SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Di Balik Mapati


__ADS_3

Matahari masih tampak malu-malu di ufuk timur. Dedaunan pun masih bermandikan embun. Kesibukan sudah terlihat di rumah yang paling besar dibandingkan rumah di sekiratnya.


Sebuah mobil pick up memasuki halaman rumah tersebut. Setelah berhenti, beberapa pria menurunkan barang-barang yang ada di bak mobil. Kemudian, mereka dengan cekatan memasang tenda di halaman yang cukup luas itu.


Belum lagi tenda selesai dipasang, giliran taksi yang berhenti di depan gerbang. Tiga orang gadis turun. Dengan langkah cepat mereka memasuki halaman rumah.


“Mbak Mira, Salsa, Ratna, Alhamdulillah kalian sudah datang. Yuk, ke dalam!” pekik Via gembira melihat kedatangan tiga orang sahabatnya.


Sambil berjalan, Mira dan Salsa mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Mereka tampak mengagumi rumah Via.


“Sini, duduk! Mau minum apa?” Via memberi tawaran.


“Kami bukan tamu. Kami ke sini pagi-pagi ingin bantu-bantu,” ucap Mira.


“Ya, kan baru datang .…”


“Udah, ah. Kita ke dapur, yuk! Pasti Mbok Marsih dan Bu Inah lagi sibuk,” tukas Ratna memotong ucapan Via.


Tanpa memedulikan Via, Ratna beranjak ke dapur. Langkah Ratna diikuti Mira dan Salsa. Sementara, Via hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


Memang benar, di dapur Mbok Marsih dan Bu Inah sedang sibuk membuat ketupat. Mereka dibantu beberapa tetangga.


“Bikin ketupat buat apa, Bu? Mau bikin ketupat sayur?” tanya Salsa.


“Buat kenduri, Non. Ini kan acara mapati, atau ngapati, disebut juga ngupati karena pasti ada ketupat,” papar salah satu tetangga Via.


“Non ini teman Mbak Via, ya?” tanya ibu tersebut.


“Iya. Saya Salsa, yang pakai baju biru itu Mbak Mira, kalau yang pakai gamis marun namanya Mbak Ratna,” kata Salsa menjelaskan.


Beberapa saat kemudian, Via datang ke dapur. Ia tidak sendirian. Seorang perempuan setengah baya bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Bu Aisyah. Bunda angkat sekaligus mertua Via itu menyapa semua orang lalu duduk bersama mereka.


Para wanita pun larut dalam kesibukan mempersiapkan hidangan untuk acara. Via sendiri tidak diperbolehkan membantu. Suami protektifnya sudah memberikan larangan keras. Farhan juga sudah berpesan kepada para ART agar mengingatkan Via untuk tidak ikut bekerja.


Karena tidak ada yang bisa dilakukan di dapur, Via kembali ke halaman. Ia mencari Farhan.


“Hubbiy, sini sebentar!” Via menarik tangan Farhan yang tengah memperhatikan orang memasang tenda.


“Ada apa?” tanya Farhan sambil duduk di kursi teras.


“Nanti jadi, kan?” Via malah balik bertanya.


“Jadi apanya?” Farhan bingung.

__ADS_1


“Soal Mas Rio. Hubbiy nanti bilang soal pekerjaan untuk Mas Rio,” ucap Via.


“Oh, soal itu. Iya, nanti Mas sampaikan ke Rio. Ada beberapa alternatif, kok,” kata Farhan. “Ingat, Cinta nggak usah bantu-bantu apalagi angkat yang berat-berat.”


“Iya, iya. Via masih ingat.”


Setelah salat zuhur, orang-orang mulai berdatangan. Mereka mengarahkan pandangan ke gerbang tatkala ada mini bus berhenti di sana.


Puluhan anak turun dari bus. Mereka berusia sekitar 5 sampai dengan 15 tahun. Bu Aminah dan Rio ada di antara anak-anak itu. Mereka masing-masing menggendong seorang balita.


Pukul 13.30 acara dimulai. Orang-orang yang duduk di halaman rumah itu tampak mengikuti acara dengan khikmat. Anak-anak yang duduk di teras pun tidak ada yang rewel. Pengajian siang itu pun berjalan lancar.


Setelah para tetangga pulang, Via membagikan bingkisan kepada anak-anak yatim. Tentu saja ia dibantu ketiga sahabatnya.


Saat Via sibuk membagi bingkisan, Farhan mengajak Rio berbincang di ruang tamu.


“Rio, aku sudah dengar cerita tentang kamu dari Dek Via. Sekarang kamu tinggal di panti dan belum dapat pekerjaan. Benar begitu?” Farhan meminta penjelasan dari Rio.


“Benar, Mas. Sekarang kan tidak mudah mencari pekerjaan,” jawab Rio sambil menunduk.


“Iya, aku tahu. Aku punya tawaran untukmu. Bagaimana kalau kamu bekerja di perkebunan? Ya, sesuai latar belakang pendidikan kamu. Nanti di sana kamu bersama Azka. Kalian kan teman dekat.”


“Di Medan, Mas?” tanya Rio.


“Iya. Itu milik kakek Dek Via. Aku sudah bicara dengan Azka dan juga om-nya istriku.” Farhan menjelaskan.


“Memang kenapa?” tanya Farhan.


“Saya belum siap kalau harus mendengar cacian dari mereka,” jawab Rio sambil menunduk.


Farhan terhenyak. Ia teringat cerita Via tentang Lia, adik angkat Rio. Pria itu mengangguk-angguk tanda bisa memahami alasan penolakan Rio.


“Kalau di Wijaya Kusuma atau Kencana, mau nggak? Tapi, di sana tidak ada yang sesuai dengan latar belakang pendidikanmu,” kata Farhan.


“Apa pun itu, saya tidak masalah. Bagi saya yang penting halal dan saya mampu. Saya juga pernah bekerja di percetakan, jelas-jelas tidak sesuai dengan ijazah saya. Jadi OB juga mau, Mas,” ucap Rio dengaan mata berbinar penuh harapan.


“Saya belum bisa memastikan kamu ditempatkan di mana. Begini saja, besok saya cek lagi yang kosong. Kamu hubungi aku sekitar jam 11. Ini kartu namaku,” ucap Farhan sembari menyerahkan kartu kecil yang baru ia ambil dari dompet.


“Iya, Mas. Insya Allah besok saya hubungi Mas Farhan. Terima kasih telah peduli terhadap saya,” kata Rio dengan mata berkaca-kaca.


Beberapa saat kemudian, Via masuk ruang tamu. Ia tampak lega melihat raut wajah Rio yang cerah.


“Mas Rio, ini untuk Mas. Semua anak sudah mendapat bingkisan, kok. Bu Aminah juga,” kata Via sambil menyerahkan paper bag kecil.

__ADS_1


Rio menerima dengan ragu. Ia menatap Farhan dan Via bergantian. Ia sudah bisa menebak isi paper bag itu. Namun, ia tetap membuka dan mengambil kotak kecil di dalamnya. Sesuai dugaannya. Hanya, ia tidak mengira kalau diberi tipe yang cukup mahal.


“Mas, ini kan mahal? Sa—saya tidak pantas menerimanya,” ujar Rio.


“Terimalah. Kamu bisa menggunakannya untuk menghubungiku besok. Kamu juga bisa menggunakannya untuk menelepon Azka nanti. Di situ sudah ada kartu perdana juga,” kata Farhan ramah.


Rio tak kuasa menahan haru. Ia memeluk Farhan dengan erat.


Setelah beramah-tamah sebentar dengan keluarga Via, Bu Aminah berpamitan. Rio kembali mengucapkan terima kasih berkali-kali kepada Farhan dan Via sebelum masuk mini bus yang Farhan sewa untuk antar-jemput anak-anak panti.


Rumah Via sedikit lengang kembali. Farhan yang akan masuk ke rumah tertahan oleh Edi yang berdiri di depannya dengan wajah penuh harap.


“Ada apa, Mas?” tanya Farhan.


“Bisa bicara dengan Mas Farhan berdua?” pinta Edi.


Farhan mengajak Edi duduk di kursi dekat mimbar. Wajah Edi tampak sedikit tegang.


“Maaf sebelumnya, Mas Farhan. Saya ingin minta bantuan Mas Farhan,” ucap Edi pelan.


“Kalau memang saya bisa, insya Allah saya akan bantu. Soal apa, Mas?”


“Eh, anu…begini. Kalau saya berencana menikah, bagaimana?” tanya Edi gugup.


“Itu niat yang bagus, Mas. Siapa calonnya?” bisik Farhan.


“Eh, itu Mas. Saya baru punya pandangan, tapi dia mau apa enggak, saya tidak tahu,” jawab Edi sambil menunduk.


“Siapa? Mira?” tanya Farhan lagi.


Edi tampak kaget. Kemudian, ia mengangguk dengan wajah tersipu. Tidak lagi tampak ketegasan apalagi kegarangan yang biasa orang lihat dari sosok Edi.


Farhan tersenyum melihat asisten pribadi yang sudah dianggap saudara itu. Ia tampak lega.


“Insya Allah saya dan Dek Via akan membantu. Harapan kami, kalau Mira mau, kalian segera saja menikah,” kata Farhan.


“Iya, Mas,” sahut Edi lega.


Mereka kembali beraktivitas. Edi membantu membersihkan halaman yang akan digunakan untuk acara kenduri malam harinya.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar!


Terima kasih 🙏


__ADS_2