
Ruang presiden direktur Santoso Jaya Group terasa pengap. Suhu 200 C yang diatur AC ruangan tak mampu mendinginkan pikiran pimpinan Santoso Jaya.
Lelaki berusia sekitar 50-an tahun itu sejak tadi berjalan mondar-madir di dalam ruangan. Sesekali ia duduk menatap layar monitor. Hanya beberapa detik, ia kembali berdiri dan mondar-mandir lagi.
Sekarang perhatiannya beralih ke layar ponselnya. Ia menyentuh tombol dial setelah menemukan kontak yang ia cari.
….
“Siang. Sekarang di mana?”
….
“Kita ketemu di Royal. Penting sekali. Kutunggu jam 11. Jangan molor!”
….
“Ya.”
Setelah menutup pembicaraan, ia menghubungi yang lain. Ia meminta untuk bertemu orang-orang tersebut. Kemudian, ia menelpon manager Royal Restaurant membooking ruang VIP. Sepertinya, ia sedang gusar.
Menjelang pukul 11.00, Danu Santoso berjalan menuju tempat parkir. Ia segera melajukan mobilnya ke tempat yang disepakati. Sengaja ia tidak meminta diantar sopir.
Sampai di lokasi, Danu disambut manager dan diantar ke ruang yang dipesan. Ternyata ruangan itu masih kosong. Hal itu membuat Danu semakin gusar.
Lima belas menit menunggu, seorang lelaki berusia 40-an tahun datang tergopoh-gopoh. Wajahnya tampak pucat.
“Maaf, Tuan. Tadi ada sedikit masalah tadi. Ada klien yang sulit.”
“Mana yang lain?” tanya Danu sinis.
“Maaf, saya tidak tahu.”
“Huh, dasar tidak tahu diri! Apa mereka pikir aku main-main? Ini menyangkut masa depan kita.”
“Sebentar, Tuan. Saya coba hubungi mereka.”
Lelaki itu mengeluarkan ponselnya dan segera menghubungi kontak orang yang Danu maksud. Setelah menunggu beberapa menit, telepon tetap tidak terhubung.
“Mungkin sedang dalam perjalanan. Mohon bersabar.”
“Kun, kamu memperhatikan target kita nggak? Kamu sadar nggak kondisi saat ini?” tanya Danu dengan nada tinggi.
Lelaki yang dipanggil Kun tampak kebingungan. Ia sedikit gemetar.
“Ma—maaf, Tuan. Maksud Tu—an bagaimana?”
“Hah, kau ini. Sudahlah, nanti saja kalau mereka sudah sampai. Aku pusing. Kalau harus menjelaskan satu per satu, kepalaku bisa pecah. Ini dua cecunguk sebenarnya ke mana, sih? Mereka benar-banar membuat aku kesal.”
__ADS_1
Saat Danu sedang mengomel, seorang pelayan mendekat.
“Apa menunya dihidangkan sekarang, Pak?”
“Nanti, tunggu sepuluh menit lagi.” Danu menjawab tanpa menoleh.
Pelayan itu mengangguk hormat lalu berjalan menjauh.
Lima menit kemudian, dua orang pria mengenakan kemeja warna terang masuk beriringan ke ruang VIP tersebut.
“Kenapa baru datang?” tanya Danu dengan nada tinggi.
“Santai, Bro. Kami kan juga ada urusan. Apalagi Feri, dia bukan bos. Jadi, dia harus mencari alasan agar dapat keluar tanpa dicurigai. Sudahlah, jangan marah-marah, nanti stroke!”
“Kau mengharapkan aku stroke?” gerutu Danu.
“Bukan begitu. Sudahlah, lebih baik kita bahas masalahmu. Ada apa, sih?”
“Bukan masalahku, tapi masalah kita. Kita, Ben!” sungut Danu.
Baru saja akan menjawab, dua orang pelayan masuk membawa hidangan yang telah dipesan Danu. Setelah pelayan pergi, mereka kembali melanjutkan pembicaraan.
“Coba kamu ceritakan secara detail. Aku belum paham,” ucap Ben santai.
“Fer, Kun, kalian yang kutugasi memantau Wijaya Kusuma dan Kencana. Coba ceritakan perkembangan keduanya sekarang!” perintah Danu sambil menatap orang di depannya dengan tatapan tajam.
“Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana kerja orang-orangmu? Bukankah masih ada orang dalam di sana? Suruh mencari data yang kita butuhkan!” bentak Danu.
“Widodo sudah tidak pada posisi semula. Sekarang dia seperti diawasi Arman. Makanya, dia tidak bisa datang. Kalau dia datang, bisa-bisa Arman curiga.”
“Hmm, lalu kau Fer! Bagaimana dengan Kencana? Mengapa kau sampai tidak bisa mendapatkan data perkembangan perusahaan kakek tua itu?” pertanyaan Danu beralih kepada pria berusia 40-an tahun.
“Saya juga bingung. Apa mungkin kakek tua itu mengubah password?” gumamnya.
“Kau jangan bodoh! Bukankan kalau hanya password kau bisa membobolnya?” bentak Danu.
“I—iya. Maksudku, e---kakek itu mengubah system keamanan datanya.”
“Apa ada pegawai baru, ahli IT?”
Lelaki yang ditanyai Danu hanya menggeleng.
“Tidak mungkin masalah pengamanan data diserahkan kepada orang luar. Kau harus segera kembali mengakses data milik Kencana Group bagaimana pun caranya.”
“Jadi, sekarang kita tidak bisa mengendalikan Wijaya Kusuma dan Kencana?” tanya lelaki yang dipanggil Ben.
Danu menepuk jidatnya. Wajahnya tampak merah padam.
__ADS_1
“Kau ini…. Huhh!” Danu menggebrak meja.
Kali ini Ben hanya diam. Ia tidak lagi bersikap santai.
“Dengar, Ben! Orang-orang kita sekarang sudah tidak bisa mendapatkan informasi tentang kedua perusahaan itu. Kalau Kencana, aku tidak terlalu khawatir. Asalkan kakek tua itu tidak berkhianat, tak apalah perusahaannya berkembang pesat. Tapi, Wijaya Kusuma tidak akan kubiarkan. Aku menyesal tidak menghancurkannya dulu. Kukira Wijaya Kusuma akan mati perlahan dengan sendirinya.”
“Lalu, apa rencanamu?” tanya Ben.
“Aku nggak mau Wijaya Kusuma bangkit. Mereka bisa bertahan bahkan tidak menutup kemungkinan untuk bangkit karena ruh perusahaan itu masih ada. Kalau ia dilenyapkan, aku yakin Wijaya Kusuma akan layu dan mati.”
“Maksudmu anak tunggal Wirawan?”
“Iya, siapa lagi? Kau hanya menakuti. Sekarang, kau harus bertindak!” perintah Danu.
“Maksudmu, aku harus melenyapkan anak itu?”
“Terserah, mana yang terbaik. Akan kau lenyapkan atau kau gunakan sebagai alat menekan Arman, terserah. Yang jelas, jangan biarkan ia menjadi sumber motivasi orang-orang di Wijaya Kusuma.”
“Dan kau Fer, Kun, aku nggak mau tahu bagaimana cara kalian untuk bisa mengakses data dari kedua target kita. Kalau sampai lepas, itu akan menjadi ancaman serius.”
“Ancaman serius? Maksud Tuan?” tanya Kun tak paham.
“Performa mereka akan mempengaruhi kita. Kalau Wijaya Kusuma bisa bangkit, mereka bisa menenggelamkan Santoso Jaya. Kalau aku tenggelam, kalian pun ikut juga. Ingat, kalian hanya pemilik perusahaan kecil. Dan kau, Fer, kau pun bisa ditendang oleh kakek tua itu dan masuk black list.”
“Apakah Wijaya Kusuma sekarang menunjukkan perkembangan yang signifikan?” tanya Ben ragu.
“Kau tidak melihat pergerakan saham mereka?” bentak Danu.
“A—aku tidak mengikutinya.”
“Apa yang kau lakukan, ha? Kenapa kamu lengah? Bukankah kau ingin Arman hancur? Mana mungkin dia hancur kalau Wijaya Kusuma bisa bangkit?” Danu kembali membentak.
Ben mencecap kopinya. Ia mengambil nafas panjang. Dalam hati ia meruntuki kebodohannya.
“Kenapa aku lengah? Aku kira Wijaya Kusuma pelan-pelan akan mati.”
“Kau, Kun, cari tahu siapa yang mengucurkan dana segar kepada Wijaya Kusuma! Aku tidak mau tahu bagaimana caramu. Kalau informasi ini tidak segera kau dapatkan, Arman akan semakin kokoh.”
“Aku akan segera membereskan anak Wirawan,” sela Ben.
“Secepatnya! Selama ada anak itu, Armand an anak buah Wirawan yang loyal pasti berusaha sekuat tenaga membuat Wijaya Kusuma bangkit.”
Pembicaraan di ruang VIP begitu serius. Mereka tidak menyadari ada hal di luar kendali mereka.
***
Bersambung
__ADS_1