SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Farhan Datang


__ADS_3

Karena kateter sudah dilepas, Via harus mulai berlatih berjalan. Latihannya di mulai dari mencoba berdiri.


Perlahan, Via beringsut ke tepi ranjang. Kakinya diturunkan hingga menjuntai. Sedikit demi sedikit, Via mengangkat pantatnya dari kasur.  Rasa sakit langsung menyergap begitu tubuh Via mulai tegak. Via memekik


tertahan.


Bu Inah dengan segap menopang tubuh Via. Ia bermaksud mendudukkan kembali ibu muda itu.


“Ayo, saya bantu duduk lagi,” kata Bu Inah.


“Tidak! Aku harus mencoba  berjalan. Aku harus segera bisa, Bu,” tolak Via.


Meski begitu sakit, Via berusaha keras menahannya. Ia mulai menggeser kaki kanannya ke depan.


Baru dua langkah, Via sudah tidak tahan lagi. Nyeri pada luka bekas operasi sangat menyiksa. Ia beringsut kembali ke ranjang.


“Perlahan saja, jangan terlalu memaksa,” saran Bu Inah.


“Via sudah nggak sabar ingin bertemu dedek,” ucap Via lirih.


“Iya, saya tahu. Tapi, Mbak Via jangan memaksakan diri, ya! Sekarang, minum susu dulu, biar ASI-nya bagus” kata Bu Inah lagi.


Demi kualitas ASI untuk si buah hati, Via menghabiskan susu untuknya. Setelah itu, Via memutuskan untuk beristirahat.


Karena Via tertidur, Bu Inah keluar. Ia pergi ke kantin untuk membeli makanan.


Via membuka mata perlahan ketika pipinya terasa disentuh seseorang. Rasa kantuk yang teramat berat akibat semalaman tidak bisa tidur nyenyak membuat ia kesulitan mendapatkan kesadaran penuh. Matanya pun hanya


terbuka sedikit. Ia menangkap ada pria duduk di dekat ranjang.


“Masih mengantuk, Sayang? Tidurlah lagi. Mas akan menjagamu di sini,” ucap pria itu.


“Mas Far--han? Benarkah ini ka—mu Mas?” bisik Via yang masih didera kantuk.


“Iya, ini aku.Maaf, ya, aku nggak nungguin kamu saat berjuang melahirkan anak kita. Terima kasih sudah berjuang melahirkan anak yang tampan.”


“Mas Farhan, kenapa baru datang? Kenapa tega membiarkan aku berjuang sendirian? Ke mana Mas selama ini?” isak Via.


“Maaf, Sayang. Masmu ini sibuk karena ada masalah rumit yang dialami perusahaan cabang. Bukankah kemarin keluarga kita mendampingimu?” tanyanya.


“Tetap beda. Untunglah semua berjalan lancar. Jangan pergi lagi, ya!” rengek Via.


Via menegakkan badannya yang tadinya tidur dengan posisi miring. Ia mendekap erat tubuh pria berbaju biru yang duduk di tepi ranjang sambil membuka gawainya.


Peukan Via sedikit mengejutkan. Namun hanya sepersekian detik. Karena, lelaki itu segera membalas pelukan Via. Ia mengusap kepala Via yang tertutup jilbab coklat.


Via mulai terisak. Air matanya mulai membasai kemeja biru pria yang ia peluk. Untuk beberapa detik Via larut dalam perasaannya.


“Siapa kamu? Kenapa kamu ngaku-ngaku Mas Farhan dan masuk kamarku?” bentak Via seraya melepaskan pelukannya. Matanya menatap tajam lelaki di depannya.


“Tentu saja aku Farhan, suami kamu. Kamu ini suka becanda, sih?” sahutnya sambil balik menatap Via.


Pria itu terlonjak kaget saat tatapan mereka beradu. Ia terlihat begitu gugup.


“Si—siapa kamu? Bukankah ini kamar rawat istriku?” pekik pria itu.


“Tentu saja aku pasien kamar ini. Kenapa kamu ngaku-ngaku sebagai Mas Farhan, hem? Apa tujuan kamu?” tanya Via lagi. Matanya memancarkan kemarahan.

__ADS_1


“Aku memang Farhan. Aku nggak bohong. Aku mau bertemu istriku yang baru melahirkan tadi malam.” papar pria yang mengaku Farhan.


Via mencoba mengontrol emosinya. Matanya menangkap name tag yang tersemat di kemeja biru yang dikenakan pria tersebut. Di name tag tersebut tersemat nama Mohamad Farhan. Via mendengus kesal.


“Istri Anda dirawat di kamar nomor berapa? tanya Via datar.


“Kata mamah, istriku ada di kamar 103. Makanya, aku langsung ke sini.”


“Ini kamar 102. Kamar 103 di sebelah kanan kamar ini,” kata Via,


“O ya? Maaf, kalau begitu. Saya betul-betul tidak tahu kalau kamar ini bukan kamar rawat istri saya. Maafkan saya, ya,” pinta lelaki itu penuh harap. Ia menggeser duduknya menjauhi Via


Via tidak tega untuk marah-marah. Ia percaya kalau lelaki itu memang salah kamar.


“Kalau begitu, saya pamit. Sekali lagi, saya mohon maaf atas keteledoran saya. Saya benar-benar tidak sengaja.”


Via mengangguk. Ia tak mungkin menolak permintaan maaf yang tulus.


Setelah pria itu pergi, Via mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Ia tidak menemukan Bu Inah.


“Bu Inah! Bu Inah di mana? Bu Inah!” Via memanggil-manggil.


Terdengar pintu dibuka diikuti kemunculan Bu Inah.


“Iya, Mbak. Ini saya, baru dari kantin,” jawab Bu Inah.


Via menarik nafas lega begitu melihat Bu Inah.


“Oh, begitu. Tadi ada pria tak dikenal masuk kamar. Ternyata dia keliru membaca nomor kamar,” kata Via.


“Maafkan saya. Saya sangat ceroboh,” ujar Bu Inah seraya menunduk,"Mbak Via nggak diapa-apakan sama pria itu, kan?"


“Tapi, aku sempat memeluknya. Oh, sungguh memalukan. Aku berpelukan dengan lelaki yang bukan mahramku, bukan suamiku. Astaghfirullahal aziim. Ini gara-gara namanya juga Farhan dan aku masih ngantuk. Mas Farhan, apa kamu nggak kangen aku? Apa nggak ingin lihat anak kita?”


“Mbak Via mau minum jus?” suara Bu Inah mengagetkan Via. Lamunan Via seketika berantakan.


“ah, eng—nggak. Via belum kepengin. Via mau mencoba jalan lagi,” jawab Via.


Via menggeser tubuhnya ke tepi bed. Perlahan ia turunkan kedua kakinya lalu mencoba berdiri dengan berpegang tiang infus.


“Biar saya bawakan botol infusnya. Mbak Via mau keluar?” Bu Inah menawari.


“Boleh juga. Sudah tiga hari Via terkurung. Via duduk di teras deh.”


Dengan tertatih Via menyeret kakinya perlahan. Bu Inah mendampingi di sisinya. Nyeri pada bekas operasi? Jangan ditanya! Tentu masih terasa begitu nyeri. Via menahan rasa itu sekuat tenaga.


Akhirnya, Via berhasil sampai dekat pintu. Jalannya yang seperti siput membuat ia butuh beberapa menit untuk melangkah kurang lebih 5 meter. Langkahnya terhenti karena telinganya menangkap pembicaraan yang


menyebut namanya. Ia memberi isyarat kepada Bu Inah agar diam.


“Bayi Via mengalami masalah pada paru-parunya. Bunda tahu sendiri kalau bayi itu lahir premature di usia 31 minggu kurang sedikit. Tentu saja paru-parunya belum matang,” kata seorang pria.


“Butuh waktu berapa lama dirawat di inkubator?”


“Ayah tidak bisa memastikan. Yang jelas tidak akan kurang dari seminggu. Kemungkinan antara 2 sampai 4 minggu. Bergantung kondisinya.”


Via yakin yang sedang berbicara di luar adalah ayah dan bunda angkatnya. Ia masih menunggu pembicaraan selanjutnya agar bisa mengetahui kondisi bayinya.

__ADS_1


“Biasanya berapa lama?” suara Bu Aisyah terdengar bertanya.


“Seperti yang sudah Ayah katakana tadi, 2 sampai 4 minggu. Itu yang membaik. Selain paru-parunya, ia juga menunjukkan gejala kuning tadi. Nanti akan diobservasi perlu tidaknya penyinaran.” Giliran dokter Haris yang


berbicara.


“Penilaian secara keseluruhan bagaimana? Dia memiliki peluang bertahan, kan? Jawab yang jujur, Yah!” Suara Bu Aisyah terdengar cemas.


Via merinding mendengar pertanyaan bundanya. Ia memilih diam dulu untuk mendengar jawaban ayahnya. Kalau ia keluar, mungkin dokter Haris tidak akan berbicara jujur.


“Iya, Bunda. Peluangnya cukup besar, kok. BB-nya juga naik. Usianya kan lebih dari 28 minggu. Jadi peluangnya masih besar.”


Mendengar jawaban dokter Haris, Via merasa lega. Namun, ia masih menyisakan kekhawatiran dengan kondisi organ dalam bayinya. Ia memutuskan untuk keluar, menanyakan langsung.


“Bayi Via masih bisa ditangani di sini, Yah?’ tanya Via.


Pak Haris dan Bu Aisyah terkejut karena tidak mengira Via keluar. Mereka tampak gugup.


“Ayah, jawab pertanyaan Via dengan jujur! Via sudah mendengar yang dibicarakan Ayah dan Bunda tadi,” ujar Via lagi.


“Iya, Via. Bayimu masih bisa ditangani di sini, kok. Kondisi yang dialami bayimu masih wajar untuk bayi prematur Insya Allah tidak sampai sebulan ia sudah bisa dibawa pulang,” kata dokter Haris setelah bisa menguasai


diri.


“Bagaimana kalau Via tetap di rumah sakit? Via nggak mau jauh-jauh darinya. Meski Via tidak di sampingnya, setidaknya Via segera tahu kalau ada apa-apa,” pinta Via penuh harap.


Pak Haris dan Bu Aisyah saling tatap. Mereka mengangguk bersama seolah telah menemui kesepakatan.


“Nanti Ayah bicarakan bersama para perawat. Sekarang, Via fokus pada penyembuhan Via, ya!” jawab dokter Haris lembut.


Via mengangguk setuju. Ia pun kembali ke dalam kamarnyadidampingi Bu Inah. Via mengurungkan niat semula yang ingin duduk di teras.


Bu Aisyah mengekor di belakang Via. Ia masih mengenakans eragam dinasnya.


“Sudah memeras ASI belum?” tanya Bu Aisyah.


“Sudah, dapat sekitar 60 ml. Tadi Bu Inah taruh di kulkas,” jawab Via sambil duduk di kasurnya.


“Bagus, sudah ada perkembangan. Jaga asupan makananmu, ya!” pesan Bu Aisyah.


Via mengangguk. Apa pun akan ia lakukan demi bayinya.  Ia tidak mau menyia-nyiakan sosok yang ditinggalkan Farhan untuknya.


Ibu muda itu bertekad untuk segera sembuh. Ia harus bisa merawat bayinya, tidak boleh mengandalkan orang lain. Via berharap hari itu ia bisa melihat bayinya meski tidak bisa menggendongnya. Sementara, cukup melihatnya setiap hari untuk sedikit mengobati kangennya kepada ayah sang bayi.


***


Bersambung


Maafkan author jika membuat Kakak berharap Via bertemu dengan Farhan Alfarizi begitu baca judulnya 🙏


Mohon tetap dukung author dengan memberi like dan komentar, juga bintang 5 dan vote.


Terima kasih atas dukungan Kakak 🙏.


Aku siap dukung balik karya Kakak jika Kakak meninggalkan jejak koment dan like, insya Allah.


Sambil menunggu up, baca novel ini, ya!

__ADS_1




__ADS_2