SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXV


__ADS_3

Sinar matahari mulai menerobos lewat ventilasi. Semua orang di rumah sibuk mempersiapkan aktivitas rutin mereka. Kecuali Via. Dia tidak ke sekolah dan tinggal menunggu saat seleksi masuk perguruan tinggi.


Keseharian Via lebih banyak di perpustakaan keluarga. Ia betah menghabiskan waktu di ruangan itu untuk melahap buku-buku di sana.


Ia sedang belajar keras ilmu sosial. Ya, Via memutuskan tidak jadi mengambil kedokteran.


Hal itu cukup mengagetkan Bu Aisyah. Sang bunda tahu kalau Via bercita-cita menjadi dokter anak.


"Kenapa nggak jadi masuk kedokteran? Apa kamu khawatir biayanya mahal?" tanya Bu Aisyah begitu tahu Via tidak jadi mendaftar di Fakultas Kedokteran.


" Sebenarnya alasan utamanya seperti itu. Tapi kalau aku jujur tentu Bunda akan memaksaku masuk kedokteran. Terpaksa aku mengatakan alasan lainnya."


"Bun, Via ingin masuk ke manajemen. Waktu pulang sekolah sebelum kecelakaan, Via pernah bertemu Pak Andi. Sampai sekarang Pak Andi masih berusaha memulihkan perusahaan almarhum papa meski tidak bisa sebesar dulu. Setidaknya, perusahaan papa masih bisa menghidupi karyawan yang masih setia dan menggantungkan hidupnya dari perusahaan itu. Pak Andi tidak tega kalau harus memecat banyak karyawan karena perusahaan tutup. Via kasihan kepada Pak Andi yang harus bekerja keras untuk membantu almarhum papa. Via harus bisa membantu Pak Andi. Itu sebabnya Via ambil manajemen."


"Kalau memang itu alasanmu, Bunda akan mendukung. Kamu juga bisa minta bantuan Farhan."


Begitulah. Via harus belajar ekstra karena ia dari jurusan IPA. Ia optimis bisa masuk meskipun bukan anak IPS.


Karena lelah, tak sadar ia mulai dihinggapi kantuk. Ia pun tidak kuat lagi menjaga mata agar terus melihat tulisan.


Via tertidur dengan posisinya duduk dan kepala diletakkan di atas meja beralaskan buku. Begitu lelapnya hingga tidak mendengar suara orang mengucap salam.


Karena tidak mendapat jawaban, Azka penasaran. Begitu masuk, ia langsung mencari Via.


"Via! Kamu di rumah?"


Azka mencari ke kamar sampai mushola. Karena tidak ketemu, ia hampir menelpon bundanya. Ketika jemarinya hendak menyentuh dial, matanya tertarik melihat seseorang yang terlihat dari pintu perpustakaan keluarga.


"Masya Allah, Via. Ni anak ternyata tidur di sini."


Azka memperhatikan gadis itu dari dekat. Dilihatnya buku kumpulan soal di bawah kepala Via.


"Rupanya sedang belajar buat persiapan seleksi masuk PTN," gumam Azka.


Kehadiran Azka di dekat Via tidak mengusik tidurnya. Azka hendak membangunkan gadis itu.


"Vi, bangun. Pindah ke kamar! Kamu bisa pegal-pegal ntar," kata Azka pelan.


Via tetap terlelap. Tangan Azka terjulur hendak menepuk bahu Via agar bangun. Namun, ia ragu.


"Kasihan. Kayaknya dia capek. Aku ragu apa dia benar-benar tertarik dengan bisnis? Kayaknya keraguan bunda bener, ni anak khawatir dengan biaya kedokteran yang mahal. Tapi, aku bisa apa? Kasihan kau, Vi. Tadinya kamu hidup begitu nyaman, tercukupkan kebutuhan materimu, sekarang kamu harus mengubur impianmu jadi dokter. Kenapa sih kamu masih sungkan? Meski ayah bunda tak sekaya papamu dulu, mereka masih sanggup membiayai kamu sampai lulus sarjana, apa pun prodi yang kamu pilih. Bagaimana pun itu pilihan kamu. Aku tidak bisa memaksa. Namun, aku salut akan kegigihanmu. Aku kagum akan sikapmu. Seandainya aku sudah kerja kayak Mas Farhan, aku bisa berbuat banyak untukmu. Ah, sayangnya aku masih kuliah. Coba kalau aku sudah kerja. Aku nikahi kamu saja," gumam Azka lirih.


Mendadak Via bergerak. Ia mengganti posisi kepalanya. Hal itu menyadarkan Azka akan pikirannya.


"Haish, kok aku jadi ngelantur."


Tak lama kemudian terdengar bunyi klakson mobil. Azka keluar karena tidak biasanya ayah bundanya membunyikan klakson. Ternyata ada sedan hitam yang masih baru terparkir di halaman rumah. Saat Azka sedang memperhatikan mobil baru itu, si pengemudi keluar sambil tertawa lebar.


"Wah, Mas Farhan. Keren banget mobilnya. Ini mobil Mas Farhan apa punya teman? Aw...!" Azka berteriak kaget saat sebuah sentilan mendarat di keningnya.

__ADS_1


"Mobilku dong! Masa aku pinjam mobil teman buat pamer? Baru keluar dari showroom nih."


"Wow! Emang gaji Mas Farhan dari eyang berapa? Gede banget ya?"


Farhan terbahak-bahak mendengar pertanyaan dari adiknya.


"Ini bukan Mas yang beli," bisik Farhan ke telinga adiknya.


Azka mengerutkan keningnya. Farhan tersenyum melihat adiknya bingung.


"Ini hadiah dari eyang."


"O ya? Kok aku nggak? Hadiah dalam rangka apa?"


"Aku udah menuruti keinginan eyang sejak awal kuliah. Mulai dari prodi yang kuambil sampai S-2 juga. Habis itu, aku nurut juga saat disuruh jadi karyawan eyang, bantu eyang, dan yang terakhir aku membantu eyang memenangkan tender proyek besar. Ini bonusnya. Kamu boleh pakai, kok. Jangan khawatir! Asal, jangan ngebut!"


Azka melompat kegirangan. Ia seperti anak kecil yang diberi mainan.


Sementara itu, Via yang baru terbangun segera keluar karena mendengar ada suara ribut. Saat sampai pintu, kening Via berkerut karena heran dengan tingkah Azka.


"Hei, kau sudah bangun, Vi? Kita jalan-jalan, yuk! Cuci muka trus ganti baju, sana!"


Via bertambah bingung. Ia masih terpaku di tempatnya.


"Kok bengong? Ayo, cepetan! Aku serius. Mas Farhan mau traktir kita."


Via menatap Farhan meminta kepastian. Farhan mengangguk. Via pun bergegas ke kamar. Tak sampai sepuluh menit ia sudah kembali.


Via menurut. Setelah itu, bersama Farhan Via melangkah mendekati mobil.


"Aku yang bawa, ya!" pinta Azka.


"Iya, iya. Kita ke mana?"


"Terserah sopir. Yang penting, kalau butuh beli apa-apa, bos yang bayar!" jawab Azka sambil tersenyum licik.


Farhan hanya mendengus kesal. Namun, ia tidak menolak. Azka pun tertawa penuh kemenangan.


"Kita bersenang-senang, Vi. Hari ini Mas Farhan dapat mobil baru dari eyang juga gajian. Kamu mau apa?"


"Oh, ini mobil baru Mas Farhan. Enak sekali dia," batin Via.


"Vi, kamu pengen apa? Kok malah melamun?" tanya Azka lagi.


"Eh, nggak. Terserah Mas Azka saja."


Akhirnya, Azka mengemudikan mobil baru kakaknya keliling kota. Setengah jam kemudian, Azka memutar kemudi memasuki area mall terbesar.


"Kita shopping!" teriak Azka.

__ADS_1


"Huh, kau ini kayak cewek. Gila shopping," cibir Farhan.


"Aku bukan gila shopping, Mas. Tapi, sesekali mumpung ada bos kan nggak apa-apa."


Mereka langsung ke bagian fashion. Azka menarik tangan kakaknya agar mengikuti langkahnya.


"Vi, kamu ke bagian baju cewek sana! Mau gamis, jilbab, tas, sepatu, ambil aja!" perintah Azka.


Via hanya tersenyum. Ia melangkah ke bagian gamis. Namun, ia hanya melihat-lihat.


Lima belas menit kemudian, Azka dan Farhan sudah menenteng belanjaan mereka. Farhan mendekati Via yang berdiri termenung.


"Mana yang Dek Via suka? Ambil saja!"


"Aaa... nggak... nggak ada. Mas Farhan sudah selesai?"


"Aku dan Azka sudah. Mana baju yang Dek Via pilih?"


"Eng...enggak usah. Kalau Mas Farhan sudah selesai, kita langsung ke kasir saja."


Farhan tidak menuruti kemauan Via. Ia mengambil dua potong gamis lalu diserahkan ke Via.


"Coba yang ini! Kayaknya bagus. Dek Via sebentar lagi kan kuliah, perlu baju untuk dipakai kuliah nantinya."


Via ragu-ragu menerimanya.


"Sudah, sana ke kamar pas!"


Dengan berat hati, Via menuruti perintah Azka. Setelah dicoba, ia mendekat ke Farhan.


"Pas?"


Via mengangguk.


"Yang ini saja," kata Via sambil menunjuk gamis yang berwarna biru.


"Yang maroon kenapa? Kelihatannya sama size-nya."


"Iya, sama. Tapi kan cukup satu, masa beli 2. Gaji Mas Farhan ntar habis dalam sehari," canda Via.


Farhan tidak menggubris. Ia meminta dua baju di tangan Via dan disatukan dengan baju yang dipilihnya.


"Yuk ke kasir!"


Via hanya geleng kepala. Ia baru tahu kalau Farhan bisa perhatian. Namun, perhatian Farhan justru membuat Azka kurang nyaman.


"Andai saja aku sudah mapan, nggak cuma baju yang kubelikan untukmu. Kamu tinggal pilih yang kamu suka, Vi. Sayangnya aku masih minta ke orang tua."l


***

__ADS_1


Bersambung


Mohon dukungan like dan koment dari para pembaca yang baik agar author semangat terus 💪


__ADS_2