
Farhan celingukan mencari istrinya. Ia pun tidak menemukan baby Zayn di ranjang. Dibukanya kamar mandi. Ternyata, Via pun tidak ia jumpai.
Ada rasa panik datang menyergap. Trauma akan adanya kelompok penjahat masih menghantui Farhan.
Ia segera keluar. Baru saja tiba di depan pintu, ia teringat akan kamar bayi. Farhan pun berbalik menuju kamar bayinya.
Hembusan nafas lega keluar dari hidung Farhan. Ia melihat Via tengah membaringkan Baby Zayn ke boksnya.
“Alhamdulillah, kalian ada di sini,” desah Farhan.
Via menoleh, menatap heran suaminya. Setelah Zayn ke boksnya, Via mendekati Farhan.
“Kenapa? Kok kelihatan lega banget gitu?”
Farhan menyunggigkan senyum, menyambut Via dengan pelukan. Ia membenamkan kepala istrinya ke dada bidang miliknya.
“Hubbiy, sebenarnya kenapa?” Via mengulang pertanyaan.
“Sstt, biarkan Mas memelukmu sebentar begini. Biarkan damai menenangkan,” bisik Farhan sambilmencium rambut Via.
Setelah beberapa saat, Farhan melepaskan pelukannya. Diraihnya dagu Via hingga wajah cantik itu menengadah. Kecupan pun mendarat dengan lembut di kening Via,
“Bisa cerita sekarang?” tanya Via untuk ketiga kalinya.
“Tadi Mas masuk kamar nggak lihat kalian. Mas khawatir kalian diculik,” jawab Farhan yang diakhiri senyuman.
Via ikut tertular senyuman Farhan. Ia merasa suaminya seperti fobia.
“Untung saja dia tidak diberi tahu soal orang yang menyusup ke kamar dan akan menyuntiknya dengan suntikan mematikan. Seandainya tahu, mungkin kekhawatirannya semakin menjadi.”
Farhan menatap Via heran karena istrinya hanya diam.
“Ada apa? Kok terdiam gitu?”
“Eh, enggak. Via cuma merasa Hubbiy terlalu mengkhawatirkan kami. Tenangkanlah sedikit biar tidak terlalu tegang,” jawab Via.
Farhan menghela nafas lagi diiringi anggukan. Ia merasa apa yang Via katakan ada benarnya.
“O ya, bagaimana pembicaraan dengan Mas Edi? Sudah ketemu kan? Dia sudah punya rencana melamar Mbak Mira?” cecar Via.
“Kepo!” jawab Farhan singkat sambil mengerling istrinya.
Tentu saja Via gemas. Ia mencubit lengan Farhan.
Pria itu terkekeh karena cubitan Via membuatnya geli. Ia menarik lengan Via ke kamar mereka lalu mendudukan di sofa.
“Biar gak ganggu Dedek Zayn. Bunda duduk sini!.”
Farhan pun menempatkan dirinya di samping kiri Via.
“Tadi Mas sudah ngobrol dengan Mas Edi. Ternyata, yang jadi masalah adalah ayahnya. Ayah tirinya tidak mempercayainya gara-gara menunda acara lamaran. Mas Edi dianggap tidak serius akan memberinya uang.” Farhan menjelaskan.
“Uang? Via mengernyitkan kening.
“Iya. Jadi, Mas Edi menjanjikan akan memberi 10 juta kalau ayahnya mau datang ke sini. Sengaja tidak ditransfer karena kalau ditransfer, ayahnya malah semakin menjadi memerasnya. Uang diterima, tetapi ayah tiri Mas Edi tidak datang.”
“Oh, gitu. Cuma masalah uang. Eh, kalau ibunya saja yang datang, gimana?” usul Via.
__ADS_1
“Mas Edi menjaga perasaan ibu kandungnya juga nama baik keluarganya. Ibunya tentu berkecil hati kalau Mas Edi mengabaikan ayahnya. Keluarga Mira juga bisa jadi berpikir hal yang kurang baik kalau hanya ibunya yang hadir. Kan terkesan kurang harmonis,” lanjut Farhan.
“Iya juga, sih. Bagaimana kalau kita minta saran Om Candra dan Kakek Adi? Mumpung beliau ada di sini. Besok kan sudah pulang,” kata Via.
Farhan terdiam sejenak. Ia mempertimbangkan usul Via.
“Boleh juga. Nanti setelah salat isya, kita bicarakan bersama. Biar Mas yang menyampaikan ini ke kakek dan Om Candra.
Via mengangguk. Ia sedikit merasa lega karena kedua orang pengganti papanya masih berada di rumahnya. Mereka bisa memberi saran sebagai orang tua.
***
Dari luar ruang kerja Farhan dan Via tampak lengang. Namun, di dalamnya ada beberapa orang yang sedang serius membicarakan sesuatu.
Via duduk di satu sofa dengan Farhan. Di sebelah kanan Via ada Bu Lena dan Dini. Sementara Pak Adi dan Pak Candra berhadapan dengan Via dan Farhan.
“Jadi, rencana lamaran Edi terhalang kerasnya hati si tua bangka Hendra? Dasar tua bangka mata duitan. Dia nggak tahu terima kasih. Dari kecil Edi tidak pernah minta uang sama dia. Eh, giliran mau nikah saja masih dipalak,” gerutu Pak Adi setelah mendengar cerita Farhan.
“Kakek tahu latar belakang keluarga Mas Edi?” tanya Via.
“Tentu saja. Kakek sudah diberi tahu Candra soal itu. Kakek juga menyelidiki latar belakang keluarganya sebelum memutuskan mendukung Candra memberi kepercayaan penuh kepada Edi,” jawab Pak Adi mantap.
“Oh begitu. Lalu, apa ayah kandung Mas Edi masih hidup?” tanya Via lagi.
Farhan menepuk paha Via. Istri Farhan pun menoleh.
“Ini mau bahas lamaran apa kehidupan Mas Edi?” bisik Farhan.
Via hanya meringis menyadari betapa kepo telah merasuki dirinya.
“Tingkat kepo Kak Via masih wajar, kok. Karena kita bahas masalah ayah tiri Mas Edi, tentu ingin tahu ayah kandungnya. Iya kan?” Dini membela Via setelah tahu Farhan memberi peringatan.
“Sudah, sudah, kita kembali ke masalah lamaran Edi. Kasihan anak itu. Dia sebenarnya ingin berbakti. Tapi, Hendra memang keterlaluan,” kata Pak Candra menengahi.
“Papa bisa kontak ayahnya Edi?” tanya Bu Lena.
Pak Candra tampak berpikir. Ia menoleh ke Pak Adi.
“Gimana, Pih? Kita perlu turun tagan langsung atau cukup Feri yang bergerak?” Pak Candra
meminta pertimbangan Pak Adi.
Pak Adi masih berpikir. Ia memperhitungkan baik buruknya.
“Aku rasa cukup turunkan Feri dulu. Kalau Feri tidak bisa menyeret orang tua mata duitan itu ke sini, baru kau turun tangan.”
“Baik. Aku hubungi Feri sekarang juga. Biar masalah ini segera selesai. Kalau bisa, sebelum pulang sudah ada kejelasan tentang nasib lamaran Edi. Kita bisa tenang. Tinggal menunggu penentuan hari pernikahan.”
Pak Candra mengeluarkan benda persegi canggihnya. Ia memilih menjauh agar dapat berbicara dengan nyaman. Yang lain tetap melanjutkan pembicaraan.
“Apa kita tidak apa-apa kalau tidak ikut dalam lamaran Edi, Pih?” tanya Bu Lena.
Pak Adi menatap Bu Lena. Lalu, ia ganti melihat putranya yang masih menelepon.
“Kalau kau tetap di sini dulu menunggu si brengsek itu datang, keberatan nggak, Lena?” Pak Adi balik menanyai sang menantu.
“Tidak apa-apa, Pih. Dini juga nggak apa-apa berlibur di Jogja dulu, kan?”
__ADS_1
Dini memasang muka ceria mendengar liburan. Ia mengangguk berkali-kali untuk memantapkan jawabannya.
“Oke, Ma. KakRatna suruh main ke sini, ya! Seru kalau ada dia,” pinta Dini kepada Via.
Via mengangguk menyetujui permintaan adik. Tak lama kemudian, Pak Candra kembali ke tempat duduknya. Via langsung menyerbu dengan pertanyaan.
“Bagaimana, Om? Apa sudah ada kejelasan?”
Pak Candra tersenyum mendengar pertanyaan keponakannya. Ia mengerti betapa antusiasnya Via.
“Malam ini juga, Feri ke rumah ayahnya Edi. Kebetulan posisi Feri tak jauh dari kediaman orang tua Edi.
“Feri itu siapa, Om?” tanya Farhan.
“Anak buah Om yang Om tempatkan di kota kelahiran Edi. Dari dialah informasi tentang keluarga Edi didapat.” Pak Candra menjelaskan.
Pak Adi berdiri. Ia tampak sedikit jengah.
“Kenapa, Pih?”
“Langkah apa yang akan diambil Feri?” tanya Pak Adi dengan nada dingin.
“Feri menawari DP 5 juta untuk memancing dia datang. Kalau tidak mau, Feri tinggal kasih ancaman khasnya.” Pak Candra terlihat santai.
Pak Adi menautkan kening sesaat. Lalu dia tertawa lepas.
“Aku lega. Feri pasti bisa menyeretnya ke sini.”
“Kita tunggu kabar baik dari Feri,” sahut Pak Candra.
“Lalu kira-kira kapan orang tua Mas Edi mau didatangkan, Om?” tanya Via.
Farhan melirik istrinya. Ia seperti tak suka Via menanyakan hal itu.
“Yang mau dilamar sebetulnya siapa, sih? Kok jadi kamu yang nggak sabaran gitu?” gerutu Farhan.
Tawa Dini meledak mendengar ucapan suami sepupunya. Ia menangkap ada kecemburuan pada kalimat
Farhan.
“Cieee, ada yang cemburu rupanya,”ledek Dini.
“Ih, apaan. Anak kecil tahu apa soal cemburu?” sanggah Farhan.
Kali ini ganti Via dan Bu Lena yang tertawa. Sementara Pak Adi dan Pak Candra hanya menggelengkan kepala sembari mengulas senyum tipis.
“Via, sebaiknya kamu segera ke kamar. Kasihan Zayn ditinggal bundanya terlalu lama. Biar kami yang menyelesaikan urusan ini.” Bu Lena memberi saran untuk Via.
“Iya, sana kembali ke kamar! Nggak usah kepo! Nanti Mas ceritain hasil nego Feri menjadwal ulang lamaran Mas Edi,” ucap Farhan.
“Haha...kayak proyek saja pakai dijadwal ulang,” komentar Pak Adi.
Via bangkit dari duduknya. Ia berpamitan kepada semua orang. Langkahnya terayun menuju kamarnya untuk menemui si buah hati. Sementara yang lain masih tetap duduk di ruangan itu. Mereka menunggu informasi dari Feri.
***
Bersambung
__ADS_1
Duh...yang koment makin turun kayaknya. Apa Via dibikin dapat musibah lagi? Farhan digoda pelakor?
Kutunggu koment Kakak. Like juga, ya. Terima kasih.