SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Memanfaatkan Waktu


__ADS_3

Azka membolak-balikkan badannya karena tidak bisa tidur. Rencananya untuk memanfaatkan malam terakhir sebelum dia kembali ke Medan dirusak keponakannya.


"Apa sekarang kuantar Zayn ke kamar Mas Farhan, ya? Ni baru jam 10. Masih banyak waktu bersama Meli," gumam Azka lirih.


Azka membungkuk meraih tubuh sang keponakan. Baru saja akan diangkat, Zayn menggeliat. Azka buru-buru mengurungkan niatnya. Ia takut Zayn terbangun.


Tentu saja Azka kesal. Jangankan bercinta, memeluk istri saja tidak bisa. Posisi Meli berada di tepi ranjang. Azka hanya bisa tidur di depan Meli. Tentu terhalang Zayn kalau akan memeluk Meli.


Azka merebahkan tubuhnya di dekat Zayn. Ia memandangi wajah keponakan tersayang.


"Kenapa kamu ikutan ganggu Om, sih?" Azka bergumam sendiri.


"Kamu ganteng, lucu, menggemaskan. Apa besok Meli memgandung anak seperti kamu, ya? Jangan-jangan di perut Meli sudah ada calon anakku. Eh, nggak mungkin. Kan kami baru melakukannya."


Azka terus memainkan khayalannya. Ia masih gelisah.


Hampir satu jam Azka terus berganti posisi sambil berkhayal. Ulahnya membuat Zayn teganggu. Bayi itu menangis.


"Eh, Sayang. Cup...cup...." Azka menepuk pantat Zayn.


"Kenapa Zayn, Mas? Kau apakan dia?" tanya Meli dengan suara serak.


"Nggak kuapa-apain, kok. Mungkin dia haus. Kamu telpon Mbak Via saja! Aku akan mengantarkan dia ke kamar orang tuanya," perintah Azka.


Meli menurut. Ia bangkit lalu mengambil gawainya. Sementara Azka meraih tubuh Zayn lalu menggendongnya. Tanpa menunggu Meli selesai menelepon, Azka sudah melangkah keluar menuju kamar Via.


Tiba di depan kamar Via, Azka mengetuk pintu. Tiga kali dia mengetuk pintu, tetap belum dibuka. Akan mengetuk lebih keras, Azka takut mengganggu kenyamanan tamu lain.


Hampir 5 menit Azka menunggu. Saat ia akan mengetuk untuk ketujuh kalinya, pintu terbuka.


Dari dalam kamar, Farhan muncul dengan bertelanjang dada. Rambutnya pun acak-acakan.


Azka mengerutkan keningnya. Tidak biasanya sang kakak tidur bertelanjang dada.


"Mas, ni anakmu rewel. Mana bundanya? Kok Mas Farhan nggak pakai baju? Acak-acak pula. Mana Mbak Via?" Azka memberondong Farhan dengan pertanyaan.


"Sini, Zayn biar Mas antar ke bundanya. Kamu nggak usah masuk," ucap Farhan datar.


"Ih, gitu balasannya. Aku sudah berbaik hati ngasuh Zayn, lo. Sampai-sampai aku nggak bisa main sama istriku," gerutu Azka.


"Ya sudah, sana main! Aku su...." Farhan tidak melanjutkan ucapannya.


Azka menatap tajam kakaknya. Ia berusaha mencerna kalimat Farhan.


"O, jadi Zayn dititipkan ke aku biar Mas Farhan bisa gituan. Huh, mau enaknya saja! Masa aku yang pengantin baru yang harus mengalah?" Azka kembali menggerutu.


"Sudah, sana balik ke kamar! Berisik, ganggu tamu lain. Meli sudah menunggu, tuh!" usir Farhan.

__ADS_1


Azka menggelembungkan pipinya. Ia benar-benar kesal kepada kakaknya. Dengan cepat ia membalikkan badan, kembali ke kamar.


Saat membuka pintu kamarnya, Azka merasa lega. Ia mendapati Meli tengah duduk sambil memainkan gawainya.


"Mas Farhan memanfaatkan kita, nih. Masa Zayn dititipkan ke kita dianya enak-enakan sama Mbak Via." Azka mengadu.


Meli terkekeh mendengar aduan suaminya. Diletakkannya gawai ke nakas.


"Kan cuma bentar. Sekarang Mas Azka istirahat. Besok harus terbang ke Medan, kondisi mesti fit," bujuk Meli.


"Nggak mau! Ini kesempatan kita sebelum berpisah. Kita olah raga dulu baru tidur." Azka merajuk seperti anak kecil.


Meli tersenyum. Ia pun siap menuruti kemauan Azka.


"Aku ingin memuaskan diri bersamamu. Besok malam kita tak bisa berduaan lagi, bermesraan lagi, dan olah raga bersama. Jaga diri baik-baik, ya! " Azka terkesan melow.


"Iya, Mas. Meli tahu, kok," ucap Meli sambil melingkarkan tangannya ke leher Azka.


Kini, keduanya menyatu erat. Hembusan nafas keduanya saling menerpa wajah pasangan. Semakin lama semakin memburu. Dinginnya AC tak lagi terasa.


Malam itu, Azka benar-benar memanfaatkan waktu bersama Meli. Ia ingin membuat kesan sebanyak mungkin sebelum berpisah lagi dengan sang istri.


Meski lelah, tidur sudah larut, kebiasaan qiyamullail tidak ditinggalkan. Menjelang pukul 3 dini hari, Azka membangunkan Meli untuk bermunajat kepada illahi.


"Tanggung, sudah mau subuh. Kita ngobrol saja, ya!" usul Azka.


Saat memasuki waktu subuh, mereka bersiap salat berjamaah di kamar. Mendadak notifikasi panggilan dari gawai Azka.


"Assalamualaikum, ada apa Mas?"


"Waalaikumsalam. Ayo, jamaah di musala! Kutunggu di depan kamar," ujar Farhan diikuti putusnya panggilan.


"Kenapa, Mas?" tanya Meli.


"Mas Farhan mengajak jamaah di musala," jawab Azka.


Meli tampak kecewa. Sudah dua kali waktu subuh ia tidak lagi berjamaah dengan suaminya.


Usai salat subuh, Azka mendekati Meli yang tengah memainkan gawainya. Wajahnya sedikit masam.


"Kenapa, Sayang? Kecewa karena tidak jadi jamaah subuh?" tanya Azka lembut.


Meli tidak menjawab. Ia hanya menatap sekilas wajah suaminya.


"Sayang, shalat jamaah itu fardhu ain bagi laki-laki. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Rasulullah bersabda salat yang dirasakan paling berat bagi orang-orang munafik adalah salat isya dan salat subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaannya, mereka akan mendatanginya sekali pun dengan merangkak. Sungguh aku berkeinginan menyuruh seseorang sehingga salat didirikan, kemudian kusuruh seseorang mengimami manusia, lalu aku bersama beberapa orang membawa kayu bakar mendatangi suatu kaum yang tidak menghadiri shalat, lantas aku bakar rumah-rumah mereka. Itu dalilnya. Dan yang utama adalah di masjid, shof terdepan."


Meli terdiam. Ia ingat kebiasaan keluarga Azka. Setiap waktu salat tiba, ayah dan putranya selalu ke masjid.

__ADS_1


"Iya, Mas," ucap Meli lirih.


Azka membuka pecinya. Kemudian, ia juga melepaskan baju koko dan celana panjangnya.


"Mas, kok buka baju?"


"Mumpung masih pagi, olah raga dulu, yuk! Biar sehat. Habis itu baru mandi, sarapan, lalu ke rumah ayah," jawab Azka diiringi seringai.


Sebelum Meli sempat menyahut, Azka sudah menempatkan dirinya di samping Meli. Serangan demi serangan Meli terima dari Azka.


Jelang pukul 6 mereka beristirahat sebentar. Setelah keringat tak lagi bercucuran, keduanya mandi janabah.


"Sayang, semua sudah dimasukkan koper?" tanya Azka setengah berteriak karena Meli ada di dalam kamar mandi.


"Sudah. Baju Mas Azka sudah kupisah, kok," jawab Meli.


Setelah semua siap, mereka keluar untuk sarapan. Koper pun mereka bawa karena sekalian check out.


"Dek, waktumu sekarang kan lebih banyak karena tidak memikirkan thesis. Minimal 2 minggu sekali, tengoklah istrimu," ucap Farhan dalam mode serius.


"Iya, Mas. Dan kalau aku pulang ke Jember, jangan ikut ke sini!" sahut Azka


Ratna tertawa cekikikan. Ia merasa Azka sangat kesal karena ulah mereka.


"Iya, silakan kalian berduaan terus. Tapi, ada yang perlu kusampaikan. Kali ini aku serius," kata Farhan datar.


Azka terdiam. Ia paham betul saat kakaknya sedang serius. Ia tak akan menerima toleransi bercanda sedikit pun.


"Meli, kamu tidak usah kaget kalau kamu diikuti seseorang. Mas Edi sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjagamu juga keluargamu di sini."


Meli tampak bingung. Ia terdiam mencerna ucapan kakak iparnya.


"Sedikit kuceritakan. Saat kamu berada di rumah sakit, ada orang jahat mengincarmu. Sebenarnya ayah dan eyang yang jadi target utama. Namun, karena kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami, mereka bisa memanfaatkan kamu untuk kepentingan mereka termasuk mencelakai kamu," tambah Via.


Meli terkejut. Ia tak mengira kalau ada kejadian yang mengancam keselamatannya tanpa ia sadari.


"Maaf, Mel. Ini adalah resiko berada di keluarga pebisnis. Kamu juga bisa jadi sasaran. Tapi, kami tidak ingin terjadi hal buruk menimpa kamu maupun orang tuamu. Itu sebabnya, Mas Edi mengirimkan anak buahnya untuk memastikan keselamatan kalian," ucap Farhan


Meli mengangguk. Ia terkejut sekaligus terharu. Ternyata keluarga suaminya diincar orang-orang jahat. Dia terharu karena mereka memikirkan dirinya serta orang tuanya sejauh itu.


***


Bersambung


Azka-Meli mesti bersabar karena harus kembali LDR-an. Lalu bagaimana dengan Anjani-Mario? Untuk pasangan ini, silakan tengok CS1 karya Kak Indri Hapsari. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like dan komentar.


Barakallahu fiik

__ADS_1



__ADS_2