
Sudah beberapa bulan Via dan Ratna jarang pulang. Ketika semester 2, mereka selalu pulang pada akhir pekan. Sekarang, mereka paling cepat pulang 2 minggu sekali.
Via, sebagai pioner bisnis, kadang sampai satu bulan tidak pulang. Kalau pun pulang, ia tidak pernah menginap di kediaman dokter Haris.
Sebenarnya, alasan Via bukan semata-mata urusan toko. Ia segan bertemu dengan Farhan. Jadi, ia menghindari bertemu dengan lelaki yang telah resmi menjadi suaminya.
Jadwal kepulangan Ratna selalu bergantian dengan Mira. Mereka berusaha agar Via tidak sendirian di ruko.
Ketika sunyinya malam telah memeluk makhluk bumi, Via dan Ratna tiduran di sofa lantai 2. Via tengah membolak- balik buku yang cukup tebal. Sementara Ratna asyik dengan ponselnya.
"Vi, besok ada kuis?"
Via yang tengah konsentrasi tidak mendengar pertanyaan Ratna. Ia diam saja.
"Vi, Viaaa!" teriak Ratna.
"Eh, iya. Ada apa, Rat?" tanya Via.
"Kamu ditanya diam saja," gerutu Ratna.
"Maaf, lagi konsen baca. Gimana?"
"Besok ada kuis apa nggak?"
"Nggak tahu. Bu Hera biasanya kan ada kuis dadakan. Makanya, harus siap-siap," jawab Via.
"Yaaaah, mudah-mudahan Bu Hera nggak masuk."
"Kok doanya gitu? Memang ada apa? Kan tinggal belajar. Mumpung belum banyak materinya, Rat," nasihat Via.
"Aku lagi asyik. Tanggung, nih," kilah Ratna.
"Tanggung apa? Tanggung jawab?" sahut Via asal.
"Ish, kamu nih. Ini lo, aku baru baca novel yang menarik."
"Novel apaan?" Via penasaran.
"Kamu sudah install Noveltoon? Coba kamu baca Asyiknya Selingkuh karya Sari Adja! Aku baru selesai baca novel terbaru Emekama, Kabut Menjelang Pernikahan sama karya Yulia, Tentang Qiandra. Belum end, sih."
"Hhmmm, kamu nih malah baca novel melulu. Kapan belajar?"
"Ntar, aku selesaikan Mencintaimu dalam Diam karya Karlina dulu. Eh, sekalian My Love Story punya Farin, deh."
"Terserah, deh." Via mengangkat bahu.
Ratna menyelesaikan pembacaan novelnya. Ia tidak mempedulikan Via yang melanjutkan belajar.
"Dek, aku pulang Jumat sore, ya! Insya Allah aku kembali Sabtu siang. Nggak apa-apa, kan?" Mira bertanya sambil keluar kamar.
"Nggak apa-apa, Mbak," jawab Via.
"Ratna nggak pulang, kan? Kamu nemenin Dek Via, lo!" ucap Mira.
"Nggak. Enakan di ruko, bisa baca novel sampai puas. Kalau di rumah, Yudi pasti gangguin."
"Kamu yang dipikirin novel melulu," cibir Via.
"Biar gak stres, Vi."
"Sudah baca berapa novel, Rat?" tanya Mira.
"Entahlah. Sekarang lebih dari 8 judul yang masih kuikuti. Ada 2 yang baru kuikuti, Sampai Ajal Menjemput dan My Husband is Cuek ternyata juga bagus."
"Memang nggak bingung baca segitu banyaknya?" tanya Mira.
"Enggak, dong. Kalau lupa, baca episode sebelumnya sekilas."
__ADS_1
Mira dan Via geleng kepala sambil tersenyum geli.
"Eh, Dek Via kok jarang banget pulang? Seingatku, nggak pernah nginap di rumah ayah," ucap Mira.
Via terdiam. Ia agak bingung menjawab pertanyaan Mira.
"Aku...aku kan harus bertanggung jawab atas roda toko ini. Aku juga lebih konsentrasi belajar di sini."
"Aku tidak mungkin mengatakan kalau aku menghindari bertemu dengan Mas Farhan. Aku masih harus merahasiakan pernikahanku."
"Aku ke kamar dulu, ya. Ngantuk, nih," ucap Mira.
"Iya, Mbak. Aku mau meneruskan baca dulu."
Mira bangkit dari duduknya dan masuk kamar. Sementara Via dan Ratna tenggelam dalam keasyikan membaca.
***
Azan asar telah berkumandang satu jam yang lalu. Salsa dan Mira berkemas untuk pulang. Tas sudah mereka siapkan.
"Toko ditutup sekarang, Mbak?" tanya Salsa.
"Bolehlah. Aku ingin istirahat. Kalian juga bisa pulang," jawab Ratna.
Setelah menutup toko, Mira dan Salsa berpamitan. Salsa menstater motor matiknya, sedangkan Mira menunggu bus kota. Tak berapa lama tubuh Mira tenggelam di antara penumpang.
Ratna dan Via mengecek order online. Baru lima belas menit, ponsel Ratna bergetar. Ratna segera membuka pesan yang masuk.
Jari tangan Ratna menari di atas layar ponsel. Sesekali ia menarik nafas panjang.
Via yang tadinya tidak memperhatikan menjadi heran mendengar nafas yang dihembuskan kasar. Diperhatikannya raut wajah Ratna yang berubah masam.
"Kenapa, Rat?" tanya Via.
"Emm, ini aku disuruh pulang."
"Enggak. Kata bapakku nanti malam ada acara keluarga yang penting."
"Jangan-jangan kamu dilamar," ledek Via.
"Hus, kau ini malah meledek. Aku mesti gimana, nih?" Ratna kebingungan.
"Ya pulang. Itu kan perintah orang tua. Sana, cepetan!"
"Kamu gimana? Masa kutinggalkan sendirian di ruko?"
"Aku bukan tipe penakut. Aku juga pernah di sini sendirian. Sudahlah, jangan khawatirkan aku! Aku bukan anak kecil."
"Beneran nggak apa-apa?"
"Iya, nggak apa-apa. Sudah, sana pulang!"
"Kok jadi ngusir aku?"
"Ish, kamu nih. Mau pulang apa enggak?"
"Iyaa," jawab Ratna sambil masuk ke kamar.
Tak lama kemudian Ratna sudah keluar membawa tas kecilnya.
"Beneran nggak apa-apa?" tanya Ratna ragu.
"Iya. Nanti kalau aku malas di sini sendirian, ya tinggal ikut pulang."
"Beneran, ya!"
"Iya, bawel!"
__ADS_1
"Ya sudah. Jaga diri baik-baik! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mak," jawab Via sambil cekikikan.
Baru saja Ratna keluar, ponsel Via berdering. Via segera menggeser gambar telepon warna hijau untuk menerima panggilan.
"Assalamualaikum"
....."
Pulang, Mas."
....
"Sendiri."
....
"Nggak apa-apa kok. Via bukan penakut."
....
"Iya, baik. Via pulang sekarang."
....
" Iya, Mas. Waalaikumsalam."
Dengan malas Via masuk ke dalam kamar mengambil tasnya. Saat ia keluar, sebuah mobil telah terparkir rapi di tepi jalan.
"Dengan Mbak Novia Anggraeni?" tanya sopir taksi.
"Iya, Pak"
"Mari, Mbak."
Via masuk dengan perasaan malas.
Dalam perjalanan, Via mulai gelisah. Ia merasa gugup. Berarti nanti malam ia tidur di rumah Bunda Aisyah. Artinya, ia tidur serumah dengan Farhan, suaminya.
"Kenapa sih, Mas Farhan nyuruh pulang? Dia tidak percaya kalau aku bisa menjaga diri sendiri atau .... Ah, aku jadi tambah kacau. Mungkinkah nanti malam Mas Farhan minta tidur bersama? Aduh, kalau iya, aku mesti bagaimana? Aku benar-benar belum siap. Tapi, kalau nolak berarti aku durhaka kepada suami. Ya Allah, aku bingung. Tolong beri petunjuk-Mu."
"Ada apa, Mbak?" tanya sopir taksi yang melihat Via duduk gelisah.
"Eng---nggak, enggak apa-apa," jawab Via gugup.
"Apa aku nginep di rumah Ratna saja? Ah, pasti akan mengundang banyak pertanyaan. Si bawel pasti menanyaiku yang aneh-aneh. Aku juga nggak enak sama bunda. Ya sudahlah, que sera sera."
Begitu banyak yang bergelayut di benak Via, ia sampai tidak menyadari taksi sudah berhenti di depan rumah Pak Haris.
"Mbak, sudah sampai."
Via masih diam.
"Mbak, sudah sampai alamat sesuai pesanan. Atau Mbak akan melanjutkan perjalanan ke tempat lain?" ucap sopir taksi lagi.
Via tersadar. Ia tampak gugup dan malu karena tidak segera menjawab malah melamun.
"I---iya, saya turun di sini. Terima kasih."
Via termangu sejenak di dekat pagar. Kakinya seakan berat untuk melangkah.
***
Bersambung
Terima kasih atas dukungan semua pembaca. Terus dukung author dengan memberi like, komen, dan vote.🙏
__ADS_1
Novel yang disukai Ratna recommended lo😍