SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Persiapan


__ADS_3

Pak Haris mengambil ponsel dan membukanya. Setelah menukan kontak ayahnya ia segera menyentuh ikon dial.


....


"Waalaikumsalam. Maaf mengganggu. Ayah belum tidur, kan?"


....


"Soal Farhan dan Via. Mereka sudah menyatakan setuju untuk menikah, Yah."


....


"Nggak lah. Kami dari awal sudah berkomitmen tidak ada pemaksaan."


....


"Baik. Haris akan hubungi Andi sekarang juga. Mudah-mudahan ia belum tidur.


....


"Ya sudah, Haris tutup dulu. Terima kasih atas waktu Ayah. Assalamualaikum."


....


Pak Haris menjauhkan telepon dari telinganya. Matanya kembali menatap layar, mencari kontak Pak Andi.


....


"Waalaikumsalam. Maaf, nih mengganggu."


....


"Soal Via. Dia sudah setuju untuk menikah dalam waktu dekat."


....


"Dengan Farhan, anakku sendiri."


....


"Iya, dia mau, kok."


....


"Begini, ayahku meminta kita bertemu dengan beliau untuk membicarakan rencana pernikahan mereka. Kan ini menyangkut urusan perusahaan almarhum Pak Wirawan. Kata Ayah, ada hal-hal yang perlu direncanakan dengan matang. Ayah juga minta orang kepercayaan almarhum yang menangani perusahaan selama ini untuk ikut.


....


"Baik, kutunggu besok pagi sekalian sarapan di rumahku."


....


"Terima kasih atas waktumu. Assalamualaikum."


....


Pak Haris menyimpan kembali ponselnya. Ia mendekat ke Bu Aisyah yang masih duduk di ranjang.


"Bagaimana?" tanya Bu Aisyah penasaran.


"Ayah mengajak kita bertemu untuk membicarakan pernikahan anak-anak kita juga masa depan perusahaan almarhum besok."


"Di mana?"


"Di rumah kita. Sambil sarapan pagi saja. Ayang tolong siapkan hidangan. Ada stok bahan makanan di kulkas? Besok bisa minta izin ke kepala sekolahmu, kan?"

__ADS_1


Bu Aisyah mengangguk. Pikirannya masih dipenuhi dengan rencana pernikahan Farhan dan Via.


"Sekarang sudah cukup larut. Kita tidur, yuk! Jangan bebani pikiranmu dengan masalah pernikahan anak-anak. Masih ada aku, suami setiamu yang selalu siap membantu."


"Gombal, ah."


"Kau juga suka kalau aku menggombal. Sudah, baringkan tubuhmu!"


Begitu Bu Aisyah merebahkan diri, Pak Haris menyelimuti tubuh istrinya. Ia pun menyusul di samping perempuan yang mendampingi hidupnya lebih dari seperempat abad


****


Keesokan harinya, Bu Aisyah sudah menyiapkan jamuan makan. Ia memasak dengan dibantu oleh Via. Tidak begitu banyak yang mereka masak karena sebagian masakan dipesan dari penyedia jasa catering.


Melihat bundanya begitu sibuk menyiapkan hidangan sementara waktu sudah hampir pukul 7, Azka merasa heran. Ia mendekati bundanya.


"Ada apa, Bun? Kok banyak makanan? Mau ada tamu? Bunda juga nggak ke sekolah?" tanya Azka.


"Iya, sebentar lagi eyangmu, Pak Andi, dan rekannya akan datang. Bunda sudah minta izin dan menitipkan tugas untuk anak-anak. Nanti siang Bunda berangkat kalau tamu-tamu sudah pulang," jawab Bu Aisyah.


"Memangnya ada apa? Kelihatannya penting banget?"


"Penting dan mendadak. Via setuju untuk menikah dan nanti akan membicarakan tentang pernikahan Via."


Azka terkejut. Ia tidak mengira akan mendengar berita itu.


"Dengan Surya keponakan Om Andi?"


"Bukan. Tapi dengan kakakmu."


"Apa? Via mau menikah dengan Mas Farhan?" Azka berteriak kaget.


"Kecilkan volume suaramu! Nggak enak didengar," tegur Bu Aisyah sambil terus menata hidangan.


"Hus, jangan sembarangan kalau ngomong! Bunda tidak suka maksa-maksa!"


"Jadi, itu atas kemauan Via sendiri?"


"Ayah dan Bunda menawari Farhan dan kakakmu itu mau. Baru kami menanyai Via, bersedia tidaknya menerima Farhan menjadi suaminya. Begitu, Ka. Jangan suudhon dengan orang tua!"


"Maaf, Bun. Sekarang Mas Farhan dan Via di mana?"


"Ngurus persyaratan. Via baru saja pergi setelah bantu Bunda masak."


"Mereka pergi bersama?"


"Enggaklah. Via ke bidan, Farhan menyiapkan pasfoto dan ayahmu ke rumah Pak RT dan RW."


"Naik apa Via ke sana?"


"Becak. Kan nggak terlalu jauh dari pada ke rumah sakit atau puskesmas. Jam segini rumah sakit dan puskesmas juga belum buka."


"Memang kapan mau menikah?


"Rencananya tiga atau empat hari lagi. Nanti keputusannya nunggu pertemuan dengan Eyang, Pak Andi, dan Pak Arman atau siapa, Bunda tidak terlalu paham. Eh, kamu sudah mandi apa belum?"


"Sudah, dong."


"Kalau begitu, lanjutkan pekerjaan Bunda, ya! Bunda mau mandi dulu. Takutnya tamu udah pada datang, Bunda belum siap."


Azka mengangguk. Sementara Bu Aisyah segera ke kamar.


"Dandan yang cantik, Bun!" teriak Azka menggoda bundanya. Bu Aisyah hanya tersenyum.


Dengan cekatan Azka menata peralatan makan. Itu bukanlah hal baru bagi Azka karena ia terbiasa membantu pekerjaan bundanya.

__ADS_1


"Apa Via mencintai Mas Farhan? Kalau Mas Farhan, aku bisa memastikan kalau menyukai Via. Sedangkan Via kan tidak begitu dekat dengan Mas Farhan. Tapi, kalau dia nggak suka, kenapa mau. Jangan-jangan Via hanya memikirkan perusahaan papanya. Kasihan dia. Eh, kenapa aku kok mikir sejauh itu? Aku kok merasa nggak rela, ya? Ah, tapi lebih baik menikah dengan Mas Farhan dari pada dengan Surya."


Selesai menata hidangan, Azka segera mencuci tangan di wastafel. Saat air mengucur, seseorang mengucapkan salam. Azka tidak mendengarnya sehingga tidak ia jawab.


"Kok nggak jawab salam?"


"Eh, Mas Farhan. Waalaikumsalam. Maaf, lagi cuci tangan jadi nggak dengar salam dari Mas Farhan."


"Bunda di mana?"


"Di kamar, lagi mandi. Mas Farhan sudah beres?"


"Beres apanya?"


"Dokumen yang dibutuhkan untuk daftar. Bukannya Mas Farhan sedang menyiapkan dokumen persyaratan mendaftar ke KUA?"


"Kamu sudah tahu?"


Azka mengangguk. Ia menatap kakaknya dengan tatapan tajam.


"Mas Farhan kenapa nggak kasih tahu aku? Apa aku dianggap orang lain?"


Farhan terkejut mendengar tuduhan adiknya. Ia menghela nafas panjang.


"Bukan begitu. Kamu nggak tahu kalau ini sangat mendadak."


"Kenapa kemarin pagi tidak memberitahuku? Memangnya kapan Mas Farhan memutuskan menikahi Via?"


"Kemarin siang di kafe. Ceritanya, aku sedang di kantor, ayah telepon memintaku makan siang bersama. Kukira beramamu juga. Ternyata hanya bertiga. Saat itulah ayah dan bunda menawari aku menikahi Via. Kamu sendiri tidak di rumah sampai malam."


"Iya, aku kemarin ke rumah Rio."


Azka terdiam sejenak. Setelah beberapa detik, ia memulai pembicaraan lagi.


"Mas, boleh tanya sesuatu?"


"Memangnya mau tanya apa? Tumben pakai izin dulu?"


"Apa Mas Farhan menyukai Via? Apa Mas Farhan ikhlas menikahi Via?"


Farhan menatap adiknya heran. Ia tidak menduga mendapatkan pertanyaan seeprti itu dari Azka.


"Iya, Mas menyukai Dek Via. Tentu saja Mas ikhlas menikahinya. Memangnya kenapa? Sepertinya kamu khawatir aku mempermainkan pernikahan ini?"


"Aku khawatir Mas Farhan menyakiti hati Via kalau tidak ikhlas. Kasihan dia. Begitu banyak masalah berat yang harus ia hadapi di usianya yang masih muda. Aku nggak rela kalau Mas sampai menyakitinya," ujar Azka lirih.


"Kok jadi melo gini? Tenanglah, aku tidak main-main menikahi Via. Insya Allah aku ikhlas."


Azka mengangguk. Ia menatap wajah kakaknya seolah ingin mengecek keseriusan saudara kandung satu-satunya itu.


"Beneran, ya Mas. Jangan sakiti Via! Aku akan bikin perhitungan kalau sampai Mas Farhan menyia-nyiakan gadis itu."


.


"Percayalah. Aku akan berusaha menjaga, melindungi, mengayomi, memimpin istriku. Insya Allah."


Azka menarik nafas lega.


****


Apa yang dibicarakan sebelum pernikahan Via dan Farhan, ya?


Ikuti terus cerita ini, ya! Nantikan episode selanjutnya esok.


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan vote. Terima kasih atas dukungan Kakak semua 🙏

__ADS_1


__ADS_2