
Rumah Via mala mini begitu hangat. Meski para tetangga sudah pulang, masih ada Pak Haris dan istri, juga tiga sahabat karib Via yang menginap. Mereka berbincang begitu asyik.
Para pria duduk di teras sambil menikmati kopi yang ditemani singkong goreng dan kacang rebus. Tidak ada asap rokok di sana. Pak Nono yang semula perokok berat, kini belajar lepas dari sumber nikotin itu. Farhan yang memberi pengertian agar Pak Nono berhenti merokok.
Ternyata, kehidupan Pak Nono, Pak Yudi, juga Edi mengalami perubahan cukup drastis setelah mereka tinggal bersama Farhan. Anak sulung dokter Haris itu membawa tiga pria yang semula jauh dari ajaran agama, sedikit demi sedikit menaati hukum-hukum agama.
Sementara para wanita berkumpul sambil menonton televisi. Meski televisi menyala, perhatian mereka tidak sepenuhnya tertuju ke acara yang tengah disiarkan. Kadang, topik pembicaraan mereka lebih menarik dibandingkan sinetron.
Apalagi saat membahas jodoh. Pembicaraan mereka begitu seru. Sahabat-sahabat Via yang masih jomblo begitu antusias mendengarkan penjelasan Bu Aisyah.
“Berarti, agar kita dapat suami yang soleh, kita juga harus menjadi perempuan yang solikhah. Begitu, Bu?” Salsa menyimpulkan.
“Kurang lebih begitu. Salsa sudah siap nikah?” Bu Aisyah balik bertanya.
“Ah, Mbak Mira dan Mbak Ratna juga belum,” sahut Salsa malu-malu.
“Lho, namanya jodoh, siapa yang tahu? Bisa jadi kamu duluan. Kan tidak harus urut umur. Tuh, Via juga sudah. Tadinya nggak pernah terpikir menikah di usia semuda ini, ya Sayang?” kata Bua Aisyah sambil mengusap bahu Via yang duduk di sebelah kanannya.
Via hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia menatap sahabatnya satu per satu.
“Bagaimana kalau ada yang melamar kalian? Kira-kira diterima nggak?” pancing Bu Aisyah.
“Ya, lihat dulu siapa yang melamar, Bu. Kalau dia pria baik-baik, kenapa enggak?” sahut Ratna.
“Kalau anak Ibu yang satu, bagaimana?” tanya Bu Aisyah.
“Mas Azka? Dia sih kategori baik. Tapi, itu khayalan terlalu tinggi, Bu,” celetuk Mira.
“Kalau Mas Edi?” giliran Via bertanya.
Mendadak muka Mira memerah. Ia terdiam. Sementara, Ratna senyum-senyum melihat saudara sepupunya begitu.
“Kayaknya Mbak Mira nggak nolak, deh,” kata Ratna sambil mengerling Mira.
“Apaan, sih? Kamu kali yang naksir,” ujar Mira sambil mengalihkan pandangannya ke layar televisi.
Bu Aisyah menepuk lengan Via yang membuat bumil muda itu menoleh. Bu Aisyah memberi isyarat tentang tingkah Mira. Via menanggapinya dengan senyuman.
“Sudah jam 10, nih. Bumil gak boleh tidur larut malam. Sana, istirahat!” kata Ratna.
“Kalian juga jangan tidur di atas jam 12! Nggak baik,” sahut Via.
“Iya, tapi kami nggak apa-apa tidur di atas jam 10, kan?” ujar Salsa.
“Itu juga nggak baik dan membahayakan tubuh,” kata Via.
“Terus, gimana baiknya?” tanya Salsa bingung.
__ADS_1
“Baiknya tidur di atas kasur. Masa tidur di atas jam,” kata Via diiringi tawa sambil bangkit dari duduknya.
“Aih, dasar bumil ngaco! Kirain serius,' sungut Ratna.
“Lho, ini serius. Kalau kamu mau nyoba tidur di atas jam ya silakan. Ya sudah, Via masuk kamar dulu. Assalamualaikum.” Via melangkah menuju kamar.
“Waalaikumsalam,” jawab yang lain serempak.
Via melangkah meninggalkan yang lain. Begitu sampai kamar, ia masuk kamar mandi dan berganti pakaian. Saat ia sedang memakai krim malam, sang suami masuk.
“Assalamualaikum, Cinta,” ucap Farhan.
“Waalaikumsalam,” jawab Via sambil terus mengoleskan krim.
“Sudah ngantuk?” tanya Farhan.
“Sebetulnya belum, masih ingin ngobrol. Tapi, kasihan dedek kalau diajak begadang.”
Farhan tersenyum mendengar penuturan Via. Ia duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan istrinya.
“Makin lama kok makin cantik, sih? Bikin gemes aja,” ujar Farhan tanpa mengalihkan tatapan barang sekejap.
“Gombal, ah.” Via mencebik.
“Biar gombal, kan terbuat dari sutera. Gombalku akan membungkus dirimu, Sayang.”
“Bagaimana pembicaraan dengan Mas Rio? Dia mau menerima tawaran bekerja di Medan?” tanya Via mengalihkan topik pembicaraan.
Farhan menggeleng, “Ia menolak.”
Via terkejut. Dia pikir Rio akan senang menerima tawaran itu. Di samping mendapat pekerjaan, ia juga bisa berkumpul dengan sahabatnya lagi.
“Kenapa?” tanya Via penasaran.
“Dia takut bertemu keluarga angkatnya, mama dan Lia. Ia khawatir akan dimaki lagi oleh mereka. Mas nggak bisa maksa,” kata Farhan.
“Lalu, Hubbiy ngasih tawaran lain?”
“Mas belum memberi kepastian. Besok Mas lihat di Wijaya Kusuma maupun Kencana Grup, cari yang sekiranya pas untuk Rio. Tadi Mas sudah ngasih kartu nama agar dia besok menghubungi Mas.”
“Berarti, ponsel itu pas sekali, ya?” ujar Via.
“Istriku memang pintar,” puji Farhan.
“Siapa dulu suaminya? Dia tuh yang ngajarin.” Via tersenyum lebar hingga gigi putihnya terlihat jelas.
“Hhhmm, makin pintar. Dipuji malah membalikkan pujian. Kalau gini, bisa-bisa gurunya kalah.” Farhan pura-pura menggerutu.
__ADS_1
Via tidak lagi tersenyum. Ia tertawa cekikikan mendengar kata-kata Farhan.
“Udah, sana gosok gigi. Via siapin piyama."
“Tunggu bentar! Ada hal lain yang mau Mas sampaikan.”
“Soal apa?” tanya Via.
“Soal Mas Edi. Tadi dia bilang kalau dia sudah ingin menikah. Dia sudah punya calon untuk dilamar. Hanya saja dia ….” Farhan menggantung kalimatnya.
“Dia kenapa, Hubbiy? Ada masalah kah?” Via mengejar penjelasan.
“Dia ragu gadis itu mau atau tidak Tampaknya dia tidak memiliki keberanian mengungkapkan perasaannya. Aku heran, Mas Edi yang badannya kekar itu jadi aneh. Masa dia nggak berani ngomong sama gadis yang disukainya.”
Halah, kayak nggak pernah merasakan jatuh cinta terus jadi aneh. Polahnya lebih parah,” cibir Via.
“Eh, beda. Aku kan berniat nunggu Cinta selesai kuliah,” sanggah Farhan.
“Hmm, kenapa sekarang malah dibikin hamil?” tanya Via.
“Ya, karena udah telanjur resmi. Ah, udah. Kenapa jadi mbahas kita,” elak Farhan.
“O ya, siapa gadis itu?” tanya Via.
“Sesuai analisis istriku. Mas Edi menyukai Mira,” jawab Farhan.
“Oh, syukurlah. Kita bisa bantu menyatukan dua hati yang sudah terserang virus merah jambu agar menjadi pasangan halal. Biar nggak jadi zia. Besok Via minta bantuan Ratna juga.”
“Oke kalau begitu.”
“Sepertinya ada lagi yang sepertinya terserang virus . Tapi, nanti sajalah. Kita fokus bantu Mas Edi dan Mbak Mira, ya,” ujar Via.
.“Memang siapa lagi yang sedang jatuh cinta?” tanya Farhan.
“Aku menangkap sinyal-sinyal itu waktu ke panti,” jawab Via.
“Panti? Ada hubungan sama Rio?” tebak Farhan.
Via mwngangguk lalu menjawab,”Sepertinya Ratna tertarik sama Mas Rio.”
Farhan hanya mengngguk-angguk. Ia bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi.
Via menyiapkan baju tidur Farhan. Bibirnya menyunggingkan senyum kebahagiaan. Setidaknya, ia lega kalau Mira menemukan tambatan hatinya. Ia masih saja merasa bersalah saat mengetahui Mira mencintai Farhan yang sudah sah menjadi suaminya.
***
Udah dulu. Author ngantuk.
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan Kakak semua 😘😘