
Sudah dua minggu berlalu. Keluarga Via mulai terbiasa dengan pengawalan yang ketat. Sebenarnya, mereka risih karena tidak terbiasa. Namun, demi keselamatan mereka terpaksa menurut.
Tidak hanya Via dan Farhan, Pak Haris, Bu Aisyah, dan Eyang Probo pun ikut merasakan imbasnya. Mereka juga terpaksa membiarkan body guard di sekitar mereka. Hanya, mereka tidak seketat Via dan Farhan.
Via dan Farhan pun minta kelonggaran saat bersantai. Mereka meminta pengawal yang tidak berseragam agar tidak terlalu kaku.
“Mas Edi, bagaimana penyelidikan Mas Edi soal orang yang berniat jahat ke kita? Sudah ketahuan siapa mereka?” tanya Via saat mereka selesai meeting.
“Sudah ada titik terang. Cuma, saya merasa janggal. Masa orang-orang dari Elang Perkasa yang memiliki rencana licik ini. Rasanya aneh.” Edi menjelaskan sambil meletakkan stopmap warna biru.
“Elang Perkasa yang pernah bekerja sama dengan kita? Yang dulu kita serahi pengadaan ATK?”
“Betul, Mbak. Sepertinya aneh kalau perusahaan sekelas Elang Perkasa berani berulah sejauh ini. Saya dan Kiki yakin ada yang berdiri di belakang mereka. Jadi, mereka hanya kedok.” Edi memberi penjelasan.
Via mengangguk-angguk paham. Ia setuju dengan pendapat Edi.
“Kenapa kita putus kontrak kerja dengan Elang Perkasa? Apa memang waktu atau ada masalah?” tanya Via.
“Saya sudah cek, memang pada perjanjian hanya 6 bulan. Waktu itu sudah habis. Elang Perkasa mengajukan perpanjangan tapi tidak kita ACC,” jawab Edi.
“Kenapa?”
“Ada beberapa barang yang kualitasnya kurang bagus.”
Via mengangguk-angguk. Ia memainkan pulpen sambil memikirkan sesuatu.
“Sekarang kita kerja sama dengan perusahaan mana untuk pengadaan ATK?” Via kembali bertanya.
“Dengan Fajar Bersinar. Itu milik om-nya Mas Doni.”
Via tampak sedikit kecewa. Rupanya ada yang tidak sejalan dengan rencananya.
“Elang Perkasa mengajukan proposal kerja sama ke Citra Wijaya. Saya belum cek sudah ada keputusan atau belum.” Edi melanjutkan penjelasannya.
“Citra Wijaya, anak cabang perusahaan kita yang baru diresmikan ?” Via mengklarifikasi.
“Benar.”
Seulas senyum tipis menghiasi bibir Via. Ia memiliki suatu gagasan.
“Panggil Pak Sasmita ke sini. Nanti kita meeting tertutup,” kata Via.
Edi hanya bisa mengikuti kemauan Via. Ia segera menghubungi Pak Sasmita, pemegang tampuk pimpinan Citra Wijaya.
“Pak Sasmita bisa ke sini setelah istirahat siang,” kata Edi melaporkan tugasnya.
Via mengangguk setuju.
“Mas Edi, bagaimana Mas Edi memastikan keterlibatan Elang Perkasa dalam hal ini?” tanya Via.
“Mbak Via ingat insiden 4 hari yang lalu di mall?”
Via sedikit terkejut. Ia begidik.
__ADS_1
Flash Back on
Farhan mengerutkan keningnya saat Via merengek minta jalan-jalan ke mall. Sebenarnya, dia malas bepergian karena ingin menikmati istirahat di rumah.
“Ayolah, Hubbiy! Sekadar menghilangkan suntuk. Masa tahunya rumah dan kantor. Jalan-jalan sebentar bisa menghilangkan kepenatan,” rengek Via.
Akhirnya, mereka pergi ke mall. Body guard pun bersiap mengawal. Karena bukan acara resmi, mereka diminta tidak berseragam. Via tidak mau pengawalan terhadap keluarganya terlihat mencolok.
Begitu turun dari mobil, Farhan menggandeng tangan Via memasuki mall. Dua body guard berjalan di depan mereka dan dua lagi di belakang. Mereka seperti pengunjung mall biasa.
Karena tujuan utamanya untuk jalan-jalan sekadar penghilang stress, barang yang Via beli pun tak banyak. Ia menenteng sendiri tas belanjaan, sementara Farhan menggendong Zayn.
Baru saja keluar sampai teras lantai dasar, Via dikejutkan reaksi body guard-nya.
“Awas, Nona, Tuan!”
Tiba-tiba dua orang tersungkur di depan Via. Kejadiannya begitu cepat sampai-sampai Via tidak tahu apa yang terjadi. Ia hanya melihat seorang body guard tergeletak bersimbah darah. Satu orang tak dikenal ambruk menimpa body guard tersebut.
Ternyata, orang tak dikenal itu berusaha menyerang Via dengan pisau. Namun, dengan sigap seorang body guard menjadi tameng dan body guard lain merobohkannya.
Dengan cepat body guard lain datang membantu. Mereka membawa dua orang yang sudah tak berdaya itu. Body guard yang terluka dibawa ke rumah sakit, sementara penyerang gelap dibawa ke sebuah rumah terpencil.
Flash Back off
“Apa Mas Edi mendapat informasi tentang keterlibatan bos Elang Perkasa dari penyerang itu?” tebak Via.
“Benar. Tidak mudah membuka mulutnya. Kiki harus turun tangan memaksanya bicara.”
“Di mana orang itu sekarang? Tolong jangan main hakim sendiri!” pinta Via.
“Justru orang itu kami amankan demi keselamatannya. Kalau kami serahkan ke kepolisian, bisa jadi dia diincar orang suruhan bos Elang Perkasa lainnya.”
“Maksud Mas Edi bagaimana?”
“Orang yang gagal menjalankan misi akan diberi kesempatan kedua atau dihabisi. Apalagi kalau tertangkap dan buka mulut. Kalau kita serahkan kepada polisi, dengan cara licik, mereka akan berusaha melenyapkan orang itu.”
Via melongo. Ia memang tak berpikir sampai ke situ.
“Bagaimana dengan keluarganya?” tanya Via cemas.
“Keluarganya sudah kami ungsikan. Sepertinya kegagalan orang itu belum tercium hingga dua yang lalu. Entah sekarang. Seharusnya mereka sudah tahu misi mereka gagal,” jawab Edi.
Via menarik nafas lega. Ia tidak tega kalau sampai orang yang menyerangnya dihabisi. Ia ingat Agus yang pernah mencelakainya karena menjalankan misi. Via berpikir ada kemungkinan orang itu terpaksa mau berbuat jahat karena butuh uang seperti Agus.
Setelah berbicara cukup banyak dengan Edi, Via kembali melanjutkan pekerjaan. Usai jam istirahat, Via menemui Pak Sasmita dengan ditemani Edi.
“Pak Sasmita, saat peresmian Citra Wijaya, apakah disebutkan bahwa Citra Wijaya merupakan bagian dari Wijaya Kusuma?”
Yang Via tanyai terdiam. Ia mengingat-ingat peristiwa saat peresmian yang tidak dihadiri Via.
“Seingat saya tidak. Mohon maaf atas keteledoran kami, Bu,” jawab Pak Sasmita.
“Tidak apa-apa, Pak. Justru saya senang.”
__ADS_1
Pak Sasmita menatap Via bingung.
“Kemungkinan kecil orang tahu kalau Citra Group bagian dari Wiaya Kusuma. Ini menguntungkan kita. Saya ada rencana untuk mendekati Elang Perkasa melalui Citra Group. Pak Sasmita, loloskan proposal Elang Perkasa. Nanti pasal-pasalnya saya cek dulu. Saya minta besok sudah siap.”
Pak Sasmita masih terlihat bingung. Ia belum paham maksud Via.
“Sudahlah, lakukan saja yang Bu Via perintahkan. Besok, Pak Sasmita kirimkan draft kerja sama lewat email untuk dicek Bu Via. Langkah selanjutnya, Pak Sasmita ikuti instruksi dari Bu Via.” Edi memutuskan.
Pak Sasmita mengangguk setuju. Setelah mendapat sedikit arahan dari Via, Pak Sasmita berpamitan, kembali ke kantor Citra Wijaya.
“Sebenarnya, apa yang Mbak Via rencanakan?” tanya Edi yang sebenarnya belum paham rencana Via.
“Begini, Mas. Saya ingin melakukan pendekatan dengan bos Elang Perkasa. Saya ingin mengorek secara halus alasan mereka memusuhi kita. Saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Nanti, ketika kita sudah punya relasi dengan mereka, saya minta tolong Mas Edi mengoreknya. Kalau perlu, libatkan Kiki.” Via menjelaskan.
Edi mengangguk-angguk paham.
“Apa tidak lama. Mbak? tanya Edi yang tampak ragu.
“Bisa cepat bisa lama,” jawab Via.
Via menjelaskan secara rinci rencananya. Edi menyimak dengan saksama. Sesekali Edi menanggapi, memberi masukan.
“Bagaimana kalau saya bicarakan dengan Kiki nanti sore?”
“Silakan, Mas. Nanti Mas Edi bisa keluar mendahului.” Via memutuskan.
“Baik, Mbak. Saya permisi dulu.”
Edi kembali ke ruangannya. Ia segera menghubungi Kiki.
“Ada apa, Bang? Kangen?” terdengar suara centil dari seberang.
“Haish, kamu ni. Bukannya salam malah nanya kangen. Assalamualaikum, begitu!” ucap Edi ketus.
“Waalaikusalam. Hehe...jangan marah, Bang! Ntar keriput lo!”
“Sudah, sudah. Nanti kutunggu kamu di ruko. Ada yang perlu kita bicarakan. Urgen!” kata Edi tegas.
“Ke ruko? Beneran? Jam berapa? Sekarang?” tanya Kiki bertubi-tubi. Suara kemayunya berubah.
“Nanti, jam 4! Kamu mandi dulu! Pakai parfum jangan banyak-banyak! Pusing aku,” suara Edi ketus lagi.
“Siap! Aku beli parfum dulu. Biasanya cewek suka aroma apa?”
“Haduuh...kamu ini kenapa, sih? Lagi jatuh cinta?” tanya Edi heran.
Beberapa saat tidak terdengar jawaban. Edi semakin penasaran.
***
Bersambung
Maaf, ya. Waktuku masih sangat terbatas karena tugas masih banyak yang harus diselesaikan. Apa kabar Meli dan Azka? Sabar, ya! Belum waktunya hehe...
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung aku dan Kak Indri Hapsari dengan novelnya CS1, ya!