
Jarum pendek belum tepat menunjuk angka 4. Hawa dingin menusuk tulang meski tanpa AC. Suasana senyap masih menyelimuti. Sungguh sangat nyaman untuk menikmati hangatnya selimut tebal.
Namun, tidak dengan pasangan suami istri yang belum lama resmi dalam ikatan yang halal. Mereka mampu melawan buaian kehangatan.
Usai olah raga malam untuk ketiga kalinya, Azka mengajak Meli bersuci. Ritual mandi janabah mereka lakukan sebelum qiyamullail.
Di ruangan yang tidak begitu luas itu, mereka khusuk berdialog dengan Sang Pencipta. Sebelas rekaat mereka dirikan sesuai sunah rasulullah.
“Subuh masih beberapa menit lagi. Bagaimana kalau murajaah dulu? Sudah hafal juz 30?” tanya Azka.
Meli mengangguk. Azka tersenyum lega.
“Bagaimana kalau kita mulai dari surat terakhir lalu bergerak ke depan? Siap?” ucap Azka lagi.
“Baik, Mas.”
Ayat demi ayat pun mulai Meli lafalkan. Sesekali Azka membetulkan bagian yang belum tepat.
Setelah 15 surat, azan subuh terdengar. Mereka menghentikan kegiatan tersebut. Azka bangkit dari duduknya diikuti Meli.Pria itu berpamitan untuk berjamaah ke masjid sementara Meli bersiap salat subuh munfarid.
Sepulang dari masjid, Azka tak menjumpai Meli di musala. Di dapur pun tak ada. Azka bergegas ke atas.
“Syukurlah kau ada di sini,” ucap Azka lega begitu melihat Meli tengah melihat gawainya.
“Memangnya kenapa?” Meli heran.
“Takut istriku hilang,” jawab Azka sambil naik ke atas ranjang.
“Ish, memangnya Meli anak kecil atau barang? Masa ilang.” Meli mencebikkan bibirnya.
Azka tertawa mendengarnya. Lalu, ia menarik lengan Meli dengan cepat. Tentu saja Meli kaget karena ia tidak siap. Ia pun kehilangan keseimbangan daan jatuh menimpa Azka.
“Hemmm, wangi,” desis Azka sambil mencium rambut Meli.
“Iyalah, kan habis keramas.”
Azka membelai rambut hitam Meli. Disibaknya anak rambut yang menutup dahi Meli diikuti kecupan.
“Pagi ini enaknya ngapain ya? Mau olah raga?” Azka mengajukan tawaran.
Mendengar kata olah raga, ingatan Meli melayang ke kegiatan mereka sebelum mandi janabah.
“Memangnya belum puas?” tanya Meli.
“Puas? Maksudmu?” tanya Azka balik.
“Iya, memang Mas Azka belum puas olah raga? Kita tiga kali semalam lo!” ucap Meli.
Tiba-tiba Azka tertawa terbahak-bahak. Hal itu membuat Meli keheranan.
“Kok ketawa, sih?” protes Meli.
“Istriku lucu! Jadi, kamu memikirkan olah raga ranjang? Maksud Mas, kita olah raga jogging atau bersepeda,” sahut Azka di sela tawanya.
Muka Meli memerah. Ia malu karena ketahuan pikirannya mesum.
“Tapi, boleh juga mengulang olah raga ranjang. Toh kita hanya berdua di rumah ini. Nggak ada yang ganggu,” kata Azka sambil tersenyum menggoda.
“Ah, Mas Azka seneng banget sih godain Meli,” ucap Meli dengan bibir mengerucut.
“Habis istriku menggemaskan. Mmuaah.” Kecupan singkat menutup mulut Meli.
Meli melotot. Namun, Azka tidak memedulikan. Kecupan itu berpindah ke pipi dan leher. Meli tentu saja berkali-kali menggelinjang. Lama-kelamaan ia tak dapat menahan desahnya. Nafas mereka pun memburu.
__ADS_1
“Berdoa, Sayang,” desis Azka.
Meli mengangguk. Dalam hati ia melafalkan doa agar hubungan badan mereka menjadi ibadah, dijauhkan dari setan, tak semata terdorong hawa nafsu. Jika menjadi buah hati, sang anak menjadi anak yang soleh atau solihah.
Pagi itu pun menjadi panas dengan aktivitas yang menyenangkan. Hingga beberapa menit, mereka berpacu dalam kenikmatan hingga keduanya mencapai puncak. Doa pun kembali dibaca, berharap ridho dari-Nya.
“Mas Azka nggak capek?” tanya Meli di sela nafas yang masih sedikit tersengal.
“Sedikit. Kenapa? Kamu capek, Sayang?” tanya Azka sambil memiringkan tubuhnya menghadap Meli.
Meli mengangguk. Ia menyeka kening yang basah oleh peluh.
“Tapi senang, kan? Bukannya kamu menantikan ini saat kita berjauhan?” tanya Azka sambil tersenyum nakal.
“Ish, Mas Azka nih! Udah, ah, Meli mau mandi. Eh, kita sarapannya bagaimana?”
“Mau masak nasi goreng yang praktis, mau jalan ke luar, atau delivery order?” Azka memberi pilihan.
“Masak saja.”
Baru saja Meli bangkit, terdengar notifikasi panggilan. Meli menggeser icon hijau dan mengubah ke mode speaker. Ia meletakkan kembali gawainya.
“Assalamualaikum. Astaghfirullah, Meli!” terdengar pekikan dari gawai Meli yang layarnya menghadap ranjang.
“Waalaikumsalam. Ada apa Mbak?” tanya Meli santai.
“Mel, itu aurat jangan dipamerin gitu!” seru Via.
Meli tersadar kalau ia menerima panggilan video. Ia segera membalik posisi gawai, lalu memakai kimononya dengan benar.
“Ish, Mbak Via vicall ya? Kok kamu ceroboh, sih?” ucap Azka.
“Maaf, Meli lupa,” desis Meli.
“Maaf, Mbak. Meli ceroboh,” sesal Meli.
Via menahan tawanya. Ia kasihan juga melihat Meli.
“Ya sudah, besok lagi lebih hati-hati. Em, akum au minta tolong, bisa?”
“Minta tolong apa?”
“Buatin donat, kalau bisa sama prol tape untuk tambahan hantaran ke rumah Ratna nanti sore.”
“Kalau bahan-bahannya siap, Meli sih siap. Tapi, Meli kan nggak tahu beli di mana,” sahut Meli.
“Ada kok. Tanya suamimu di mana bunda menyimpan bahan-bahan makanan kering. Aku kemarin sudah belanja terigu, gula, dan lainnya,” jelas Via.
“Oke. Nanti kalau sudah jadi diantar ke mana?”
“Ke rumahku. Biar dihias sekalian. Kamu juga belum pernah ke rumahku, kan?”
Meli bengong sejenak. Ia baru sadar kalau setiap berkunjung ke Jogja belum pernah ke rumah Via.
“Iya, iya. Insya Allah sebelum zuhur kami ke situ.”
“Oke, aku tunggu. Makasih, ya. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Meli berjalan menuju kamar mandi. Saat pintu dibuka, ia memekik kaget. Ternyata Azka ada di dalam.
“Kok nggak dikunci, sih?” gerutu Meli.
__ADS_1
“Nggak ada orang lain selain kita. Pintu gerbang dikunci. Siapa lagi yang bisa masuk ke sini selain kamu? Sini, Sayang! Sekalian mandi bareng,” ucap Azka sambil menarik tangan Meli.
Meli tak bisa menolak. Akhirnya, untuk pertama kali mereka mandi bersama.
“Mbak Via tadi ngomong apa?” tanya Azka sambil mengeringkan rambutnya.
“Meli suruh bikin donat. Di mana bunda biasa menyimpan bahan-bahan makanan kering?”
“Ada di lemari dapur. Nanti aku tunjukkan. O ya, jadi masak buat sarapan?” ucap Azka.
“Meli males, ah. Kalau delivery order, ada nggak yang pagi?” tanya Meli.
“Kamu mau sarapan apa?” tanya Azka balik.
“Gado-gado, ada nggak?”
“Kalau DO kayaknya nggak ada. Paling bubur ayam. Aku beli saja keluar, ya.”
Meli mengangguk. Azka mengambil jaketnya.
“Mau ikut?” Azka menawari.
“Enggak, ah. Mending Meli nyiapin bahan-bahan donat saja. Ayo, antarkan Meli ke dapur!” pinta Meli.
Azka menurut. Ia mengantar Meli ke dapur dan menunjukkan tempat penyimpanan bahan makanan.
“Kalau begitu, Mas berangkat dulu. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Meli menyiapkan bahaan-bahan yang diperlukan. Ia lalu membuat adonan sambil bersenandung. Baru saja adonan jadi, Azka datang. Mereka menikmati sarapan terlebih dahulu sambil menunggu adonan mengembang.
Selesai sarapan, Meli melanjutkan pembuatan donat. Azka membantunya. Karena membaut sambil becanda, mereka tidak merasa lelah.
Pukul 9 pagi semua adonan sudah matang. Meli menata di mika.
“Meli mandi dulu lagi. Badan lengket nih.”
“Iya. Habis duha kita antar donat, ya,” sahut Azka.
Satu jam kemudian, mereka siap berangkat. Meli duduk manis di samping Azka yang mengemudikan mobil.
“Ini rumah Mbak Via? Besar banget,” gumam Meli.
Azka tersenyum sambil melirik sang istri. Ia membiarkan Meli mengamati sekeliling rumah.
“Sudah selesai observasi? Masuk, yuk!” ajak Azka.
Ternyata Via sudah menanti. Berbagai barang hantaran sudah disiapkan di ruang keluarga.
“Wah, sudah siap semua,” ucap Meli.
“Iya, tinggal orangnya yang belum,” kata Via.
Via menambahkan hiasan pita pada mika tempat donat hingga tampilannya lebih cantik. Meli hanya memandang kagum karena Via tangan begitu lincah.
“Cinta, ada telepon dari bunda. Eh, Meli sudah datang,” kata Farhan sambil menyerahkan gawai milik Via.
Via menerima panggilan dari sang bunda. Sesekali ia mengangguk sambil mengiyakan.
***
Bersambung
__ADS_1
Ada apa, ya? Yuk temukan jawabannya di next episode. Kunjungi juga novel CS1 dan Ikatan Cinta Alenna karya Kak Indri Hapsari agar tahu orang-orang dekat Meli. Jangan lupa tinggalkan like dan komen.