SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Buka Puasa


__ADS_3

Hari itu cukup melelahkan bagi Via. Tentu saja karena hal itu merupakan pengalaman pertama baginya.


Menjelang pukul 5 sore mereka pulang. Meski tubuh terasa penat, Via berusaha menyiapkan hidangan berbuka puasa untuk Farhan.


Begitu sampai rumah, Via bergegas ke dapur. Ia tidak sempat mandi dulu karena waktu berbuka tinggal 4-an menit. Untunglah, sebelum berangkat, Via sudah menyiapkan bahan yang akan dimasak beserta bumbunya.


"Mbak Via mau masak? Udah Mbok saja yang masak. Kan Mbak Via capek baru pulang," kata Mbok Marsih.


"Nggak apa-apa, kok. Tadi pagi kan sudah Via siapin."


Dengan cekatan Via memasak menu berbuka untuk suaminya. Mbok Marsih hanya sedikit membantu.


"Mbok, tolong dapur dibereskan, ya. Via mau membersihkan diri dulu."


"Iya, Mbak."


Via setengah berlari menuju ke kamar. Sekitar lima menit lagi waktu maghrib tiba. Sampai di depan kamar, ia hampir bertabrakan dengan Farhan.


"Cinta belum mandi?" tanya Farhan keheranan melihat Via yang masih memakai baju yang sama dengan yang dipakai ke kantor.


"Via habis masak. Hubbiy ke ruang makan saja dulu. Kalau azan, ya tinggal buka. Nggak usah nunggu Via, ya!" Via berkata setengah berteriak sambil ke kamar mandi.


Farhan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Via. Ia pun melangkah menuju ruang makan.


Sementara di dalam kamar mandi, Via buru-buru mandi. Jurus mandi super kilat ia terapkan. Namun, ia sempat melihat celana dalamnya.


"Kelihatannya hampir bersih. Ya sudah, sekarang yang penting tidak lengket karena keringat. Nanti mandi lagi sambil memastikan sudah bersih," gumam Via.


Ia segera memakai gamis katun dan jilbab kaos. Saat azan berkumandang, Via turun dari lantai atas.


"Maaf, Via cuma sempat menyajikan seperti ini. Soalnya waktunya sudah mepet. Via mandinya juga super super kilat hehe..."


"Besok lagi nggak usah repot-repot masak, ya. Cinta kan udah capek seharian di kantor. Mbok Marsih dan Bu Inah pasti sudah masak. Yang penting, temani Mas makan," kata Farhan sambari mengambil pisang panggang keju.


"Kan Via ingin melayani suami sebaik mungkin. Hubbiy nggak suka, ya?" tanya Via dengan raut kecewa.


"Bukan begitu. Mas cuma nggak mau Cinta kecapekan. Tentu saja Mas sangat senang. Apalagi masakan Cinta kan rasanya nendang," rayu Farhan.


"Emang sepak bola," sahut Via.


Farhan terkekeh. Ia meneguk teh hangat lalu berdiri.


"Mas jamaah maghrib dulu, ya! Nanti kita malam bareng," pamit Farhan.


"Iya. Pak Yudi dan Pak Nono sudah siap?"

__ADS_1


"Mas yakin sudah."


Setelah Farhan berangkat ke masjid, Via bergegas ke kamar mandi. Ia kembali mengecek kesuciannya. Ia mengambil kapas untuk meyakinkan bahwa haidnya memang sudah selesai. Begitu yakin, ia segera mandi wajib dan bergegas ke musala.


"Bu Inah sudah salat?" tanya Via begitu melihat Bu Inah.


"Be--belum, Mbak," jawab Bu Inah gugup.


"Mbok Marsih sudah belum?" tanya Via lagi.


"Sepertinya sudah."


"Kalau begitu, ayo jamaah bareng Via!" ajak Via.


"Eeh, iy--ya. Emm, Mbak Via kemarin nggak salat?" tanya Bu Inah sedikit takut.


"Iya, karena saya haid."


"Mbak Via yang jadi imam, ya. Sa---saya nggak berani," kata Bu Inah ragu.


"Iya, ayo. Waktu maghrib sangat pendek, lo."


Setelah salat maghrib, Via mengajak kedua ART-nya makan malam bersama. Hal itu sudah menjadi kebiasaan di rumah tersebut sejak Via pulang sehabis bulan madu.


Tadinya, keempat orang yang bekerja di rumah Via menolak. Mereka merasa segan. Namun, Via dan Farhan memaksa. Akhirnya, mereka pun menuruti perintah Via dan Farhan. Mereka terbiasa makan bersama. Edi pun ikut.


"Berusaha untuk rutin, Pak," jawab Farhan.


"Sering mutih juga?" Pak Nono ikut bertanya.


Farhan mengerutkan keningnya sesaat. Kemudian, ia tersenyum dan menjawab, "Enggak. Saya mengikuti tuntunan Rasulullah saja. Beliau terbiasa shaum Senin dan Kamis karena Senin adalah hari kelahiran Rasulullah, hari diangkatnya beliau sebagai nabi, juga hari turunnya Al Quran. Selain itu, pada Senin dan Kamis catatan amalan kita dilaporkan kepada Allah," jawab Farhan panjang lebar.


"Memang nggak lemes, Mas?" Edi ikut bertanya.


"Alhamdulillah, enggak. Semua bergantung kekuatan niat. Kalau niat kita kuat, insya Allah semua akan mudah."


Orang-orang mengangguk-angguk. Bu Inah tampak seperti orang gelisah. Hal itu tertangkap oleh Via.


"Bu Inah kenapa?" tanya Via halus.


"A--nu, ee...itu saya kan punya maag. Saya takut puasa," jawab Bu Inah gugup. Ia menunduk malu.


"O, begitu. Memang banyak orang yang takut puasa karena menderita maag. Justru dengan berpuasa maag bisa sembuh. Mengapa? Coba dipikir! Saat puasa, di siang hari, kita tidak makan. Lambung kita beristirahat. Kalau tidak pernah puasa, lambung kita dipaksa kerja terus-menerus. Saat puasa juga membuat pola makan kita teratur. Asal, kita tidak berlebihan saat buka dan sahur."


"Wah, ternyata begitu. Terima kasih, Mas," ucap Bu Inah.

__ADS_1


Obrolan mereka terhenti karena sudah masuk waktu salat isya. Empat orang pria bersiap pergi ke masjid, sedangkan tiga perempuan bersiap salat di musala keluarga.


Setelah salat isya, Via pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi. Ia berniat tidur awal. Badannya terasa sedikit pegal.


"Assalamualaikum, Cinta," ucap Farhan dari luar kamar.


"Waalaikumsalam. Masuklah, Hubbiy. Via lagi pakai night cream,"jawab Via.


Farhan melangkah masuk. Setelah meletakkan pecinya, Farhan mengganti baju kokonya.


"Cinta sudah mau bobo?" tanya Farhan yang melihat Via tengah memakai skincare.


"Iya. Lagian mau ngapain? Via pengin istirahat cukup biar besok bangun pagi penuh semangat."


Farhan tersenyum. Ia mendekati istrinya.


"Eh, sudah mandi lagi? Kok bau sampo?" tanya Farhan sambil menciumi rambut Via.


"Sudah, dong! Mandi wajib sekalian," jawab Via. Ia membereskan skincare yang baru ia pakai.


"Memang sudah suci? Baru 5 hari?" tanya Farhan keheranan.


Via melangkah ke tempat tidur. Ia duduk menghadap suaminya.


"Ih, ternyata Hubbiy ngitung juga. Hubbiy, namanya haid tidak harus seminggu. Via memang biasanya 5 hari. Tadi sudah Via cek, ternyata memang tidak ada darah," terang Via.


"O begitu. Berarti, Mas bisa buka puasa?" Seringai Farhan. Ia mendekati Via.


"Bukannya tadi sudah? Mau makan lagi?" Via ganti yang merasa heran.


"Bukan puasa makan makanan Senin Kamis. Tapi ...." Farhan sengaja menggantung kalimatnya. Ia tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya.


"Tapi apa, Hubbiy?" tanya Via l heran.


"Puasa olahraga malam. Sudah 5 hari nih puasa. Boleh berbuka malam ini, ya," pinta Farhan penuh harap.


"Aduh, Via nggak jadi bobo sekarang kalau mau. Tapi, kalau nggak mau, Via takut dilaknat malaikat," bisik Via dalam hati.


Akhirnya, Via mengangguk. Kegembiraan terpancar di wajah Farhan melihat istrinya setuju.


Via pun membatalkan rencana tidur awal. Ia mandi keringat akibat Farhan berbuka puasa.


***


Bersambung

__ADS_1


Maafkan author yang hanya bisa update sedikit. Author juga belum balas semua koment. Sabar, ya.


Terima kasih atas dukungan Kakak🙏


__ADS_2