamu.
"Ii--ya Om," sahut Surya.
"Seru apanya? Ni ada makhluk aneh merusak suasana," gerutu Azka dalam hati.
"Nak Surya, om kamu memanggil," lanjut Pak Haris.
"Oh, iya. Baik Om." Surya segera berdiri dan kembali ke ruang tamu.
"Huhhh, akhirnya lolos dari makhluk aneh."
"Sudah malam, mari kita pulang. Lain waktu bisa kita sambung lagi," ajak Pak Andi.
"Baik, Om."
"Mas Haris, kami pamit dulu. Mari Bu," kata Pak Andi.
"Ya, ya, silakan. Hati-hati di jalan! Salam untuk keluarga," balas Pak Haris.
"Mari Om, Tante," pamit Surya.
Bu Aisyah bergegas memanggil Via. Tak lama kemudian, ia sudah kembali bersama Via.
"Mbak Via, kami pulang dulu. Jangan lupa untuk memikirkan pilihan Mbak Via," ucap Pak Andi.
"Ya, Pak. Terima kasih atas bantuan Bapak selama ini," balas Via sopan.
Mereka mengantarkan kedua tamunya sampai teras depan. Setelah mobil Pak Andi tidak kelihatan, barulah mereka masuk.
Dalam perjalanan, Pak Andi mulai menanyai keponakannya. Ia ingin tahu tanggapan sang keponakan terhadap Via.
***
Bersambung
Terima kasih kepada pembaca yang setia. Dukungan berupa krisan, like, rate 5 dan vote sangat Author harapkan.
Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim muslimah.🙏
__ADS_1