
"Dek Via, Dek...!" teriak Farhan sambil menyibak kerumunan. Tampak Via telentang tak sadarkan diri. Di dekatnya ada tubuh seorang lelaki yang telungkup.
"Via!" Ratna tidak kalah panik melihat kecelakaan yang terjadi di depan matanya.
"Kita bawa ke rumah sakit," ucap salah satu orang yang ikut berkerumun.
Mereka membalikkan tubuh orang yang mendorong Via.
"Doniii!" teriak Ratna kaget melihat wajah orang yang tadinya tertelungkup.
"Kita bawa ke rumah sakit pakai mobilku. Sebentar, aku bawa ke sini. Mas-mas, tolong bantu angkat ke mobil nanti, ya!" Farhan memohon.
Setelah Via dan Doni dimasukkan ke dalam mobil Farhan, cowok itu segera tancap gas lagi ke rumah sakit.
Sesampai di depan IGD, petugas dengan sigap memindahkan Via dan Doni ke brankar dan dibawa ke ruang periksa.
"Kenapa ini terjadi lagi? Ini seperti pengulangan peristiwa setahun silam," gumam Ratna.
"Aku terlambat. Seandainya tadi tidak terjebak macet, mungkin ini tidak terjadi. Mungkin aku bisa mencegah nya," keluh Farhan.
"Memangnya Mas Farhan sudah tahu ini akan terjadi?"
Farhan mengangguk. Matanya berkaca-kaca.
"Aku tahu rencana ini sekitar satu jam yang lalu. Aku langsung mencari Dek Via, tapi terlambat," kata Farhan.
"Mas Farhan tahu?" Ratna terbelalak.
"Ada orang yang mengirim rekaman pembicaraan orang yang merencanakan ini tadi."
"Jahat sekali orang itu. Jangan-jangan ini masih ada hubungannya dengan teror akhir-akhir ini," ucap Ratna.
"Mungkin saja. Nanti aku dan Azka akan coba cari tahu."
"Untungnya ada Doni. Kalau Doni tidak mendorong Via, mungkin sepeda motor itu menggilas tubuh Via," desis Ratna.
Farhan mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak bundanya.
"Assalamualaikum."
....
"Farhan di rumah sakit. Via sakit, Bun. Ayah masih di rumah sakit?"
....
"Baik, Farhan hubungi ayah agar ke ruang IGD."
....
"Ya, Bun. Assalamualaikum."
....
Baru saja Farhan menutup panggilan, terdengar suara orang memanggilnya.
"Farhan!"
"Ayah!"
"Kamu kok di sini?"
"Nganter Dek Via, tadi ada insiden mirip setahun yang lalu."
"Kamu sudah hubungi bunda?"
"Sudah. Eh, keluarga Doni belum."
__ADS_1
"Doni? Ada apa?" tanya dokter Haris.
"Tadi Doni berusaha menyelamatkan Dek Via. Ia juga jadi korban."
"Biar saya saja. Saya punya kontak kakak Doni," Ratna menyela. Ia segera menelpon.
"Ayah masuk dulu," pamit dokter Haris.
Beberapa menit kemudian, dokter Haris memberi tahu Ratna dan Farhan bahwa kedua pasien akan dipindahkan ke ruang rawat inap.
****
Baru saja Via dipindahkan ke Bangsal Anggrek, seorang perempuan setengah baya datang tergopoh-gopoh.
"Assalamualaikum. Bagaimana keadaan Via? tanyanya panik.
"Waalaikumsalam. Bunda? Masuk, Bun. Alhamdulillah, Dek Via nggak parah. Sudah siuman, kok."
"Syukurlah. Sekarang apa yang kamu rasakan?" tanya Bu Aisyah sambil mendekat ke tempat tidur pasien.
"Via...cuma pusing dan lemes, Bun," jawab Via dengan suara lemah.
"Kata dokter bagaimana? Ayah sudah tahu?" tanya Bu Aisyah kepada Farhan.
"Dek Via cuma shock. Kepalanya pusing karena terbentur trotoar. Yang parah justru Doni," jawab Farhan setengah berbisik.
Bu Aisyah menatap putra sulungnya dengan tatapan penuh tanya. Farhan memberi isyarat kepada bundanya agar sedikit menjauh dari Via.
"Farhan baru sampai kompleks kampus Dek Via, lihat Dek Via jalan cepat karena dipanggil Dek Ratna. Mendadak ada sepeda motor mengarah ke Dek Via. Entah dari mana tiba-tiba Doni muncul mendorong tubuh Dek Via hingga jatuh. Doni sendiri justru yang tertabrak motor itu."
"Pengemudinya tertangkap, Han?"
"Enggak, Bun. Dia berhasil lolos. Kami juga fokus kepada korban."
"Masya Allah, peristiwa setahun silam terulang kembali. Apa pelakunya sama?"
"Maksud kamu apa, Han?"
"Nanti saja, Bun, Farhan ceritakan. Cukup panjang."
"O ya, kondisi Doni bagaimana? Di mana dia?"
"Doni ada di kamar sebelah. Orang tuanya belum datang. Sekarang Dek Ratna yang menunggui."
"Bunda ke sebelah dulu, ya. Bunda ingin menengok Doni dulu."
Bu Aisyah melangkah keluar kamar. Ia lalu mengetuk pintu kamar perawatan di sebelah kamar Via.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Eh, Bu Aisyah. Silakan masuk, Bu," ucap Ratna.
"Bagaimana kondisi Doni?"
"Dia baru dipindahkan dari IGD."
"Orang tuanya sudah dihubungi?"
"Sudah. Sekarang sedang dalam perjalanan ke sini."
Bu Aisyah memposisikan diri di dekat kepala Doni. Ia memperhatikan kondisi mantan siswanya.
"Don, kamu bisa dengar suara Ibu? Ini Bu Aisyah," ucap Bu Aisyah lirih.
Doni hanya mengangguk. Matanya masih tetap terpejam.
"Terima kasih, Don. Kamu telah menyelamatkan Via."
__ADS_1
Bibir Doni yang pucat ditarik membentuk senyuman tipis.
"Assalamualaikum," seorang pria mengenakan jas putih memberi salam.
"Waalaikumsalam, Pak. Silakan masuk," jawab Ratna.
Ternyata dokter Haris yang datang. Pria itu melangkah masuk mendekat ke tempat tidur Doni lalu memeriksa sebentar.
"Masih pusing, Nak?" tanya dokter Haris.
Doni hanya mengangguk.
"Oke, jangan paksa untuk bicara dulu. Nanti dokter spesialis ortopedi akan memeriksa. Kamu istirahat, ya."
Bu Aisyah menatap suaminya penuh tanya. Pak Haris mengangguk dan memberi kode agar istrinya keluar.
"Bagaimana hasil pemeriksaan Doni? Patah?" bisik Bu Aisyah.
"Dugaanku tulang kering kiri patah. Seberapa parah, dokter ortopedi nanti yang akan memastikan. Kemungkinan harus dioperasi untuk pemasangan pen. Sementara, jangan beri tahu Doni. Tunggu kondisi Doni stabil dulu."
Bu Aisyah menghela nafas panjang lalu menghembuskan dengan cepat. Pak Haris menyadari hal itu tersenyum lembut lalu menepuk bahu istrinya.
"Bunda sabar, ya. Ini ujian. Bunda harus bisa menguatkan anak-anak."
"Iya," jawab Bu Aisyah lirih.
Mereka pun kembali ke dalam kamar perawatan Doni.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk. Seorang perempuan seusia Bu Aisyah berdiri di depan pintu.
"Mamanya Doni, silakan masuk," ujar Bu Aisyah.
"Ini benar Doni di sini?" tanya wanita itu ragu.
"Iya, Bu."
"Doni? Ya Allah, kenapa ini? Apa yang terjadi, Bu?"
"Sabar, Bu. Ada motor yang melaju kencang akan menabrak Via. Tiba-tiba Doni di situ, mendorong Via. Dia terserempet motor itu," kata Bu Aisyah.
Mama Doni terisak. Ia tampak begitu khawatir dengan kondisi anaknya.
"Ibu tenang, ya. Kalau Ibu panik, justru kondisi Doni sulit untuk stabil. Sebentar lagi dokter ortopedi datang untuk memeriksa. Beliau saat ini sedang ada jadwal operasi," dokter Haris menambahkan.
Mama Doni mengangguk. Ia mengatur nafasnya agar bisa tenang.
Sepuluh menit kemudian, dokter ortopedi datang memeriksa. Dengan cermat ia mengamati hasil rontgen.
"Bagaimana, Dok?" tanya mama Doni cemas.
"Tulang kering kaki kiri patah. Perlu tindakan operasi untuk pemasangan pen."
"Apa Doni akan cacat? Apa dia harus pakai kursi roda?"
"Setelah operasi, iya. Paling sebentar. Setelah itu, ia bisa pakai kruk untuk membantunya berjalan."
"Apa bisa sembuh seperti semula, Dok?"
"Insya Allah bisa. Mungkin 2-4 bulan, Bu. Putra Ibu masih muda, proses penyembuhan lebih cepat dibandingkan orang dewasa."
Mama Doni tampak sedikit lega. Ia menatap lekat wajah putra bungsunya itu.
***
**Bersambung
Terima kasih kepada readers yang setia. Jangan lupa berikan like dan bintang 5, ya!
__ADS_1
Nantikan chapter berikutnya besok**. 😘😘