
Via masih tidur dengan memeluk Baby Z. Sejak tengah malam dia terjaga karena bayinya terbangun dan tidak mau ditidurkan. Via harus menggendongnya terus.
Saat dalam dekapan bundanya, si baby memang tertidur. Ketika Via letakkan, ia terbangun. Via sengaja menidurkan bayinya di ranjangnya, bukan di boks. Ia tidak tega berpisah lagi dengan bayinya seperti waktu di rumah sakit.
Farhan sempat menemani. Namun, Via melarang Farhan tidak beristirahat. Ia khawatir kepala Farhan bermasalah.
Farhan kembali terbangun setengah jam menjelang subuh. Ia melaksanakan qiyamul lail dilanjutkan salat subuh di musala bersama Bu Inah dan Mbok Marsih.
Pukul 07.00, Via membuka mata. Ia kaget saat melihat jam dinding. Sejak mama dan papanya meninggal, Via tidak pernah bangun sesiang ini.
Setelah mandi, Via segera mencari Bu Inah. Pagi ini ia akan belajar memandikan Baby Z. Saat kembali ke kamar, Baby Z ternyata sudah bangun.Bayi mungil itu tidak menangis.
Setelah Via beri tahu, Bu Inah menyiapkan keperluan mandi juga air hangat. Sementara Via menemani Baby Z yang baru bangun.
"Dedek sudah bangun?" tanya Bu Inah.
"Sudah, Bu. Alhamdulillah, dia tidak rewel. Via bawa ke situ, ya," jawab Via.
Tanpa menunggu jawaban, Via membawa bayinya. Ia memperhatikanBu Inah memandikan bayi. Karena berat badannya masih kurang, Bu Inah memandikan dengan cepat tetapi tetap berhati-hati.
Selesai dimandikan, Baby Z terlihat kedinginan. Via ingat cara yang diajarkan perawat ruang peristi. Ia segera menggunakan metode kanguru untuk menghangatkan bayi.
Momen pagi itu begitu menyenangkan. Untuk pertama kalinya Via ikut berperan memandikan bayinya.
Setelah menyusu dengan metode kanguru, Baby Z tidak lagi tampak kedinginan. Via dibantu Bu Inah segera memakaikan baju untuknya.
Setelah bayinya rapi, Via membawa Baby Z turun. Ia keluar untuk menjemur bayinya.
Baru lima menit, perhatian Via tertuju ke depan gerbang. Ada taksi berhenti di sana. Tak lama berselang, pintu taksi dibuka dan tiga penumpang turun.
Via tersenyum lebar melihat yang datang. Ia berdiri menunggu ketiganya mendekat.
"Marimar, sayangku! Mana keponakanku?" teriak Ratna.
"Haish, kecilkan volume suaramu! Anakku bisa ketakutan dengar suaramu kayak petir." Via mengingatkan.
"Hehe...maaf, aku lupa. Kakak minta maaf, ya, Dek," ucap Ratna lagi.
"Kakak? Kakak dari Hongkong. Sana cuci tangan dulu kalau mau pegang!" tegur Via.
Ketiganya mencuci tangan di tempat yang telah tersedia. Mereka pun duduk di sebelah barat Via agar tidak menghalangi sinar matahari.
Empat perempuan itu terlibat pembicaraan seru. Tentu saja, Ratna yang paling heboh di antara mereka.
Mereka tidak lama ngobrol di halaman. Hanya sekitar 5 menit. Mereka diajak ke dalam.
Kali ini, Baby Z tetap tenang. Bu Inah masuk menjaga si bayi sehingga Via bisa menikmati sarapan di ruang makan. Ternyata keluarga Om Candra sudah ada di sana.
"Ayo, kita makan! Mana suamimu?" tanya Pak Candra.
"Aaah...Via belum ketemu sejak bangun. Mungkin ada di musala atau paviliun. Saya panggil dulu sekalian teman-teman saya." Via keluar.
__ADS_1
Baru beberapa langkah, Via bertemu Farhan. Rupanya, ia baru dari musala. Via mengatakan kalaau keluarga Pak Candra menunggu untuk sarapan.
Setelah itu, Via pergi ke ruang tamu. Ia mengajak sahabat-sahabatnya untuk sarapan bersama.
Karena mereka memang belum sempat sarapan, ketiganya dengan senang hati mengikuti Via. Mereka duduk berhadapan dengan keluarga Pak Candra.
"Aaaaa! Hantuuuuuu!!!" teriak Ratna dan Salsa bersama. Mereka saling berpelukan seperti teletubbies.
Semua orang terkejut. Pandangan mereka tertuju ke dua gadis yang tengah berpelukan.
"Huaaaaa!! Toloong!" Mira ikut berteriak dan memeluk Ratna dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya ke punggung Ratna.
"Kenapa ada hantu di sini? Lagian hantunya berani amat, ya? Kok muncul saat hari sudah terang begini?" bisik Ratna.
Via yang semula bengong tersadar. Ia sudah paham penyebab ketiga sahabatnya berteriak. Ia pun tak kuat menahan tawanya. Via mendekati ketiganya.
"Masya Allah, Mbak Mira, Ratna, Salsa, itu bukan hantu. Itu beneran Mas Farhan. Suamiku masih hidup, kok," ujar Via.
Keluarga Pak Candra juga Farhan ikut tertawa setelah tahu penyebab mereka ketakutan.
Setelah mendengar perkataan Via, perlahan ketiganya mengangkat kepalanya perlahan. Namun, mereka belum berani melihat langsung. Mereka menutup sebagian wajah, mengintip Farhan dari sela jemari.
"Ih, masa seperti ini dibilang hantu. Memangnya wajahku menyeramkan?" gerutu Farhan.
"Beneran Mas Farhan masih hidup?" desis Ratna. Ia menatap Via.
"Iya. Udah, nanti habis sarapan kami cerita. Sekarang, ayo sarapan dulu!" ajak Via.
Via mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Ia mempersilakan sahabatnya mengambil makanan. Sementara Pak Candra dan istrinya sudah bersiap menyantap hidangan.
Usai sarapan, Via dan Farhan bercerita kronologi kecelakaan yang Farhan alami. Mereka menjelaskan hingga Farhan dioperasi untuk pemasangan pelat untuk menyembuhkan cedera tulang lengan kirinya.
Orang-orang mengangguk-angguk mengerti. Sahabat-sahabat Via tidak lagi ketakutan. Mereka sudah yakin kalau Farhan memang masih hidup.
"Kalian sudah percaya kalau aku masih hidup?" tanya Farhan.
Ketiganya hanya tersenyum malu. Muka mereka memerah.
"Kalau belum percaya, bisa lihat kakinya! Menapak lantai nggak?" Via masih ingin menggoda ketiga sahabatnya.
"Udah, aku percaya, kok. Habis, kamu nggak kasih tahu kami kalau Mas Farhan masih hidup. Kemarin sore chatt juga nggak nyinggung soal Mas Farhan. Jahat, kamu<" gerutu Ratna.
Via tersenyum. Ia melihat om-nya sebelum menjelaskan.
"Maaf, kemarin keberadaan Mas Farhan memang masih disembunyikan. Hanya keluarga dan orang tertentu yang tahu. Sampai dengan kemarin siang, dalang di balik kecelakaan yang menimpa Mas Farhan belum ditemukan," jelas Via.
"O ya? Mengerikan amat? Mereka tahu kalau Mas Farhan masih hidup?" tanya Mira.
Farhan mengangguk baru menjelaskan," Saat keluar dari ATM, ada anggota Kelelawar Hitam yang mengetahui keberadaanku. Untunglah ada Agus, teman SMP Doni, yang menyelamatkanku."
"Waktu di rumah sakit, Mas Edi mencurigai ada pergerakan yang mencurigakan. Kemungkinan mereka mengincar Mas Farhan," tambah Via.
__ADS_1
"Bahkan ada yang menyusup ke kamar ..." kalimat Pak Candra terhenti ketika melihat tatapan Via.
Farhan tampak terkejut. Ia menatap Via.
"Kapan ada yang menyusup ke kamar kita?" tanya Farhan.
"Oh, bukan penyusup. Itu orang salah kamar. Kebetulan namanya juga Farhan, istrinya melahirkan," Via mengalihkan cerita Pak Candra. Ia ingat momen orang bernama Mohamad Farhan yang masuk ke kamarnya.
"Beneran?" Farhan seolah tak percaya.
"Iyalah," sahut Via mantap.
Farhan berpamitan meninggalkan ruang makan terlebih dahulu. Ia bermaksud menemui Pak Nono dan Pak Yudi membahas rencana akikah untuk Baby Z.
"Maaf, Om, tadi terpaksa Via potong pembicaraan Om Candra. Mas Farhan memang tidak diberi tahu soal penyusup itu. Kami khawatir itu akan membebaninya dan memperlambat penyembuhan cedera di kepalanya," papar Via.
"Jadi, beneran ada penyusup?" tanya Dini.
"Stt, jangan keras-keras! Iya, benar. Waktu itu ada yang menyamar menjadi perawat hendak menyuntik Mas Farhan. Qodarullah, ada bodyguard yang datang memukul orang itu hingga pingsan sebelum ia berhasil menyuntik Mas Farhan," jawab Via.
"Dari orang itulah terkuak dalang di balik kecelakaan yang merenggut nyawa Tedi. Dia bukan bagian dari Kelelawar Hitam. Aku salut sama Koko, teman Edi. Dia bisa mengorek informasi yang sangat penting," Pak Candra menambahkan.
Mendadak Via menutup mulutnya. Ia menahan tawa karena mengingat reaksi Azka saat bertemu Kiki.
"Kenapa, Via?' tanya Bu Lena heran.
"Inget reaksi Dek Azka ketemu Kiki. Dia geli sama orang itu," jawab Via.
Pak Candra ikut tertawa. Ia sudah mengenal Kiki sehingga paham yang Via maksud.
"Dia memang berpenampilan seperti itu untuk mengelabuhi orang lain. Sebenarnya dia lelaki tulen dan dia bisa tegas. Dia juga jago karate, lo." Pak Candra memberi tahu.
"O ya? Wah, nggak ngira dia seperti itu."
"Itulah hebatnya Kiki. Selain itu, pelaku bukan dari jaringan hitam seperti Kelelawar Hitam. Biasanya, anggota jaringan seperti itu tetap bungkam saat ditanya orang yang menyuruhnya. Itu sebab polisi kesulitan mengungkap dalang kecelakaan."
"Ih, serem amat." Bu Lena begidik ngeri.
Pak Candra tersenyum mengetahui reaksi sang istri.
"Di dunia bisnis, sering kali persaingan menjurus praktik kotor begitu. Itulah sebabnya, para pebisnis menggunakan jasa bodyguard," papar Pak Candra.
"Lalu, siapa orang di balik kecelakaan maut itu, Om?" Salsa memberanikan diri bertanya.
Lagi-lagi Pak Candra tersenyum. Ia menampakkan ketenangan dan kewibawaannya.
"Tunggu informasi resmi dari kepolisian," jawabnya mantap.
Ketiga sahabat Via tampak kecewa. Mereka penasaran, ingin mengetahui otak kejahatan itu.
***
__ADS_1
Bersambung
Insya Allah aku update tiap hari. Tetap dukung aku, ya!