SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Curhat (1)


__ADS_3

Salsa menurut. Ia bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.


“Jangan-jangan benar yang Ratna katakan, dia patah hati. Siapa yang membuatnya patah hati? Sepertinya dia nggak pacaran. Atau ada masalah lain?”


Setelah mencuci muka, Salsa kembali duduk di sofa. Mira masih di tempat semula sambil meanrikan jari telunjuknya pada layar gawainya.


“Nah, kan terlihat segar. Aku mau bilang Mas Edi kalau aku pulang nanti. Biar Mas Edi pulang dulu,” kata Mira.


Setelah melihat anggukan kepala Salsa, Mira  kembali turun. Satu per satu anak tangga dilewati tanpa terburu-buru. Sampai di anak tangga terakhir, ia melihat sang suami tengah ngobrol dengan Azka.


“Mas, aku pulangnya nanti saja, ya. Toko memang hanya buka sampai siang. Tapi, aku pengin ngobrol sama mereka. Mumpung nggak banyak orang. Boleh, ya?” Mira menatap Edi penuh harap.


Edi terdiam sejenak. Ia mempertimbangkan permintaan Mira.


“Pulang jam berapa?” tanya Edi.


“Sekitar jam 4. Bagaimana, boleh?” pinta Mira lagi.


“Ya sudah, nanti kabari kalau mau pulang. Aku duluan, ya,” ucap Edi.


“Mas Edi ada waktu luang nggak? Aku ingin ngajak Mas Edi ke suatu tempat,” kata Azka.


Edi menoleh ke Azka. Ia menatap heran karena selama ini Azka belum pernah mengajaknya pergi berdua.


“Ada hal penting?” tanya Edi.


“Memangnya harus ada sesuatu yang penting?” Azka balik bertanya.


Ratna tertawa mendengar percakapan keduanya. Edi terbiasa melakukan sesuatu dengan perencanaan, sedangkan Azka terbiasa spontanitas.Edi orangnya cenderung serius, Azka agak konyol.


“Ngapain kamu tertawa” tanya Azka sewot.


“Ih, ketawanya kan pakai mulutku sendiri nggak pinjem mulut Mas Azka,” sahut Ratna.


“Gimana, Mas? Bisa kita pergi bareng?” tanya Azka yang tak lagi menghiraukan Ratna.


“Ayolah! Pakai mobilku saja, ya!” ajak Edi.


Dua pria muda itu berpamitan ke Ratna. Tak lama kemudian, mobil merah hadiah dari Pak Adi membawa keduanya menjauh dari ruko.


Edi mengemudikan dengan kecepatan sedang. Dia mengikuti petunjuk yang Azka berikan. Setelah hampir 30 menit menyusuri jalanan Kota Yogyakarta mobil terparkir di sebuah kafe.


“Pesan apa, Mas?” tanya Azka.


“Hot mochaccino saja,” jawab Edi.


“Makan atau camilan?”


“Pisang bakar keju.”


Setelah membuat pesanan, Azka membuka layar gawainya. Tidak ada satu pun pesan masuk. Ia kembali menyimpan benda itu.


“Mas Azka sepertinya sedang ada masalah?” tanya Edi penuh selidik.


Azka mengulas senyum tipis. Ada ragu membayang di wajahnya.


“Tak biasanya Mas Azka ke Azrina tanpa tujuan tertentu. Juga tak biasa bagi Mas Azka ngajak saya.” Edi melanjutkan ucapannya.


“Kalau saya cerita, Mas Edi ngetawain saya, nggak?” Azka masih tampak ragu.


“Kenapa saya harus tertawa?” Edi masih terkesan formal.

__ADS_1


Azka menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus memulai dari mana.


“Mas, waktu Mas Edi belum menikah sama Mira, kapan Mas Edi menyadari kalau Mas Edi menyukai dia?”


Edi mengerutkan keningnya. Ia  merasa pertanyaan Azka sedikit aneh.


“Saya memperhatikan Mira saat ia diculik. Waktu itu saya merasa kasihan.  Kemudian, beberapa kali saya melihatnya, perasaan saya biasa saja. Saya ....” Edi tidak melanjutkan ucapannya.


“Mas Edi merasakannya kapan?” desak Azka tak sabar.


Edi tidak segera menjawab. Seorang gadis berseragam merah kombinasi kuning datang mengantarkan pesanan mereka.


“Selamat menikmati, semoga pelayanan kami memuaskan,” ucap gadis itu ramah.


“Terima kasih.” Azka menjawab singkat.


Azka mengaduk lemon tea di depannya. Ia seolah sedang mengaduk  semua rasa yang ada di hatinya.


“Ehm.” Edi berdeham setelah menyesap minumannya.


“Mas Edi, tolong lanjutin yang tadi,” pinta Azka.


Edi menyunggingkan senyum di bibirnya. Ia sendiri sebenarnya agak malu mencertakan tentang masalah pribadi.


“Saya mulai merasakan perbedaan setelah beberapa kali bertemu Mira di rumah Mbak Via. Mira bersama Ratna dan Salsa kan selalu menginap saat Mbak Via mengadakan acara. Mulai dari pernikahan Mbak Via dan Mas Farhan, mapati, pas Mira main, pokoknya dari pertemuan di sana.”


“Rasanya bagaimana?” cecar Azka.


“Emm, gimana ya? Pokoknya senang, berdebar-debar saat melihatnya. Kalau lama nggak ketemu, ya kangen. Tapi untuk menyapa rasanya malu,” ungkap Edi.


Azka mengangguk-angguk. Ia mengambil sepotong  franch fries dan memakannya perlahan.


Pertanyaan Azka rupanya membuat Edi terkejut. Ia tersedak karena sedang meneguk hot mochaccino.


“Ups, maaf kalau mengagetkan Mas Edi,” ucap Azka merasa bersalah.


“Nggak, nggak apa-apa, Mas.” Edi meneguk minumannya lagi.


“Gimana cara Mas Edi mengungkapkan perasaan ke Mira?” tanya Azka lagi.


“Saya nggak berani, Mas,” ucap Edi lirih.


Kali ini giliran Azka yang terkejut. Ia menatap Edi tak percaya.


“Beneran. Saya ditanyai Mas Farhan soal itu. Akhirnya, saya jujur tentang diri saya, keluarga, juga gadis yang saya suka.” Edi meyakinkan Azka.


“Lalu, Mas Farhan yang menyampaikan ke Mira?” tebak Azka.


Edi mengangguk, lalu melanjutkan, “Dengan Mbak Via tepatnya.”


“Oh begitu,” gumam Azka.


“Mas Azka sedang jatuh cinta?” tebak Edi sambil mengambil pisang bakarnya.


Azka terkejut. Ia kebingungan menjawabnya.


“Gimana, ya? Aku masih bingung soal perasaanku, Mas,” jawab Azka lirih.


Edi mengerutkan kening. Ia masih menunggu ucapan Azka selanjutnya sambil mengunyah pisang bakarnya.


“Aku baru bertemu dengan dia saat pernikahan Mas Edi. Nggak sengaja, sih. Waktu itu aku sedang ke mini market disuruh Mbak Via beli popok untuk Zayn. Dia tengah kebingungan karena kehilangan dompet. Dia kuajak ke hotel dan menginap di sana.” Azka menceritakan awal dia mengenal Meli.

__ADS_1


“Mas Azka tidur sekamar dengannya?” tanya Edi kaget.


“Ish, ya enggaklah. Dia kupesankan kamar di lantai 2 kok,” sanggah Azka cemberut.


Edi menutup mulutnya menahan tawa. Ia merasa bersalah berprasangka buruk terhadap Azka.


“Ternyata, dia teman Ratna juga Mbak Via. Dia datang ke Jogja untuk menemui Ratna. Aku sebel lihat kecerobohannya, tapi aku juga merasa dia menggemaskan. Saat dia pulang ke Jember, perasaanku jadi hampa.” Azka mengakui perasaannya dengan jujur.


Edi tersenyum. Ia sudah bisa menebak yang tengah Azka rasakan.


“Mas Azka pernah menghubungi gadis itu?” tanya Edi.


“Cuma setelah dia sampai rumah. Aku nanya tentang kabarnya. Habis itu, aku nggak pernah menghubunginya. Dia juga nggak pernah menghubungi aku.”


“Gadis itu tentu malu kalau menghubungi Mas Azka duluan. Harusnya Mas Azka yang menghubungi dia,” saran Edi.


“Aku malu, Mas.”


Edi tertawa lirih. Ia teringat dirinya waktu memendam perasaan terhadap Mira. Andai Farhan dan Via tidak membantunya, mungkin dia belum menikahi Mira.


“Bagaimana kalau minta tolong ke Ratna?” usul Edi.


“Minta tolong apa? Menghubungi Meli. Aaah, yang ada dia meledek aku. Nggak, aku nggak mau,”tolak Azka.


Edi terdiam sejenak.


“Bagaimana dengan Mbak Via? Dia kan juga mengenal gadis itu, Mili atau siapa tadi?” Edi memberi alternatif lain.


“Meli, Mas. Tapi, aku malu,” keluh Azka.


“”Terus, gimana dong? Masak saya? Saya kan nggak kenal Meli,” kata Edi.


“Ya iya, sih.”


“Bunda Mas Azka sudah tahu belum?” tanya Edi.


Mendadak Azka terlihat cerah. Ia seperti menemukan sesuatu yang berharga.


“Ah iya, bunda! Aku minta tolong sama bunda saja!” seru Azka sambil tersenyum.


“Memang bunda sudah tahu tentang Meli?” tanya Edi ragu.


Azka mengangguk mantap. Senyumnya mengembang lebar.


“Bunda sudah tahu, kok.  Terima kasih, Mas Edi. Terima kasih sudah mau mendengarkan curhatku, terima kasih atas masukan yang diberikan,” ucap Azka tulus.


Edi hanya mengangguk sambil melukiskan senyum tipis di bibirnya. Ia kembali menyesap mochaccinonya hingga tandas.


Setelah membayar, Azka menyusul Edi ke tempat parkir. Mereka kembali ke ruko. Wajah Azka tampak berbinar memancarkan kebahagiaan. Edi sesekali melirik cowok yang sering tersenyum tanpa mengajaknya.


*


Bersambung


Ada yang belum kenal Meli? Baca Cinta Strata 1, ya! Nantikan kisah Azka dan Meli pada episode selanjutnya. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan komen. Meski cuma 5 karakter, itu sangat berarti bagi aku. Terima kasih.



Baca juga novel bagus karya Kak Khinanti yang sarat nilai agama.


__ADS_1


__ADS_2