SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Gayung Bersambut


__ADS_3

Ucapan Farhan mulai "meracuni" pikiran Doni. Ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Azka, Dini dengan Meli.


Ia merasakan kebenaran ucapan Farhan. Namun, ia ragu dengan tanggapan orang tuanya dan juga keluarga Dini.


Saat ia ragu, kalimat Farhan menguatkannya. Niat baik insya Allah akan mendapat kemudahan. Dalam hati Doni pun memutuskan untuk mencoba menyampaikan niatnya menikahi Dini kepada orang tuanya.


"Asyik sekali ngobrolnya," tegur Edi yang baru keluar dari ruang perawatan Eyang Probo.


"Hehehe, iya Mas. Sini, ikut ngobrol! Eyang masih tidur, kan?" sahut Farhan.


"Iya, tenang kok tidur beliau."


Edi menuruti perkataan Farhan. Dia bergabung dengan Farhan dan Doni.


"Ni Mas Edi juga belum lama menikah, nggak pakai pacaran dulu. Nggak pernah berduaan dengan Mira sebelum menikah, kan?" Farhan mulai mengompori Doni lagi.


Edi tertawa kecil. Ia teringat masa-masa menjelang pernikahannya.


"Benar yang dikatakan Mas Farhan?" Doni menyelidik.


"Iya. Saya tertarik dengan Mira, istri saya sekarang, lalu cerita ke Mas Farhan. Mereka yang bantu menyatukan kami," jawab Edi.


Doni menatap wajah Edi. Seolah, Doni tengah memastikan kebenaran ucapan Edi.


"Seru sekali, nih. Ngobrolin apa?" Papa Doni keluar lalu mendekat.


"Ngobrolin pernikahan, Om. Mari duduk lesehan sini," jawab Farhan sopan.


"Pernikahan? Pernikahan siapa?" tanya papa Doni seraya mengambil posisi duduk di tikar.


"Pernikahan adik saya dan Mas Edi," jawab Farhan lagi.


Papa Doni tampak menautkan kedua alisnya. Sepertinya ia tengah mengingat sesuatu.


"Seingat Om, waktu kami ke rumah Dini bertemu dengan anak kedua Bu Aisyah. Waktu itu belum menikah, kan? Lalu kapan menikah?"


Farhan menceritakan secara ringkas proses Azka menikahi Meli. Papa Doni terlihat mengangguk-angguk sambil berpikir.


"Berarti mereka tidak melalui proses pacaran dan tunangan? Begitu yakin, orang tua setuju, menikah. Iya, Mas Farhan?" Papa Doni meminta kemantapan.


"Betul, Om. Saya pun begitu, tidak melalui proses pacaran sebelum menikah. Pacarannya setelah ijab kabul," jawab Farhan diiringi tawa renyah.


"Om pikir bagus juga. Anak muda usia 20-an tahun sedang dalam masa libido tinggi. Sangat beresiko berduaan dengan lawan jenis," ucap papa Doni lirih.


Doni tampak terkejut dengan ucapan papanya. Ia tidak mengira papanya menyetujui ucapan Farhan. Dada Doni bergemuruh seketika.


"Don, bagaimana kalau kamu meniru mereka?" tanya papa Doni sambil menatap tajam putranya.


Doni tampak gugup. Ia belum siap ditanya pernikahan meski dia baru saja memutuskan untuk mencoba membicarakan dengan orang tuanya. Ia tidak mengira begitu cepat respon papanya, bahkan sebelum ia menyampaikan niatnya.


"Ma--maksud Papa?" Doni menjadi gugup dan tampak bodoh.


Papa Doni tertawa melihat kegugupan putranya.


"Tentu saja maksud Papa bagaimana kalau kamu segera menikahi Dini? Buat apa tunangan? Enakan langsung nikah. Betul begitu, Mas Farhan?" Papa Doni masih terkekeh.


"Betul, Om. Pacaran setelah menikah itu nikmat dan berpahala," sahut Farhan.


"Tuh, dengar ucapan Mas Farhan! Dia sudah merasakan kenikmatan pacaran yang halal," kata papa Doni.


Doni tampak malu-malu. Ia juga semakin gugup.

__ADS_1


"Papa Mas Doni sudah memberikan lampu hijau. Ayo, Mas, bergegas cepat!" Edi ikut menimpali.


Doni menatap ketiga pria di dekatnya secara bergantian.


"Jadi Papa setuju kalau Doni segera menikahi Dini?" tanya Doni.


"Tidak!" Papa Doni menjawab cepat.


Semua kaget dengan jawaban papa Doni. Bukankah sebelumnya justru papa Doni yang mendorong Doni menikah? Begitu pikir mereka. Raut kekecewaan tampak jelas di wajah Doni. Ia bagi diterbangkan lalu dijatuhkan dengan cepat.


"Dengarkan Papa! Maksud Papa, Papa tidak hanya setuju tetapi sangat setuju," lanjut papa Doni. Senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Ah, Papa nih," gerutu Doni.


"Cie, sudah nggak sabar nikah, nih?" ledek papa Doni.


Doni menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya. Rona merah tersemburat. Namun, temaramnya malam mampu menyembunyikan dari penglihatan orang lain..


"Betul kata Mas Farhan. Niat baik insya Allah dimudahkan. Baru saja punya niat mengikuti jejak Mas Farhan, menikah, papa langsung setuju," batin Doni.


"Tapi tidak sekarang," lanjut papa Doni.


"Maksud Papa?" nada Doni terdengar tak enak.


"Tentu saja menunggu adikmu sembuh. Sudah nggak sabar, hem?" ledek papa Doni.


"Ih, Papa!" pekik Doni gemas.


***


Di kamar yang didominasi warna lembut, Via masih asyik di depan laptop. Sesekali ia melihat Zayn yang sudah tidur.


"Ya Allah, semoga ini jalan dari Engkau untuk hamba dalam menyelesaikan masalah Jaya Sakti Persada," gumam Via begitu melihat isi email.


Tangan Via segera meraih gawainya. Ia mencari kontak kakeknya.


....


"Waalaikumsalam, Kek. Kakek sehat?"


....


"Mas Farhan saat ini di rumah sakit menunggu Eyang Probo. Zayn sudah tidur," kata Via sambil mengarahkan gawainya ke anak kecil yang tengah terlelap di atas ranjang.


....


"Via baru baca email Kakek. Itu benar Jaya Sakti Persada mengajukan proposal ke kita, Kek?"


....


"Jadi, Kakek sudah mengenal Tuan Rahardian?" tanya Via.


.....


"Via ada sedikit masalah dengan bos Jaya Sakti Persada. Ini ada kaitan dengan sakitnya Eyang Probo. Via ingin menekan posisi Tuan Rahardian, Kek."


Secara singkat, Via menceritakan tentang kejahatan seorang Rahardian. Ia juga bercerita tentang yang dilakukan oleh Rahardian terhadap anak buahnya.


"Kakek kok biasa saja? Kenapa nggak kaget?" protes Via.


....

__ADS_1


"Apa? Itu biasa? Jadi, banyak pebisnis yang bejat moralnya seperti si Rahardian?" tanya Via dengan nada sedikit emosi .


....


"Kakek dan Om Candra tidak termasuk, kan? tanya Via khawatir.


...


"Syukurlah. Tapi, meski segelintir oknum, tetap saja meresahkan. Apalagi bos Jaya Sakti Persada ini. Gara-gara ulahnya, Eyang Probo sekarang masih terbaring di rumah sakit. Ayah dan Meli hampir celaka," ujar Via berapi-api.


....


"Baik, Kek. Via minta, Kakek berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai bos Jaya Sakti Persada menaruh dendam baru terhadap Kakek," pesan Via.


....


"Terima kasih, Kek. Jaga kesehatan, ya!"


....


"Alhamdulillah. Kakek harus menunggui saat Dini menikah. Siapa tahu dalam waktu dekat."


....


"Hati orang siapa yang tahu. Kali aja Dini tergerak hatinya untuk segera menikah."


....


"Ya, Doni juga bisa saja sekarang berubah pikiran, ingin menikahi Dini secepatnya."


Terdengar suara Kakek Adi terkekeh. Ia tampak begitu bahagia.


"Kalau Dini dalam waktu dekat menikah, tinggal Ardi cucu Kakek yang masih jomlo. Kakek tinggal provokasi tuh si Ardi biar cepat menikah."


....


"Entahlah. Dia di sini cuma main ke Wijaya Kusuma dan beberapa objek wisata. Via nggak bisa menemani. Tapi, dia enjoy pergi sendiri, cuma diawasi beberapa body guard."


...


"Aamiin. Via tutup dulu, ya. Terima kasih atas bantuan Kakek. Semoga tindakan Kakek bisa membuat Rahardian jera dan insyaf."


....


"Assalamualaikum."


....


Via mengembalikan gawai ke tempat semula. Baru saja tangannya lepas dari gawai, terdengar notifikasi panggilan. Dahi Via berkerut membaca nama pemanggil.


***


Bersambung


Terus ikuti cerita receh ini, ya! Jangan lupa mampir ke CS1 karya Kak Indri Hapsari untuk mengetahui kehidupan Meli di Jember.


Selalu tinggalkan jejak like dan komen di karya kami.


Barakallah 🙏


__ADS_1


__ADS_2