
Maaf Via terlambat hadir. Dari kemarin sibuk dalam rangka peringatan HUT Proklamasi di RW. Belum selesai, sih.
Semoga readers maklum 🙏
🌱🌱🌱🌱🌱
Pembicaraan dengan Mira di akhir pekan membawa perubahan besar dalam diri Edi. Ia terlihat begitu bersemangat menjalani hari-harinya. Senyumnya sering mengembang menghiasi bibirnya.
Ia baru kali ini merasakan ketertarikan terhadap sosok gadis. Selama ini dia tidak memikirkan sosok yang akan menjadi pendamping hidupnya. Kehidupan rumah tangga kedua orang tuanya menjadi cermin bagi Edi hingga ia trauma.
Selama ini Edi gamang untuk mengikat seorang perempuan dalam ikatan sakral bernama pernikahan. Ia khawatir akan menyakiti sosok yang tak berdosa karena kandasnya ikatan itu. Ia sudah menjadi korban tatkala ikatan pernikahan tercabik.
Berbulan-bulan ia tinggal bersama keluarga Farhan membuat pandangannya akan rapuhnya pernikahan sedikit demi sedikit terkikis. Ia melihat indahnya hubungan Farhan dan Via. Edi pun menangkap kemesraan antara dokter Haris dan Bu Aisyah meski tidak vulgar.
“Mas Edi kapan melamar Mira secara resmi?” tanya Farhan suatu sore.
“Insya Allah dua bulan lagi. Saya minta izin pulang kampung, Mas,” jawab Edi.
“Iya, Mas. Terserah Mas Edi kapan baiknya. Tapi, mengapa menunggu dua bulan lagi?”
“Saya ingin memastikan proyek dengan Garuda Corp berjalan sesuai rencana. Setelah proyek itu jalan, saya baru bisa tenang. Meski saya cuti tidak lebih dari seminggu, saya tidak mau kecolongan.”
Farhan tersenyum mendengar penuturan Edi. Ia kagum akan loyalitas pria itu.
“Terima kasih atas perhatian Mas Edi. Meski Mas Edi belum pernah mengambil cuti, Mas Edi tidak serta merta mengambil cuti kapan saja. Saya salut akan loyalitas Mas Edi,” kata Farhan tulus.
“Ini sudah menjadi tanggung jawab saya. Jasa Pak Candra begitu besar. Saya sudah berjanji akan mengabdi kepada beliau dan orang yang beliau putuskan sebagai tempat untuk saya mengabdi.”
Farhan mengangguk-angguk sambil menepuk bahu pria bertubuh kekar itu. Menjelang azan magrib berkumandang, Farhan berpamitan kembali ke kamar.
***
Hari berganti hari, minggu pun berlalu. Tak terasa kandungan Via memasuki akhir trimester kedua. Perut Via sudah tampak membuncit.
Karena Edi sedang pulang kampung, Farhan meminta Pak Yudi mengantar Via ke mana pun. Sedangkan ia lebih sering mengemudikan sendiri. Jarang ia meminta Pak Nono mengemudi. Pak Nono lebih sering mengurusi rumah.
Seperti siang ini, Farhan mengajak Via berbelanja keperluan bayi. Ia meminta Pak Yudi mengantar mereka.
“Cinta, kita jalan-jalan, yuk! Sekalian belanja untuk anak kita,” ajak Farhan.
“Masih dua bulan lebih lahirnya. Apa nggak besok saja kalau sudah 8 bulan?” kata Via.
“Biar kamar bayi bisa disiapkan dari awal. Kalau nunggu satu dua bulan lagi, perutmu makin besar. Cinta nanti lebih mudah lelah, lo!”
“Iya juga. Kita buat daftar belanja dulu, yuk! Biar tidak ada yang terlewat,” usul Via.
Farhan setuju. Mereka mencatat keperluan bayi mulai dari box, pakaian, bedong, selendang, juga keperluan mandi. Keperluan untuk Via setelah melahirkan pun dimasukkan dalam daftar.
Setengah jam kemudian, mereka berangkat.
“Kita kan belum tahu jenis kelamin anak kita. Pilih yang warna netral, ya!” usul Via saat mereka memasuki Baby Shop.
“Warna netral?”
“Iya. Kalau pink kan identik dengan cewek, kalau biru identic dengan cowok. Kita pilih warna kuning, hijau, atau putih. Tapi, kalau baju jangan putih, ya!” kata Via lagi.
“Oke. Kita mulai dari boks yuk!” ajak Farhan.
__ADS_1
Mereka memilih boks bayi yang berwarna putih dilengkapi kelambu berwarna sama. Sementara untuk kasur, Via memilih warna hijau muda. Mereka juga memilih nakas dengan warna sama dengan box, putih.
Via tampak antusias saat memilih baju bayi. Berbagai macam baju dengan bergambar lucu sudah masuk troli. Sepatu dan topi juga Via pilih.
“Ini apaan, Hubbiy?” tanya Via saat melihat baju model koko yang baru Farhan masukkan ke troli.
“Baju koko model jumper. Bagus, lo!” ujar Farhan.
“Kapan makainya?” Via mengerutkan kening.
Farhan meraih baju yang baru ia masukkan ke troli. Ia menunjukkan ke Via.
“Lihat, nih! Ini kecil, Cinta! Anak kita bisa pakai saat akikah. Lucu, kayaknya,” jawab Farhan sambil tersenyum membayangkan anaknya memakai baju koko.
“Kalau anak kita perempuan?” Via mengingatkan.
Farhan menepuk jidatnya. Ia terkekeh menyadari kalau anaknya belum tentu laki-laki.
“Cinta cari baju cewek yang lengkap dengan jilbab deh!” usul Farhan.
“Berarti, salah satu tidak akan dipakai,” ujar Via sambil mencari baju putih lengkap jilbab ukuran new born.
“Biar saja. Kan bisa buat adiknya,” jawab Farhan santai.
Via membelalakan mata. Ia menggelengkan kepala.
“Satu saja belum lahir sudah memikirkan adiknya,” gumam Via.
Farhan masih bisa mendengar gumaman Via. Ia hanya senyum-senyum tanpa menanggapi dengan perkataan apa pun.
“Eh, ini apa lagi?” Via melihat ada baju berdasi saat ia memasukkan baju pilihannya.
“Ini untuk anak umur 3 tahun. Masih lama makainya. Itu pun kalau anak kita laki-laki. Kalau perempuan?” protes Via.
“Empat tahun lagi,” sahut Farhan cepat.
Via membelalakkan mata lagi. Empat tahun? Itu sama saja Farhan mengharapkan ia segera hamil lagi dalam waktu setahun setelah kelahiran anak pertama.
“Hubbiy…!” pekik Via lirih.
Farhan terkekeh melihat wajah istrinya yang menahan geram. Ia merasa Via justru makin menggemaskan.
“Nggak apalah. Kan tiga atau empat tahun lagi masih ada model baju seperti ini. Aku suka banget sama modelnya,” kilah Farhan.
Via mengalah. Ia membiarkan Farhan memilih baju yang ia sukai. Toh dia yang membayar semua barang belanjaan mereka.
Sudah satu jam mereka memilih perlengkapan bayi. Dua troli telah penuh.
“Coba Cinta cek dulu daftar keperluan bayi kita!”
Via mengambil daftar belanja Ia memperhatikan catatan yang telah ia buat.
“Keperluan buat Via yang belum. Apa besok lagi? Lihat, belanjaan kita sudah banyak. Apa muat dimasukkan mobil?” ujar Via ragu.
“Nanti minta pihak toko yang mengantar. Kita pilih saja. Coba, apa saja kebutuhan untuk busui,” kata Farhan sambil mengambil catatan dari tangan Via.
Mereka menuju ke bagian perlengkapan untuk ibu. Via memilih baju menyusui berbahan kaos. Ia juga memilih bra menyusui, brast pad, breast pump, bantal menyusui, tas ASI, juga kulkas ASI.
__ADS_1
Setelah semua barang yang ada di daftar mereka pilih, Farhan pun pergi kasir untuk membayar belanjaan mereka. Via menunggu di bangku yang tersedia sambil sesekali memijat betisnya yang terasa sedikit pegal.
“Yuk, keluar. Biar mereka yang mengirimkan semua belanjaan kita. Mas sudah telepon Bu Inah untuk menerima. Cinta ingin ke mana sekarang?” kata Farhan sambil memasukkan ponsel ke saku celana.
“Bagaimana kalau ketemu bunda? Sekalian kita ngasih tahu kalau minggu depan kita mengadakan pengajian untuk acara tingkeban?” usul Via.
“Boleh juga. Ayo!” Farhan membantu Via berdiri. Kemudian, ia menggandeng tangan Via menuju tempat parkir.
Pak Yudi segera melajukan mobil menuju kediaman dokter Haris. Butuk waktu setengah jam untuk sampai rumah tempat Farhan menghabiskan masa kecil hingga remajanya.
“Alhamdulillah, anak Bunda sehat. Bagaimana cucu Bunda?” tanya Bu Aisyah setelah mereka duduk di ruang keluarga.
“Alhamdulillah sehat. Perkembangannya bagus kata dokter,” jawab Via sambil mengelus perut buncitnya.
“Syukurlah kalau begitu. Kalian sudah tahu jenis kelaminnya?” tanya Bu Aisyah lagi.
“Belum, Bunda. Kami sengaja tidak pernah menanyakan tentang hal itu. Kami juga meminta dokter tidak memberi tahu kami. Biar jadi surprise. Yang penting kami tahu perkembangannya bagus,” kata Farhan menjelaskan.
Bu Aisyah mengangguk-angguk. Ia merasa lega dan bahagia.
“Bunda senang mendengarnya. Via tetap jaga asupan nutrisi agar janin tetap terjaga kecukupan gizinya. Jangan sampai stress juga. Kalau urusan perusahaan terlalu berat, Edi suruh menghandel. Kalau perlu suamimu juga bantu.”
Via tersenyum mendengar ucapan bundanya. Ia bahagia dengan perhatian yang Bu Aisyah berikan.
“Mas Edi akan pulkam, Bun. Alhamdulillah, semua berjalan lancar. Mas Edi sudah bekerja keras memastikan segala sesuatunya seperti yang seharusnya sebelum ia pulang kampung,” jawab Via.
“Pulang kampung? Tumben? Ada sesuatu?” Bu Aisyah memberondong dengan pertanyaan.
“Mas Edi mau minta restu kepada orang tua untuk menikah,” jawab Farhan.
“Menikah? Edi mau menikah?” tanya Bu Aisyah lagi.
“Iya, Bunda. Ia mau meminta ibunya melamar Mira.” Farhan menjawab lagi.
“Mira teman Via?” Bu Aisyah seakan tak percaya,
“Iya, benar. Mereka akan melangsungkan pernikahan jika orang tua merestui,” kata Via.
Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Bu Aisyah. Meski Mira, Ratna, dan Salsa bukan siapa-siapanya, Bu Aisyah sudah menganggap mereka keluarga. Oleh karena itu, ia merasa bahagia mendengar rencana pernikahan Mira.
“Semoga Ratna dan Salsa juga segera mendapat jodoh yang baik,” ucap Bu Aisyah.
“Aamiin,” sahut Farhan dan Via bersama.
Mereka kemudian membicarakan rencana tingkeban yang akan diadakan seminggu lagi. Bu Aisyah memberikan banyak nasihat kepada Via dakam menjaga kandungan hingga melahirkan.
***
Bersambung
Mohon tetap dukung author dengan memberi like dan komentar. Yang mau sedekah vote, Author terima dengan senang hati teriring ucapan terima kasih 🙏
Sambil menunggu up lagi, baca novel bagus ini, yuk!
__ADS_1