SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Canggung


__ADS_3

Senja mulai menyapa. Rona kemerahan di langit barat tampak


sedikit menimpa warna biru langit. Semilir angin menghela gerah yang melanda.


Via tampak segar setelah mandi. Jilbab biru muda tampak serasi dengan gamis biru dongker yang ia kenakan. Ia memilih warna favorit Farhan untuk mengunjungi bayinya kali pertama di ruang peristi.


Sebelumnya, ia memohon kepada dokter Haris agar diizinkan masuk ruang peristi untuk melihat bayinya dari dekat. Dokter Haris akhirnya tidak kuasa menolak permintaan itu. Ia mengizinkan Via masuk dengan catatan harus mematuhi peraturan di ruang peristi.


Bu Aisyah yang baru saja selesai salat asar , tersenyum melihat wajah Via yang tampak segar. Ia pun bersiap mengantar Via menengok bayinya.


Selesai bersiap, Bu Aisyah mengambil kursi roda. Perempuan setengah baya yang berpenampilan sederhana tetapi tetap elegan itu mendorong kursi roda ke dalam kamar.


“Kursi roda buat apa, Bunda?” tanya Via heran.


“Buat kamulah. Dari sini ke ruang peristi cukup jauh lo! Kamu kan baru saja bisa berjalan lagi tadi. Masih sakit, kan? Ayo, naiklah!” perintah Bu Aisyah.


Via menurut. Ia naik ke kursi roda. Bu Aisyah mendorong kursi roda perlahan ke ruang peristi. Sesampai di sana, seorang petugas


menyambut mereka.


“Silakan Nyonya Via turun dari kursi roda dan memakai baju ini,” kata petugas itu dengan ramah. Disodorkannya baju khusus berwarna biru muda.


Via menerima baju itu. Kemudian, ia memakainya dengan dibantu Bu Aisyah.


Selesai membantu Via, ganti Bu Aisyah mengenakan baju yang


sama. Merek berdua masuk ke ruangan mengikuti langkah petugas.


“Ini bayi Nyonya Via. Berat badannya sekarang 1.450 gram.


Dia belum bisa menyusu langsung dari ibunya. Oleh karena itu, ASI kami berikan


menggunakan pipa orogastnik.” Petugas berbaju hijau itu menjelaskan.


Via tidak menjawab sepatah kata pun. Tatapannya tertuju kepada makhluk mungil yang berada di dalam inkubator.


Seorang bayi mungil memakai popok instan tampak bergerak-gerak. Tubuhnya ditumbuhi rambut-rambut halus. Kulitnya yang kemerahan terlihat sedikit keriput. Beberapa selang terhubung dengan tubuh kecilnya.


Via menatap takjub. Ia tak pernah membayangkan sosok mungil


itu tadinya di dalam kandungannya selama 7 bulan. Sekarang, ia bisa melihatnya


dari dekat. Saat baru lahir, Via hanya sempat melihatnya sebentar.


Mata Via berkaca-kaca. Tenggorokannya terasa tercekat.


“Hubbiy, lihatlah anak kita. Dia begitu kecil. Berat badannya jauh dari normal. Tapi, dia sudah terlihat begitu tampan. Ah, bibirnya


begitu mirip denganmu. Ia lucu sekali.”


Tepukan Bu Aisyah di bahu Via membuat ibu muda itu tersentak. Lamunannya pudar,


“Anakmu begitu imut. Betapa lucunya dia,” bisik Bu Aisyah.


Via hanya mengangguk. Ia tengah berjuang keras agar tangisnya tidak pecah. Bahagia, haru, juga sedih membaur dan memenuhi rongga dadanya.


“Maaf, Mbak, boleh tanya tentang bayi ini?” tanya Bu Aisyah.


“Silakan, Bu. Kalau saya bisa menjawab dan itu wewenang saya, tentu akan saya jelaskan,” jawab petugas tersebut sopan.


“Apa cucu saya ada masalah serius dengan organ dalamnya, terutama paru-paru?”

__ADS_1


“Cucu Ibu lahir premature karena belum genap 31 minggu. Bayi


yang lahir premature lazim mengalami masalah pada berat badan maupun fungsi


organ vital. Untuk lebih jelasnya, Ibu bisa menanyakan kepada dokter Haris atau


langsung ke dokter anak kami, dokter Wibowo.”


Bu Aisyah sebenarnya kecewa. Via juga demikian. Mereka berharap mendapat penjelasan yang sebenarnya tentang bayi Via. Kalau bertanya kepada dokter Haris, mereka ragu dokter senior itu memberikan penjelasan yang sebenarnya.


“Kapan kami bisa menjumpai dokter Wibowo?” tanya Via lirih.


Untunglah posisi Via   cukup dekat dengan


telinga petugas itu.


“Besok pagi setelah beliau visitasi ke pasien rawat inap dan


pemeriksaan pasien rawat jalan. Sekitar jam 11.00 kalau pasien rawat jalan


tidak membludak, Nyonya,” jawab petugas.


“Baiklah, insya Allah kami akan menemui dokter Wibowo besok,” kata Bu Aisyah.


Setelah seperempat jam di ruang peristi, Bu Aisyah mengajak


Via kembali ke kamar. Sebenarnya, Via enggan kembali. Ia ingin tetap di situ


menunggui bayinya. Bu Aisyah membujuknya dengan telaten hingga akhirnya Via


menurut.


Mereka keluar dan kembali ke kamar perawatan Via sesudah


menggunakan kursi roda.


Saat masuk kamar, mereka dikejutkan sosok Azka yang hendak


keluar. Cowok itu terlihat tergesa-gesa.


“Bunda, Mbak Via, dari mana? Azka cari-cari, lo,” kata Azka.


“Kami baru dari ruang peristi nengok bayi kakakmu,” jawab Bu Aisyah.


Via turun dari kursi roda lalu berjalan perlahan ke tempat tidur. Ia duduk dengan bersandar pada sisi bed yang dibuat lebih tinggi.


“Bagaimana kondisi keponakanku? Sudah bisa apa dia?” tanya Azka antusias.


“Kamu pikir dia bisa apa?” tanya Bu Aisyah balik.


“Mungkin sudah bisa ketawa, berceloteh aaa….aaaa, begitu?”


Bu Aisyah tertawa mendengar jawaban Azka.


“Dia baru lahir, Azka. Bayi mulai bisa berceloteh begitu kalau usianya sudah 4 bulan,” jelas Bu Aisyah.


“Yaa, mana Azka tahu? Kan Azka nggak ingat masa kecil Azka dulu, waktu Azka masih bayi,” ujar Azka membela diri.


“Mana ada orang ingat masa-masa ia masih bayi. Kamu ni ada-ada saja,” omel Bu Aisyah sembari menoyor kepala anak bungsunya.


Azka terkekeh karenanya.

__ADS_1


“O iya, bagaimana kondisi kesehatannya? Nggak ada masalah, kan?” tanya Azka lagi.


“Kami belum tahu pasti. Itu wewenang dokter yang merawat,” jawab Bu Aisyah.


“Kan kita bisa tanya ke ayah. Ayah pasti selalu memantau cucunya. Apalagi ini cucu pertama ayah. Nggak mungkin kalau ayah nggak tahu.” Azka terus saja nyerocos membuat bundanya gemas.


“Iya, ayahmu jelas tahu. Tapi, kadang ayahmu nggak mau kasih tahu yang sebenarnya kalau itu menyangkut kondisi yang serius. Via ingin tahu kondisi yang sebenarnya,” sahut Bu Aisyah.


“Oh, ini ceritanya ayah sudah kehilangan kredibilitasnya,” ucap Azka sambil mengangguk-angguk.


“Sembarangan! Ni anak kalau ngomong nggak pakai disaring, sih!” Bu Aisyah memelototkan matanya ke arah Azka.


“Lah emang nyeduh teh tubruk pakai disaring? Aduuuh…!”


Ucapan Azka berakhir dengan teriakan karena telinganya dijewer sang bunda.


“Kamu kenapa, Via?” tanya Bu Aisyah. Ia baru menyadari kalau sejak tadi Via hanya diam tak bereaksi.


“Iya, nih. Kok diam saja dari tadi? Sariawan? Minum laruratan cap kaki seribu eh … auw!” Lagi-lagi Azka memekik kesakitan. Kali ini


cubitan Bu Aisyah mendarat di lengannya.


“Bunda nih, kejam amat samat anak sendiri. Ini namanya KDRS,” gerutu Azka.


“Apaan tuh? Yang ada KDRT, Ka,” kata Bu Aisyah.


“Kekerasan Dalam Rumah Sakit. Ini kan di rumah sakit. Bunda


gimana, sih?” Azka bersungut-sungut.


Bu Aisyah tertawa. Namun, hanya sebentar karena ia menyadari Via masih belum berekasi. Ia mendekati putri angkatnya.


“Via, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanya Bu Aisyah sembari


duduk di tepi tempat tidur.


“Eh, ada apa, Bunda?” Via balik bertanya kebingungan.


“Kamu melamun, ya? Ada apa, sih?” tanya Bu Aisyah lagi.


“Eng\=\=enggak apa-apa, Bunda. Via cuma mikir kira-kira apa


yang akan disampaikan dokter besok tentang kondisi bayi Via.


“Aku nggak mungkin jujur kepada mereka kalau aku sebenarnya canggung berada di dekat Azka. Ini gara-gara perkataan Eyang Probo. Ah, benarkah Azka dulu menaruh hati padaku. Kalau iya, sekarang bagaimana? Apa


masih? Ah, pikiranku kok jadi ngelantur begini?” Tak terasa Via mengambil nafas


panjang.


“Kamu jangan terlalu memikirkan kondisi bayimu, apalagi menduga yang buruk. Ingat, kamu harus menjaga pikiranmu agar tidak stress, Via,” kata Bu Aisyah lembut.


“Iya, Mbak. Tenang saja, dokter pasti melakukan yang terbaik untuk dedek,”sambung Azka.


“Iya,” jawab Via singkat.


Via kembali diam. Ia sepertinya enggan ikut menanggapi pembicaraan antara Bu Aisyah dan Azka.


***


Bersambung

__ADS_1


Nantikan cerita selanjutnya, ya! Mohon tetap dukung karya receh ini dengan klik like, rate 5, tinggalkan koment dan vote yang banyak. Iiih...kemaruk, ya?


Terima kasih atas dukungan Kakak,


__ADS_2