SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Pembicaraan Menyesakkan


__ADS_3

Via mencoba menenangkan pikirannya, menata hatinya yang kacau. Berulang kali ia menarik nafas dalam-dalam. Batinnya terus melafalkan istighfar.


Bu Aisyah masih duduk di dekat Via. Ia mencemaskan kondisi psikologis menantunya. Meski selama ini Via menunjukkan kedewasaan dalam berpikir dan bertindak, tetapi saat ini ia sedang hamil. Pengaruh hormon terhadap emosi cukup besar.


Setelah beberapa saat, Via berangsur tenang. Ia bangkit dari duduknya lalu ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang sembab.


"Kita ke bawah, yuk! Ratna dan Mira datang. Mereka mau menginap lagi di sini," ajak Bu Aisyah.


Via mengangguk. Ada perasaan lega menyusup ke hatinya. Setidaknya, kehadiran dua orang sahabatnya itu bisa sedikit mengurangi tekanan batinnya.


"Hai baby! Apa kabar nih? Kamu nggak ngerjain bundamu, kan?" sapa Ratna sembari menunduk. Kepalanya didekatkan ke perut Via.


Via tersenyum melihat kelakuan Ratna. Ia pun menjawab, "Baik, Tante. Aku nggak nakal, kok."


"Tante? Kalau panggil kakak bagaimana?" usul Ratna.


"Ish, kamu ini nggak inget umur apa? Kamu kira umurmu berapa, hem?" Mira menoyor kepala Ratna.


Ratna cekikikan diperlakukan seperti itu oleh Mira. Via pun tertawa lirih melihat ulah sahabatnya.


Dari kejauhan Bu Aisyah menatap keakraban mereka dengan perasaan lega. Ia berharap kedatangan Ratna dan Mira bisa membuat Via move on. Setidaknya, manantunya tidak larut dalam keterpurukan.


"Boss, aku mau lapor nih. Kalau interior ruko kita diubah, gimana? Bentar, aku lihatin konsepku. Ngomong-ngomong kamu nggak nyuruh kami duduk di mana gitu yang nyaman?" Ratna sedikit memajukan bibirnya saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Kau ini. Biasanya juga nyelonong. Yuk, ke ruang kerja!" ajak Via.


Saat mereka berdiri akan ke ruang kerja, Edi datang. Ia baru saja pulang dari kantor.


"Assalamualaikum. Eh, ada tamu dari jauh," ucap Edi sambil memamerkan senyumnya.


"Waalaikumsalam. Baru pulang, Mas?" tanya Mira basa-basi.


"Enggak, mau berangkat," sahut Ratna sambil cengengesan.


"Ish, kamu nih. Ayo ke ruang kerja! Mbak Mira boleh nyusul nanti. Barangkali Mas Edi mau bicara dulu dengan Mbak Mira," kata Via.


Via dan Ratna meninggalkan ruang tamu menuju ruang kerja Via. Sementara Mira berubah canggung karena ditinggalkan bersama Edi di ruang tamu.


Ratna membuka laptopnya. Ia bermaksud menunjukkan gambar konsep interior ruko yang ia maksud. Namun, berkali-kali tombol power ia tekan, laptop tidak mau hidup.


"Apa kehabisan daya? Kamu bawa charger nggak?" tanya Via.


"Sudah kuisi sampai full sebelum ke sini. Aku nggak bawa charger," jawab Ratna.


"Aduh, gimana ini?" Via kebingungan. "Ah, aku minta tolong Mas Edi saja."


"Ya sudah sana ngomong ke Mas Edi! Aku ke belakang dulu, ya!"


Via kembali ke ruang tamu. Sementara Ratna melesat ke kamar mandi.


Saat akan masuk ruang tamu, langkahnya terhenti. Ia mendengar Edi menyebut namanya dan juga Farhan.


Sesaat tidak terdengar suara apa pun. Via menduga Edi tengah berpikir untuk memberikan penjelasan yang mudah diterima Mira.


"Saat Mas Farhan pergi ke Medan, aku sedang bergulat dengan masalah pribadiku. Kepulanganku ke kampung membuat aku kehilangan kontrol akan keluarga ini. Aku lengah tidak memberikan pengawalan kepada Mas Farhan. Kalau aku tidak kehilangan fokus, mungkin musibah ini bisa di cegah."


"Oh begitu," komentar Mira pendek. Ada nada kecewa dalam suaranya.


"Aku mohon, kamu bisa mengerti. Kamu nggak ingin menikmati bahagia di saat temanmu sedang berduka, kan? Aku ingin kita menikmati kebahagiaan bersama orang-orang terdekat kita. Keluarga ini sudah begitu dekat. Aku menganggap mereka keluargaku, mereka pun demikian. Aku yakin kamu menganggap Mbak Via sebagai saudara, bukan?" ucap Edi.


Suasana kembali hening. Mira tidak segera menjawab. Sepertinya gadis itu sedang berpikir.


"Aku rasa semua yang Mas katakan benar. Kita nggak bisa merayakan kebahagiaan sementara saudara kita sedang berduka. Aku akan menunggu Dek Via bisa move on," suara terdengar tanpa emosi.


"Terima kasih atas pengertianmu. Aku akan segera merancang ulang lamaran kepada orang tuamu setelah situasi kondusif."


"Iya, Mas. Aku nggak akan egois. Insya Allah orang tuaku bisa mengerti. Besok aku akan membicarakan hal ini," ujar Mira.


"Ya sudah, pergilah ke ruang kerja! Mungkin mereka membutuhkanmu. Buat Mbak Via tidak larut dalam kesedihan," kata Edi.


Begitu mendengar Edi menyuruh Mira ke ruang kerja, Via berniat mendahului masuk ruang tamu. Ia mengusap wajahnya untuk menetralkan perasaannya yang kacau. Ia pura-pura tidak mendengar percakapan Edi dan Mira.


Via hampir bertabrakan dengan Mira saat akan masuk ke ruang


tamu. Mira sangat kaget karena ada Via. Ia sedikit khawatir Via mendengar


percakapannya dengan Edi.

__ADS_1


“Ada apa, Dek?” tanya Mira.


“Aku mau minta tolong Mas Edi. Laptop Ratna trouble, nggak


mau hidup. Padahal, data yang dibutuhkan ada di situ. Dia belum mem-back up


datanya,” jawab Via.


“Oh, begitu,” ucap Mira lega. Ia yakin Via tidak tahu


apa-apa tentang yang ia dan Edi bicarakan.


Edi bangkit dari duduknya begitu mendengar namanya disebut.


“Ada apa, Mbak? Apa yang bisa saya bantu? tanya Edi sambil


mendekat.


“Laptop Ratna trouble, Mas. Mungkin Mas Edi bisa membantu?”


ujar Via penuh harap.


“Coba saya lihat, barangkali saya bisa mengatasi masalah


itu.”


Mereka bertiga melangkah menuju ruang kerja. Ratna elum


tampak di sana.


“Memang Ratna ke mana? tanya Mira.


“Di belakang. Sakit perut katanya,” jawab Via.


“Pasti gara-gara rujak yang ia makan tadi pagi.


Edi mengutak-atik laptop milik Ratna. Sementara Via dan Mira


diam sambil memperhatikan Edi.


Setengah jam kemudian, laptop Ratna sudah bisa digunakan.


mengenai interior ruko kembali mereka lakukan. Via menyetujui perubahan


interior Azrina dengan memberi beberapa masukan.


Selama berdiskusi, Via bisa meletakkan kesedihannya sejenak.


Ia tidak mengingat Farhan.


Namun, saat ia kembali ke kamar, kenangan itu kembali


menyergap. Via merindukan kebiasaan yang ia lakukan bersama Farhan.


Via juga teringat pembicaraan Edi dan Mira. Ia merasa


bersalah membuat rencana lamaran Mira tertunda.


***


Pagi itu cuaca sangat cerah. Langit terlihat bersih dihiasi


mentari yang memamerkan sinarnya dengan leluasa.


Via memutuskan duduk-duduk di teras. Selesai sarapan, ia


membawa beberapa majalah ke teras. Ia ingin menikmati udara segar setelah


beberapa hari ia hanya berdiam diri di dalam rumah.


Matahari terus  bergerak naik. Via bermaksud kembali ke dalam


untuk salat sunah duha. Namun, langkahya terhenti ketika pajero hitam memasuki


halaman rumah. Ternyata Eyang Probo yang datang dengan diantar Azka.


“Assalamualaikum.” Eyang Probo mengucap salam diiringi

__ADS_1


senyum ramah.


“Waalaikumsalam. Mari masuk, Eyang, Dek Azka” jawab Via.


“Eyang ke sini mau mengambil dokumen yang waktu itu Farhan


bawa pulang untuk dipelajari. Boleh Eyang mencarinya?” ucap Eyang Probo.


“Tentu saja. Silakan Eyang cari di ruang kerja. Mari, Eyang!”


kata Via.


Via mengajak Eyang Probo masuk ke ruang kerja. Ia


menunjukkan tempat yang biasa Farhan gunakan untuk menyimpan dokumen Kencana


Grup.


“Via pamit ke belakang dulu. Silakan Eyang mencari dokumen


yang Eyang maksud,” ucap Via minta izin.


Ia bergegas ke belakang. Ia memberi tahu Bu Inah tentang


kedatangan Eyang Probo dan memintanya membuatkan minuman.


Setelah Bu Inah menghidangkan minuman dan camilan, Via bermaksud


kembali ke ruang kerja. Ia akan memberi tahu Eyang Probo dan Azka kalau


hidangan sudah tersedia. Langkahnya tehenti saat mendengar namanya disebut.


“Kamu nggak ingin mewujudkan cintamu yang terpendam?”


Terdengar suara Eyang Probo.


"Maksud Eyang?" Azka balik bertanya.


"Bukankah kamu menyukai Via seperti kakakmu? Kamu mundur karena ayah bundamu memutuskan Farhan sebagai calon suami Via, kan? Maafkan Eyang, ya. Via butuh suami yang mampu memulihkan kembali perusahaan ayahnya. Selain itu, Farhan terlihat sekali mencintai Via," kata Eyang Probo lagi.


"Iya, Eyang. Azka ngerti, kok."


"Kamu mau kalau menggantikan kakakmu menikahi Via?"


Tidak han**ya Azka yang terkejut. Jantung Via berdegup sangat kencang.


"Kalau** mau, Eyang yang akan melamar Via untukmu."


Via tidak tahan mendengar obrolan Eyang Probo dan Azka. I meninggalkan tempat itu menuju ruang makan.


Air mata Via mengalir deras. Ia merasa tertekan mendengar rencana Eyang Probo.


"Makam Mas Farhan saja masih basah, luka yang ia torehkan belum sembuh, masa sudah membicarakan pengganti."


Mendadak Via merasakan perutnya seperti kram dan mulas luar biasa. Keringat dingin mulai keluar.


"Bu Inah, Mbok Marsih, tolong!" pinta Via dengan suara lemah.


Untunglah, Mbok Marsih tengah menuju ruang makan. Ia melihat Via tengah menahan sakit.


"Mbak Via kenapa?" tanya Mbok Marsih panik.


Via tak mampu menjawab. Pandangan matanya kabur.


"Mbak Via! Tolong... tolong!" teriak Mbok Marsih sembari menahan tubuh Via agar tidak jatuh ke lantai.


"Ada apa?" tanya Bu Inah dengan tergopoh-gopoh.


"Mbak Via pingsan. Ayo kita bawa ke kamar!" ajak Mbok Marsih.


Saat kedua ART itu bermaksud membawa Via ke kamar, Bu Inah mendapati gamis Via bagian belakang basah.


"Masya Allah, jangan-jangan ini cairan ketuban!" pekik Bu Inah.


"Kita dudukkan kembali, kamu minta bantuan sana! Mending dibawa ke rumah sakit saja," kata Mbok Marsih.


***

__ADS_1


Bersambung


Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏. Silakan tinggalkan krisan di kolom komentar. Jangan lupa like, rate 5 juga vote, ya! Mohon favoritkan novel receh ini! Terima kasih.


__ADS_2