
Sebuah taksi berhenti di depan rumah Pak Haris. Semua orang menoleh, memperhatikan sosok gadis yang baru turun dari taksi tadi.
Ia melenggang santai mendekati keluarga Via yang tengah bersiap-siap. Yang didekati pertama adalah Bu Aisyah. Ia mencium tangan bunda dari Farhan dan Azka dengan takzim.
“Aku kira nggak datang. Ayo, bantuin sini!” seru Via.
Ratna menyeret koper kecilnya mendekati Via.
“Ini yang kemarin belum ada. Tadi malam barangnya datang, langsung kukemas,” kata Ratna sambil menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus seperti kotak yang Azka masukkan.
“Apa itu, Rat?” tanya Azka penasaran.
“Gamis pesta satu set,” jawab Ratna.
Azka meraih kotak yang baru Via terima dari Ratna. Ia mengamatinya sebentar.
“Untuk Meli?” tanya Azka.
“Siapa lagi? Masa buat bapaknya,” jawab Ratna asal.
Azka menghitung kotak yang tersusun rapi di jok belakang setiap mobil. Lebih dari 10 kotak.
“Kenapa, Dek? Heran dengan banyaknya hantaran?” tanya Via dengan senyum dikulum.
“Iya. Pantas, bunda mengatakan setidaknya butuh tiga mobil. Aku kira dua mobil cukup karena kita kan hanya bersepuluh. Bagasi penuh dengan koper. Kalau kotak-kotak itu ditumpuk, rusak,” gumam Azka.
“Itu masih ditambah lagi nanti. Kue-kue basah nggak mungkin bawa dari Jogja. Bunda pesan di Jember,” sahut Bu Aisyah.
Azka hanya melongo. Ia tidak mengira begitu banyaknya pernak-pernik lamaran.
“Kok bengong? Emang waktu Dini dilamar Doni, kamu nggak perhatiin, Dek?” tanya Farhan sambil menepuk bahu adiknya.
“Enggaklah. Aku cuma lihat orang berlalu-lalang bawa barang. Aku nggak ngitung jumlahnya. Waktu Mas Farhan nikah kan nggak gini,” jawab Azka.
Bu Aisyah tertawa mendengar jawaban polos putranya.
“Waktu kakakmu nikah, yang jadi orang tua Via kan Bunda sendiri. Terus, masa pakai hantaran begini? Beli sendiri, pakai sendiri, nggak seru dong. Lagian waktu itu kan yang dipikirkan menikah resmi.”
Via tersenyum getir mendengar ucapan Bu Aisyah. Ia teringat kedua orang tuanya. Namun, pikiran itu segera ditepis.
“Sudah siap?” tanya Pak Haris.
“Sudah. Ayo, semua masuk!” ajak Farhan.
Ratna bergabung bersama Bu Aisyah dan Azka dalam mobil yang dikemudikan Pak Nono. Via, Farhan, dan Bu Inah dalam mobil yang dikemudikan Edi. Sementara, Pak Haris menemani Eyang Probo di mobil yang dikemudikan Pak Yudi.
“Mas Edi tidak lupa booking hotel, kan?” tanya Farhan.
“Tentu sudah, Mas. Rumah makan yang akan kita singgahi saat istirahat makan siang juga sudah,” jawab Edi tanpa mengalihkan tatapannya.
“Terima kasih. Mas Edi memang top,” ucap Farhan tulus.
__ADS_1
Edi menyunggingkan senyum tipis. Ia menghentikan mobil saat lampu menyala merah.
“Maaf sebelumnya. Boleh saya usul?” tanya Edi berhati-hati.
“Soal apa?” Farhan balik bertanya.
“Untuk pernikahan Mas Azka.”
“Menurut Mas Edi bagaimana?”
“Apa nggak sebaiknya keluarga Mas Farhan pakai pesawat? Soal barang-barang seserahan bisa dibawa dulu. Saya bisa menyuruh orang kepercayaan saya. Di Jember, kita bisa menyewa mobil,” tutur Edi.
“Iya, Mas. Kemarin juga aku mikirnya gitu. Tapi, tiket ke Jember sudah habis. Kalau booking jauh-jauh hari mungkin masih bisa.”
“Kita bukan keluarga Tuan Alex yang bisa pergi sewaktu-waktu menggunakan pesawat pribadi,” gumam Via.
Farhan menoleh ke Via.
“Kamu ingin punya pesawat pribadi, Sayang?” tanya Farhan.
Via menggeleng sambil tersenyum.
“Kita nggak membutuhkannya. Toh kita tidak sewaktu-waktu bepergian menggunakan pesawat. Seminggu sekali saja tidak. Berarti, pesawat itu lebih banyak nganggur. Itu pemborosan,” ucap Via.
Farhan tertawa. Hal semacam ini membuatnya makin mengagumi sang istri. Kesederhanaannya tak memudar.
Sementara itu, Farhan berkali-kali melihat ponselnya. Ia seperti reporter, melaporkan posisi setiap satu jam kepada Meli.
“Nggak semua. Aku dan Lisa yang banyak bungkusin tuh,” celetuk Ratna.
“Lisa? Oh, karyawati itu. Maksud aku, yang mikirin ini itunya. Paling kamu tinggal ngikut instruksi,” sanggah Azka.
Ratna hanya nyengir. Bu Aisyah pun geleng-geleng kepala.
“Iya, Via yang memikirkan semua. Anak itu cepat sekali mikirnya. Dalam sekejap semua beres. Bahkan, ia juga yang memesan kue-kue basah di Jember. Nanti sore mereka mengantarkan pesanan ke hotel,” kata Bu Aisyah.
“Perhiasan satu set itu juga Mbak Via yang beli?” tanya Azka lagi.
“Iya. Kemarin begitu Bunda dapat kabar dari Meli kalau ayahnya memberi lampu hijau, Bunda telepon Via. Dia langsung gerak cepat pesan ke Ratna bungkusin baju-baju, tas, dan mukena itu. Kalau perhiasan, skin care, perlengkapan mandi, dan sepatu, dia memesan kepada temannya.”
Azka mengangguk-angguk. Ia menghitung-hitung harga semua barang itu.
“Habis berapa jeti buat itu semua? Duh, Mas Farhan beruntung banget punya istri sebaik Via eh Mbak Via. Seandainya aku kuliah di jurusan ekonomi .... Haish, aku nggak boleh mikir yang aneh-aneh. Aku sudah memutuskan memilih Meli sebagai pendamping hidup.”
Bu Aisyah memperhatikan gerak-gerik Azka yang terlihat aneh.
“Kenapa, Za?”
“Eh, enggak. Azka cuma lagi mikir berapa banyak yang Mbak Via keluarkan buat itu semua? Yang di Azrina habis berapa, Rat?” Azka menutupimperasaan yang sebenarnya.
Ratna hanya tersenyum. Ia menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Kamu nggak tahu apa lupa? Atau nggak boleh kasih tahu?” cecar Azka.
“Yang terakhir,” jawab Ratna datar.
Azka mendengus kesal. Ia tidak ingin bertanya lagi soal harga barang.
“Memang kalau kamu tahu, kamu mau ganti? Percuma, kakakmu nggak bakalan menerima,” ucap Bu Aisyah.
Azka hanya diam. Ia tahu kalau Via pasti ikhlas melakukannya.
“Itu inisiatif Mbak Via atau Bunda yang minta?” tanya Azka.
“Bunda yang minta? Yang benar saja! Tentu saja Bunda nggak mungkin memintanya. Via sudah merancang sebelum Meli pulang. Dia cari tahu ukuran Meli secara diam-diam, bahkan memesan kebaya juga. Bunda nggak bisa memperkirakan harga kebaya sebagus itu yang dibuat dalam waktu singkat. Hanya 3 hari, lo!”
Azka melongo mendengar penjelasan bundanya. Ia semakin tahu kebaikan hati kakak iparnya.
“Lalu, Bunda nyiapin apa saja? Semuanya disiapkan Mbak Via?”
“Bunda hanya menyiapkan makanan khas Jogja.”
“Mbak Via dari dulu memang loyal. Dia biasa berbagi. Kami biasa dibelikan barang-barang yang harganya terbilang mahal bagi kami. Nyonya Wirawan membiasakan itu semua,” celetuk Pak Nono.
Azka hanya mengangguk. Kekagumannya terhadap Via makin bertambah. Namun, ia segera menghentikan perjalanan angan tentang Via. Ia tak mau hatinya menjadi bimbang.
Perjalanan panjang mereka tempuh. Seharian mereka di dalam mobil, berhenti sejenak hanya untuk salat dan makan siang. Untunglah, sudah ada tol yang membuat perjalanan lebih lancar. Menjelang maghrib, mereka sampai hotel.
“Kita ke rumah Meli malam ini atau besok?” tanya Farhan sambil menurunkan koper.
“Malam ini. Rencana setelah salat isya kita ke sana,” jawab Via.
Mereka segera masuk ke hotel untuk beristirahat sejenak juga salat. Seserahan yang akan dibawa ke rumah Meli tetap berada di mobil, hanya dua kotak dipindahkan ke mobil lain. Mereka hanya akan menggunakan dua mobil agar tidak terlalu mencolok.
Pesanan kue basah pun diantar tepat waktu. Kue yang sudah dikemas cantik itu segera disusun di bagasi.
Selepas isya, mereka bersiap ke rumah Meli. Azka sudah mengenakan hem batik warna coklat muda. Pak Haris memakai batik coklat tua, sama dengan gamis yang dikenakan Bu Aisyah. Farhan dan Via juga mengenakan baju serimbit nuansa kecoklatan. Eyang Probo tak ketinggalan, memakai hem batik dengan warna senada.
Dua mobil yang dikemudikan Edi dan Pak Yudi meluncur dengan kecepatan sedang menuju kediaman Pak Roni. Jarak dari hotel ke rumah Meli tidaklah jauh.
Azka tampak gelisah duduk di samping Pak Yudi. Ia terlihat tegang. Sebenar-sebentar tangannya mengusap dahinya yang mengeluarkan sedikit keringat. Padahal, AC mobil sudah dinyalakan.
Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai kediaman keluarga Meli. Mereka bergegas turun begitu mesin mobil dimatikan. Beberapa orang berdiri di teras bersiap menyambut mereka.
*
Bersambung
Bagaimana prosesi lamaran Azka ya? Lancarkah? Bagaimana persiapan Meli dan keluarganya menyambut Azka? Silakan baca di novel Kak Indri Hapsari, Cinta Strata 1.
Jangan lupa tetap dukung kami dengan meninggalkan jejak like dan komentar.Untuk vote, seikhlasnya d yaeh. Terima kasih
__ADS_1