
Matahari perlahan merangkak naik. Semburat jingga di ufuk timur telah menghilang sekitar satu jam yang lalu. Suasana sejuk pun mulai berubah hangat.
Sesosok pria berbadan tgap dengan tinggi sekitar 180 cm duduk di tras paviliun. Di depannya tampak laptop yang menyala. Tatapan pria itu tampak mengarah ke laptop. Namun, sepertinya perhatiannya tidak tertuju ke situ.
Saat Farhan mendekat, pria itu tak menyadari kedatangannya. Bahkan, sampai Farhan berdiri di depannya pun, pria itu tidak bereaksi.
“Assalamualaikum. Mas Edi melamun, ya?” tegur Farhan.
Lelaki yang tengah menghadap laptop itu tetap diam. Ia tidak bergeming dari posisinya.
“Mas Edi, sebenarnya sedang apa? Ada yang membebani pikiran Mas Edi?"
Pertanyaan Farhan masih belum mendapat respon. Agaknya kalimat yang diucapkan Farhan tidak masuk ke telinganya.
Farhan merasa gemas karenanya. Akhirnya, Farhan menepuk bahu Edi dengan cukup keras.
“Mas! Pagi-pagi jangan melamun!” ujar Farhan.
“Eh, Mas Farhan. Enggak, kok. Saya nggak punya,” jawab Edi sedikit gugup.
“Nggak punya apa?” Dahi Farhan mengernyit.
“Nggak punya mentimun. Mungkin di kulkas masih ada. Sebentar, saya tanya Mbok Marsih dulu. Mau bikin rujak?” tanya Edi tanpa dosa.
Fathan menggelengkan kepala. Ia ingin tertawa, tetapi ia tahan.
“Terus, mentimunnya mau buat apa? Kirain Mbak Via minta rujak,” ujar Edi.
“Rujak gundulmu! Melamun kok dengarnya mentimun,” gerutu Farhan dalam hati.
“Saya bukan tanya mentimun, Mas. Saya tanya, apa Mas Edi me—la—mun.” Farhan tak kuasa menahan gemasnya.
Muka Edi memerah. Ia menunduk menahan malu.
“Maaf, Mas. Saya—saya tidak bermaksud kurang ajar, tapi .…”
“Sudahlah, tak apa. Mas Edi nggak usah merasa bersalah seprti itu,” potong Farhan. Pria itu kemudian duduk di kursi di samping Edi.
Edi masih menunduk. Ia merasa malu ketahuan sedang melamun.
“Mas Edi sedang ada masalah? Saya perhatikan akhir-akhir ini Mas Edi sering terdiam, melamun, wajahnya juga tidak ceria. Bukankah saya sudah memberi kesempatan Mas Edi cuti? Mungkin sebenarnya Mas Edi kangen keluarga, khususnya ibu?”
Edi menggeleng mantap. Ia memang tidak sedang merindukan keluarganya. Bahkan ibunya. Saat ini dia belum ingin bertemu dengan perempuan yang melahirkannya, yang tidak pernah membelanya saat ia dihajar ayah tirinya. Edi masih belum bisa melupakan kenangan pahit dalam hidupnya.
“Mas, kalau beban Mas Edi berat, berbagilah dengan orang lain. Tidak semua orang bisa mmbri solusi,tetapi setidaknya dengan bercerita beban pikiran Mas Edi bisa berkurang,” kata Farhan pelan tetapi penuh penekanan.
Edi mengela nafas panjang. Ia memang tampak sedang memendam sesuatu yang membuatnya terbebani.
“Maaf, Mas. Saat ini saya belum siap bercrita tentang masalah saya kepada siapa pun. Bukan berarti saya tidak memercayai Mas farhan, tapi saya belum siap,” tutur Edi dengan suara berat.
“Iya, nggak apa-apa. Saya nggak memaksa. Saya hanya nggak mau Mas Edi punya beban yang membuat Mas Edi tertekan."
“Iya, Mas. Terima kasih atas perhatian yang Mas Farhan berikan.”
Farhan tersenyum. Ia bangkit dari duduknya lalu berdiri di samping kursi yang diduduki Farhan.
“Pokoknya, Mas Edi jangan sungkan untuk minta tolong. Kita sudah menjadi keluarga.” Farhan menepuk bahu Edi.
__ADS_1
“Iya, Mas. Saya beruntung bekerja di lingkungan orang-orang baik. Saya seperti memiliki keluarga baru.”
Farhan mengembangkan senyumnya. Ia berdiri dan berpamitan kepada Edi.
“Baiklah, yang penting Mas Edi jangan berlarut-lrut dalam masalah. Saya kembali dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaaikumsalam.”
***
Farhan mulai menapaki tangga menuju kamarnya. Langkahnya terhenti saat mendengar sebutan sayang dari belahan jiwanya.
“Hubbiy dari mana?” tanya Via sambil menyusul naik.
“Dari paviliun,” jawab Farhan singkat.
“Menemui Mas Edi?” tanya Via lagi.
Farhan hanya mengangguk. Begitu Via sampai anak tangga yang sama, tangan Farhan dilingkarkan ke pinggang Via lalu mngajaknya melangkah menuju kamar.
“Hubbiy menanyakan soal sikap Mas Edi?” Via seperti sedang mewawancarai Farhan.
“Iya. Tadi coba mengorek penyebab Mas Edi sekarang jadi pendiam dan suka melamun. Waktu Mas ke sana, Mas Edi sedang melamun. Sayangnya, Mas Edi belum mau cerita. Dia belum siap,” kata Farhan.
Via terdiam. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu. Begitu sampai kamar, ia mengambil ponselnya. Ia saling berkirim pesan dengan seseorang. Selang lima menit kemudian, Via meletakkan kembali ponsel pintarnya.
“Hubbiy sedang sibuk, nggak?” tanya Via dengan suara manja. Ia mendekati suaminya.
“Enggak. Ini kan Minggu. Ya berarti waktu untuk keluarga. Memang kenapa?” Farhan balik bertanya.
“Via kepingin ke mall. Yuk, jalan-jalan,” ajak Via.
“Bertiga. Ajak Mas Edi! Barangkali Mas Edi butuh refreshing.”
“Kalau begitu, bersiap-siap sana! Mas mau hubungi Mas Edi,” perintah Farhan.
Seperempat jam kemudian, mereka bertiga sudah masuk mobil. Edi yang memegang kemudi, sementara Via dan Farhan duduk di jok belakang.
"Hati-hati, Mas! Jangan melamun, ya!" ucap Farhan.
Edi mengangguk. Dia melajukan mobil perlahan.
Cukup lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan menuju mall. Edi melajukan mobil dengan sangat pelan. Kepadatan lalu lintas di hari Minggu menyulitkan Edi untuk melajukan mobil dengan kecepatan lebih dari 40 kpj.
Sesampai di mall, Farhan menggandeng tangan Via masuk. Edi mengekor langkah mereka.
Pusat kebutuhan rumah tangga menjadi tujuan mereka. Tidak begitu banyak yang Via beli. Troli belanja lebih banyak diisi makanan ringan. Tak sampai setengah jam, mereka selesai.
"Mau ke mana lagi?" tanya Farhan.
"Via lapar. Kita ke food court, yuk!"
Mereka pun menuruti keinginan Via. Sesampai di lantai B1, Via celingukan. Ia seperti mencari sesuatu.
"Mas, makan bakso saja, ya!" pinta Via.
Farhan mengangguk. Ia segera menggandeng tangan Via ke tempat yang bertuliskan Bakso Gres.
__ADS_1
Via berdiri sambil melambaikan tangan kepada orang yang baru masuk. Edi dan Farhan memperhatikan arah pandangan Via.
Edi tampak gugup setelah mengetahui orang yang baru masuk.
"Sini, gabung saja biar ramai!" ajak Via.
Kedua gadis yang baru masuk menuju meja Via. Mereka duduk bersama.
Edi menunduk begitu Ratna dan Mira duduk bersama mereka. Mira pun terlihat canggung.
Hal itu tidak luput dari perhatian Via dan Ratna.
Tak lama kemudian, bakso sudah tersaji di meja. Mereka segera menyantap makanan yang telah tersaji.
"Enak, Mbak?" tanya Ratna kepada Mira.
"Enak," jawab Mira.
"Dulu waktu SMA aku dan Ratna sering ke sini," tambah Via.
Farhan memperhatikan cara makan Via. Memang terlihat begitu lahap menyantap bakso.
"Mas Edi nggak suka bakso, ya?" tanya Farhan sambil memperhatikan Edi.
Edi tidak menjawab. Pandangannya ke mangkok di depannya, tetapi tidak disantap.
"Mas Edi melamun lagi?" Farhan kembali bertanya.
"Eh, enggak. Bagaimana, Mas?"
Mira dan Ratna menahan tawa. Mereka mengetahui Edi sedang melamun.
"Mas Edi melamunin apa, sih? Di sini sudah ada cewek cantik lo," ledek Via.
Edi menunduk malu. Ekor matanya mengarah ke Mira. Kebetulan Mira juga melirik Edi. Mereka buru-buru menunduk saat lirikan mereka beradu.
Via menatap Ratna. Matanya memberi kode. Ratna mengangguk sambil tersenyum.
"Kok malah nunduk gitu? Ada apa, Mas?" Farhan pura-pura tidak tahu.
"Ah, enggak. I--ini menghabiskan bakso," jawab Edi.
"Mbak Mira bilang baksonya enak? Kok masih banyak?" celetuk Via.
"I---iya, ini lagi dihabiskan," jawab Mira gugup.
Mendadak perut Via terasa seperti diaduk. Via berusaha menahan agar tidak mutah. Keringat dingin bercucuran.
Akhirnya, Via bangkit dari duduknya. Setengah berlari ia menuju toilet. Farhan tampak cemas melihat Via seperti itu. Ia pun menyusul Via.
Wajah Via terlihat agak pucat saat keluar dari toilet. Farhan yang menunggu di luar menjadi cemas. Ia membimbing Via kembali ke meja mereka.
***
bersambung
Tetap dukung author dengan memberi like, komentar, rate 5 juga vote. Terima kasih atas dukungan Kakak 🙏
__ADS_1
Sambil menunggu Via hadir lagi besok, yuk baca novel karya Tya Gunawan. Bisa dapat banyak pengetahuan lo 😍