
Via bangkit dari duduknya. Ia berpamitan kepada semua orang. Langkahnya terayun menuju kamarnya untuk menemui si buah hati. Sementara yang lain masih tetap duduk di ruangan itu. Mereka menunggu informasi dari Feri.
Sejam berlalu, ada notifikasi pesan masuk ke ponsel Pak Candra. Pria berusia 50-an tahun itu buru-buru mengambil ponselnya. Ternyata rekaman suara dari Feri.
Pak Candra segera memutar rekaman suara yang baru ia dapat. Tak lupa ia mengubah setting suaranya ke mode loud speaker. Orang-orang pun terdiam menyimak suara yang terdengar.
“Maaf kalau kedatanganku mengejutkan Pak Hendra. Aku utusan Tuan Candra Wijaya. Namaku Feri.” Suara pria dengan nada datar mengawali suara dari rekaman.
“Tuan Candra Wijaya? A—apa maksud Tuan adalah Tuan Candra putra Tuan Adi Wijaya?” terdengar suara lelaki dengan nada gugup.
“Hmm, rupanya Pak Hendra tahu. Apa Pak Hendra tahu kalau Edi bekerja di tempat Tuan Candra?”
“Ti—dak. Edi hanya bilang kalau majikannya baik. Namanya Tuan Candra memang. Tapi...tapi saya nggak tahu kalau itu adalah Tu—an Candra Wijaya.”
“Baik, sekarang Pak Hendra sudah tahu. Dengarkan baik-baik. Kapan Pak Hendra bisa ke Jogja?” Lagi-lagi pria dengan nada datar terasa seperti mengntimidasi.
“Ma—maksud Tuan?”
“Tuan Candra menginginkan Pak Hendra datang melamar seorang gadis untuk Edi. Cukup datang tak perlu memikirkan ongkos. Pikirkan saja kapan waktu yang pas untuk melamar gadis itu. Kalau sudah ketemu Edi, diskusikan kapan Edi mau menikah dengan si gadis.”
“A—ah, sa—saya nurut saja.”
“Baik, lusa berangkat ke Jogja. Bilang kepada istri Pak Hendra. Ini uang yang Pak Hendra inginkan. Sisanya kalau Pak Hendra bisa menjalaankan tugas seorang ayah dengan baik. Jangan bikin Edi malu! Sayapermisi.”
Suara rekaman tidak terdengar lagi. Sebagai gantinya, suara tawa Pak Adi yang memenuhi ruangan.
“Hahaha...Feri menjual namamu, Candra. Licik juga dia! Pasti dia memasang muka dingin yang membuat Hendra keder.”
Pak Candra ikut tertawa. Ia lega karena ternyata Feri menyelesaikan dengan sangat mudah.
“Yang aku nggak habis pikir, kenapa Bang Edi sepertinya menutupi identitas Papa di depan ayahnya?’ celetuk Dini.
Pak Adi menoleh ke putranya. Ia memberi isyarat agar Pak Candra menjawab pertanyaan Dini.
“Edi mungkin tidak ingin tahu ayah tirinya yang mata duitan itu tahu kalau ia bekerja pada Papa. Kemungkinan Edi khawatir ayahnya bertindak gila memerasnya lebih banyak atau bahkan memeras Papa. Untuk mendapat restu saja Edi kasih iming-iming 10 juta. Itu kan cukup berarti bagi Edi yang tengah menata masa depan.” Pak Candra menjelaskan.
“Kalau dia tahu yang sebenarnya, mungkin dia mintanya 10 M,”ujar Pak Adi sambil terkekeh.
Pertemuan di ruang itu pun bubar. Mereka masuk ke kamar masing-masing.
Begitu masuk kamar, Farhan melihat istrinya tengah menggendong Baby Zayn. Mulutnya tak henti-henti bersholawat dengan suara merdu.
Ketika Farhan baru membuka mulut akan bertanya, telapak tangan yang digunakan untuk menepuk-tepuk pantat bayinya berpindah ke mulut. Jari telunjuk diletakkan di depan bibir.
Tentu saja Farhan tidak jadi bersuara. Ia hanya melihat bayinya yang berada dalam gendongan Via.
Sekitar lima menit kemudian, Via membaringkan Zayn di atas ranjang dengan hati-hati. Setelah memastikan bayinya terlelap, Via mendekati Farhan yang tengah duduk di sofa.
“Sudah tidur?” tanya Farhan dengan suara berbisik.
“Sudah. Sudah ada kabar tentang Pak Hendra?” Via balik bertanya.
“Alhamdulillah beres,” jawab Farhan dengan senyum terkebang.
__ADS_1
Via menatap sang suami. Ada rasa tidak percaya mendengar ucapan Farhan.
"Mas nggak tahu sosok seperti apa orang yang bernama Feri. Kemungkinan dia orang yang berwibawa sehingga Pak Hendra tak berkutik."
"Pak Hendra sudah bersedia datang ke sini?" Tanya Via setengah tak percaya.
"Iya, benar. Lusa ayah dan ibu Mas Edi ke sini."
"Mereka menginap di sini atau ...." Via menggantung kalimatnya.
"Tentang itu, biarlah Mas Edi yang menentukan mau menginap di sini atau di hotel," jawab Farhan.
"Mas Edi sudah diberi tahu?" Via masih ingin menggali informasi dari Farhan.
"Biar Om Candra saja yang memberi tahu. Kemudian, untuk Mira biar Mas Edi yang menyampaikan. Sekarang, kita nyusul anak soleh, yuk!" ajak Farhan.
Via mengangguk. Ia menyusul Farhan bangkit dari duduknya. Mereka menempatkan diri di sisi Baby Zayn.
***
Edi benar-benar terkejut. Ia tidak bosnya akan melakukan tindakan sejauh itu.
Ia bahagia sekaligus terharu mendengar penjelasan Pak Candra. Edi sampai tidak menyadari kalau Pak Candra sudah meninggalkan paviliun. Tinggal Farhan yang masih bersamanya.
Setelah termangu cukup lama, Edi kembali berbincang dengan Farhan.
"Kenapa nggak menginap di sini saja? Toh masih banyak kamar," ujar Farhan setelah mendengar Edi akan memesan hotel untuk orang tuanya.
Farhan tidak memaksa. Ia ingat yang dikatakan Pak Candra.
"Terserah Mas Edi, senyamannya Mas Edi. O iya, soal seserahan Mas Edi juga tidak usah memikirkan. Istriku, juga Tante Nela dan Dini nanti yang akan menyiapkan."
Edi melongo. Ia baru saja akan berpamitan untuk mempersiapkan seserahan, Farhan malah mengatakan tidak usah.
"Ya Allah, betapa beruntungnya aku mendapat majikan sebaik mereka. Tempat tinggal gratis, mau nikah malah mereka lebih repot dibandingkan aku dan keluargaku."
"Mas Edi, jangan lupa memberi kabar ke Mira agar ia bersiap-siap. Kalau perlu,
suruh dia pulang sekarang agar keluarganya juga siap."
"Oh iya, Mas. Saya malah lupa hal itu," ujar Edi, "Berarti nanti malam kita ke rumah Mira, ya?"
Farhan tertawa tergelak. Ia menggelengkan kepalanya, merasa kalau Edi sudah tidak konsentrasi.
"Mas, orang tua Mas Edi ke sininya saja besok, masa kita ke rumah Mira nanti malam? Sudah nggak sabar, ya?" ledek Farhan.
Edi tersenyum malu. Dia terlalu bahagia hingga agak bingung.
***
Keesokan harinya, Edi hanya ke kantor pada pagi hari. Siangnya, ia menjemput orang tuanya dan diantar ke hotel.
Ia sengaja tidak memilih kamar VVIP meski Farhan menyuruhnya. Alasannya, ia tidak mau terlalu merepotkan bosnya yang sudah begitu baik.
__ADS_1
Sebenarnya, ia memiliki alasan lain yang tidak diungkapkan. Ia takut ayahnya melakukan hal yang memalukan.
"Ed, kamu tinggal di kontrakan atau sudah punya rumah?" tanya Pak Hendra.
"Tinggal di rumah majikan, Pak. Numpang di sana," jawab Edi.
"Kenapa kami nggak diajak ke rumah Pak Candra?" ganti ibunya yang bertanya.
"Saya sekarang nggak bekerja dengan Pak Candra, tapi dengan keponakan beliau."
"Dia orang kaya juga?" tanya Pak Hendra lagi.
"Sangat kaya. Mereka donatur tetap 2 panti asuhan. Selain itu, saat mengadakan tasyakuran, mereka selalu mengundang anak yatim. Dengan tetangga ...." Penjelasan Edi terhenti.
"Stop! Aku nggak ingin tahu yang mereka lakukan. Aku tanya seberapa kaya dia?" bentak Pak Hendra.
Edi mengambil nafas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya. Sebenarnya, ia sangat jengkel dengan kelakuan Pak Hendra.
"Kaya itu soal hati, Pak. Kalau mau berbagi, berarti ia orang kaya. Apalagi masih mau berbagi di saat kesulitan. Itu ...."
"Ah, sudahlah! Kamu malah ceramah. Ingat, kamu itu bukan ustadz! Aku cuma ingin tahu seberapa kaya majikanmu yang sekarang, eh malah muter-muter nggak karuan." Pak Hendra mengomel.
"Sudahlah, tidak perlu diperpanjang. Ed, kita ke rumah calon besan nanti atau besok?" Ibu Edi menengahi.
"Nanti malam, Bu. Nggak begitu jauh kok. Insya Allah perjalanan tidak sampai memakan waktu satu jam," jawab Edi.
"Soal seserahan? Kamu sudah belanja belum? Atau kita belanja sekarang?"
"Tidak usah! Calon mertuamu bukan orang kaya, kan? Nanti kalau kita ngasih barang-barang mahal, mereka ngelunjak," kata Pak Hendra.
Edi kembali merasakan dadanya sesak. Ia menahan emosi agar tidak meledak. Sebenarnya, ia ingin menampar mulut ayah tirinya.
"Soal seserahan sudah disiapkan majikan Edi, Bu. O ya, untuk waktu, apa Ibu sudah menyiapkan tanggal?" tanya Edi tanpa memedulikan Pak Hendra.
"Kita serahkan kepada calon mertuamu saja, Ed. Lalu, soal biaya pernikahan bagaimana? Ibu kan tidak punya simpanan," kata Bu Hendra sedih.
"Ibu tenang saja. Insya Allah tabungan Edi cukup untuk mengadakan resepsi pernikahan yang sederhana. Kita cukup mengadakan acara di sini. Di rumah, Ibu bikin acara selamatan saja, Edi nggak usah pulang."
"Aku setuju. Tapi, kau yang harus tanggung biayanya," sahut Pak Hendra.
Bu Hendra tertunduk sedih. Ia menahan agar air matanya tidak jatuh.
"Maafkan Ibu, Nak. Dari dulu kamu sudah membiayai hidupmu sendiri. Bahkan, sekarang mau menikah pun Ibu tidak mengeluarkan biaya. Ibu memang tidak layak disebut orang tua."
Edi mempersilakan kedua orang tuanya beristirahat. Ia meninggalkan keduanya di hotel untuk ke kediaman Via.
***
Bersambung
Dukungan Kakak sangat berarti bagiku. Mohon tetap dukung karya receh ini ya 🙏
Terima kasih 🙏🙏
__ADS_1