
Azka menyuruh Meli mengenakan seat belt-nya. Perlahan, Azka mulai melajukan mobil milik bundanya.
Sebagai orang Jogja yang sejak lahir hingga menyelesaikan S-1 di Jogja, menghabiskan sebagian waktu di Jogja, tentu saja Azka sangat hafal jalanan kota Jogja. Ia pun tahu jalan-jalan kecil yang bisa digunakan untuk menghindari kemacetan tanpa bantuan Mbah Gugel. Hanya lima belas menit perjalanan mereka sudah sampai. Azka memarkirkan mobilnya.
“Beneran ini tempat temanku, Mas?” tanya Meli tak pecaya.
“Kalau nggak percaya, masuk saja sana! Cari tuh Ratna yang cerewet!” perintah Azka sambil memajukan tuas ke posisi P.
Meli turun perlahan. Rasa ragu masih menyelimuti pikirannya. Ia baru pertama kali datang ke tempat tersebut. Langkahnya terlihat agak berat, matanya berputar mengecek satu per satu benda yang ada.
Tiba-tiba, Meli dikejutkan kelebat pria yang tadi bersamanya. Azka dengan cepat masuk ke dalam ruko yang terlihat sepi.
“Assalamualaikum, Ratna! Ni temanmu datang!” teriak Azka.
Meli melongo mendengar teriakan Azka. Ia tak menduga Azka mengenal Ratna.
Tak lama Ratna muncul di hadapan mereka. Ia mengenakan gamis motif bunga warna pink.
“Waalaikumsalam. Kok Mas Azka ada di sini? Bukannya Mas Azka harus beres-beres tempat resepsi?” ucap Ratna.
“Memangnya aku cleaning service? Udah, sambut temanmu yang hampir hilang, tuh!” ucap Azka sembari mengarahkan dagunya ke Meli.
“Meli, akhirnya kamu sampai juga. Kok nggak minta jemput, sih? Kenapa nggak bareng Anjani?”
“Anjaani lagi ada urusan. Minta jemput gimana? Batereku low bat. Setelah di-carge penuh, ganti punyamu yang low batt. Untung ketemu Mas Azka.”
Ratna mengajak Meli duduk di bangu dekat meja kasir. Sementara Azka masih berdiri dengan memasukkan kedua tangan ke katong celana seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
“Sekarang lagi sama siapa, Rat? Kok sepi? Salsa dan yang lain ke mana?”
“Ke kampus, Mas,” jawab Ratna.
“Memang Sabtu ada kuliah?” Azka heran.
“Bukan untuk kuliah, tapi ada kegiatan. Kangen Salsa, Mas?” canda Ratna sambil tersenyum jail.
“Nggak gitu. Kalau nggak ada siapa-siapa, aku ke atas. Mau tiduran di sofa sambil lihat berita.”
Tanpa menunggu jawaban Ratna, Azka sudah mengayun langkah panjangnya menuju lantai 2. Ia merebahkan diri di sofa . Ibu jarinya mulai menari menekan tombol-tombol remote.
Sementara itu, dua gadis yang Azka tinggalkan terlibat obrolan seru.
“Kamu kenal Mas Azka sudah lama?”
“Sudah. Dia putra wali kelasku waktu SMA. Dia juga adik ipar Via,” jelas Ratna.
“Oh, Via yang nikah dua tahun lalu? Aku waktu itu datang bersama Anjani?” Meli meminta klarifikasi.
“Iya. Sebetulnya, Via tu nikahnya sejak baru menyelesaikan semester 2-nya. Yang kalian hadiri hanya resepsi, ijabnya sudah setahunan.”
“Oh, jadi Via menikah masih muda banget. Andai Anjani waktu itu jadi menikah, ia sama kayak Via.”
“Kamu kok bisa ketemu Mas Azka? Bagaimana ceritanya?” lanjut Ratna.
Meli menceritakan perjalanannya mulai turun dari bus, dompet hilang hingga ketemu Azka dan menginap di hotel.
“Tunggu, tunggu! Jadi semalam kamu makan di tempat resepsi pernikahan? Lalu kamu nginep di hotel itu?” Ratna terkejut.
“Iya, memang kenapa?” tanya Meli heran.
“Aku juga di sana tadi malam. Yang nikah itu Mbak Mira, teman kerja aku dan Via di sini, sepupu akujuga. Ah, kau tahunya cuma aku dan Via. Kok semalam kita nggak ketemu di sana, ya?”
“Oh gitu. Kita selain ketemu karena aku suka belanja di Azrina, kan juga karena kita sama-sama orang ekonomi, jadi nyambung.”
__ADS_1
Ratna terkekeh. Dia merasa begitu akrab dengan Meli yang baru dua kali bertemu. Berawal dari belanja online, mereka chatting bersama, hingga mereka cukup akrab.
“Coba kalau semalam kita bertemu di tempat resepsi Mbak Mira, kita sudah bisa ngobrol dari tedi malam,” keluh Ratna.
“Tapi aku nggak menyesal. Kalau aku ketemu Ratna semalam, aku nggak nginep gratis di hotel, juga nggak kenal calon ibu mertua. Haish...mulai ngelantur deh.”
Ratna menatap Meli heran. Gadis di depannya masih diam sambil senyum tak jelas.
“Mel, ngapain kamu senyum-senyum gitu? Ada yang lucu?” seru Ratna.
Meli tersentak lalu menjawab sedikit gugup, “Eh, enggak a—ada apa-apa, kok. Cuma lucu aja sudah berada di ruangan yang sama tapi nggakketemu.” Meli masih bisa menyembunyikan pikirannya dengan rapat.
“Iya, itulah namanya jodoh. Kita semalam nggak berjodoh,” komentar Ratna.
“Dan,aku berjodoh dengan Mas Azka.”
Ratna menutup ruko lalu mengajak Meli ke lantai 2. Ternyata, Azka sudah terlelap di depan televisi yang masih menyala.
“Yah, ini orang makah molor di sini. Apa tempat tidur di hotel kurang nyaman sampai tidur di sofa?” celetuk Ratna.
Ia tidak memedulikan cowok yang tertidur pulas. Ratna menuju dapur mini untuk menyiapkan minuman dan cemilan. Setelah itu, ia mengajak Meli ngobrol di sofa lain yang tidak Azka gunakan.
Tak terasa waktu zuhur tiba. Tanpa dibangunkan Ratna maupun Meli, Azka terbangun. Ia ke kamar mandi lalu pergi.
“Mau ke mana, Mas?” seru Ratna saat Azka sudah menapaki tangga.
“Musala,” jawab Azka singkat.
“Benar-benar cowok idaman,” gumam Meli.
“Kamu naksir?” tanya Ratna.
Meli terkejut. Ia tak mengira Ratna mendengar gumamannya.
“Keluarganya memang gitu. Yang lelaki hampir nggak pernah melewatkan salat fardhu berjamaah. Udah, kita juga salat,yuk!” ajak Ratna.
Meli mengekor langkah Ratna. Setelah mengambil wudu, mereka berjamaah di ruko.
“Dulu, kami hampir selalu berjamaah di sini. Via yang jadi imam meski termuda di antara aku dan Mbak Mira. Tapi, ilmunya paling tinggi di bandingkan kami. Waktu itu, dia sudah hampir hafal semua surat di juz 30.” Ratna bercerita seusai melipat mukenanya.
“Oh, sejak kapan dia pakai hijab?” tanya Meli penasaran.
“Saat hampir lulus SMA. Tadinya, salat saja jarang. Apalagi ngaji. Bu Aisyah yang membimbing dia hingga dia berhijrah.”
“Siapa Bu Aisyah?” tanya Meli lagi.
“Bundanya Mas Azka. Karena hidup di lingkungan religius, Via terbawa. Menjelang lulus SMA, dia memutuskan berhijrah, menutup auratnya saat keluar rumah. Di dalam pun, ia tetap memakai hijab kalau memunkinkan ada lelaki masuk. Misal saat dia di lantai 1 ruko ini.”
Meli mendengarkan cerita Ratna dengan penuh perhatian. Ia semakin mantap mengikuti jejak Anjani.
“Assalamualaikum. Ratna, kamu masak apa?” terdengar suara Azka dari bawah.
“Waalaikumsalam. Masak air, Mas,” jawab Ratna.
“Aku serius, nih. Aku lapar,”rengek Azka.
“Serius, Mas. Aku capek, males masak.”
“Payah, kamu! Kita keluar cari makan, yuk!” ajak Azka.
Ratna memberi kode kepada Meli untuk mengikuti ajakan Azka. Mereka segera merapikan jilbab lalu turun.
“Kemana?” tanya Meli.
__ADS_1
“Mumpung kamu di Jogja, kita makan gudeg saja. Kita ke Malioboro sekalian jalan-jalan. Bagaimana?” Azka mengajukan penawaran.
Mata Meli tampak berbinar mendengar jalan-jalan. Tanpa berpikir panjang, ia menganggukkan kepala berulang kali.
“Iiih, seneng amat dengar kata jalan-jalan,” cibir Ratna.
“Biarin. Kan aku memang mau berlibur di Jogja ini,” sahut Meli.
“Jadi, kamu nggak pulang hari ini?” tanya Azka.
“Besok,” jawab Ratna singkat dan cepat.
Meli menoleh ke Ratna. Ia menatap temannya dengan heran.
“Ni anak seenak jidat ngatur orang,” batin Meli.
“Ok. Nanti malam aku ajak jalan-jalan lagi. Kita cari makan sekarang. Perutku sudah demo,” kata Azka.
Mereka masuk mobil Azka yang membawa mereka ke Malioboro. Tempat pertama yang dituju adalah penjual gudeg lesehan.
Ketika baru menghabiskan separuh makanannya, gawai Azka berbunyi. Tadinya Azka abaikan. Namun, karena tidak berhenti juga, Azka merogoh saku celananya mengambil benda cerdas itu.
Azka pun terlihat mengobrol serius dengan orang di seberang. Ratna dan Meli tidak memedulikan hal itu.
“Mel, bunda mau ngomong,” ucap Azka sambil menyuodrkangawainya.
Meli terkejut. Ia membatalkan niatnya memasukkan sesendok nasi ke mulut.
“Bunda Mas Azka mau ngomong sama aku?” Meli mengklarifikasi ucapan Azka.
“Iya, nih,” jawab Azka sambil menyerahkan posel milikna kepada Meli.
Ratna meletaakkan sendoknya, menatap Meli heran. Meli terkesan ngobrol akrab dengan Bu Aisyah.
Lima menit kemudian, Meli menyerahkan gembali gawai Azka sambil berterima kasih.
“Bunda ngomong apa?” tanya Azka.
“Bunda nyuruh aku nginep di rumah beliau,” jawabMeli. Mendadak ia terkejut dengan ucapannya sendiri.
“Ish, apaan aku ini? Kenapa aku jadi ikutan panggil bunda. Waduh, jangan-jangan aku dikira berharap jadi menantu bundanya. Padahal kan emang iya.”
“Wah, rupanya Meli sudah kenal sama Bu Aisyah,” celetuk Ratna.
“Baru tadi pagi kami kenalan, kok,” bantah Meli.
“Kok sudah panggil bunda?” tanya Ratna menyelidik.
“Memangnya nggak boleh? Bu Aisyah sepertinya nggak keberatan, tu,” kata Meli cuek.
Ratna terdiam. Rasanya ada sesuatu yang janggal pada hubungan Meli dan Azka. Namun, ia tak berminat mengoreknya.
“Kau mau nginep di rumah Mas Azka? Nggak jadi di ruko?" Tanya Ratna dengan nada kecewa.
Azka melihat Ratna iba. Ia bisa mengerti kalau Ratna sedang kesepian.
“Gini aja. Kamu ikutan nginep di rumahku aja, Rat! Bunda juga bakal suka kalau di rumah ramai. Kalau perlu, Mbak Via sekalian aku suruh ke rumah,” kata Azka.
Kekecewaan di wajah Ratna seketika pudar. Mata gadis itu tampak berbinar ceria. Ia berharap bisa mengobrol seru dengan para sahabat.
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih buat readers yang setia dukung karya recehku. Jangan lupa klik like dan koment ya!