SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Farhan Menyapa Pegawai


__ADS_3

Pekat telah menyisir malam. Dingin yang dibawa angin bersatu dengan rintik gerimis. Bintang-bintang telah bersembunyi di balik mendung sejak satu jam silam.


Meski kantuk mulai menyapa, Via masih enggan merebahkan diri di atas ranjang. Ia menunggu Farhan yang masih asyik berkencan dengan laptopnya.


Mata Zayn sudah terpejam setengah jam lalu. Setelah kenyang, bayi mungil itu terlelap dalam dekapan bundanya. Ia pun tetap terlelap saat sang bunda meletakkannya di atas ranjang.


“Assalamualaikum, Cinta.” Sapaan khas yang sangat akrab di telinga Via terdengar.


“Waalaikumsalam, Ayah Zayn. Sudah selesai mengecek laporan?” jawab Via.


“Sudah. Cuma sedikit, kok. Besok sekalian meeting dengan para direksi. Wijaya Kusuma tidak ada masalah, kan? Pak Arman masih di kantor pusat?”


Via mengangguk. Ia berpindah tempat duduk ke samping Farhan di sofa. Diusapnya punggung sang suami penuh kelembutan. Saat seperti itulah enegi penuh cinta tersalur menembus kulit merembes ke pembuluh darah, hingga beredar ke seluruh tubuh. Getar-getar indah pun tercipta.


Farhan menggeser duduknya hingga berhadapan dengan Via. Kedua pasang mata beradu tatapan, bertukar kasih yang menggelora. Perlahan tubuh mereka mendekat hingga kepala berhimpitan. Kecupan lembut pun mendarat di kening Via yang tak terlindung hijab. Senyum segera merekah di bibir merah tanpa lipstik.


“Mas kangen,” desah Farhan.


“Bukankah kita selalu bersama dalam beberapa hari ini? Kita berpisah paling hanya beberapa menit,” balas Via.


“Rinduku akan selalu ada, istriku. Apalagi setelah kecelakaan itu. Aku sangat dan selalu merindukanmu. Aku lebih merasakan arti kebersamaan kita,” kata Farhan sembari memegang dagu Via.


Bibir Via kembali ditarik beberapa mili. Sunyum manis pun kembali terlukis di bibirnya.


“Sama. Kehadiran Hubbiy lebih berarti bagi Via. Tahukah Hubbiy betapa tersiksanya Via saat baru melahirkan Zayn?” bisik Via.


Farhan mengangguk. Tenggorokannya terasa tersumbat. Terbayang bagaimana menderitanya Via berjuang melahirkan Baby Zayn tanpa kehadiran suami. Bahkan, saat itu ia sangat bersedih karena kehilangan dirinya.


“Iya, Mas paham, Sayang. Dirimu tentu sangat sedih karena kehilangan aku, sementara justru kehadiranku tentu sangat dibutuhkan mendampingimu.”


Buliran bening tak kuasa Via tahan. Dua tetes telah lolos dari kelopak matanya, meluncur menyusuri pipi.


“Cinta, jangan menangis, ya!” Tangan kanan Farhan terulur menghapus jejak air mata yang tertinggal.


Via hanya kuasa mengangguk. Meski sulit, ia mencoba kembali melukis senyuman.


“Emm besok jam berapa Hubbiy ke kantor? Sampai sore?” Via mengalihkan pembicaraan.


“Sekitar jam 10.  Nasi boks diantar ke sana sekitar jam 11. Mas mau mengumpulkan karyawan agartidak terjadi kesalahpahaman. Semoga tidak ada yang histeris mengira Mas ini hantu.”


Via tertawa mendengar ucapan Farhan. Ia teringat reaksi ketiga sahabatnya yang ketakutan dan berpelukan layaknya tokoh teletubbies.


“Inget Ratna, Salsa, dan Mira, ya?”


Via mengangguk dan berkata,”Juga inget teletubbies.”


Kali ini Farhan yang tertawa. Namun, ia segera menutup mulutnya rapat-rapat. Ia khawatirsuaranya mengagetkan Zayn yang tengah terlelap.


Sepasang suami istri itu kemudian beranjak meninggalkan empuknya sofa, beralih ke empuknya kasur. Mereka memang tidak saling mendekap. Baby Zayn membatasi mereka. Namun,hati mereka tetap tertaut. Perasaan mereka tersalur melalui sentuhan tangan.


Kelelahan menyeret mereka ke dalam lelapnya tidur. Getaran cinta membalut keduanya dalam damai yang memabukkan.

__ADS_1


***


Meski matahari sudah mulai meninggi, Farhan masih bersantai. Ia juga masih memakai t-shirt. Berbeda dengan Edi yang telah berangkat sejak pukul 06.45.


Setelah sarapan, mereka sekeluarga bersantai di halaman belakang. Mereka membicarakan perkembangan Baby Zayn yang cukup pesat.


Sekitar satu jam kemudian, Via mengingatkan Farhan dan Pak Candra untuk bersiap. Rencananya, Pak Candra mewakili Via menyampaikan berita bahagia keluarga mereka kepada pegawai PT Wijaya Kusuma. Sementara Farhan melakukan hal yang idak jauh beda di perusahaan milik Eyang Probo.


“Hati-hati, ya! Kali ini, ikuti instruksi dari Mas Edi. Biarkan bodyguard mengawal dari dekat,” pesan Via.


“Siap, Cinta. Jaga dirimu dan anak kita, ya!” ucap Farhan. Ia keluar dari kamar setelah


mencium pipi Baby Zayn.


Sampai di bawah, Pak Candra ternyata sudah siap terlebih dahulu. Ia menunggu Farhan di ruang


tamu bersama Bu Lena dan Dini.


“Farhan diantar Pak Yudi?” tanya Bu Lena.


“Iya, Tante. Biar Pak Nono yang antar Om Candra ke Wijaya Kusuma,” jawab Farhan.


“Ingat, kalian  harus tetap berhati-hati. Terutama Farhan. Ikuti arahan Edi, ya!” Bu Lena tampak sedikit khawatir.


“Iya, Tante. Berangkat dulu, ya. Assalamualaikum,” ucap Farhan.


Pak Candra pun ikut mengucap salam yang dijawab ketiga perempuan itu serempak. Farhan masih menyempatkan mencium Baby Zayn sekali lagi.


“Ih, mulai deh! Udah sana, berangkat! Fii amanillah,” kata Via.


“Waduh, Mas Farhan bikin Dini baper. Ingat Mas, ada jomblowati di sini!” teriak Dini.


Via tersenyum mendengar ucapan adik sepupunya. Ia pun mendorong lembut tubuh Farhan agar segera berangkat.


Karena bukan jam sibuk, perjalanan mereka lancar. Sekitar 30 menit menempuh perjalanan, Farhan sampai di komplek kantor pusat Kencana Grup. Ia segera memakai maskernya. Tak lupa, ia memasang kaca mata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Setelah itu, barulah ia turun dari mobil. Pak Yudi tetap berada di dalam mobil.


Meski sudah ditutupi, aura Farhan tetap terpancar. Langkahnya tenang dan penuh wibawa menarik perhatian karyawan. Salah satu bodyguard  memberi tahu kalau mereka akan menemui Eyang Probo.


Resepsionis segera menghubungi sekretaris Eyang Probo, memberi tahu kedatangan Farhan. Tentu saja Farhan maupun para bodyguard tidak memberi tahu jati diri Farhan.


Setelah dipersilakan sekretaris, mereka menggunakan lift karyawan menuju ruang Eyang Probo. Kakek tua yang sudah menginjak kepala 7 itu menyambut hangat kedatangan cucunya.


“Selamat datang kembali, cucuku. Eyang senang kau bisa kembali ke sini. Berarti, Eyang bisa segera menikmati masa pensiun,” ucap Eyang Probo.


“Terima kasih atas sambutan Eyang. Soal kembali bekerja, seperti kesepakatan kita hari ini Farhan memimpin meeting. Farhan belum bisa bekerja penuh, Eyang. Mungkin setelahnya Farhan pulang.”


“Ya, Eyang mengerti soal itu. Kamu jangan memaksakan diri bekerja keras,” nasihat Eyang Probo sambil menatap cucunya serius.


“Siap, Eyang. Makanya, Eyang belum bisa pensiun sekarang. Tunggu Farhan pulih!” kata Farhan.


Tak lama kemudian, sekretaris Eyang Probo memberi tahu kalau ada mobil pengantar nasi boks. Eyang Probo

__ADS_1


mengatakan kepada  sekretaris agar melaksanakan rencana yang telah disusun. Eyang juga memberi tahu resepsionis agar mengarahkan OB membantu memindahkan boks nasi ke aula.


Sepuluh menit kemudian, sekretaris melaporkan bahwa para pegawai sudah bersiap di aula. Setelah berterima kasih, Eyang Probo mengajak Farhan menuju aula.


Eyang Probo dan Farhan menuju podium yang telah tersedia.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara-saudara, saya mohon maaf mungkin Saudara bingung, bertanya-tanya, mengapa saya mengumpulkan Saudara-saudara di aula ini. Ada hal penting yang akan saya sampaikan. Ini berkaitan dengan jabatan yang kembali saya pegang hampir satu bulan ini." Eyang Probo terdiam sejenak.


Semua pegawai bertambah penasaran. Sebagian dari mereka berbisik-bisik mengatakan dugaan mereka.


"Mengingat usia saya tidak lagi muda, saya sering sakit, jelas hal ini bisa mempengaruhi kemajuan perusahaann. Oleh karena itu, saya akan kembali menyerahkan kepada yang berhak. Hanya, saat ini kondisinya belum sepenuhnya pulih. Maka, saya masih mendampinginya sampai dia pulih."


Orang-orang sudah menduga kalau yang dimaksud Eyang Probo adalah pria yang berdiri di samping kakek tersebut. Kondisi tangan Farhan yang masih digendong enunjukkan ia belu sepenuhnya sehat.


"Wah, rupanya tebakan kalian luar biasa. Kalian langsung menebak orang yang berdiri di samping saya. Tebakan kalian benar. Dia adalah orang yang setahun belakangan ini bekerja keras untuk kemajuan perusahaan kita. Dialah pemegang saham terbesar. Siapa lagi kalau bukan ...." Eyang Suryo berhenti sejenak dan menoleh ke Farhan.


Merasa ada yang menatap, Farhan menoleh. Ia melihat kedipan ata Eyang Probo. Farhan segera membuka masker dan kacamatanya.


"Cucu saya, Farhan Afarizi,!" ucap Eyang Probo penuh semangat.


Yang hadir di aula terperangah. Setahu mereka, Farhan telah meninggal karena kecelakaan. Mereka pun berbisik-bisik. Sebagian memegang telapak tangan teman di sebelahnya.


"Brukkk!"


Mereka menjadi gaduh. Ternyata, tiga karyawati pingsan. Ketiganya lalu dibawa ke klinik untuk mendapat perawatan.


"Mungkin Saudara-saudara tidak percaya kalau ini adalah benar Farhan Alfarizi. Saudara boleh pegang saya bergantian. Tentu saja yang pria."


Farhan mengambil inisiatif mendekat ke barisan pegawai. Ia mengulurkan tangannya mengajak berjabat tangan. Farhan pun mempersilakan pegawai yang ia dekati mengeceknya.


"Asli manusia? Coba telapak kakinya napak nggak?" bisik salah satu karyawan.


"Napak, kok. Berarti bukan hantu. Lalu, bagaimana bisa?" jawab pegawai lain yang sempat berjabat tangan dengan Farhan.


Farhan kembali ke podium setelah berjabat tangan dengan sekitar 15 pegawai. Ia melanjutkan pembicaraan.


"Saudara-saudara mungkin bingung, bagaimana bisa saya hidup lagi. Sebenarnya, saya selamat dari kecelakaan maut itu. Jenazah yang ditemukan dan dimakamkan itu bukan saya melainkan sopir Pak Candra Wijaya." Farhan memberikan penjelasan secara garis besar.


Orang-orang kembali gaduh. Mereka terperangah mendengar penjelasan Farhan.


"Sebagai ungkapan syukur kami, hari ini kami membagikan sedikit sedekah makan siang kepada Saudara. Ini sekaligus ungkapan syukur kami atas anugerah seorang putra. Namun, mohon maaf istri dan anak saya belum bisa hadir di sini." Farhan melanjutkan penjelasannya.


Setelah dirasa cukup, Farhan menutup pembicaraan dan mempersilakan para pegawai kembali bekerja setelah mengambil nasi boks.


Farhan mengajak Eyang Probo kembali ke ruangan. Tak lupa, Farhan meminta para direktur berkumpul setelah jam istirahat siang.


***


Bersambung


Mohon terus dukung karya receh ini. Dukungan Kakak sangat berarti bagiku. Hanya klik like dan koment di tiap episode, kok. Aku siap dukung balik karya Kakak insya Allah.

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2