SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Tentang Edi


__ADS_3

Saat Farhan keluar dari kamar mandi, Via sudah membungkus tubuhnya dengan selimut tebal. Pria itu tersenyum melihat istrinya yang hampir tak telihat. Hanya terlihat kepala yang menandakan ada orang berbaring di ranjang.


Sebelum menyusul sang istri, Farhan mengecek ponselnya terlebih dahulu. Ia tampak mengetik beberapa saat. Benda cerdas itu ia kembalikan ke tempatnya setelah jarinya menari di layar sekitar 3 menit.


“Cinta sudah ngantuk?” tanya Farhan sembari merebahkan diri di samping Via. Aroma mint keluar dari hembusan nafas panjang.


“Belum, sih. Tapi punggung Via rasanya pegal. Padahal, Via kan nggak kerja berat,” keluh Via.


Farhan memiringkan tubuhnya. Sekarang ia menghadap ke Via.


“Mungkin pengaruh kehamilanmu. Itulah sebabnya, Mas larang kamu kerja yang berat, termasuk masak. Kamu nggak kerja saja sudah pegal, apalagi kerja. Mas nggak mau Cinta dan juga anak kita kenapa-kenapa.


Maafkan Mas yang over protektif kalau Depe bilang,” kata Farhan lembut.


“Depe temannya Tya Gunawan sama Anggen?” Via memastikan anggapannya.


“Hooh. Cinta nggak pernah mual-mual? Nggak kepengin rujak atau apa gitu?”


“Selama ini enggak. Sebenarnya pernah sih kepingin rujak. Dan Via melanggar pantangan. Pas pulang kuliah Via beli rujak es krim lalu dimakan di ruko bareng teman-teman. Itu sebelum Via tahu kalau Via hamil. Habis itu Via pakai testpack yang ternyata positif. Maafin Via yang bandel, ya,” ujar Via. Ia merasa bersalah melanggar larangan suaminya.


“Ya sudah, tidak apa-apa. Yang penting, Cinta harus jaga kondisi. Mas tahu, mengandung itu tidak mudah. Terima kasih atas keikhlasan Cinta mengandung anak kita.”


Via tertawa kecil. Ia menatap lekat wajah Farhan.


“Itu sudah kodrat, Hubbiy. Justru Via merasa bersyukur dan bahagia diberi kepercayaan mengandung anak ini. Tidak semua perempuan diberi kesempatan menjadi ibu, lo! Selain itu, Via juga sehat, bisa makan secara normal.”


Dahi Farhan berkerut. Ia agak lamban mencerna kata-kata istrinya kali ini.


“Memang ada orang hamil yang makannya nggak normal?” tanya Farhan.


“Banyaklah. Coba kalau ngidam, mual-mual bahkan mutah. Kan nggak enak makannya tuh. Belum lagi konon ada yang tingkahnya jadi aneh. Ada yang nggak suka bau tertentu, meskipun wangi. Parahnya lagi, ada yang nggak mau dekat-dekat suaminya. Itu yang Via dengar dan baca tentang ngidam.”


Farhan menarik nafas panjang lalu menghembuskan lewat mulut dengan kasar. Sekarang giliran Via yang memasang ekspresi keheranan.


“Hubbiy kenapa?”


“Nggak terbayang kalau Cinta ngidam aneh gitu. Mas jadi suami merana dong seandainya Cinta nggak bisa deket Mas selama hamil. Haduh, pusing. Alhamdulillah, sampai sekarang nggak aneh-aneh gitu. Semoga sampai lahir pun begitu.”


Via terkekeh geli. Ia ikut membayangkan dirinya alergi sama suami. Tentu sama-sama tersiksa karena hampir setahun belakangan mereka tidak pernah tidur terpisah.


“Hubbiy ingin anak pertama kita cowok atau cewek?” tanya Via manja.


“Cowok maupun cewek insya Allah Mas syukuri. Tadi Cinta sudah bilang tidak semua orang mendapat kesempatan menjadi ibu. Tida semua orang mendapatkan amanah anak. Jadi, cowok maupun cewek harus kita syukuri.”


Via mengangguk setuju. Tanpa sadar, ia mengusap perutnya yang masih rata.

__ADS_1


“Mas juga bersyukur mendapat anugerah keluarga yang harmonis. Tidak semua orang memiliki takdir hidup di lingkunan keluarga yang harmonis.”


"Oh, begitu. Ternyata Mas Edi seorang pejuang yang tangguh." Via menghentikan ucapannya saat melihat ekspresi Farhan berubah.


"Hubbiy cemburu karena Via memuji Mas Edi?" tanya Via.


Farhan memalingkan wajahnya. Ia menyembunyikan eskpresi tidak mengenakkan.


"Hubbiy, nggak usah cemburu gitu, deh. Rasa sayang, cinta Via tetap buat Hubbiy." Suara Via terdengar sedikit bergetar.


Farhan akhirnya menoleh ke istrinya. Ia menjadi kasihan dan merasa bersalah.


"Aku kok jadi kekanak-kanakan begini, sih?"


"Iya, percaya. Ya sudah, bobok yuk! Kasihan anak Ayah kalau bundanya kurang istirahat," ujar Farhan lembut. Ia mengulurkan tangannya, mengusap perut Via.


"Via masih ingin tahu yang terjadi sama Mas Edi." Via menatap Farhan tajam.


"Memang Mas Edi kenapa?" tanya Farhan pura-pura tak mengerti.


"Iih, Hubbiy cerita dong, apa yang bikin Mas Edi jadi pendiam," ujar Via kesal.


Farhan terkekeh. Ia senang menggoda Via. Bibir Via yang sedang cemberut terlihat begitu menggemaskan.


"Tadi Mas Edi sedang ngomong kalau dia mau pulang saat bertemu dengan seseorang. Nah, siapa orang itu, Mas Edi belum cerita. Tadi Cinta memotong pembicaraan kami dengan menyuruh makan. Setelah isya, Mas Edi keluar. Jadi, belum tahu siapa yang Mas Edi maksudkan. Nah, sekarang bobok."


***


Entah sejak kapan Via menyukai senja. Namun, sepertinya tidak ada hubungannya dengan novel berjudul Senja karya Abi R.


Yang jelas ini adalah kali kelima Via duduk di dekat jendela sembari menatap langit sore. Warnanya begitu menarik bagi Via.


"Cinta begitu menyukai senja? Sejak kapan?" tanya Farhan sembari duduk di dekat istrinya.


Via menghirup nafas dalam-dalam. Aroma sabun mandi dari tubuh Farhan langsung menusuk hidung.


"Entahlah. Via merasa damai sekaligus kagum."


"Sekalian tadabbur alam, ya?"


Via mengangguk. Ia bangkit dari duduknya menuju jendela.


"Ada sunset, ada sunrise. Ada senja, ada fajar. Ada siang, ada malam. Sungguh Allah Maha besar. Dia menciptakan berpasangan," kata Via tanpa mengalihkan pandangannya dari langit sore.


Farhan tersenyum. Ia mengikuti istrinya, berdiri di dekat jendela.

__ADS_1


"Surat Yasin 36. Selain itu, manusia juga diciptakan berpasangan. Laki-laki dan perempuan. Suami berpasangan dengan istri. Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang."


Via menoleh ke Farhan. Ia merasa beruntung memiliki suami yang berilmu.


"Itu dalam Al Quran ada semua, ya?" Via meminta Farhan melanjutkan penjelasannya.


"Yang tadi Cinta katakan, ada pada surat Yasin ayat 36. Kalau tentang manusia yang berpasangan ada pada Ar-Rum ayat 21."


"Subhanallah. Semakin lama semakin merasa kecil," bisik Via.


"Sebenarnya, Al Quran tidak hanya membahas tentang ibadah. Banyak ilmu yang bisa dikaji, termasuk tentang alam semesta. Tinggal kita, manusia, bisa memanfaatkan Al Quran sebagai sumber ilmu atau tidak."


Via mengangguk-angguk memahami penjelasan Farhan.


"Ngomongin tentang pasangan, ternyata ada yang tengah membutuhkan pasangan, lo," ujar Farhan.


"Maksud Hubbiy apa?" Via tak mengerti arah pembicaraan Farhan.


"Mas Edi bilang, ia baru mau pulang kalau sudah bertemu dengan seseorang yang bisa mendampingi hidupnya."


Mata Via terbelalak mendengar ucapan Farhan.


"Mas Edi sedang meriyang?" tanya Via.


"Enggak, dia sehat. Tapi, mungkin dia sedang jatuh cinta."


"Meriyang yang Via maksud tuh merindukan kasih sayang," jelas Via.


Farhan tertawa mendengar penjelasan Via. Ia merasa gemas.


"Istriku ternyata pintar bikin istilah, ya?"


"Bukan istilah, akronim tuh. Eh, beneran Mas Edi sedang jatuh cinta? Sama siapa?" Via mendadak kepo.


"Mas Edi belum mau mengakui perasaannya. Dia sendiri masih ragu," jawab Farhan.


"Hubbiy kayak tukang kredit. Dapat infonya dicicil," gerutu Via.


Farhan tertawa lagi. Kali ini ia tidak dapat menahan diri untuk mencium pipi dan bibir Via yang begitu menggemaskan di matanya.


***


bersambung


Tetap dukung author ya dengan klik jempol, beri komentar, dan vote. Bintang 5 juga, ya 🙏

__ADS_1


Sambil nunggu update besok, yuk baca novel SENJA!



__ADS_2