
Via menatap coretan di atas kertas. Di depan Via, Edi tengah menunggu instruksi Via. Pria itu terlihat tegang. Sedikit peluh membasahi keningnya. Padahal, ruangan tersebut dingin oleh AC.
Via belum mengeluarkan ucapan sepatah kata pun. Ia masih terdiam. Tampaknya Via masih mempertimbangkan banyak hal.
“Apakah Elang Perkasa dipastikan sudah tidak terlibat?” tanya Via.
“Tidak. Sejak menjalin kerja sama dengan Citra Wijaya, Elang Perkasa tidak lagi terlibat. Dan Kiki sudah mengantongi nama dalang di balik orang-orang yang mencurigakan.Pemilik Jaya Sakti Persada ternyata di balik itu semua.”
Via mengangguk-angguk. Ia kembali melihat catatan yang disodorkan Edi.
“Data ini sudah valid?
“Insya Allah sudah. Kiki dan yang lainnya sudah menyelidikinya berhari-hari.”
“Berarti mereka dulu pernah menjalin kerja sama dengan Kencana Grup. Apa selama berlakunya kontrak pernah ada masalah?”
“Kiki belum sampai ke situ. Mungkin Mbak Via bisa minta bantuan Mas Farhan untuk mengungkap hubungan Jaya Sakti Persada dan Kencana.”
Via kembali mengangguk. Kemudian tatapannya beralih ke laptop yang masih menyala. Ia mengetikkan sesuatu ke keyboardnya. Kemudian, Via kembali mencermati tulisan di layar laptop.
“O ya, berapa kerugian ayah akibat kasus keracunan itu?” Via sedikit membelokkan topik pembicaraan.
“Dari biaya pasien yang tidak terbayar berkisar 2 M. Itu baru perhitungan kasar. Untuk detailnya, bendahara rumah sakit juga belum menghitung. Para pasien kan masih dirawat dan tidak tahu sampai kapan mereka keluar. “
“Jadi, angka 2 M kemungkinan membengkak, ya? Kasihan ayah,” gumam Via.
“Kemungkinan begitu karena angka 2 M itu perhitungan sampai besok. Padahal, sebagian besar mereka pasien kelas VIP. Sasaran mereka pasien VIP supaya kerugian lebih besar,” kata Edi.
Via kembali ke layar laptopnya. Setelah mengetikkan beberapa angka, ia kembali menghadapkan badannya ke Edi.
“Mbak Via mau bantu Pak dokter ?” tanya Edi.
Via tertawa lirih lalu menjawab, “Tentu saja, Mas. Buat apa aku minta tolong Mas Edi menyelidiki ini semua?”
“Mau ditransfer langsung?”
Via menggeleng. Mendung tipis menutupi wajahnya.
“Ayah nggak akan semudah itu menerima bantuanku dari sisi finansial. Aku yakin beliau lebih memilih rumah sakitnya gulung ikar dari pada menerima bantuan cuma-cuma. Soal bantuan finansial akan aku bicarakan dengan Mas Farhan nanti.”
Edi mengangguk paham. Ia masih saja terlihat gelisah.
“O ya, Mas. Tolong selidiki terus penyebab Jaya Sakti menaruh dendam kepada keluarga kami! Aku ingin tahu segera untuk menentukan langkah selanjutnya,” ucap Via tegas.
“Baik. Kiki dan anak buahnya terus mengembangkan penyelidikannya. Termasuk ART Tuan Probo,” jawab Edi.
Via menautkan alisnya. Ia menatap Edi tajam.
“Ada kemunkinan salah satu ART Tuan Probo adalah penyusup. Bukankah Tuan Probo semula sangat ketat menjada pola makan?” Edi mengungkapkan alasannya.
“Iya. Tapi, kata ayah kemungkinan karena kondisi kejiwaan Eyang Probo . Beliau kembali seperti anak kecil.”
“Saya rasa tak ada salahnya kita selidiki. Mas Farhan pun menaruh curiga.”
“Okelah kalau begitu. Lanjutka! Yang berkaitan dengan Kencan dan rumah sakit, nanti aku bicarakan dengan Mas Farhan di rumah.”
“O iya, ada informasi kalau Jaya Sakti Persada menjalin kerja sama dengan Pelita Wijaya. Tapi, informasi ini belum dipastikan kebenarannya,” ucap Edi.
“O ya? Biar aku yang cek soal itu. Kalau benar, ini akan mempermudah jalan,” kata Via diikuti senyuman di bibir.
“Kalau begitu, saya permisi dulu,” kata Edi.
“Silakan, Mas. Terima kasih atas informasi yang diberikan.”
Edi meninggalkan ruangan Via, kembali ke ruangannya. Via membereskan laptop dan berkas di mejanya. Ia bersiap pulang.
*
__ADS_1
Via baru saja menidurkan Zayn saat Farhan pulang. Gurat kelelahan tampak jelas di wajahnya.
Via segera meraih tangan sang suami dan menciumnya. Lalu, ia mengambil tas Farhan.
“Mau mandi sekarang?” Via mengajukan tawaran.
“Iya. Badan udah serasa diluluri lem, nih.”
Via tertawa kecil mendengar gurauan Farhn. Ia bergegas menyiapkan air dan baju ganti.
“Hubbiy mau makan?”
“Enggak. Tadi sudah makan bareng ayah dan bunda. Cinta sudah apa belum?” Farhan balik bertanya.
“Sudah, kok.”
Farhan melangkah ke kamar mandi. Via segera merapikan tempat tidur.
Sambil menunggu Farhan selesai mandi, Via membuka gawainya. Dia melihat Melii sedang online.
[Assalamualaikum. Sedang apa nih?]
{Waalaikumsalam. Habis menyiapkan buku untuk besok. Mbak Via sedang apa?]
Via tersenyum membaca balasan Meli. Gadis itu sekarang memanggilnya dengan embel-embel “mbak”. Via segera mengetik balasan.
[Sedang nunggu Mas Farhan mandi. Zayn sudah bobo.]
Tak lama kemudian terlihat Meli sedang mengetik.
[Gitu, ya yang sudah punya suami? Mandi saja ditunggui.Hihihi...]
Via tekekeh sendiri membaca pesan dari Meli. Ia kembali mengetik pesan.
[Kamu juga sudah punya suami. Lupa, Bu? Ni gara-gara LDR sampai lupa suami. Hadeeeh....]
“Ehem, asyik sekali kayaknya. Sedang baca pesan apa artikel?” Suara Farhan mengagetkan Via.
“Apa kabarnya adik ipar?” tanya Farhan sambil mengeringkan rambut.
“Baik. Gara-gara LDR sampai lupa punya suami,” kata Via diiringi tawa.
Farhan ikut tertawa. Ia membayangkan perasaan adiknya yang mesti berjauhan.
“Kita dulu juga nggak bersama setelah ijab. Hampir setahun baru kita hidup bersama, tahu nikmatnya ... auw!” Ucapan Farhan tidak selesai, terjeda pekikan.
“Hubbiy nggak usah aneh-aneh, deh. Eh bentar, Via mau chatt Meli dulu.”
“Iya, tapi kenapa pakai nyubit? Aneh di mana?” protes Farhan.
Via mengetikkan pesan untuk Meli. Ia tidak menghiraukan protes Farhan.
[Maaf, ni Mas Farhan sudah selesai mandi. Kita lanjut besok, ya!]
Setelah mengirim pesan, Via meletakkan gawainya. Ia duduk di dekat Farhan.
“Tadi kenapa Cinta nyubit pinggangku, sih?” Farhan mengulang protesnya.
“Habis, Hubbiy aneh-aneh, bahas nikmatnya .... Aaah, sudah, jangan dilanjutkan!”
Pipi Via bersemu merah. Sementara Farhan melongo sambil menatap Via.
“Kenapa memang? Kan setelah enikah itu nikmat. Susah senang bersama. Kok Cinta jadi malu-malu gitu?”
“Sudah, ah. Kita bahas yang lain. Ada yang lebih penting yang mau Via omongin. Ini soal eyang dan ayah.”
Farhan membatalkan niatnya menggoda Via. Ia diam menatap Via.
__ADS_1
“Anak buah Mas Edi sudah menemukan titik terang dalang di balik insiden keracunan para pasien,” ucap Via datar.
“Jadi, itu bukan kecerobohan pihak rumah sakit? Itu sabotase?” Farhan mengklarifikasi.
Via mengangguk. Kemudian, ia memaparkan data-data yang sudah diperoleh anak buah Edi di bawah arahan Kiki.
“Jaya Sakti Persada? Rasanya kenal dengan nama itu,” gumam Farhan.
“Iya, perusahaan itu pernah menjalin kerja sama dengan Kencana Grup beberapa tahun silam. Ini tugas Hubbiy untuk mengungkap hubungan mereka dengan Eyang Probo. Ada indikasi mereka punya masalah dengan Eyang Probo. Coba Hubbiy selidiki dari dokumen perusahaan dan orang-orang Kencana yang memiliki masa kerja cukup lama.”
“Baik. Besok akan Mas selidiki. O ya, bagaimana dengan ART Eyang Probo? Apakah ada yang terlibat?”
“Belum. Orang suruhan Kiki belum mendapatkan informasi soal itu.”
Farhan mengangguk. Ia memang curiga ada ART yang berkhianat.
“Lalu soal rumah sakit, Hubbiy.” Via melanjutkan.
“Ada apa dengan rumah sakit?”
“Kerugian rumah sakit cukup besar. Hitungan kasar sampai esok saja sudah sekitar 2 M. Padahal, para pasien itu rata-rata membutuhkan waktu setidaknya 2-3 hari lagi bisa rawat jalan. Belum lagi yang parah. Tentu kerugian ini semakin membengkak.”
“Rumah sakit bisa gulung tikar kalau begini,” gumam Farhan.
Via menatap suaminya dengan tatapan lembut. Ia paham gejolak dalam batin Farhan.
“Hubbiy, bagaimana kalau kita bantu ayah diam-diam?” usul Via.
“Maksud Cinta bagaimana?” tanya Farhan.
“Kita suntikkan dana minimal 3 M ke rumah sakit. Tentu saja jangan kita yang turun tangan. Kalau ayah tahu, pasti beliau menolak. Anak cabang Wijaya Kusuma saja yang menjalin kerja sama. Ayah tidak paham anak cabang Wijaya Kusuma, kan?” kata Via.
Farhan mengangguk paham. Senyum tipis menghiasi bibirnya.
“Terima kasih, Sayangku! Istriku memang luar biasa. Kamu malah sudah memikirkan sejauh itu.”
Farhan memeluk erat tubuh mungil Via. Sang istri pun membalas pelukan Farhan. Namun, Via segera melepaskan pelukan suaminya begitu merasa ada cairan yang membasahi bahunya.
“Hubbiy menangis?” tanya Via sambil mengamati wajah Farhan.
Farhan mengusap air mata di pipinya. Ia memaksakan seulas senyum.
“E—ini air mata bahagia. Betapa beruntungnya aku memiliki istri berhati cantik dan berotak cerdas.”
“Jadi, cuma hatiku yang cantik? Wajahku enggak?” Via pura-pura ngambek.
“Iih, kalau cemberut begitu kan bikin gemes,” desis Farhan.
Dengan gerakan cepat, Farhan menarik tengkuk Via hingga wajah mereka beradu. Ciuman lembut pun Farhan berikan untuk istri tercinta.
“Sayang, terima kasih untuk semua yang kau lakukan untukku dan keluargaku.”
“Hubbiy! Kita satu keluarga. Kenapa Hubbiy mengatakan keluargaku?” pekik Via.
Tatapan tajam dilayangkan Via ke Farhan. Pria itu menjadi salah tingkah.
“Ma—maaf. Aku salah. Iya, keluarga kita,” sahut Farhan sedikit tergagap.
“Hubbiy, setiap ada masalah bukankah kita harus bersandar kepada Sang Pemilik? Selain itu, kita juga bisa menyandarkan pada keluarga, terutama pasangan? Via bersandar kepada Hubbiy dan siap menjadi sandaran Hubbiy,” ucap Via lembut.
Farhan kembali memeluk Via erat. Ia sangat bahagia di tengah masalah yang menggelayut.
***
Bersambung
Nantikan tindakan Via untuk mengatasi masalah. Untuk tahu kehidupan Meli dan Anjani, intip novel keren CS1 karya novelis kece Kak Indri Hapsari! Jangan lupa tinggalkan cap jempol dan komen di setiap episode karya kami.
__ADS_1
Barakallahu fiik