SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pengumuman (lanjutan)


__ADS_3

Farhan tetap menggandeng tangan Via. Tampaknya dia masih khawatir istrinya nervous.


Pak Arman mengambil mikrofon wireless. Ia menatap orang-orang di hadapannya.


"Saudara-saudara, almarhum Pak Wirawan hanya memiliki satu putri. Maka, putri beliau yang akan menggantikan posisi almarhum. Inilah putri Pak Wirawan. Silakan Mbak," kata Pak Arman sambil menyerahkan mikrofon.


Via menerima mikrofon dari Pak Arman. Ia berjalan mendekati para karyawan.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan nama saya Novia Anggraeni, biasa dipanggil Via. Pak Arman tadi sudah mengatakan bahwa saya adalah putri Pak Wirawan satu-satunya. Sebenarnya, semula saya tidak pernah berpikir terjun ke dunia bisnis. Namun, kondisi yang memaksa saya. Papa saya meninggal secara tak terduga. Kondisi perusahaan carut-marut hingga hampir bangkrut. Saya terpanggil untuk menyelamatkan perusahaan warisan orang tua saya."


Orang-orang bertepuk tangan. Via pun berhenti sejenak.


"Saya mengubur cita-cita menjadi dokter. Akhirnya, saya memilih kuliah di manajemen bisnis."


"Di samping cari yang biayanya lebih murah," lanjut Via dalam hati.


Via menatap Farhan sebentar. Sang suami mengangguk diiringi senyum untuk menyemangati.


"Optimisme saya akan Wijaya Kusuma mulai tumbuh saat Pak Candra, yang ternyata om saya, didukung kakek saya, Kakek Adi Wijaya, menawarkan kerja sama. Ternyata campur tangan om dan kakek saya itu tidak sia-sia. Buktinya, sekarang Wijaya Kusuma mulai mengokohkan sebagai perusahaan yang pantas diperhitungkan. Namun, tidak hanya Om Candra dan Kakek Adi yang berperan. Ada orang lain yang perannya tak kalah luar biasa."


Orang-orang bertanya-tanya mendengar penuturan Via. Mereka menebak-nebak orang yang Via maksud.


"Yang pertama adalah Pak Andi, pengacara almarhum papa. Beliau yang mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan almarhum papa. Bahkan, orang yang bekerja di rumah saya pun tak luput dari perhatian beliau."


Via menyeka air mata yang mulai menggenang. Ia mengambil nafas untuk menata perasaannya.


"Yang kedua adalah Pak Arman. Saudara-saudara tentu tahu kegigihan beliau mempertahankan dan mengembangkan Wijaya Kusuma saat terpuruk. Kalau tidak ada beliau, mungkin PT Wijaya Kusuma tinggal kenangan. Berkat kerja beliau juga orang-orang yang berusaha merongrong, menghancurkan perusahaan yang dibangun papa saya dari nol."


Tepuk tangan terdengar gemuruh. Pak Arman membungkukkan sedikit badannya.


"Berikutnya adalah semua karyawan dan karyawati PT Wijaya Kusuma. Saudara-saudara telah bekerja keras untuk kebangkitan Wijaya Kusuma. Saat Wijaya Kusuma terpuruk, Saudara-saudara masih bertahan di sini. Bahkan dengan gaji minim sekali pun, apalagi bonus. Saya sangat menghargai dan mengucapkan banyak terima kasih atas kerja keras dan ketulusan Saudara-saudara. Berikan aplouse untuk semua pegawai PT Wijaya Kusuma yang berdedikasi tinggi."


Tepuk tangan kembali bergemuruh. Senyum pun mengembang menghiasi wajah sebagian besar yang hadir di aula itu.


"Masih ada satu lagi yang belum saya sebut. Dia bekerja untuk memulihkan kondisi Wijaya Kusuma dengan tulus. Memang, cara bekerjanya tidak terlihat. Sebenarnya, diam-diam ia bekerja bersama Pak Arman dan Pak Andi, juga tim khusus. Itu adalah bagian dari strategi untuk mengungkap kecurangan dalam tubuh perusahaan dan orang-orang yang berusaha menghancurkan Wijaya Kusuma. Dia berada di tengah Saudara-saudara selama setahun belakangan ini dengan menjabat sebagai Manajer Keuangan. Dia juga yang sekaligus pendamping hidup saya, Farhan Alfarizi."


Via membalikan badannya menghadap Farhan. Sementara, sebagian besar dari mereka yang hadir melongo mendengar penjelasan Via.


Farhan menerima mikrofon dari Via lalu berkata," Assalamualaikum, Saudara semua. Saya yakin sudah mengenal saya. Maaf, bukan saya membohongi Saudara, tetapi semua saya lakukan demi kelancaran tugas saya."


Seorang lelaki mendekat ke Pak Arman lalu menyerahkan mikrofon.

__ADS_1


Saudara-saudara yang saya banggakan, sesuai dengan keputusan pemegang saham dalam RUPS beberapa waktu silam, pimpinan perusahaan akan diserahkan kepada Saudari Novia Anggareni."


Tepuk tangan menggema lagi. Via tersenyum kepada semua orang. Ia meminta mikrofon yang dipegang Farhan.


"Mohon perhatian lagi! Saat ini saya masih mencari bekal ilmu. Saya belum siap mengemban tugas sebagai pimpinan. Oleh karena itu, selama saya masih kuliah, tampuk pimpinan dipegang oleh suami saya, Mas Farhan. Saya akan terus belajar dan belajar. Saya mohon kesediaan Saudara-saudara untuk membantu kelancaran tugas kami, demi mengembangkan perusahaan ini."


Pertemuan diakhiri setelah sesi tanya jawab. Farhan dan Via merasa lega melihat reaksi para karyawan yang menerima mereka.


Farhan dan Via kembali ke ruangan diikuti Pak Arman.


"Cinta hebat! Ternyata bisa orasi panjang lebar gitu. Benar, kan keyakinan Mas kalau Cinta bisa?" Farhan memuji Via tulus.


"Ah, cuma mengeluarkan unek-unek saja, kok," sahut Via merendah.


"Tapi nggak terlihat grogi sama sekali tadi. Apalagi gemetar," ucap Farhan lagi.


"Udah kabur tuh nervous-nya. Tadi kan dapat energi yang disalurkan lewat tangan," ujar Via santai.


Farhan dan Pak Arman tertawa. Mereka menganggap Via begitu lucu menggemaskan.


Sesampai ruangan, mereka kembali membicarakan tentang rancangan-rancangan untuk memajukan Wijaya Kusuma.


Pembicaraan mereka dihentikan saat lantunan azan dari ponsel Farhan. Kedua pria itu bergegas ke musala untuk jamaah zuhur. Sementara Via masih memelototi layar laptop di depannya.


"Permisi, saya mengantarkan makan siang pesanan Pak Arman," ucap gadis itu.


Via menatap gadis itu. Penampilannya membuat Via risih. Gadis itu memakai rok mini yang panjangnya di atas lutut dan blouse lengan pendek yang agak ketat dengan belahan krah cukup rendah.


"Oh, iya, taruh saja di situ. Mbak, boleh tahu nama dan jabatan Mbak?" tanya Via.


"Saya Ririn dari Divisi administrasi. Tadi saya bertemu Bu Nita yang tengah memesan makanan di kantin, lalu diminta tolong membawakan makanan ke sini karena Bu Nita mau salat," jelas Ririn panjang lebar tanpa diminta.


"Ya sudah, terima kasih. Mbak Ririn boleh kembali," kata Via. Ia kembali melanjutkan kegiatannya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," jawab Via sambil menoleh. Ia tersenyum melihat suaminya baru datang.


"Mana Pak Arman?"


"Katanya ada urusan ke luar sebentar. Itu sudah ada makan siang. Siapa yang pesan? Cinta?"

__ADS_1


"Kata Mbak Ririn sih Pak Arman yang pesan," jawab Via.


Farhan mengernyitkan keningnya. Namun, tak lama ia kembali bersikap biasa.


"Ya udah, Cinta makan dulu. Om Arman mungkin kembali setelah jam makan siang," kata Farhan.


"Belum lapar. Nanti saja."


"Apa mau Mas suapi? Sini!" Farhan menggoda istrinya.


"Ish, apaan. Beneran Via belum lapar. Nanti kalau Via lapar, pasti akan Via makan. O ya, ada yang mau Via omongin."


"Kelihatannya serius. Ada apa, Cinta?"


Farhan berpindah posisi duduk ke samping Via.


"Begini, Hubbiy. Tadi, gadis yang bernama Ririn,vyang nganterin makan siang ini, penampilannya membuat Via risih. Pakaiannya ketat, pendek lagi. Pokoknya menunjukkan keseksian tubuhnya," papar Via.


"Cinta khawatir Mas tergoda?" tanya Farhan sambil menahan senyum.


"Bukan begitu, Hubbiy. Menurut Via, itu juga mempengaruhi citra perusahaan. Coba kalau sebagian besar karyawati berpakaian seperti itu," jawab Via menggebu-gebu.


"Penampilan seperti itu sudah biasa di banyak kantor, Cinta," ujar Farhan.


"Sudah biasa bukan berarti baik, bukan? Sudah biasa bukan berarti tidak bisa diubah, kan?" desak Via.


"Maksud Cinta bagaimana?"


Via beringsut sedikit. Sekarang ia menghadap Farhan.


"Bagaimana kalau ada peraturan mengenai pakaian? Semua karyawati tidak boleh memakai rok mini dan pakaian yang ketat?" usul Via.


"Apa tidak menimbulkan gejolak nantinya?" gumam Farhan khawatir.


"Jangan ditetapkan secara formal dulu, Hubbiy. Kita melakukan pendekatan persuasif dulu," terang Via.


Farhan tersenyum. Dalam hati ia memuji cara berfikir Via.


***


Bersambung

__ADS_1


Tetap dukung author dengan memberi like dan komentar di tempat episode. Vote dan rate 5 juga author harapkan.


Insya Allah author akan kunjungi balik kaya Kakak yang koment. Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏


__ADS_2