
Azka mengajak Meli dan Anjani menuju mobil milik Via. Azka membantu memasukkan koper mereka ke dalam bagasi. Pak Yudi segera melajukan mobil begitu mereka siap.
Sekitar 20 menit mereka menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang tak terlalu ramai. Begitu sampai, mereka disambut kehangatan keluarga Azka.
Azka menurunkan koper milik Anjani dan Meli. Si pemilik menuju teras terlebih dahulu menemui orang-orang yang menunggu mereka.
“Anjani! Ah, ternyata kamu bisa ikut,” pekik Via senang.
“Iya, aku nggak jadi pulang kampung. Daripada bengong di tempat paman, mending ikut Meli liburan,” sahut Anjani.
Mereka bertiga berpelukan bak teletubbies. Pak Haris, Farhan, dan Bu Aisyah hanya tersenyum melihat keakraban mereka.
“Ajak masuk dulu, Via! Nanti kangen-kangenannya dilanjutkan di dalam,” tegur Bu Aisyah.
“Iya, Bu. O iya, perkenalkan saya Anjani. Saya satu kampus dengan Meli, berteman sejak kecil. Maaf, tadi saya begitu terbawa perasaan bahagia ketemu Via,” ucap Anjani sopan.
Bu Aisyah tersenyum mendengar ucapan Anjani. Kesan lemaah lembut terpancar dari gadis itu. Anjani dan Meli berhantian menyalami Bu Aisyah, lalu menangkupkan tangan di depan dada saat berhadapan dengan Farhan dan Pak Haris.
“Ayo, masuk! Kalian mandilah dulu!” ajak Via.
Anjani dan Meli mengikuti langkah Via. Mereka masuk ke kamar yang Via tunjukkan.
“Anjani atau Meli, ikut aku ke kamarku biar kalian mandinya nggak bergantian,” kata Via.
Anjani dan Meli saling tatap sejenak. Akhirnya, Meli yang keluar mengikuti Via.
“Ini kamarku dulu waktu belum menikah dengan Mas Farhan. Sekarang, aku di kamar sana. Kamar ini kosong. Yang sana juga sering kosong karena kami kan nggak tinggal di sini,” jelas Via sambil menunjuk kamar yang ia tempati bersama Farhan.
Meli mengangguk. Ia masuk ke kamar mandi di kamar Via.
Sekitar 5 menit berlalu, Via hendak menuju kamarnya. Ia mengurungkan niatnya karena terdengar teriakan Meli.
“Via, kau masih di kamar? Aku nggak bawa handuk dan baju ganti. Gimana ini? Bisa minta tolong ambilkan?” Ternyata Meli baru ingat setelah dia mulai mandi.
“Ah, aku kan nggak tahu bajumu. Masa aku bawa kopermu ke sini? Sudahlah, pakai bajuku saja. Aku masih ada stok baju di sini, kok. Handuk yang masih baru juga ada,” sahut Via. Ia mengambil pakaian dan handuk untuk Meli.
Tak lama kemudian, Meli keluar dari kamar mandi dengan muka segar. Aroma rose favorit Via menyeruak.
“Maaf, aku tadi lupa nggak menyiapkan baju ganti, langsung mengekor langkahmu,” sesal Meli.
“Nggak apa-apa. Itu baju sudah lama nggak kupakai. Kalau kamu suka, buat kamu juga boleh,” ucap Via.
“Beneran? Kamu kok baik banget, sih? Makasih banget, ya. Kalau gini, aku bakalan sering main ke sini, deh,” sahut Meli senang.
“Lebai, ah. Menetap di sini juga boleh, kok,” ujar Via santai.
Meli kaget mendengar ucapan Via. Mukanya merona kemerahan.
“Me—menetap? Maksud kamu?” tanya Meli gugup.
Via menahan tawa mengetahui kegugupan Meli. Ia melirik sepintas gadis itu.
“Ya, menetap berarti tinggal di sini, berdomisili di sini, jadi dekat dengan aku, jadi adik iparku. Begitu,” jelas Via.
Pipi Meli makin merah. Gadis itu bertambah gugup.
“Ha? Adik i—ipar?” desisnya.
“Azka itu masih jomblo, lo,” bisik Via.
“Ah, kamu menggodaku!” sungut Meli.
Meski tampak kesal digoda Via, Meli tak bisa memungkiri perasaan bahagia yang menyusup. Serasa banyak bunga bermekaran di dada gadis itu.
__ADS_1
“Aku serius.Kalau kamu mau, ayah dan bunda biar melamarmu ke Jember,” kata Via. Tak ada senyum di bibirnya. Ia memasang wajah serius.
“Udah, ah. Kita turun, yuk! Nanti Anjani kebingungan sendirian,” ajak Meli mengalihkan pembicaraan.
Via menganggk. Ia merasa misinya mulai berjalan. Meski Meli masih menyangkal, Via menangkap sinyal ada tempat untuk Azka di hati Meli.
“Anjani, kita makan, yuk! Eh, maksud aku, kalian saja! Kami tadi sudah makan habis maghrib. Aku temani kalian,” ajak Via dari depan kamar.
Anjani keluar dari kamar. Ia kaget melihat Meli memakai gamis katun jepang yang cantik.
“Eh, sepertinya aku baru lihat baju ini. Kapan kamu beli? Cantik lo!” ucap Anjani.
“Baru dikasih sama Via. Tadi aku lupa nggak bawa baju ganti,” jelas Meli.
Via menatap Anjani yang tengah memperhatikan baju yang Meli kenakan. Ada kekaguman terpancar di wajah Anjani.
“Kamu mau? Aku masih ada, warna pech. Sudah pernah kupakai, sih,” kata Via menawari.
“Ah, kami malah jadi merepotkan. Aku seneng lihat Meli lebih cantik pakai baju itu,” sahut Anjani malu-malu.
“Ya sudah, kita ke ruang makan, yuk! Tadi sore kami masak bertiga,” ucap Via.
“Bertiga? Sama siapa saja?” tanya Meli kepo.
“Aku, bunda, juga Dek Azka,” jawab Via. “Ah, kamu pasti heran karena Dek Azka cowok kok mau masak. Dia itu nggak canggung mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan perempuan.”
Mereka bertemu Bu Aisyah di depan ruang makan. Senyum ramah terkembang di bibir Bu Aisyah.
“Ayo, makan dulu! Kalian tentu lelah menempuh perjalanan seharian. Biar Bunda jaga Zayn kalau dia bangun,” kata ibu dua anak itu.
“Iya, Bun,” sahut Via.
Ketiganya duduk mengelilingi meja makan. Aneka hidangan sudah disiapkan.
“Iya, kami memang menyiapkan menu berbuka,” jawab Via.
“Buka? Kalian puasa?” tanya Meli sambil mengambil nasi.
Via mengangguk. Ia menuangkan air putih ke gelas lalu diletakkan di depan Meli dan Anjani.
“Puasa sunah Senin-Kamis? Kalian rutin?” tanya Anjani.
“Hampir. Kalau aku kan kadang berhalangan,” sahut Via.
Anjani menatap Via kagum. Ia merasa kalau teman yang dikenal dari dunia maya itu pantas ia tiru.
“Aku salut ke kamu, Via. Kamu masih muda, tetapi pikiranmu sudah matang. Kamu berani menikah, tetapi karir tetap melejit. Kamu juga bisa menjaga imanmu. Aku mesti banyak belajar darimu,” ucap Anjani tulus.
Via terkekeh mendengarnya. Sambil mengupas jeruk, ia mulai menanggapi ucapan Anjani.
“Aku memutuskan menikah dan berkarir karena keadaan, Anjani. Papaku sudah tiada. Perusahaan warisan almarhum sempat guncang. Aku merasa terpanggil untuk menyelamatkan peninggalan papaku. Soal keimanan, aku rasa kita nggak jauh beda. Iman itu kadang naik kadang turun. Makanya, kita harus rajin charge iman kita.”
Meli menghentikan makannya. Ia menatap Via heran.
“Kok kayak HP pakai di-charge? Caranya?”
“Iya, Mel. Tapi charger-nya pakai pengajian, diskusi, juga baca-baca buku atau artikel keagamaan.” Via mengulum senyum.
Anjani dan Meli mengangguk-angguk paham. Kedua gadis itu kembali menyantap makan malamnya.
Usai makan, Meli mengajak Anjani ke kamar. Via meminta izin ikut ke kamar untuk ngobrol.
“Tentu saja aku senang. Ya, nggak Anjani? Kami bisa ngobrol banyak tentang olshop juga,” ucap Meli antusias.
__ADS_1
“Kalau ngobrolin olshop,besok bareng Ratna. Dia lebih paham kondisi olshop sekarang, tren busana juga,” papar Via.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar tamu. Obrolan seru pun berlanjut.
“Kalian ikut kajian rutin?”
“Iya, kami ikut. Kami dibimbing hafalan Al Quran juga,” jawab Anjani.
Via tersenyum senang, Ia menatap Anjani dan Meli bergantian.
“Sudah hafal berapa juz?” tanya Via lagi.
“Juz 30 saja belum hafal semua,” sahut Meli cepat.
“Bertahap, Mel. Kamu bisa menetapkan target. Saat masa perkuliahan, kamu tetapkan one day one ayat. Kalau musim liburan gini, ya harusnya meningkat, bisa one day three ayat atau five ayat”, papar Via.
“Kirain one day one juz,” gumam Meli.
Via dan Anjani terkekeh. Anjani bahkan menoyor kepala Meli gemas.
“Kalau tilawah, iya. One day one juz,” kata Via.
“Kamu rutin, ya? Kok bisa, sih? Dari dulu kamu begitu?” tanya Meli borongan.
“Enggak. Aku termotivasi belajar agama setelah tinggal di sini. Bunda yang membimbingku. Kalau sekarang, tentu saja Mas Farhan,” jawab Via.
“Senengnya,” desis Meli.
Via yang masih mendengar desisan Meli tertawa.
“Kamu juga bisa kalau mau. Bunda dengan senang hati membimbing kamu,” ucap Via.
“Kalau sudah halal, Mas Azka yang akan menggantikannya,” lanjut Anjani diiringi senyum lebar.
Muka Meli tampak merah. Ia juga salah tingkah.
“Apaan, sih. Kita kan sedang membahas belajar agama, kenapa jadi halal segala?” protes Meli. Jantungnya berdegup kencang.
“Ada hubungan, Mel. Menikah itu juga ada tuntunannya Kalau memang siap, pernikahan nggak usah ditunda,” jawab Via.
“Ih, apaan? Meli masih ingin kuliah, kok,” sahut Via.
“Oh iya, kamu dulu menikah juga masih berstatus mahasiswa, ya?” ucap Anjani.
“Iya. Nyatanya aku bisa menyelesaikan kuliahku. Untuk masalah ini, buat kesepakatan dulu dengan calon suami dan calon mertua. Kalau mereka setuju, lanjut,” kata Via sambil tersenyum.
“Tuh, begitu tipsnya. Siap, Mel? Biar Via menyampaikan ke Mas Azka agar segera melamar,” goda Anjani.
“Ih, apaan? Bukannya kamu yang sudah dilamar Mario?” balas Meli.
Kali ini ganti pipi Anjani yang memerah. Ucapan Meli begitu mengena.
“Kalau kalian siap, menikah muda itu bukan hal buruk, kok,” kata Via.
Obrolan mereka terhenti. Dari luar kamar, terdengar ketukan pintu diiring salam. Meli segera membuka pintu kamar sambil menjawab salam.
***
Bersambung
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like dan komentar! Komentar hanya 5 karakter juga sangat berarti. Yang masih bingung siapa Meli dan Anjani, baca novel karya Kak Indri Hapsari, ya!
__ADS_1