
Setelah makan malam, keluarga Via termasuk yang bekerja di rumah Via berkumpul di ruang keluarga, kecuali Mbok Marsih. Mereka membahas masalah kecelakaan yang menimpa Farhan.
Pak Candra menyampaikan perkembangan penyelidikan yang dilakukan anak buahnya dan pihak kepolisian. Ternyata, otak di balik kecelakaan itu benar Aurelia, teman SMA Via.
“Apa sudah ada informasi tentang teman Aurelia? Tidak mungkin dia bekerja sendiri karena dia tidak memiliki cukup dana menggunakan jasa Kelelawar Hitam,” kata Edi.
Pak Candra mengangguk. Dia membetulkan posisi duduknya.
“Kamu benar, Ed. Di memang bekerja sama dengan keluarga musuh Kak Beni. Meski ada yang di penjara, ada yang perusahaan bangkrut, mereka masih bisa menggeliat. Keluarga Widodo masih punya perusahaan meski kecil. Kuncoro pun demikian.” Pak Candra menjelaskan dengan tenang.
“Jadi, mereka yang mendanai tindak kejahatan ini, Om?” tanya Via.
“Tidak hanya mereka. Secara kebetulan, Aurelia mengenal mador perkebunan. Dengan diusiknya mandor perkebunan yang korupsi upah buruh, dia dengan senang hati bergabung dengan Aurelia.”
“Kok mereka bisa bekerja sama? Kapan mereka merencanakan? Bukankah kecelakaan itu sehari setelah Farhan menyelesaikan masalah perkebunan?” Farhan tampak heran.
“Sebelum kamu ke sana, Azka sebenarnya sudah pernah memberi peringatan kepada mandor itu. Jadi, mandor itu sebenarnya dendam kepada Azka. Dengan kelicikan Aurelia, dia mengajak menyingkirkan Azka dan keluarganya. Itu yang membuat mandor ikut patungan mendanai konspirasi itu.”
“Oh, begitu. Berarti mereka sudah mengaku?” Dini ikut bertanya.
“Iya. Tadi siang mereka akhirnya mengakui hal itu. Motif mereka balas dendam karena usaha mereka atau keluarga mereka terusik.”
Semua orang terdiam sejenak. Berbagai hal berkecamuk dalam benak mereka. Via dan Farhan yang baru mengenal sisi lain dunia bisnis cukup terkejut dengan kekejaman dunia bisnis.
Via sendiri tidak pernah berpikir bahwa almarhum papanya memiliki banyak musuh. Tanpa disadari ia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan sedikit kasar.
“Ada apa?” tanya Farhan sembari memegang tangan istrinya. Ia melihat adanya kegelisahan tengah menari di wajah Via.
“Eh, eng—enggak,” jawab Via tergagap. Ia tak mengira kegelisahannya terbaca orang lain.
“Sampaikan saja kalau itu membuatmu gelisah,” desak Pak Adi.
Via tampak ragu. Sejenak ia masih terdiam.
“Apa begini gak menimbulkan dendam yang berkepanjamhan?” tanya Via ragu.
“Tentu saja bisa. Apalagi kalau sifatnya memang pendendam,
“Apa nggak sebaiknya kita sudahi saja sampai di sini?” Via tampak ragu.
“Via, apa maksudmu dengan disudahi sampai di sini?” Kakek Adi bertanya.
“Maksud Via, kita bebaskan mereka agar tidak dendam berkepanjangan,” jawab Via.
“Bagaimana bisa? Ini bukan delik aduan, kita bukan menuntut mereka. Yang mereka lakukan adalah tindak kriminal murni. Jadi, kita tidak bisa mencabut tuntutan,” terang Pak Candra.
“Lagian Kak Via baik banget, sih? Mereka sudah jahat gitu. Biar saja mereka mendekam di penjara. Kalau perlu, selamanya sampai membusuk di penjara,” gerutu Dini.
__ADS_1
“Kakak cuma ingin hidup tenang, Din. Kak Via takut ketika mereka bebas, mereka kembali beraksi karena dendam lama.”
“Meskipun sekarang mereka kita bebaskan, belum tentu mereka dapat melupakan dendamnya,” lanjut Pak Candra.
“Om Candra benar. Kita serahkan urusan ini kepada pihak yang berwajib. Kita berdoa saja agar mereka mendapat hidayah sehingga mereka sadar kalau jalan mereka keliru,” ucap Farhan menenangkan Via.
Via mengangguk. Toh, memang dia tidak bisa berbuat banyak.
Mereka terdiam. Keheninganyang tercipta pecah oleh kedatangan Mbok Marsih yang menggendong Baby Z.
Via segera bangkit dari duduknya. Ia mengambil bayinya dari gendongan Mbok Marsih.
“Oh, kesayangan Bunda bangun, ya? Dedek haus? Yuk, bobok lagi sama Bunda. Maaf semua, Via pamit ke kamar, ya. Assalamualaikum,” ucap Via.
“Waalaikumsalam,” jawab yang lain serempak.
Via meninggalkan ruang keluarga menuju kamar. Sang bayi tidak lagi menangis dalam dekapan bundanya.
“Besok jadi akikah untuk cicitku, kan?” tanya Pak Adi beralih topik pembicaraan.
“Insya Allah jadi. Kita mengundang warga besok malam,” jawab Farhan.
“Lalu bagaimana dengan karyawan perusahaan?” Bu Lena menimpali.
“Cuma kirim makanan untuk mereka, Tante. Insya Allah sekalian mengumumkan kalau saya masih hidup. Untuk kembali bekerja, mungkin belum bisa full. Eyang masih ikut terlibat sampai saya benar-benar pulih.” Farhan menjelaskan.
“Kakek setuju itu. Kamu jangan memaksakan diri berpikir terlalu berat,” ucap Pak Adi.
***
Tenda sudah terpasang di halaman rumah. Orang-orang tampak sibuk dengan tugas masing-masing.
Semangat dan kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Suasananya tentu berbanding terbalik dengan keadaan menjelang kelahiran Baby Z.
Tiga sahabat Via sudah datang menemani si ibu muda. Mereka mengenakan gamis seragam berwarna toska.
“Dedek belum pakai baju koko, Mbak? tanya Salsa.
“Nanti, habis magrib saja,” jawab Via sambil mengusap kepala bayinya yang tengah menikmati minuman segar.
“Sudah disiapkan?” ganti Mira yang bertanya.
Via mengangguk. Ia menunjukkan baju koko yang akan dikenakan Baby Z nanti dengan telunjuk.
“Wah, kita perlu nyediain model baju koko begini di toko kita. Eh, kamu beli di mana? Olshop?” tanya Ratna.
Via tertawa. Ia berpikir kalau otak Ratna mulai diracuni bisnis.
__ADS_1
“Bukan di olshop, kok. Itu di salah satu baby shop. Kami beli sebelum Baby Z lahir. Mas Farhan yang milih,” kata Via.
Ratna terbelalak. Ia menatap Via tak percaya.
“Kalian belanja keperluan bayi bareng, begitu? Terus, Mas Farhan yang milih baju ini? Memangnya Mas Farhan bisa romantis?” Ratna menanyakan yang terakhir dengan suara lirih.
Via tertawa lagi. Ia teringat julukan yang diberikan kepada Farhan dulu, manusia kulkas.
“Tentu. Siapa dulu dong istrinya.” Via mengedipkan mata kirinya.
“Mbak Mira autobaper,” celetuk Salsa.
Muka Mira memerah. Ia menunduk.
“Mbak Mira sih sudah siap menerima lamaran. Lah, kamu?” Via balik menggoda Salsa.
“Ah, aku juga tidak tahu jadi nggaknya,” ucap Mira lirih.
Ratna dan Salsa terkejut. Mereka baru menyadari perubahan sikap Mira selama 3 minggu belakangan. Gadis itu sering melamun. Rupanya masalah lamaran membebani pikirannya.
“Memang Mas Edi kenapa?” Ratna bertanya.
Mira masih menunduk. Mukanya terasa panas.
“Mbak Mira jangan sedih gitu. Mas Edi cuma menunda, kok. Tunggu Mas Farhan sehat. Sabar, ya,” kata Via menghibur.
“Memang Mas Edi pernah memberi tahu Dek Via tentang itu?” tanya Mira tak percaya.
Via mengangguk mantap. Senyumnya enegaskan kalau yang ia katakan benar.
Seulas senyum tipis tersungging di bibir Mira. Meski kepala Mira masih menunduk, Ratna masih bisa melihatnya. Tentu saja ia tidak elewatkan kesempatan menggoda Mira.
“Asyiiik, sebentar lagi ada yang mau dilamar. Mbak minta apa?”
“Hus, kau ini! Nggak boleh gitu! Berdoa saja biar bisa nyusul diamar,” ucap Via.
“Baik Bu Ustadzah.”
Baby Z melepaskan hisapannya. Ia terihat kekenyangan. Via pun merapikan gaminya lalu menepuk lembut punggung Baby Z.
Via mengajak ketiga sahabatnya keluar dari kamar bayinya. Mereka bergabung dengan Bu Aisyah, Bu Lena, dan Dini yang tengah berada di ruang tamu.
Tak lama kemudian, mobil katering datang. Mereka pun sibuk mengatur makanan. Tentu saja Via hanya duduk sambil memangku bayinya.
Malamnya, doa bersama untuk Baby Zayn dan pencukuran rambut berlangsung khidmat juga lancar. Semua merasa lega dan bahagia.
***
__ADS_1
Bersambung
Mohon tetap dukung novel recehku. Jangan lupa klik like dan tinggalkan koment! Aku siap dukung balik karya Kakak jika meninggalkan koment. Terima kasih.