SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bagian XXXIX


__ADS_3

Sejak insiden penyerempetan itu, Via tidak diperbolehkan tinggal di kost. Tadinya, Via menolak. Ia masih trauma dengan ucapan Eyang Probo.


"Kamu tidak enak dengan eyangnya Farhan, kan? Biar Farhan dan Azka yang bicara dengan beliau. Ini juga menyangkut perusahaan Eyang Probo," bujuk Pak Haris.


"Maksud Ayah?"


"Ada oknum yang sedang berusaha menghancurkan perusahaan ayahku. Kemungkinan orang-orang yang sama dengan yang menghancurkan perusahaan almarhum papamu. Farhan dan Azka sedang menyelidiki masalah ini. Bukti-bukti yang mereka dapatkan cukup kuat Tapi, belum mengungkap semua orang yang terlibat. Keselamatan kamu terancam, Vi. Makanya, kamu jangan di tempat kost. Sebentar lagi juga libur semester, kan?"


"Iya, Yah. Lalu bagaimana dengan perusahaan almarhum papa dan juga milik eyanf?"


"Kamu tidak usah memikirkan terlalu jauh. Biar Farhan dan Azka yang bertindak. Sekarang, pikirkan keselamatan kamu sendiri. Mereka mengincar nyawamu."


Akhirnya, Via menyetujui. Dengan diantar Bu Aisyah, ia mengambil buku-buku dan baju-bajunya.


Farhan dan Azka disuruh menemui Eyang Probo untuk membicarakan masalah papa Via dan perusahaan. Sebenarnya, tanpa disuruh pun mereka akan menyampaikan kepada eyang mereka. Sore itu mereka berkunjung ke rumah Eyang Probo.


"Assalamualaikum, Eyang," sapa mereka.


"Waalaikumsalam. Tumben nih, kalian berdua datang tanpa ayah bunda kalian?"


Farhan dan Azka meraih tangan Eyang Probo lalu menciumnya bergantian.


"Ayah sedang sibuk, pasien membludak. Kalau bunda sedang menulis ijazah," jawab Azka.


"Beliau berdua menitipkan salam untuk Eyang. Dan, bunda juga menitipkan ini, gudeg kesukaan Eyang," tambah Farhan.


"Waalaikumsalam. Gudegnya lengkap dengan sambal goreng krecek dan telur pindang?"


"Iya, dong."


"Aisyah memang paling top urusan begini. Kalian masuklah. Kalau mau minum, ambil sendiri."


Mereka masuk ke rumah joglo eyang mereka. Rumah yang luas dengan dominasi ornamen ukiran Jepara itu terasa menyejukkan. Apalagi banyak pohon rindang di sekitar rumah. Eyang Probo memang menyukai yang alami.


"Eyang, ada yang ingin kami sampaikan kepada Eyang. Bisa kita bicara?" ucap Azka.


"Kok kelihatannya serius banget? Yuk, masuk ke ruang kerja Eyang," ajak Eyang Probo.


Setelah mereka duduk, Farhan mengeluarkan ponselnya lalu memutar rekaman video.


"Silakan Eyang mencermati video yang saya putar. Ada beberapa video. Ini video pertama," jelas Farhan.


Eyang Probo memperhatikan video berdurasi sekitar lima menit. Orang tua itu benar-benar mencermatinya.


Setelah tayangan selesai Eyang Probo bertanya, "Dari mana kamu dapatkan rekaman itu?"

__ADS_1


"Dari orang kepercayaan saya. Selanjutnya ini, Yang. Ini Farhan rekam sendiri di kantin." Farhan memutar video yang lain.


Melihat tayangan itu, wajah Eyang Probo tampak memerah. Sepertinya orang tua itu tengah menahan marah.


Selain video, Farhan juga menunjukkan foto dan screenshot percakapan.


"Jadi, Danu memanfaatkan aku untuk menghancurkan Wirawan? Sekarang, setelah Wirawan tiada, ia ganti menyerang aku. Benar-benar tidak tahu diuntung. Aku harus buat perhitungan."


Eyang Probo bangkit dari duduknya dengan muka merah padam.


Azka ikut berdiri dan menghalangi eyangnya yang akan keluar ruangan, "Eyang mau ke mana?"


"Eyang mau menemui si keparat Danu."


"Sabar, Eyang. Kita harus bermain bersih. Orang seperti mereka, biasanya licik. Kalau langsung berhadapan, dia bisa memutarbalikkan fakta. Ibaratnya, jangan sampai ikan belum didapat air sudah keruh."


Eyang Probo mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu, Azka?"


"Duduk lagi, Eyang. Kita bicarakan lagi dengan kepala dingin," kata Farhan.


"Astaghfirullah hal adzim. Aku kok terbawa emosi. Terima kasih, kalian anak muda tapi sudah bisa mengendalikan emosi."


Eyang Probo kembali ke tempat duduknya. Ia menarik nafas panjang berulang kali untuk menurunkan amarahnya.


"Karena berkaitan dengan perusahaan almarhum Pak Wirawan, kita mungkin perlu bantuan orang yang mengelola perusahaan itu," Farhan menambahkan.


"Wirawan. Ah, aku merasa bersalah kepada almarhum. Aku berperan dalam penghancuran perusahaannya."


Eyang Probo menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Sudah, Eyang jangan terlalu menyesali. Kita pikirkan cara untuk menghadapi serangan Om Danu beserta komplotannya," bujuk Azka.


"Kasihan anaknya Wirawan. Ia menderita karena ulah Eyang."


"Iya, Eyang. Via bahkan memutuskan untuk tidak tinggal di rumah karena mendengar ucapan Eyang."


Eyang Probo terkejut mendengar penjelasan Azka.


"Lalu dia tinggal di mana? Bagaimana bisa kalian membiarkan hal itu?"


Farhan mengerucutkan bibirnya, "Membiarkan bagaimana maksud Eyang? Dia kost di dekat kampus. Setiap akhir pekan dia pulang, kok."


"Tapi, berbahaya bagi anak itu tinggal di tempat kost. Kalau ada orang jahat, siapa yang melindungi?"


Azka tertawa kecil dan menatap eyangnya dengan tatapan nakal, "Bukannya Eyang yang nggak ingin Via tinggal bersama kami?"

__ADS_1


"Eyang akui kalau Eyang salah. Eyang mau meminta maaf kepadanya."


"Beneran, nih?" Azka masih menggoda eyangnya.


"Eyang serius, Ka."


"Oke, Eyang. Saat ini Via sudah setuju untuk kembali tinggal bersama kami, kok. Lagian waktu kost, kami terus memantau lewat teman akrab Via."


Eyang Probo menunduk. Perasaan bersalah menggelayuti pikiran orang tua itu.


"Beberapa minggu yang lalu, Dek Via mendapat bermacam teror. Bahkan, baru-baru ini dia hampir ditabrak motor. Video orang yang sedang menelepon tadi menunjukkan kalau kecelakaan yang dialami Dek Via merupakan kesengajaan. Farhan langsung ke lokasi begitu menerima video itu. Makanya, Farhan tidak bisa menemui Eyang waktu itu."


"Lalu, kondisi Via bagaimana?" tanya Eyang Probo dengan suara bergetar.


"Alhamdulillah tidak apa-apa. Seorang teman SMA Via menyelamatkan gadis itu. Salut sama cowok itu yang rela berkorban untuk teman."


Farhan menatap Azka dengan tatapan tidak suka. Entah mengapa ia merasa jengkel ketika sang adik memuji Doni.


"Syukurlah. Lalu bagaimana dengan anak yang menolong? Dia selamat, kan?"


"Iya, dia selamat. Tapi kakinya patah. Sudah dioperasi pasang pen. Saat ini diaharus pakai kruk kalau jalan," jawab Azka.


Eyang Probo menarik nafas panjang. Beberapa saat ia terdiam.


"Eyang benar-benar merasa bersalah. Bagaimana cara Eyang menebus kesalahan ini?"


"Untuk menebusnya, Eyang bantu perusahaan almarhum Pak Wirawan, bagaimana?" ujar Farhan.


"Eyang siap. Tapi jangan terlalu mencolok."


"Itu kita atur nanti. Saat ini Via terancam. Dia butuh perlindungan. Kemungkinan orang-orang Om Danu terus mengincar Via," tambah Azka.


"Kalian bisa lindungi anak itu?"


Azka dan Farhan kompak mengangguk. Lalu, mereka membicarakan rencana yang akan dilakukan untuk menghadapi kelicikan Danu dan kawan-kawan.


Setelah berbincang cukup lama, kedua orang kakak beradik itu pulang. Dahi Farhan mengernyit saat melihat ada minibus hitam terparkir di halaman. Ia tahu pemiliknya.


****


**Bersambung


Biar Author semangat, berikan jempol dan komentar dong!


O iya, silakan masuk grup chatt author. Ada hal menarik di sana**.

__ADS_1


__ADS_2