SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Balasan untuk Pelaku


__ADS_3

Farhan memberi isyarat kepada Via, Kiki, dan Edi untuk keluar. Ia bermaksud mengajak mereka membicarakan masalah ketiga pelaku itu.


"Ada ruangan yang enak untuk ngobrol?" tanya Farhan saat di depan ruangan.


"Yuk, kita ke belakang!" ajak Kiki.


Mereka mengekor langkah Kiki. Di ruang dekat dapur, Kiki mempersilakan ketiganya masuk. Kiki menutup pintu begitu mereka bertiga masuk.


"ART Eyang Probo sebenarnya terpaksa melakukan kejahatan ini. Aku bisa memahami alasan wanita itu."


Kiki melotot mendengar ucapan Farhan. Ia tidak terbiasa memberikan toleransi atas kesalahan fatal. Yang dilakukan oleh ART Eyang Probo adalah salah satu kesalahan yang seharusnya tidak dimaafkan.


"Iya, aku setuju. Dia terdesak oleh keadaan. Sebagai seorang ibu, dia tentu memikirkan keselamatan anaknya," ucap Via mendukung pendapat Farhan.


Kiki semakin heran. Ia tak habis pikir dengan jalan pikiran sepasang suami istri itu.


"Tunggu! Bukankah wanita itu hampir membuat nyawa Tuan Probo melayang? Kenapa malah dimaklumi? Kita pikirkan bagaimana membuat dia jera," protes Kiki.


"Aku seorang ibu. Aku bisa memahami bagaimana perasaan seorang ibu dipisahkan dari anaknya. Apalagi kondisi anaknya terancam. Seorang ibu bisa melakukan apa saja demi anaknya," tandas Via.


Kiki terdiam. Ia tak mengira kalau Via yang lemah lembut bisa setegas itu.


"Tapi, kenapa dia tidak berusaha minta pertolongan? Selain itu, mungkin saja dia mengarang cerita untuk mendapat belas kasihan," kilah Kiki.


"Pertolongan? Kita tidak tahu latar belakang wanita itu. Kemungkinan dia bukan orang berada. Kamu sendiri tahu Rahardian itu seperti apa. Tentu tidak gampang cari pertolongan," sahut Farhan.


"Soal dia jujur atau bohong, itu tugas kamu untuk memastikan," tambah Via.


Edi tersenyum tipis mendengar percakapan ketiganya. Ia sudah mulai mengenal karakter pasangan Via dan Farhan sehingga tidak heran dengan jalan pikiran mereka.


"Ki, segera cari tahu keberadaan anak wanita itu! Kalau benar dia disekap Rahardian, bebaskan!" perintah Edi.


Kiki tidak bereaksi. Ia masih belum bisa menerima alur pemikiran Via dan Farhan.


"Kamu lagi mikir apa, sih?" Edi menepuk bahu Kiki.


Kiki terperanjat. Ia menatap Edi dengan tatapan sulit diartikan.


"Kenapa? Kamu merasa keberatan dengan tugas ini?" tanya Edi.


"Tidak. Bukan itu yang kupikirkan. Aku memikirkan bagaimana membuat mereka jera," sahut Kiki.


Farhan mengulas senyum di bibirnya. Ia mengerti apa yang Kiki pikirkan.


"Tidak semua kejahatan harus dibayar dengan kekerasan. Dendam tidak harus dibalas dengan dendam karena hal itu akan berkepanjangan. Mari kita mencoba menyelesaikan masalah dengan pikiran dingin, membalas kejahatan dengan kebaikan," ucap Farhan.


Edi mulai paham penyebab keputusan Via yang tidak membalas kejahatan dengan kekerasan. Rupanya didikan keluarga Farhan memang seperti itu.


"Maksud Mas Farhan bagaimana? Memang kalau penjahat itu dinasehati terus bisa sadar?" kata Kiki dengan nada tak percaya.


Farhan menoleh ke Via dan kebetulan Via juga menoleh ke Farhan. Mereka mengangguk sambil melempar senyum.


"Tentu tak semudah itu, Ki. Kita coba dengan perbuatan baik untuk mereka. Apalagi seperti wanita itu. Makanya, coba selidiki dulu tentang anaknya. Benarkah disekap Rahardian. Kalau benar, bebaskan anak itu. Kalau wanita itu bohong, kita pikirkan tindakan selanjutnya," jelas Farhan.


"Dan tolong jangan dijadikan satu ruangan begitu! Perlakukan mereka dengan lebih manusiawi!" Via menambahkan.


Kiki mengangguk. Mau tidak mau, dia harus patuh perintah majikan.


"Bagaimana dengan dua lelaki yang mau menyerang Non Meli dan Pak dokter? Apa mereka juga akan dibebaskan begitu saja?" tanya Kiki tak bersemangat.

__ADS_1


"Siapa bilang dibebaskan begitu saja? Kalau langsung kita bebaskan, mereka tentu kembali ke majikan mereka dan berbuat kejahatan lagi," ujar Farhan.


"Lalu?" Kiki bertanya lagi.


"Kita cari jalan keluar untuk mereka. Kita pastikan dulu kemauan mereka. Kalau memang mereka masih mau bertobat, kita bantu mereka lepas dari Rahardian," jawab Farhan.


Farhan menoleh ke Via. Ia melihat istrinya tengah terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana, Sayang? Setuju dengan pendapatku?" tanya Farhan kepada Via.


Via mengangguk dan menjawab,"Iya. Via sedang memikirkan solusi untuk mereka. Mungkin Om Candra bisa membantu. Tapi yang jelas kita pastikan dulu sikap mereka."


Edi juga terlihat setuju. Ia kembali memberikan instruksi kepada Kiki.


"Korek lagi keterangan dari mereka! Untuk yang lelaki, tanyai keinginan mereka untuk masa depan. Ingin dikembalikan kepada majikan mereka si Rahardian atau sebaliknya."


"Lalu untuk wanita ART itu?" Kiki minta penjelasan lagi.


"Cari tahu posisi anaknya, cek kebenaran informasi dari wanita itu! Kalau benar, bebaskan anak itu lalu bawa ke sini! Kalau salah, biar Mas Farhan yang memutuskan sanksi untuk dia," jawab Edi.


Farhan mengacungkan ibu jari kanannya kepada Edi.


Setelah semua selesai, Farhan mengajak Via ikut mobilnya. Ia bermaksud pergi menjenguk eyangnya.


Via setuju. Ia pun ingin tahu kondisi Eyang Probo. Mereka naik mobil yang dikemudikan Pak Yudi.


Saat menuju ruang perawatan Eyang Probo, Via melihat sosok yang dikenalnya. Ia mencolek lengan Farhan.


"Seperti Doni. Lihat di sana!" ucap Via sambil menunjuk arah kanannya.


"Benar. Sedang apa anak itu? Aku panggil saja. Doni!"


"Kok kamu ada di sini? Sedang apa?" tanya Via.


"Tadi pagi adikku diputuskan harus rawat inap. Aku baru saja datang dari Bandung langsung ke sini. Kamu sendiri, ngapain?" Doni balik bertanya.


"Eyangku sakit. Sudah beberapa hari malah. Belum lama beliau dipindahkan ke bangsal. Adikmu dirawat di bangsal apa?" Giliran Farhan yang berkata.


"Anggrek. Sebelah mana, ya?"


"Oh, berarti sama dengan Eyang Probo. Ayo, kita ke sana bareng!" ajak Via.


Mereka bertiga berjalan bersama menuju ke Bangsal Anggrek. Ternyata, kamar Eyang Probo dan adik Doni bersebelahan.


Mereka berpisah karena harus masuk ruangan yang berbeda.


Via dan Farhan menjumpai dokter Haris tengah duduk di sofa sambil memainkan HP. Ia tidak menyadari kedatangan Via dan Farhan.


"Ayah, sedang apa sampai tidak menyadari kehadiran kami?" tegur Farhan.


"Eh, Farhan! Via juga datang. Maaf, Ayah sedang membalas pesan Pak Ridwan, dari WK Husada. Alhamdulillah, ada dana segar yang bisa menyelamatkan rumah sakit ini dari kebangkrutan."


Via dan Farhan saling tatap dan bertukar senyum mendengar penuturan ayah mereka.


"Syukurlah, Ayah. Eyang bagaimana?" ucap Via sambil mendekati ranjang pasien.


"Belum juga sadar. Setidaknya, kondisinya stabil. Tanda vital kehidupan cukup bagus."


Tiba-tiba Via memekik meski tak keras.

__ADS_1


"Mas, Ayah! Lihat, jari eyang bergerak!"


Pak Haris segera mendekat. Ia mengecek kondisi ayahnya.


"Mata eyang mengerjap. Alhamdulillah," desis Via.


Benar saja. Sedikit demi sedikit, secara perlahan, kelopak mata Eyang Probo mulai terbuka.


"Ayah, Ayah dengar suara Haris?" ucap dokter Haris.


Kepala Eyang Probo tampak mengangguk. Yang bertanya pun tampak lega.


Farhan merasakan ada getaran di saku celananya. Ia segera mengambil benda pipih yang ada di saku. Digesernya ikon warna hijau di layar.


"Assalamualaikum, Dek."


"Waalaikumsalam. Mas Farhan di mana?"


Farhan mengubah suaranya ke mode loud speaker. Kemudian, ia mengarahkan layar ke wajah Eyang Probo.


"Eyang, ni Dek Azka," kata Farhan tanpa menghiraukan pertanyaan adiknya.


Tampak mata Eyang Probo menatap layar gawai milik Farhan. Sorot matanya terlihat bahagia.


"Eyang? Eyang sudah sadar?"


Sementara Farhan sedang mengarahkan gawai agar Azka dan eyangnya bisa saling tatap, Via mendengar nada dering gawainya. Ia pun bergegas mengambilnya.


"Suami istri ni kompak bener, ya," ucap Via sambil tersenyum.


"Kenapa?" tanya Farhan.


"Ni, Meli vicall juga," jawab Via sambil menggeser ikon di layar gawai. Ia juga menyentuh mode loud speaker.


"Assalamualaikum, Mel. Kebetulan sekali kamu vicall," ucap Via.


"Waalaikumsalam. Memang kenapa?"


"Aku sedang di ruang perawatan Eyang Probo. Beliau baru saja sadar."


"Alhamdulillah," seru Meli cukup keras.


"Apa kabar, istriku?" terdengar pertanyaan dari gawai Farhan.


Via mendekatkan gawainya ke gawai Farhan. Meli tampak kaget. Ia tersenyum malu.


"Eyang, ni cucu menantu Eyang juga menelepon."


Meski belum berkata-kata, wajah Eyang Probo tampak berseri. Rupanya telepon dari dua orang yang disayangi menjadi semangat baru untuknya.


***


Bersambung


Ikuti terus kelanjutannya, ya. Untuk mengetahui kehidupan Meli, silakan baca novel kece karya Kak Indri Hapsari!


Jangan lupa klik like dan komentar di setiap episode novel kami.


Barakallahu fiik

__ADS_1



__ADS_2