SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Mengungkap Masa Lalu


__ADS_3

Usai salat asar berjamaah, Via mengedarkan pandangannya ke bagian belakang rumah yang dulunya milik almarhum Pak Wirawan. Ada beberapa bagian yang diubah. Musala yang baru dibangun itu dulunya gudang barang-barang rusak atau sudah jarang dipakai.


"Bunda, sebenarnya rumah ini sekarang milik siapa?" tanya Via lirih.


"Nanti kamu tanyakan saja di ruangan. Pak Adi atau Pak Candra lebih tahu daripada Bunda, " jawab Bu Aisyah yang berjalan di sampingnya.


Mereka mempercepat langkah agar bisa segera sampai ruangan semula. Yang lain sudah kembali duduk.


"Sini, duduk dekat Kakek!" pinta Pak Adi kepada Via. Ia terlihat begitu bahagia saat menatap cucunya.


Via menurut. Ia mengerti yang tengah dirasakan kakeknya.


"Saya dan Candra akan menceritakan tentang keluarga kami."


Pak Adi menghela nafas panjang. Ada gurat kesedihan tampak di raut wajahnya.


***


Flash back on


"Setahun lagi kau selesai kuliah, Ben. Papi minta, kamu kerja di Wijaya Group. Terserah kamu pilih kantor yang mana. Setidaknya kamu punya pengalaman nantinya saat menggantikan posisi Papi."


Beni Wijaya tersenyum. Ia mengangguk setuju.


"Kau sudah punya rencana mau pilih kantor yang mana?" tanya Pak Adi.


"Yang jelas, Beni maunya yang di Jawa. Bagaimana, Pi?" Beni menatap ayahnya penuh harap.


"Kenapa? Apa kelak kamu ingin tinggal di Jawa?" Pak Adi balas menatap anak sulungnya dengan tajam.


"Papi bisa menebak pikiranku rupanya. Iya, Pi. Beni ingin menetap di Jawa," jawab Beni mantap.


"Apa ada hubungannya dengan perempuan itu?" Nada bicara Pak Adi mulai tinggi. Wajahnya tampak menegang. Ia menatap tajam anak sulungnya.


Beni balas tatapan ayahnya dengan tatapan tak kalah tajam.


"Siapa yang Papi maksud?" Beni bertanya dengan penekanan.


"Siapa lagi kalau bukan perempuan tak jelas asal-usulnya yang bernama Dewi? Kamu pacaran dengan perempuan itu, kan?" tanya Pak Adi sinis. Ia bangkit dari duduknya.


"Jangan mengatakan kalau Dewi perempuan yang tidak jelas asal-usulnya! Dia anak yatim-piatu. Dari mana Papi tahu aku menjalin hubungan dengan gadis itu?" Muka Beni Wijaya ikut tegang.

__ADS_1


"Kau lupa siapa orang tuamu? Aku selalu mengawasi gerak-gerik kalian meski jauh dari rumah. Aku juga cari tahu tentang orang yang ada di dekat kalian. Itu bukan hal yang sulit bagiku," ucap Pak Adi dengan angkuh.


Beni Wijaya ikut bangkit dari tempat duduknya. Ia mendekat ke papinya.


"Pi, aku menyayangi Dewi. Kami berencana menikah setelah aku mapan. Tolong, restui kami," pinta Beni dengan suara lembut.


"Tidak. Cari gadis lain! Papi tidak setuju kau menikah dengan perempuan itu," jawab Pak Adi tegas.


Wajah Beni merah padam. Tangannya mengepal kuat.


"Aku mencintai dia. Dia gadis yang baik. Dia lemah lembut, sabar, dan penyayang. Apa salah dia, sih?"


Pak Adi mendengus kesal. Ingin rasanya ******* gadis yang membuat anaknya tergila-gila.


"Tapi gadis itu tidak jelas siapa orang tuanya. Papi bukan membedakan kaya dan miskin. Tapi, Papi mau menantu Papi dari keluarga yang jelas. Teman-teman Papi banyak yang punya anak perempuan yang cantik juga berpendidikan. Papi akan kenalkan kau dengan mereka. Kau bisa pilih yang kau suka," kata Pak Adi tegas.


"Tapi Beni cuma mau Dewi, Pi. Beni nggak mau dijodohkan dengan anak kolega Papi!" balas Beni tak kalah tegas.


Pak Adi tidak bisa menahan diri lagi. Rahangnya mengeras, mukanya merah padam.


"Kau berani membantah papimu demi gadis itu? Kalau begitu, pergilah bersamanya! Jangan pernah injak kakimu di rumah ini!"


"Baik, Pi. Aku akan pergi dari rumah ini dan tidak akan menginjakkan kakiku di sini lagi begitu aku keluar. Aku akan menemukan kebahagiaan bersama Dewi."


"Kau lebih memilih perempuan itu dibanding orang tuamu? Kamu kenal dia berapa tahun? Kamu diasuh orang tuamu berapa tahun? Begitu caramu memperlakukan keluarga?" bentak Pak Adi.


"Maaf, Pi. Papi sendiri yang memberikan pilihan. Jangan salahkan aku dalam menentukan pilihan!"


Tangan Pak Adi terangkat. Namun, ia segera menurunkan kembali, mengurungkan niatnya menampar Beni.


"Kenapa, Pi? Tampar saja!" tantang Beni Wijaya.


"Papi, Kakak, tolong hentikan! Kenapa Papai dan Kakak ribut begini? Salah satu mengalahlah! Kalau sampai mami tahu, tentu mami sedih," lerai Candra Wijaya yang baru saja masuk.


"Kamu diam saja! Kakakmu ini benar-benar keterlaluan. Sekarang sekali lagi Papi tanya, kamu pilih keluarga atau perempuan itu?"


Beni Wijaya tersenyum sinis.


"Pilihan aku tetap. Aku memilih Dewi. Hari ini juga aku pergi dari rumah ini. Jelas, Pi?"


"Kak, tolong jangan begini! Kakak nggak kasihan sama mami?" bujuk Candra.

__ADS_1


"Sudahlah. Papi memang menginginkan aku pergi. Tolong jaga mami. Kakak pergi."


Saat kaki Beni akan melangkah, terdengar suara Pak Adi menggelegar.


"Tunggu! Kau berani meninggalkan rumah ini berarti harus berani meninggalkan fasilitas yang kuberikan. Kau tidak boleh membawa mobil ataupun motor yang aku belikan. Kau juga tidak lagi boleh menggunakan kartu kredit maupun ATM dariku."


Beni berbalik menghadap ayahnya. Ia mengeluarkan dompet dari saku. Diambilnya kartu yang ada di situ lalu dibanting di atas meja.


"Semua sudah kukembalikan. Bahkan, baju pun tidak kubawa. Baju yang kupakai kebetulan pemberian Dewi."


Setelah mengucapkan kalimat itu, Beni keluar dari rumah megah kediaman Wijaya. Ia tidak menghiraukan panggilan Candra, adiknya.


"Sejak saat itu, Beni Wijaya benar-benar memenuhi janjinya. Ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah keluarga kami. Ia menghilang bak ditelan bumi," kata Pak Adi Wijaya dengan suara parau.


Via mengambil tissue yang ada di meja. Diusapnya air mata di pipi kakeknya.


"Mami sangat terpukul dengan kepergian kakak. Waktu kakak pergi, mami sedang berada di Medan. Begitu pulang dan mengetahui kakak pergi, mami shock. Ia sempat di rawat seminggu di rumah sakit," sambung Pak Candra.


Semua yang hadir masih diam. Tidak satu pun di antara mereka yang berani menyela pembicaraan.


"Sebenarnya, istriku berkali-kali memohon kepadaku agar aku mencari Beni dan memintanya pulang. Aku memberi tahu istriku kalau Beni tidak mungkin mau pulang kalau aku menolak keinginannya menikahi Dewi. Istriku pun memohon agar aku merestui keinginan Beni. Namun, egoku menolak. Jadilah aku membiarkan Beni pergi begitu saja," lanjut Pak Adi.


"Kondisi tersebut membuat mami sedih. Badannya semakin hari makin kurus. Sebenarnya saya diam-diam menyuruh orang mencari tahu keberadaan Kak Beni. Ternyata tidak mudah. Apalagi orang yang saya suruh terbatas jumlah dan kemampuannya," Pak Candra kembali menambahkan.


Pak Adi menghela nafas panjang. Kesedihan terpampang jelas di wajahnya.


"Aku baru menyadari setelah istriku sakit-sakitan. Semakin lama sakitnya makin parah. Akhirnya, tiga tahun lalu istriku dipanggil Yangkuasa." Sampai di sini air mata Pak Adi mengalir dengan deras. Via mengusapnya dengan lembut penuh kasih sayang.


"Sebelum meninggal, istriku meminta aku mencari Beni dan merestui pilihannya, juga memaafkan semua kesalahannya. Ia pun mengatakan sudah memaafkan aku dan Beni. Aku tidak bisa menolak. Aku juga menyadari keegoisanku. Aku ingin berkumpul bersama keluarga di hari tuaku."


Pak Adi kembali berhenti berbicara. Saat itu, terdengar ucapan salam dari luar. Farhan beranjak dari tempat duduknya lalu keluar untuk melihat yang datang.


***


Bersambung


Siapa yang datang, ya? Tunggu jawabannya di episode selanjutnya.


Jangan lupa tinggalkan like dan komen ya!


Makasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2