
Ruangan bercat putih itu terlihat cukup ramai. Padahal hanya lima orang yang tengah menjenguk pasien. Tawa mereka berkali-kali terdengar.
"Don, kenapa kamu nggak pakai jurusmu waktu nolong Via?" tanya Toni.
"Jurus apaan, Ton? Emang Doni bisa silat?" Dina keheranan.
"Bisa. Dia malah jagoan. Nggak usah heran, Doni pemilik sabuk hitam. Kamu baru tahu sekarang, ya?" Toni tampak serius menjelaskan.
"Kampret, jangan ngarang cerita! Aku mana pernah belajar pencak silat" bantah Doni.
"Nah, ketahuan kamu bohong, Ton," cibir Ratna.
Toni berdiri dan berkata dengan gaya serius," Enggak, sama sekali aku nggak bohong. Dunia pun mengakui."
"Dunia apa? Dunia anak-anak?" ledek Miko.
"Tolong jangan potong penjelasanku. Meskipun Doni tidak terdaftar di perguruan pencak silat mana pun, dia sangat lihai dalam silat. Kalian ingat, menjelang UN dia juara lomba debat bersama duo V?"
"Apa hubungannya? Dasar, makhluk aneh," ejek Ratna.
"Lho, berarti dia pandai dalam silat----lidah."
Mereka tertawa. Doni pun ikut tertawa.
"Hei, tadi kamu bilang Doni pemilik sabuk hitam," celetuk Ratna, "Dari mana?"
"Beli pastinya. Aku juga punya. Nih," jawab Toni sambil menunjukkan ikat pinggang yang dipakainya.
"Sontolo! Kamu tuh dari dulu gak sembuh-sembuh, sih," umpat Doni.
"Biasa aja. Eh, Via kok dari tadi diam? Sariawan, Vi?" Toni menoleh ke Via, sementara tangannya mengambil apel yang dihidangkan mama Doni.
Via hanya tersenyum tipis. Ia memang tidak banyak berbicara sejak tadi.
"Kenapa, Vi?" bisik Ratna.
Via menarik nafas dalam-dalam baru berkata," Kalau saja bukan nylametin aku, Doni nggak kayak gini. Maaf, Don."
"Via, berapa kali kamu minta maaf sejak kemarin? Aku nggak apa-apa. Kakiku juga nggak parah banget. Paling dua bulan lagi aku bisa jalan normal, kok. Lagian ujian semesterku sudah selesai. Nggak masalah, kan?"
"Tuh, Vi. Doni aja nggak masalah. Kamu nggak usah merasa bersalah gitu. Gara-gara Doni sakit, aku bela-belain datang dari Bandung lo. Kita jadi ngumpul meski cuma segini. Seenggaknya kamu bisa ngobati kangenmu padaku, lihat wajah imutku," tambah Miko.
"Jiah, kepedean kamu! Imut dari mana? Mesti lihat pakai sedotan biar kamu imut," ejek Dina.
"Kamu tuh kalau ngomong jangan gitu! Kok seringnya bener, sih?" keluh Miko dengan pasang wajah memelas.
Mereka pun kembali tertawa.
"Kalian datang bikin onar aja. Miko jauh-jauh dari Bandung bukannya bawa peyeum malah ngabisin makanan. Kamu berapa hari gak makan, Mik?" gerutu Doni.
"Aku bawa, kok. Nih, Ratna, Via, juga Dina kan peyeum---puan. Eh, Don, mamamu ikhlas tuh nyediain makanan ini buat sodakoh, biar kamu cepet sembuh," bantah Miko.
"Iya, iya. Besok aku juga bisa pulang."
"Beneran kamu besok pulang, Don?" tanya Toni seolah tak percaya.
"Iya. Kenapa emang kalau aku pulang, Ton?"
"Aku jadi nggak punya alasan buat ke sini."
__ADS_1
"Kamu mabok, Ton?" tanya Ratna.
"Enggak, tapi aku sedih belum kenalan perawat yang tadi ketemu di depan sana."
"Bhuahaha...." Tawa mereka menggema.
"Ya itu deritamu, jones," ledek Miko.
Toni memasang wajah sok ganteng lalu bicara dengan nada berwibawa," Anda salah. Saya tidak ngenes."
"Serah deh," ujar Miko.
Mendadak Ratna memotong,"Eh, jam bezuk hampir habis. Kita pamit, yuk. Cepet sembuh, ya Don. Doa kami menyertaimu."
"Kok jadi kayak momen perpisahan, ya?" celetuk Via.
"Ah, itu sih gara-gara kalimat Ratna. Kapan-kapan kalian main ke rumahku, ya. Kalau ada kalian, aku cepet sembuh."
"Iya, biar yang nabrak kecewa kalau kamu dan Via fine-fine aja," sahut Toni asal.
Setelah berpamitan dengan Doni, mereka pun berpamitan dengan mama Doni yang baru datang dari kantin.
Beberapa saat setelah rombongan alumni IPA-1 meninggalkan kamar Doni, seorang lelaki memakai kaos putih dan celana jeans agak kumal berdiri di depan pintu kamar. Ia tampak ragu-ragu mengetuk pintu. Baru saja akan mengucapkan salam, mama Doni membuka pintu dan terkejut.
"Nak Agus? Ini teman SMP Doni, kan?"
"Iya, Tante. Ternyata Tante masih ingat saya."
"Dulu kamu kan sering ke rumah. Setelah lulus SMP tidak pernah main lagi. Sini, masuk."
Doni menatap Agus dengan tatapan tajam.
Agus menjadi salah tingkah. Ia menunduk.
"Sedang cari kerja, Tante."
"Kemarin mau kerja di tempat Om Ridwan. Tapi belum jadi ketemu Om Ridwan," Doni menjelaskan.
"Oh iya, om kamu belum jadi pulang. Katanya diundur lusa."
"Ma, Doni pengin sop buah. Bisa minta tolong belikan, nggak?"
"Kenapa nggak tadi waktu Mama ke kantin, Don?"
"Baru sekarang kepenginnya. Tapi kalau Mama keberatan ya nggak usah."
"Iya, apa sih yang enggak buat anak Mama? Titip Doni, Nak Agus. Tante ke kantin dulu."
Mama Doni keluar kamar. Agus masih diam tertunduk.
"Tahu dari siapa kalau aku di sini?"
"Toni. Kemarin aku hubungi kamu, HP-mu nggak aktif."
"Oh, dari kemarin memang tidak aktif. Aku masih shock dengan kondisi aku. Tapi, aku tidak menyesal menolong Via."
"Aku---minta maaf, Don."
Doni menatap Agus dengan sinis. Ia tidak menjawab permohonan maaf Agus.
__ADS_1
"Aku salah. Aku yang nabrak kalian."
"Hhmmm... ternyata punya nyali untuk mengakui perbuatanmu."
"Begitu tahu kalau itu kamu, aku dikejar-kejar rasa bersalah. Kamu begitu baik kepadaku, malah aku celakai."
"Kalau kamu tidak kenal aku, kamu tidak merasa bersalah? Begitu?"
Agus terdiam. Ia seperti berada dalam perangkap.
"Maksud aku bukan begitu. Aku---aku memang jahat. Aku telah mencelakai orang lain demi uang. Itu karena aku terpaksa. Aku menyesal."
"Gus, bukannya aku telah menawarimu pekerjaan halal? Kenapa kamu masih menerima tawaran kotor itu? Bahkan kamu memastikan saat kita membicarakan pekerjaan di kafe, bukan?"
Agus mengangguk.
"Aku bisa saja melaporkan peristiwa ini ke polisi. Aku akan...."
"Don, aku mohon jangan! Kalau aku masuk penjara, bagaimana ibu dan adik-adikku? Ibuku sakit-sakitan, butuh biaya banyak untuk berobat. Itu sebabnya aku menerima tawaran pekerjaan kotor ini."
"Kenapa kamu tidak minta tolong kepadaku?"
"Aku malu, Don. Aku sudah terlalu banyak merepotkan kamu. Aku tidak mengira kalau kejadiannya bakal seperti ini. Aku mohon dengan sangat, jangan laporkan aku ke polisi."
"Apa kamu pernah menerima pekerjaan semacam ini sebelumnya?"
"Iya, tiga kali. Sepertinya Gadi yang menjadi sasaranku kemarin sama dengan tahun lalu. Hanya, aku tidak tahu nama gadis yang kutabrak di depan SMA."
"Apa yang menyuruhmu orang yang sama?"
"Tidak."
Doni terdiam sesaat, lalu berkata, "Baiklah. Aku tidak akan melaporkan kepada polisi. Tapi katakan siapa yang menyuruhmu."
Agus tampak kebingungan. Wajahnya mulai pias.
"Itu---aku tidak---maaf," kalimat yang dikatakan Agus membingungkan.
"Kau pilih aku laporkan ke polisi atau kamu katakan siapa yang menyuruhmu. Simpel,
kan?"
Agus menggeleng. Ia kembali menunduk.
"Tidak sesimpel itu, Don. Kalau sampai aku bocorkan siapa yang menyuruhku, aku dan keluargaku terancam. Dia orang yang punya banyak uang dan koneksi."
"Sekarang terserah kamu, Gus. Kalau kamu jujur, aku tidak akan melaporkan kamu kepada pihak berwajib. Kamu juga tetap bisa bekerja di kafe om-ku. Tapi kalau kamu pilih bungkam, tindakanku sebaliknya," kata Doni tegas.
Agus semakin pias. Ia seperti menghadapi buah simalakama.
"Don, kalau aku minta waktu bagaimana? Aku akan mengatakan siapa orang itu, tapi beri kesempatan untuk menyelamatkan keluargaku."
"Baiklah. Aku juga akan bantu."
"Terima kasih, Don. Kamu memang sahabat yang baik."
Agus memeluk erat Doni.
****
__ADS_1
****Bersambung
Penasaran siapa yang menyuruh Agus? Ikuti terus, ya! Jangan lupa tinggalkan komentar, like, juga rate 5. Terima kasih** 🙏