
Hari masih belum terlalu terang. Setelah jamaah subuh keluarga Pak Haris berjalan-jalan keliling kompleks. Ini adalah kegiatan rutin. Biasanya, mereka hanya bertiga. Kali ini mereka berlima karena ada Via dan Farhan.
“Bunda mau mampir ke pasar?” tanya Pak Haris.
“Iya, seperti biasa. Ada yang mau pesan sesuatu?”
“Getuk, Bun,” pinta Azka.
“Ayah dan Farhan pesan apa?”
“Ayah pengin cenil.”
“Cenil? Itu kan kayak lem, Yah,” ujar Azka.
“Tapi kan enak. Kenyal, manis, gurih.”
“Iya, nanti kalau ada Bunda beikan. Farhan?”
“Getuk sama cenil.”
“Wah, serakah namanya,” protes Azka.
“Biarin. Bunda aja gak protes, kok kamu protes. Weeek…”
“Jelek, ihh.”
Via hanya tersenyum melihat kelakuan Farhan dan Azka. Kalau seperti ini, Farhan terlihat normal di mata Via.
“Eh, Via kok nggak ditawari?” tanya Pak Haris.
“Via kan ikut Bunda masuk pasar. Biar saja dia pilih sendiri yang ia sukai,” terang Bu Aisyah.
“Oh, ambil yang banyak, ya Vi,” bisik Azka.
“Kenapa nyuruh aku?” tanya Via heran.
“Ah, kamu nggak peka. Kenapa malah nanya? Keras lagi,” gerutu Azka.
Via menatap Azka penuh keheranan. Ia tidak mengerti maksud Azka.
Pak Haris melihat kebingungan Via menjadi geli lalu menjelaskan,"Dia tuh modus, Vi. Maunya dia nggak minta tapi ada banyak yang bisa dimakan. Maunya, kamu pilih banyak makanan buat dia."
Via terkekeh. Ia geleng-geleng kepala.
"Kalau yang Via pilih ternyata nggak disukai Mas Azka, gimana? Kan bisa mubazir."
"Ah, Azka sih kayak gentong. Apa-apa masuk," goda Pak Haris.
"Ih, Ayah jahat. Jangan terlalu jujur, dong!" protes Azka.
Akhirnya mereka tertawa bersama. Sampai pasar, Bu Aisyah menarik tangan Via agar ikut menemani belanja.
Setengah jam kemudian, kedua tangan Bu Aisyah dan Via menenteng tas besar berisi barang belanjaan. Mereka tampak kerepotan.
"Kita naik becak saja, ya."
"Nggak minta dijemput Mas Azka, Bun?"
"Enggak usah. Kan tidak terlalu jauh. Hitung-hitung rekreasi sekaligus menjadi perantara jalan rizki bagi tukang becak."
__ADS_1
Bu Aisyah mendekati salah satu tukang becak yang tengah duduk menunggu penumpang. Usianya sekitar 60 tahun.
"Pak, ke Jalan Melati ongkosnya berapa?"
"Dua puluh lima ribu, Bu."
"Antarkan ke sana, ya."
"Baik, Bu. Silakan Ibu dan mbaknya naik dulu. Biar belanjaannya saya naikkan nanti."
Setelah Bu Aisyah dan Via duduk dengan nyaman, tukang becak itu menata barang belanjaan di lantai becak. Perlahan becak melaju mengikuti irama kayuhan si tukang becak. Dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai. Tukang becak itu berlari kecil ke depan untuk menurunkan barang belanjaan.
"Mari singgah dulu, Pak. Bapak sudah sarapan?"
"Terima kasih, Bu. Tidak perlu repot-repot."
"Nggak repot, kok. Setidaknya makan makanan pengganjal perut dulu. Bapak pagi-pagi buta sudah di pasar. Apa istri sudah selesai memasak?"
"Belum, Bu."
"Makanya, ayolah mampir sebentar."
Akhirnya, tukang becak itu menuruti kata-kata Bu Aisyah. Namun, ia tidak mau masuk, memilih duduk di teras. Bu Aisyah mengalah.
"Vi, buatkan kopi buat bapak ini."
Sementara Via membuat kopi, Bu Aisyah menyiapkan getuk dan pisang goreng.
Saat Bu Aisyah dan Pak Haris berbincang dengan tukang becak, Via kembali ke dapur. Ia menata sayuran dan buah yang baru dibeli di kulkas.
"Viaaa!" terdengar panggilan yang tak asing di telinga Via.
"Kamu waktu itu bilang mau badminton hari Minggu. Ayo!"
"Iya, bentar. Via beresin belanja bunda dulu."
"Ya udah, aku bantu."
Azka berjongkok membantu Via. Tidak lebih dari 5 menit pekerjaan mereka beres. Via mengekor Azka ke lapangan badminton di samping rumah.
"Raketnya?"
"Nih, udah aku siapin."
Mereka pun mulai bertanding. Meski perempuan, Via bisa mengimbangi permainan Azka. Smash silangnya sering mematikan langkah Azka.
"Huff, kamu tangguh ternyata," kata Azka dengan nafas ngos-ngosan.
"Ah, Mas Azka terlalu memuji. Jelas-jelas Mas Azka yang menang."
"Tapi susah banget dapat poin. Besok aku usulkan kamu mewakili RT ini pas lomba 17-an."
Spontan Via tertawa. Ia merasa lucu karena belum pernah mengikuti perlombaan saat perayaan HUT RI.
"Bersama Mas Azka rasanya nyaman, aku bisa tertawa lepas," gumam Via dalam hati.
"Brek dulu, Mas. Aku mau masuk dulu, ambil minum."
Ketika Via masuk, dilihatnya tukang becak sedang berpamitan. Karena tertarik dengan perlakuan Bu Aisyah, Via keluar.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak, Bu. Saya pamit narik lagi."
"Sebentar, ini ongkos tadi," kata Bu Aisyah sambil memberikan lembaran uang berwarna merah.
"Uang pas saja, Bu. Saya nggak bawa receh dan baru narik."
"Ambil saja kembaliannya."
"Tapi ini kebanyakan, Bu."
"Nggak apa-apa, jangan sungkan! Saya ikhlas, kok."
"Alhamdulillah. Wah, terima kasih banyak. Saya sudah dikasih sarapan, dikasih uang lebih. Terima kasih, Bu, Pak. Semoga rejeki keluarga Bapak Ibu tambah banyak."
"Aamiin," kata Pak Haris dan Bu Aisyah bersama.
"Mari, saya permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Via tertegun menyaksikan perlakuan orang tua angkatnya. Ia tidak mengira Bu Aisyah sebaik itu kepada tukang becak yang tidak dikenalnya.
"Via? Sudah lama di depan pintu? Bisa bantu Bunda membereskan ini?" tegur Bu Aisyah.
Via tersentak kaget. Lamunannya berantakan seketika.
"Iya, Bun."
"Kamu habis main badminton?" tanya Pak Haris.
"Iya, sama Mas Azka."
"Pantas, keringat bercucuran gitu."
Via tertawa kecil. Ia segera menyelesaikan tugasnya, membawa gelas dan piring kotor ke dapur.
"Bun, boleh nanya? tanya Via sambil mencuci piring.
"Kenapa Bunda melebihkan ongkos becak tadi? Bunda beneran nggak ada uang receh?"
"Uang segitu tidak terlalu berarti bagi kita tetapi sangat berarti bagi orang lain. Apalagi tukang becak tadi orangnya Bunda nilai jujur dan bertanggung jawab. Dia tadi bercerita kalau tinggal di rumah tinggal berdua dengan istrinya yang sering sakit. Sementara ketiga anaknya merantau dan jarang pulang. Kasihan, kan? Kalau Bunda ngasih uang langsung, itu bisa mencederai harga dirinya."
Via terdiam sejenak. Ia tidak mengira bundanya sampai berpikir menolong orang tanpa merendahkan martabatnya.
"Itu juga Bunda lakuin kepada pedagang sayur? Via nggak pernah lihat Bunda nawar dagangan mereka. Biasanya nih, yang Via tahu, ibu-ibu kan telaten nawar. Prinsip ekonomi diterapkan dengan sungguh-sungguh."
Bu Aisyah tersenyum lembut.
"Mereka pedagang kecil. Keuntungan mereka tak banyak. Untuk seikat kangkung paling mereka ambil untungnya Rp 500,00 maksimal Rp 1.000,00. Sehari berapa ikat yang laku? Berapa penghasilan mereka? Di supermarket yang harganya lebih mahal saja ikhlas tidak nawar, kenapa dengan pedagang kecil malah lebih perhitungan? Kadang demi gengsi orang melupakan kemanusiaan."
"Maksud Bunda?"
"Orang sering belanja di supermarket tanpa berpikir harga mahal. Giliran belanja di pasar tradisional, mereka dengan gigih menawar. Padahal, tanpa ditawar pun harga di pasar tradisional lebih murah. Mungkin mereka tidak pernah berpikir penghasilan pedagang di pasar tradisional."
Penjelasan panjang lebar dari Bu Aisyah membuat Via terhenyak. Betapa rendahnya kepeduliannya juga keluarganya dulu. Dia harus banyak belajar dari keluarga barunya.
***
Maaf ada ceramahnya. Semoga bermanfaat 🙏🙏🙏
__ADS_1
lanjut besok 🙂