SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Memulai Penyelidikan


__ADS_3

Setelah berbincang panjang lebar, Farhan berpamitan pulang. Ia ke dalam sebentar untuk berpamitan kepada bundanya. Begitu mobil Farhan meninggalkan gerbang, Pak  Haris segera ke dalam.


Ia mendapati istrinya yang tengah duduk di ruang keluarga. Wajahnya menghadap ke televiai yang tengah menyiarkan sinetron, tetapi dari tatapannya jelas sekali acara televisi tidak ia perhatikan.


“Masa ditinggal Farhan jadi melamun? Besok pagi diam au ke sini lagi bersama anak dan istrinya. Ayo,  Ayang Bunda senyum, dong!” ledek Pak Haris.


“Ish, apaan sih? Bunda gak lagi meratapi Farhan. Bunda juga tahu besok diam au ke sini lagi. Bunda lagi mikir Ayah,” gerutu Bu Aisyah.


“Ayah di sini, sehat. Kenapa dipikirkan? Kangen berduaan? Yuk, kita ke kamar!” ajak Pak Haris.


Tanpa menunggu jawaban sang istri, Pak Haris mengangkat tubuh mungil Bu Aisyah. Ia menggendongnya ke kamar.


“Ayah, jangan begini! Malu kalau ketahuan,” protes Bu  Aisyah dengan suara setengah berbisik.


“Makanya, Bunda diam saja biar nggak ketahuan orang lain. ART sudah pada di kamar, kok,” jawab Pak Haris santai.


Bu Aisyah pun pasrah. Ia tak lagi meronta. Ia hanya tersenyum saat Pak haris meletakkan dirinya ke atas ranjang secara perlahan.


“Masih memikirkan Ayah?” tanya Pak Haris.


“Tentu saja. Selama masalah rumah sakit belum selesai, Bunda tidak bisa berhenti memikirkannya,” jawab Bu Aisyah ketus.


“Eh, Bunda tahu? Dari mana?” Pak Haris tampak gugup. Ia memang berniat menyembunyikan masalah itu dari istrinya.


“Dari pembicaraan Ayah dan Farhan.”


Pak Haris terkejut. Ia menatap lekat netra sang istri.


“Bunda khawatir melihat ekspresi Ayah sejak pulang. Bunda tahu pasti ada masalah. Eh, Ayah malah nggak mau cerita. Sebetunya Bunda mau ikut bergabung, tapi Bunda khawatir Ayah tak jadi bercerita kepada Farhan. Ya sudah, Bunda nguping saja.”


Pak Haris menggeleng-gelengkan kepalanya. Baru kali ini Bu Aisyah sengaja menguping pembicaraannya.


“Ayah hanya tak ingin menambah berat bebanmu, Yang. Biarlah urusan rumah sakit kupikirkan sendiri. Tapi, sepertinya aku memang tidak mampu mengatasi sendiri.”


Bu Aisyah menepuk lembut bahu Pak Haris. Ia mencoba menyalurkan ketenangan kepada suaminya yang mulai gelisah lagi.


“Sayang, kita ini suami istri. Perjalanan pernikahan kita bukan hanya setahun du tahun, tapi puluhan tahun. Sudah seharusnya kita terbuka. Mungkin aku tidak bisa memberi solusi, tapi setidaknya bisa jadi tempat untuk berbagi.”


Pak Haris memeluk tubuh Bu  Aisyah dengan cepat. Ia membelai kepala istrinya yang masih tertutup jilbabnya.


“Terima kasih, istriku. Aku beruntung memilikimu.”


“Baru nyadar?” Bu Aisyah mencebik.


Pak Haris terkekeh lalu melepaskan pelukannya.


“Tentu saja tidak. Dari dulu aku sudah menyadari kalau istriku ini perempuan hebat yang penuh pengertian. Solihah, tentu saja.”


“Terus saja memuji biar Bunda besar kepala! O ya, bagaimana dengan pertolongan Farhan?” Bu  Aisyah mengembalikan topik  semula.


“Ayah menerima tawaran Farhan. Ia dan Via akan menyuruh Edi agar mengerahkan anak buahnya menyelidiki masalah ini. Ayah yakin mereka bisa.”

__ADS_1


“Apa Ayah mencurigai seseorang? Karyawan rumah sakit yang berkhianat?”


Pak Haris terdiam sesaat. Kemudian, ia menggelengkan kepala.


“Entahlah, Bun. Tidak baik juga mencurigai seseorang tanpa bukti. Takut jadi suuzon.”


“Iya juga, sih. Semoga anak-anak kita berhasil.” Bu Aisyah mengusap wajahnya.


“Sudahlah, sekarang kita tidur, yuk! Kita pikirkan langkah selanjutnya setelah mereka mengetahui oknum yang bermain dan juga yang menyuruh. Sebelum tahu, kita tidak bisa bertindak.”


Bu Aisyah mengangguk. Ia bangkit dari ranjang menuju kamar mandi untuk gosok gigi dan bersuci.


*


Bu Aisyah baru saja selesai membantu Eyang Probo meminum obatnya saat terdengar salam dari luar. Tak lama kemudian, Bu Aisyah mendengar suara bising dari ruang tamu.


“Siapa yang pagi-pagi gini datang?” gumam Bu Aisyah sambil membereskan peralatan makan yang baru Eyang Probo gunakan.


“Sebentar, Aisyah tinggal ke dapur, ya,” ucap Bu Aisyah.


Eyang Probo mengangguk. Bu Aisyah pun membawa piring dan gelas keluar.


“Ikum, Uti.” Suara bocah yang belum begitu jelas mengagetkan Bu Aisyah yang tengah membuka pintu.


“Waalaikumsalam, Zayn, anak soleh.”


Bu Aisyah memindah piring dan gelas ke tangan kiri. Ia jongkok dan menerima uluran tangan cucunya.


Dengan dibimbing Pak Haris, Zayn masuk dan menyapa eyang buyutnya.


Eyang Probo tampak gembira menyambut kehadiran cicitnya. Senyum lebar mengembang saat bocah berusia setahun itu mengulurkan tangan.


Farhan menyusul masuk bersama Via. Sebelumnya, Via menyerahkan buah tangankepada Bu Aisyah  terlebih dahulu.


“Zayn sudah kasih salam sama Eyang Buyut?” tanya Via.


“Dah. Uyut nyum.”


Pak Haris dan Eyang Probo tertawa mendengar celoteh bocah cilik itu. Eyang Probo memberi isyarat agar Zayn duduk di tepi ranjang. Anak itu menurut.


Binar kebahagiaan terpancar jelas di sorot mata Eyang Probo. Senyum dan tawanya terus-menerus mengembang.


Pak Haris memberi isyarat kepada Farhan agar keluar. Farhan menurut.


“Kamu sudah bicara dengan Via dan Edi?” tanya Pak Haris langsung ke masalah.


“Sudah, Yah. Kami juga sudah mengontak Mas Edi,” jawab Farhan.


“Lalu, langkah apa yang akan diambil?”


“Mas Edi tadi pagi sudah mengontak Kiki, meminta pertimbangan mengenai strategi membongkar kebusukan si oknum.”

__ADS_1


“Kiki ngomong apa?” Pak Haris tampak tak sabar.


“Yang jelas, Kiki akan menempatkan beberapa orang di rumah sakit. Ada yang sudah ada, maksud Farhan karyawan rumah sakit saat ini, ada yang baru.”


“Karyawan rumah sakit?” Nada Pak Haris menunjukkan kebingungan.


“Iya. Ada teman Mas Edi yang bekerja di rumah sakit, namanya Erna.” Farhan sedikit gugup.


“Oh, begitu. Jadi, Erna ini yang menjadi perantara menelusuri oknum itu?”


Farhan menelan salivanya denga nagak susah. Ia lebih hati-hati dalam bicara agar ayahnya tidak curiga kalau sebenarnya ia dan Via sudah melangkah.


“Bisa dikata begitu, Yah. Nanti, besok, atau lusa mungkin ada anak buah Kiki yang menyamar jadi pasien atau pembezuk.”


“Ya, tidak masalah. Hanya itu?” Pak Haris memastikan.


“Kiki butuh rekaman CCTV seminggu terakhir. Tapi, jangan sampai ada karyawan yang tahu untuk menjaga kerahasiaan penyelidikan ini.”


“Baik. Nanti Ayah atur agar Kiki bisa mendapatkan rekaman itu.”


“ O ya, Ayah juga perlu mengkalkulasi kerugian rumah sakit dan memastikan tidak ada transaksi pembelian obat-obatan maupun alat kesehatan dalam tiga hari ini. Semoga dalam waktu tiga hari Kiki sudah bisa mengungkap kasus ini.”


Pak Haris mengangguk, menyetujui saran Farhan. Kemudian, ia berpamitan pergi ke rumah sakit.


Baru saja Pak Haris meninggalkan kediaman Eyang Probo, Via datang menunjukkan gawainya.


“Mas Edi telepon,” ucap Via.


Ia mengubah ke mode loud speaker. Terdengar suara Edi menjawab salam Via.


“Bagaimana, Mas?” tanya Farhan.


“Sekarang saya sedang bersama Kiki. Orang-orang Kiki mulai bergerak. Tolong rekaman CCTV segera dikirim, Mas. Kiki membutuhkannya,” jawab Edi.


“Baik, Mas. Tadi aku sudah menyampaikan ke ayah. Nanti aku hubungi ayah lagi untuk memastikan kiriman rekaman CCTV itu segera.”


“Terima kasih, Mas. Nanti saya kabari lagi. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Farhan dan Via bersamaan.


Via memasukkan gawai ke dalam kantong gamisnya.


“Firasatku mengatakan kalau Global Persada masih ada kaitan dengan Rahardian,” gumam Via.


“Mungkin. Kita tunggu hasil penyelidikan.”


***


Bersambung


Nantikan episode terakhir Selalu Ada Tempat Bersandar! Jangan lupa selalu tinggalkan like dan komentar, ya!Untuk Season 2 dipastikan tidak ada. Aku buat novel lanjutan dengan judul lain, lebih menyoroti Azka bukan Via dan Farhan meski tetap menghadirkan pasangan Via-Farhan.

__ADS_1


__ADS_2