SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Melepas Kerinduan


__ADS_3

Lelaki itu tidak mempedulikan kondisinya yang belum sehat. Ia memeluk tubuh sang istri erat


beberapa detik. Lalu, didongakkannya wajah Via hingga mereka kembali saling tatap. Tangan Farhan berpindah ke tenguk Via, menekan tengkuk itu hingga bibir mereka menyatu.


“Jadi, ini bukan mimpi? Ini nyata? Aku nggak mau kecewa saat semua tiba-tiba menghilang dari pandanganku,” gumam Via.


Farhan tersenyum mendengarnya. aIa kembali menekan tengkuk Via. Begitu dua pasang bibir bersatu lagi\, Farhan mulai me****t milik Via. Mereka pun terlibat perang lidah hingga nafas terengah-engah.


Via melepaskan pelukan Farhan. Ditatapnya wajah lelaki yang dirindukannya,  yang menghantui pikirannya. Ia mengusap rahang sang suami dengan lembut.


“Alhamdulillah, ternyata benar ini nyata. Via bukan mimpi maupun melamun. Ya Allah, puji syukur kepada-Mu, sang pemilik semesta,”bisik Via dengan air mata yang sudah berlinang.


“Tahukah Hubbiy, Via sangat kehilanganmu? Separuh jiwaku melayang saat pemakaman jenazah yang dikira itu Hubbiy. Alhamdulillah, bunda masih mengingatkan kalau Via masih punya sandaran utama yaitu Allah. Selain itu, Via juga punya sandaran orang-orang yang menyayangi Via. Apalagi sekarang bertambah keluarga Wijaya,” ucap Via.


Farhan trenyuh mendengar ucapan sang istri. Ia bisa membayangkan bagaimana terpuruknya Via.


“Mas tahu, Mas bisa membayangkan kesedihanmu. Mas pun tersiksa begitu lama tidak bertemudenganmu dan juga tidak bisa menghubungimu.,” blas Farhan.


Via mengangguk. Disekanya air mata yang lolos begitu saja tanpa permisi.


“Dedek juga menjadi penguatku. Seandainya tidak ada dia, mungkin Via bisa berlarut-larut meratapi kepergian Hubbiy.”


“Eh, nggak boleh seperti itu! Kita di dunia atas kehendak-Nya. Semua yang ada di dunia ini adalah milik Allah. Maka, ketika Allah mengambil milik-Nya, kita tidak boleh bersedih sampai berlarut-larut. Apalagi menyakiti diri sendiri seperti mogok makan,” nasihat Farhan.


“Iya, Hubbiy. Via juga sedih memikirkan anak kita. Via pikir dia tidak akan bisa bertemu ayahnya,” ujar Via.


Farhan tertawa. Namun, itu hanya berlangsung beberapa detik. Pria itu seperti mengingat sesuatu. Wajahnya sedikit menegang.


“Kenapa, Hubbiy?” tanya Via heran.


“Kenapa Cinta duduk di kursi roda? Cinta sakit? Lalu kenapa perutmu sekarang rata? Apa yang terjadi? Jangan katakan kalau anak kita ...” pertanyaan bertubi-tubi dari Farhan terjeda. Ia tak sanggup melanjutkan mengungkap pikiran buruknya.


Via tersenyum. Dia mengusap telapak tangan Farhan dengan lembut.


“Anak kita sudah nggak sabar melihat indahnya dunia. Dia lahir saat usianya hampir 31 minggu.


Waktu itu ketuban sudah pecah dan tidak bisa ditunda. Akhirnya, ia lahir lewat caesar,” papar Via.


“Alhamdulillahi rabbil alamiin,” ucap Farhan sambil mengusap wajahnya.


Via tersenyum sambil mengusap dada Farhan. Matanya memancarkan kebahagiaan teramat dalam.


“Bagaimana kondisinya? Dia—dia sehat, kan? Laki-laki atau perempuan?” tanya Farhan antusias.


“Dia laki-laki, seperti tebakan Hubbiy. Begitu lahir, dia dimasukkan ke inkubator. Karena belum ada 34 minggu, organ vitalnya belum matang, belum sempurna. Saat ini dia masih di inkubator,” kata Via dengan sabar.

__ADS_1


Farhan terdiam. Sepertinya, dia sedang memikirkan sesuatu.


“Kenapa bisa sampai lahir prematur? Apa Cinta mengalami kecelakaan? Terjatuh mungkin?” tanya Farhan khawatir.


Via tertawa lirih. Ia merasa bahagia melihat sorot mata Farhan yang begitu mencemaskannya. Ia juga merasa bersalah karena bayi mereka lahir prematur.


“Via begitu terpukul mendengar kalau Hubbiy kecelakaan dan meninggal. Hubbiy bisa membayangkan, kan, betapa terpuruknya Via. Malam sebelum Via melahirkan, Via mendengar percakapan antara Mas Edi dan Mbak Mira. Mas Edi berniat menunda lamaran karena musibah yang menimpa keluarga kita. Via merasa bersalah. Itu mungkin membuat Via stress dan berakibat ketuban pecah dini. Maafkan, Via,” ucap Via diakhiri dengan penyesalan. Ia sengaja tidak menceritakan percakapan antara Eyang Probo dan Azka yang ia dengar dan membuatnya tertekan.


“Jangan begitu! Mas tidak menyalahkanmu. Semua sudah menjadi kehendak Yangkuasa. Semua pasti ada hikmahnya. O ya, bagaimana kondisi Cinta sekarang?” Farhan masih mengkhawatirkan Via.


“Via baik-baik saja. Cuma, Via belum bisa jalan terlalu cepat atau jauh. Makanya, tadi Via pakai kursi roda. Via sudah bisa jalan, kok,” jawab Via menenangkan Farhan.


"Maafkan Mas yang tidak mendampingimu saat melahirkan. Cinta harus berjuang sendiri tanpa ditemani suami," desis Farhan.


"Hubbiy jangan begitu! Banyak orang yang menyayangi Via mendampingi saat kelahiran anak kita."


“Lalu, sedang apa di rumah sakit? Apa belum boleh pulang?” tanya Farhan lagi.


“Sudah. Sebenarnya Via sudah boleh pulang. Tapi, Via nggak tega meninggalkan dedek sendirian. Makanya, Via minta izin untuk tetap di rumah sakit. Alhamdulillah, ayah mengizinkan. Ayah menyuruh Via tinggal di kamar khusus yang biasa ayah gunakan.”


Farhan mengangguk-angguk paham. Ia terlihat lega mengetahui Via baik-baik saja.


“Eh, ayah. Tolong ayah dan bunda dikabari tentang Mas. Pasti mereka bahagia,” perintah Farhan tak sabar. Senyum mengembang di bibirnya.


“Iya, sebentar. Via telepon bunda saja, ya! Tadi ayah pulang karena kurang enak badan. Kelihatannya ayah kelelahan,” kata Via.


....


“Waalaikumsalam. Bunda ada di mana?”


....


“Apa? Di sebelah mana? Kok Via  nggak lihat?”


....


“Waalaikumsalam.”


Via menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Ia tampak tersipu-sipu.


“Kenapa? Ada  apa, sih?” Farhan penasaran dengan sikap sang istri.


Via tidak menjawab. Ia hanya tersenyum malu. Beberapa  saat kemudian, muncul dokter Haris beserta Bu Aisyah. Di belakang mereka ada Doni dan Bu Inah. Via berdiri menghadap orang-orang yang baru datang.


“Ayah, Bunda!” pekik Farhan.

__ADS_1


“Farhan, anakku!” Bu Aisyah berjalan cepat ke Farhan dan memeluk anak sulung yang dikira telah meninggal.


Farhan balas memeluk bundanya. Via menggeser posisinya, memberi kesempatan kepada kedua orang tua  angkatnya untuk melepas kerinduan.


“Alhamdulillah, kuasa Allah sungguh luar biasa,” ucap Pak Haris yang sedari tadi berkali-kali bersyukur.


“Mas Farhan beneran masih hidup, ya?” Bu Inah bertanya dengan lugunya.


Farhan tertawa mendengar pertanyaan Bu Inah. Ia merasa pertanyaan Bu Inah seperti orang yang baru bangun tidur.


“Iya, Bu. Ini beneran saya. Saya masih hidup.”


Farhan berusaha duduk. Pak Haris yang berada di sampingnya segera membantu sang putra sulung.


“Kamu nggak pusing atau sakit kepala?” tanya Pak Haris khawatir.


“Sudah enggak. Pusing dan nyeri di kepala Farhan tidak terus-menerus. Biasanya saat Farhan lelah atau berpikir keras, kepala terasa berdenyut. Tadi saat di taksi Farhan pingsan karena mungkin kelelahan.”


“Kalau begitu, sekalian saja besok kamu diperiksa lengkap termasuk CT-scan kepalamu untuk menentukan tindakan terbaik. Tanganmu juga perlu dirontgen. Kamu tidak usah pulang, menginap saja di sini. Toh istrimu juga nggak mau pulang kalau anak kalian masih dirawat di sini,” kata Pak Haris.


“Iya, Yah. Kalau Farhan boleh minta, Farhan tidak usah di kamar pasien. Farhan di kamar Ayah saja, bagaimana?” pinta Farhan.


“Iya, boleh. Ayah tahu, kamu ingin bersama istrimu, kan?” ledek Pak Haris seraya terkekeh.


Farhan tersenyum. Via bahkan sudah memerah pipinya.


“Ayah tahu aja. Selain itu, Farhan ingin keberadaan Farhan dirahasiakan. Sejujurnya, Farhan masih khawatir dengan orang-orang yang mencelakai Farhan. Apalagi di sini ada bayi kami yang masih membutuhkan perawatan. Takutnya orang-orang itu melacak keberadaan Farhan di sini dan mencelakai keluarga kita,” ungkap Farhan sedih.


“Kamu tahu kalau kecelakaan yang kamu alami suatu kesengajaan?” tanya Bu Aisyah.


Farhan mengangguk dan menjawab,”Iya, Farhan tahu. Bahkan, Farhan sempat dikejar-kejar mereka.”


“Bagaimana kalau kamu ceritakan nanti? Kamu pindah saja ke ruangan Ayah. Sebentar lagi magrib,” usul Pak Haris.


Mereka setuju. Pak Haris pun keluar menemui dokter dan petugas IGD. Ia memberi tahu rancangan yang baru saja mereka bicarakan.


Setelah semua beres, Pak Haris mendorong Farhan menggunakan kursi roda, sementara Bu Inah mendorong Via. Mereka kembali ke ruangan pribadi dokter Haris.


***


Bersambung


Bagaimana bisa


Farhan masih hidup, silakan ikuti di next episode. Yang tidak suka, ya diskip

__ADS_1


ndak apa-apa. Semua hak readers. Mohon maaf bila cerita  receh ini membuat Kakak tidak berkenan.


__ADS_2