
Hujan membungkus sore itu menjadi sedikit dingin. Kilat dan petir bergantian menyapa Jalanan cukup lengang karena sedikitnya kendaraan yang berlalu lalang. Memang cuaca yang seperti itu membuat orang malas keluar.
Via, Ratna, Mira, dan Salsa duduk santai di depan televisi. Mereka asyik berbincang sambil menikmati kacang rebus. Toko sengaja ditutup lebih awal.
“Dek Via, boleh tanya, nggak?” Mira bertanya sambil mengupas kacang.
“Tanya apa, Mbak?”
“Kok kamu nggak pernah buka jilbab, sih?”
Via tersenyum. Ia mengambil gelas berisi jeruk hangat di dekatnya dan meneguk sedikit.
“Nih, sekarang aku nggak pakai jilbab, Mbak.”
“Tapi jarang, khususnya pas siang. Biasanya pagi, siang, sore hari kamu juga pakai jilbab. Sekarang aja kamu enggak.”
“Biasanya kan banyak pengunjung, kadang ada lelaki juga yang datang ke sini. Tidak hanya saat salat, di luar salat pun kita tidak boleh menampakkan aurat kita di hadapan lelaki yang bukan mahram. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa tidak boleh seorang laki-laki memandang aurat laki-laki lain, tidak boleh pula seorang wanita memandang aurat wanita lain.Jadi, saat kita berada di lingkungan yang memungkinkan kita bertemu lawan jenis, kita harus menutup aurat.”
“Iyakah? Berarti selama ini aku mengabaikan ajaran agama?” desis Mira.
“Nggak apa-apa. Kita kan bisa memperbaiki diri sedikit demi sedikit. Semua perlu proses.”
“Kayaknya perlu ada pengajian rutin biar bisa nambah pengetahuan agama, nambah keimanan.”
“Iya, Mbak. Salsa juga masih perlu banyak belajar. Diskusi kayak gini aja bikin Salsa semangat. Kita bisa ngobrol-ngobrol santai sambil nambah wawasan agama. Mbak Via bisa nerangin banyak hal,” tambah Salsa.
“Aduh, ilmuku masih cetek. Jangan gitu, Sa! Aku jawab yang aku tahu. Kalau nggak tahu, ya tanyakan sama yang lebih paham.”
“Mbak Via ikut kajian di kampus, kan? Nah, setidaknya Mbak Via bisa menanyakan di forum itu kalau nggak bisa jawab pertanyaan kami.”
“Itu, Ratna juga ikutan, kok.”
“Ah, aku sih lebih percaya sama Dek Via dari pada Ratna,” ucap Mira.
“Eh, aku mau nanya dong! Aku juga nggak pernah lihat Mbak Via pakai celana panjang dan jilbab yang model dililit. Kenapa?” tanya Salsa.
“Jangan aku yang dijadikan acuan. Kalau aku, alasannya bisa bersifat pribadi. Begini, yang aku tahu, maaf kalau salah, namanya memakai jilbab itu harus menutup dada. Ini sesuai dengan firman Allah pada Quran Surat An Nur ayat 31 dan Al Ahzab ayat 59. Nanti buka, deh!”
“Terus soal celana panjang giman? Dulu Dek Via suka pakai celana panjang juga, kan?” tanya Mira.
“Iya, dulu saat masih SMA. Sekarang Via malu. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan yang isinya kurang lebih begini Rasulullah bersabda: ‘Ada dua golongan penghuni neraka yang belum aku lihat: Orang-orang yang memiliki cemeti seperti ekor sapi dan wanita yang berpakaian seperti telanjang, berlenggang-lenggok dan menggoyang-goyangkan pundaknya, kepala mereka kayak punuk unta yang bergoyang-goyang. Mereka tidak masuk surga dan tidak mencium aromanya. Aku nggak hafal terjemahannya.”
__ADS_1
“Berpakaian seperti telanjang? Maksudnya berpakaian dengan bahan yang tipis, gitu?” potong Salsa.
“Di antaranya begitu. Kalau bajunya tipis kan bisa terlihat kulitnya tuh. Atau bisa juga yang terlalu ketat, yang menampakkan lekuk tubuh. Bagi aku, kalau celana panjang bisa menampakkan lekuk tubuh karena menampilkan bentuk kaki. Mungkin bisa kamu tanyakan kepada yang lebih ahli. Ingat, ya, penjelasanku bisa salah. Ini pemahamanku dari kajian yang kuikuti dan juga nasihat bunda.”
“Iya, Mbak. Penjelasan Mbak Via bisa Salsa terima. Setidaknya, diskusi macam ini bisa memotivasi Salsa untuk lebih baik lagi.
“Tapi, ide Mbak Mira boleh juga. Besok Via bicarakan dengan teman-teman untuk mengadakan kajian bergilir, deh,” kata Via.
“Ngomong-ngomong, dari tadi aku nggak denger suara Ratna. Apa masih hidup?” ucap Mira meledek sepupunya yang diam membisu di tengah keseruan percakapan diantara mereka.
“Rat, kamu nggak pingsan, kan? Atau sedang sakit gigi?” tanya Via.
Ratna masih diam. Ia tidak merespon ledekan Mira dan Via. Matanya masih menatap layar ponselnya.
"Duh, ni anak pingsan?" Mira menepuk lengan Ratna.
"Eh, iya. Gimana, Mbak?" Ratna tergagap.
"Kamu lagi ngapain, sih? Kok dari tadi diam terus?" tanya Via.
"Ini, lagi asyik baca novel. Aku lagi sedih karena tokohnya meninggal. Sebel sama author-nya."
"Ih, Mbak Mira katrok deh. Kan ada aplikasi novel. Aku suka baca novel di noveltoon. Coba deh diinstal. Atau mangatoon juga bisa."
"Coba aku lihat, Mbak," pinta Salsa.
"Nih, aku lagi baca Menikah karena Sumpah karya Eka Pradipta. Aku juga mengikuti novel-novel lain. Penulis yang aku suka tuh Emekama, Ismi Sima Simi, Linanda Anggen, Aiko Dephine, Ind-Chris, ...."
"Duuuh, lancar amat nyebutinnya. Kok beda dengan responmu kalau bahas akuntansi biaya?" ledek Via.
"Jangan gitu, Vi. Akuntansi biaya itu bikin pusing, kalau baca novel itu bikin happy. Coba deh kamu baca Ikrar Cinta Bersulam Surga karya Seri Melani. Kamu kayaknya bisa baper, bayangin punya suami macam Azzam. Install Noveltoon sana! Lumayanlah, buat refreshing. Masa gak pernah selow."
Via tertawa. Ia menggelengkan kepalanya karena kelakuan Ratna.
"Udah, coba dulu deh! Kalau Salsa kayaknya bisa baper baca WR, author-nya RK Abizar atau Tentang Hati karya Aldekha Depe."
"Dewi Persik?" tanya Salsa spontan.
"Ih, kamu nih! Dasar penggemar dangdut," gerutu Ratna.
Mira, Via, dan Salsa tertawa melihat Ratna kesal.
__ADS_1
"Mbak Mira cocoknya baca yang serem, misteri macam Sepetak Ruang Hati, Apa Aku Berbeda, juga Electricity."
"Ok deh, rekomendasi kamu aku terima. Jangan lupa, nyumbang kuota biar aku bisa baca novel terus," kata Mira.
"Huuu, Mbak Mira payah! Masa kuota aja mesti ngemis?" sungut Ratna.
"Yah, kali aja mau nyumbang," sahut Mira santai.
Saat mereka tengah bergurau, ponsel Via bergetar tanda ada pesan masuk. Via meraih ponselnya yang tergeletak di meja.
Farhan
[Dek, tolong jangan sampai tinggal sendirian di ruko. Kalau teman-temanmu pulang, Dek Via harus pulang.]
Kening Via berkerut. Tidak biasanya Farhan begitu mengkhawatirkan dirinya.
Via
[Memang kenapa? Bulan lalu Via sendirian sampai 2 malam. Via berani, kok. Kan tidak ada hantu]
Farhan
[Sekarang tidak aman. Pokoknya jangan pernah sendirian di ruko! Tolong jangan membantah!]
Via menarik nafas panjang. Ia merasa kalimat terakhir dari Farhan menekankan statusnya sebagai istri yang tidak boleh membantah perintah suami yang tidak melanggar syariat.
Via
[Baik, Mas.]
Via meletakkan kembali ponselnya dan ikut dalam serunya perbincangan dengan teman-temannya.
***
Bersambung
Jangan lupa dukung author dengan meninggalkan like, koment, dan vote.
Terima kasih atas dukungan Kakak 😘😘
Baca juga novel karya authors yang direkomendasikan Ratna. Judul lain di next episode 😍
__ADS_1