SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Persiapan Resepsi


__ADS_3

Meski Farhan mengatakan bahwa keperluan pernikahan diserahkan kepada bundanya, tetap saja ada hal yang harus Farhan dan Via lakukan. Mereka harus memilih konsep pernikahan, desain undangan, dan fitting baju. Memang, semua itu bisa dilakukan tanpa pergi, cukup chatt. Kecuali fitting baju pengantin.


Sehari sebelum Via ujian semester, Bu Aisyah mengajak Via pergi ke butik. Kali ini mereka memilih model gaun pengantin. Tidak seperti waktu ijab, hanya membeli yang sudah ada.


Bu Aisyah tampak semangat memilih dua gaun pengantin. Sementara Via lebih banyak diam, menyetujui pilihan bundanya.


"Ini yang mau jadi ratu sehari sebetulnya siapa, sih? Bunda atau Dek Via?" ledek Farhan.


"Diam saja kamu! Bunda bahagia sekali akan mengumumkan pernikahan kalian. Berarti, setelah ini kalian bisa hidup bersama layaknya suami istri yang normal," kata Bu Aisyah.


Farhan dan Via tersenyum melihat semangat bundanya.


"Bun, memang kami nggak normal?" tanya Farhan.


"Enggak. Mana ada suami istri normal tinggal terpisah padahal satu kota. Ketemu juga jarang. Apalagi ...."


"Apalagi apa, Bun?" ganti Via yang bertanya.


"Ah, besok juga kalian akan merasakan. Yang jelas, Bunda bisa berharap punya cucu."


Pipi Via mendadak memerah. Sementara Farhan hanya senyum-senyum sambil sesekali melirik istrinya.


Selesai urusan baju, mereka bertiga memutuskan untuk makan siang sambil membicarakan rencana resepsi pernikahan.


"Rencananya resepsi pernikahan kalian diadakan Sabtu siang dan malam Minggu. Via sudah selesai ujian, kan?"


"Via selesai Jumat pagi, Bun," jawab Via.


"Nggak apa-apa, kan, istirahat cuma semalam? Habis resepsi silakan dipuas-puasin deh. Atau kalian mau bulan madu? Mumpung liburan juga. Farhan bisa ambil cuti, kan?" ujar Bu Aisyah.


"Farhan bisa ambil cuti seminggu. Lima hari ke depan Farhan selesaikan semua pekerjaan biar nggak numpuk waktu Farhan masuk. Untuk bulan madu, terserah Dek Via, mau apa enggak," jawab Farhan.


"Kok terserah Via?" protes Via.


"Sudah, ini ada bonus dari WO, paket honeymoon ke Bali 5 hari atau ke Raja Ampat 3 hari. Mau ambil yang mana?" Bu Aisyah menengahi dengan pilihan.


"Farhan pilih yang 5 hari. Masa honeymoon cuma 3 hari."


"Nah, akhirnya dia bikin keputusan. Gini, dong! Jangan terserah aku! Yang jadi anak kandung bunda siapa? Aku kan sungkan kalau minta," batin Via.


"Via bagaimana?" tanya Bu Aisyah.


"Via ngikut saja. Emm, soal waktu resepsi, kok lama amat?"


"Maksud kamu mau dimajukan? Jumat siang?" Bu Aisyah mengklarifikasi.


"Bukan begitu maksud Via. Tapi kok mulai Sabtu siang, masih dilanjutkan malam." Via merasa agak keberatan. Ia membayangkan harus berdiri berjam-jam di pelaminan, bersalaman dengan para tamu.


"Kan tamunya banyak. Coba, temanmu berapa? Tentu kamu akan mengundang teman sekolah dan teman kuliah. Teman Farhan, teman ayah bunda, juga eyang. Belum lagi relasi bisnis," kata Bu Aisyah.


Via melongo. Ia tidak pernah membayangkan akan ada resepsi pernikahan besar-besaran.


"Berarti resepsi pernikahan kami besar-besaran, Bun?" tanya Via.


"Relatif. Percayakan sama Bunda, deh. Kamu tinggal buat daftar teman-teman yang akan kamu undang. Bisa, kan? Kalau berat, minta bantuan Ratna!"


Via menatap Farhan penuh makna. Farhan yang paham arti tatapan Via mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kenapa?" Bu Aisyah bertanya keheranan. Ia sempat melihat tatapan Via yang dibalas anggukan oleh Farhan.


"Itu, Bun, Via kan belum cerita ke siapa pun tentang pernikahan kami. Farhan juga melarang. Bunda kan tahu sendiri kondisi kemarin. Situasi memang belum memungkinkan. Apalagi salah satu orang yang memusuhi almarhum papa kan om-nya Ratna. Tentu saja pernikahan kami dirahasiakan."


"Oh, itu. Ya, nanti kamu cerita sama Ratna kalau kalian sudah menikah, Vi. Kamu harus menjelaskan alasan merahasiakan pernikahan kalian agar Ratna tidak salah paham."


"Iya, Bun," jawab Via. Ia sudah mulai merancang apa yang akan ia katakan kepada Ratna dan Mira.


Selesai menikmati makan siang dan membicarakan rencana resepsi pernikahan, Farhan mengantarkan Via ke ruko. Setelah itu, barulah ia dan Bu Aisyah pulang.


Saat Via masuk, ruko sedang sepi. Hari itu memang tutup karena Via dan Ratna akan menghadapi ujian semester.


"Alhamdulillah, kamu belajar juga," ucap Via melihat Ratna sedang membaca buku.


"Iyalah. Secuek-cueknya aku, masih mikir masa depan. Masa aku sia-siakan waktu begitu saja? Aku nggak mau kuliahku sia-sia. Bayarnya pakai duit, jutaan," kata Ratna.


"Yang bilang pakai daun juga gak ada. Eh, Mbak Mira ke mana?"


"Lagi di kamar mandi tadi. Kamu diajak ke mana tadi? Shopping ya?"


"Kepo! Nih, lauk sama sayur. Udah makan belum?"


"Udah, tadi. Buat nanti sore saja tuh. Berarti tadi habis makan-makan, ya?" Ratna membuka bungkusan yang Via letakkan di meja.


"Iya. Sini, aku taruh di meja makan. Ni camilan buat nemenin belajar," ujar Via sambil meraih bungkusan lauk.


Ia memindahkan ke meja makan, lalu mencuci tangan. Saat kembali ke sofa, Mira sudah duduk di samping Ratna.


"Ratna, Mbak Mira, aku bisa minta waktu bentar? Aku mau ngomong sesuatu," kata Via berhati-hati.


"Idiiih, ngomongnya kok gitu? Serius amat?" cibir Ratna.


Via terdiam sesaat. Ia menatap wajah Ratna dan Mira bergantian.


"Iya, Mbak. Penting dan mungkin akan membuat kalian kaget atau marah."


"Ayolah, jangan berbelit-belit gitu!" pinta Ratna tak sabar.


"Begini. Tentunya kalian tahu tentang perusahaan almarhum papaku. Terutama Ratna. Setelah kepergian mama, perusahaan terpuruk. Puncaknya, papa meninggal dan rumahku disita. Setelah itu, Pak Arman berusaha memutar roda perusahaan dengan susah payah. Tinggal satu yang bisa dipertahankan."


Via berhenti sejenak. Air matanya mulai menggenang. Ia mengambil nafas panjang untuk mengurangi sesak di dadanya.


"Usaha Pak Arman tidak sia-sia. Perusahaan itu perlahan bangkit, meski belum sebesar saat papa masih ada."


Via berhenti lagi. Ia mengambil tissue untuk menyusut air matanya.


"Kira-kira setahun yang lalu, ada seseorang yang menawari modal. Tentu ini kesempatan emas. Orang itu minta bertemu pemegang saham mayoritas alias papa. Aku sebagai ahli waris tunggal tidak bisa mewakili papa sebelum usiaku 20 tahun atau menikah. Tidak mungkin aku mengganti umurku. Jadi, kalau tidak ingin melewatkan peluang emas itu, aku harus menikah. Pak Arman dan Pak Andi, pengacara papa yang mengenal orang itu, tidak memaksa aku menikah. Tapi, aku ingin perusahaan papa bangkit."


"Dan kamu menikah diam-diam untuk mendapatkan legalitas kepemilikan saham mayoritas?" sela Ratna.


Via mengangguk. Ia kembali menyeka air mata yang membasahi pipi.


"Setelah salat istikharah, aku memutuskan untuk menikah. Meski pernikahan itu dadakan dan dilatarbelakangi niat menyelamatkan perusahaan almarhum papa, aku tidak berniat mempermainkan pernikahan."


"Maksud Dek Via?" Mira ganti menyela.


"Kalau semata-mata untuk memenuhi syarat legalitas kepemilikan saham, setelah perjanjian dengan orang itu ditandatangani, aku akan bercerai. Itu yang namanya mempermainkan pernikahan. Aku berniat serius. Demikian juga orang yang kemudian menjadi suamiku."

__ADS_1


Ratna dan Mira saling tatap. Mereka tidak mengira Via menghadapi masalah yang cukup rumit.


"Kenapa kamu nggak pernah menceritakan soal itu kepada kami? Apa kamu tidak mempercayai kami?" tanya Ratna disertai tatapan tajam.


Via mengambil nafas panjang. Ia balas menatap Ratna dengan tatapan lembut.


"Maafkan aku. Ini memang kesepakatan kami, demi kelancaran dan keselamatan. Semakin banyak orang tahu tentang pernikahan kami, semakin besar ancaman terhadap aku maupun perusahaan. Bisa-bisa musuh-musuh almarhum papa bertindak agresif karena posisinya terancam."


Ratna dan Mira kembali saling pandang. Keripik tempe yang Via beli masih utuh. Mereka tengah serius mendengarkan penjelasan Via.


"Itulah mengapa aku merahasiakan pernikahanku. Aku minta maaf," ucap Via sambil menatap penuh harap.


"Tak ada yang perlu dimaafkan. Kondisi memang mengharuskan Dek Via seperti itu," ujar Mira bijak.


"Lalu, kenapa sekarang kamu berani menceritakan kepada kami? Apa situasi sudah aman?" tanya Ratna.


"Alhamdulillah, masalah sudah teratasi. Diawali penangkapan... maaf Rat, penangkapan Om Beno."


"Nggak apa-apa. Om Beno memang bersalah, kok."


Raut muka Mira mendadak mendung. Ia teringat peristiwa penculikan dirinya.


"Mbak Mira nggak usah mengingat kejadian itu, ya," ucap Via lembut. Dipegangnya tangan Mira untuk memberi ketenangan. Mira mengangguk.


"Lalu siapa orang yang menikahimu?" lanjut Ratna.


Via tidak langsung menjawab. Ia kembali menatap Ratna dan Mira satu per satu.


"Dia...Mas Farhan," jawab Via lirih.


"Mas Farhan?!" teriak Ratna dan Mira spontan karena kaget.


Via mengangguk. Sementara Mira berubah canggung. Wajahnya memerah.


"A---pa Dek Via... pernah bilang...." Mira ragu-ragu.


"Kalau Mbak Mira menyukai Mas Farhan? Tentu saja tidak. Aku sudah berjanji merahasiakan hal itu. Insya Allah aku pegang janjiku," sahut Via.


Mira tampak lega.


"Lalu, apa kamu akan tetap merahasiakan pernikahan kalian?" tanya Ratna.


Via menggeleng lalu menjawab,"Kami akan mengadakan resepsi untuk mengumumkan pernikahan kami."


"Kami diundang nggak?" tanya Ratna dan Mira serempak.


"Tentu saja," jawab Via mantap."Aku juga minta bantuan kalian, ya!"


"Siap! Apa sih yang enggak buat kamu?" Ratna tersenyum lebar. Ia memeluk erat Via, meluapkan bahagianya.


***


Bersambung


Meski sedang sakit, tetap berusaha untuk terus menulis. Eh, malah lumayan panjang, kan?


Masa tega cuma read? 🤭

__ADS_1


Tetap dukung author ya 🙏 Makasih readers tersayang 😘😘😘


__ADS_2