SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Curhat (2)


__ADS_3

Sesampai ruko, Ahza dan Edi hanya berpamitan sebentar. Mereka segera melajukan kendaraan masing-masing menuju rumah.


Bu Aisyah baru saja selesai menyiapkan makan siang saat Azka masuk. Ia agak heran melihat raut wajah putra bungsunya yang berseri-seri bak lampu merkuri.


“Ini ada apa? Kok kayaknya senang gitu kayak habis menang lotre?” tanya Bu Aisyah.


“Memang Bunda pernah ikut undian gitu, terus menang?” Azka balik bertanya.


“Ya enggak, sih. Paling arisan. Kalau dapat juga bahagia,” jawab Bu Aisyah.


“Nanti, deh Azka ngomong sama Bunda. Azka mau ke masjid dulu. Ayah ke mana, Bun?” tanya Azka.


“Dua jam yang lalu ke rumah sakit. Tadi ditelepon, ada kondisi darurat. Bunda nggak tanya kondisi darurat apa yang dimaksud. Ya sudah, sana berangkat! Nanti cerita ke Bunda habis makan siang,” kata Bu Aisyah.


Azka menuruti kata-kata bundanya. Ia ganti baju, lalu bergegas ke masjid karena azan sudah berkumandang. Sementara Bu Aisyah juga menuju musala keluarga untuk salat munfarid.


Siang itu, Bu Aisyah menikmati makan siang hanya bersama Azka karena dokter Haris belum pulang. Di samping sudah mengetahui suaminya tidak akan makan siang di rumah, Bu Aisyah juga ingin mendengarkan cerita puteranya. Itu sebabnya begitu Azka pulang, wanita itu segera menariknya ke ruang makan.


“Ada apa sebenarnya? Kelihatannya penting?” tanya Bu Aisyah seusai meneguk air putih.


“Bunda janji nggak akan meledek Azka, menertawakan Azka?” Azka ingin mendapat kepastian sebelum bercerita.


Alis Bu Aisyah tampak mendekat hingga hampir bertemu. Keheranan makin menyelimuti pikiran ibu dari dua anak lelaki yang sudah dewasa.


“Kenapa, sih? Memang Bunda suka meledek kamu? Masalahnya berkaitan sama apa?” cecar Bu Aisyah.


“Pokoknya Bunda janji dulu nggak akan meledek Azka, nggak akan menertawakan Azka,” pinta Azka manja.


“Baik, baik. Bunda janji. Sekarang, katakan!” kata Bu Aisyah.


Azka tersenyum lega. Ia meminum air putih terlebih dahulu.


“Bunda masih ingat Meli? Yang waktu itu kehilangan dompet lalu Azka ajak ke hotel empat resepsi pernikahan Mas Edi dan Mira,” ucap Azka membuka tujuan.


“Tentu saja Bunda masih ingat. Teman Via dan Ratna, kan? Mahasiswai Ekonomi dari Jember?” Bu Aisyah memastikan ingatannya.


“Betul. Alhamdulillah, Bunda masih ingat.”


“Kan belum lama. Belum ada setahun, masa Bunda sudah lupa.”


Azka tersenyum lagi. Ia terlihat sedikit grogi untuk melanjutkan pembicaraan.


“Em...Bunda, menurut Bunda, Meli itu bagaimana?” tanya Azka ragu.


“Bagaimana apanya?” tanya Bu Aisyah tak paham.


“Ya, gadis itu baik apa enggak, sopan apa enggak, pokoknya penilaian Bunda gimana?”


“Bunda kok seperti juri Indonesian Idol, ya,” gumam Bu Aisyah.


Azka tampak gundah. Ia menatap bundanya penuh harap.


“Ya, terserah Bunda deh. Pokoknya di mata Bunda, Meli itu seperti apa?” tanya Azka lagi.


“Menurut Bunda sih—Meli gadis yang baik. Dia juga sopan. Akhlaknya insya Allah baik meski belum lama dia berhijrah, setidaknya dia sudah mencoba selalu istikomah.” Bu Aisyah menjawab dengan pelan seperti sambil berpikir.


“Berarti dia gadis yang baik, ya?” Azka bertanya lagi.


“Insya Allah baik. Memang kenapa? Kamu mau tanya, apa dia pantas menjadi menantu Bunda, begitu?” tebak Bu Aisyah.

__ADS_1


Azka mengulum senyum. Ada kelegaan terpancar di matanya.


“Kalau iya, jawaban Bunda bagaimana?” Azka membalikkan pertanyaan.


Bu Aisyah tertawa. Ia menyadari kalau putranya sudah dewasa, sudah layak memikirkan calon pendamping.


“Menurut pandangan Bunda yang baru mengenal sebentar sih layak. Tapi, Bunda nggak bisa menilai hanya dari pertemuan singkat beberapa bulan lalu. Kalau kamu serius, cobalah kamu salat istikharah untuk memohon petunjuk. Kalau yakin, baru kamu melangkah lebih serius,” saran Bu Aisyah.


“Berarti Bunda ingin mengenal dia lebih jauh?” tanya Azka lagi.


“Kalau ada kesempatan, kenapa tidak,” Bu Aisyah menjawab diplomatis.


“Bagaimana kalau Bunda minta dia datang ke Jogja. Dia pasti sedang liburan semester juga. Nanti Azka kirimkan kontaknya.”


Bu Aisyah menatap putranya sambil menahan tawa.


“Kenapa nggak kamu saja yang menghubungi dia?” tanya Bu Aisyah.


“Kalau Bunda yang minta, pasti dia nurut. Suruh pakai kereta saja yang lebih aman. Besok biar Azka jemput,” ucap Azka semangat.


“Memangnya dia pasti setuju? Kok kamu sudah siap jemput, sih?” komentar Bu Aisyah.


Seketika muka Azka sedikit cemberut. Ia memang terlalu bersemangat membayangkan Meli datang lagi ke Jogja.


“Kalau begitu, Bunda japri dia sekarang saja, ya!” pinta Azka.


Bu Aisyah mengangguk setuju. Mereka segera mengambil gawai masing-masing.


“Sudah kamu kirim, Ka?” tanya Bu Aisyah.


“Baru saja, Bun,” jawab Azka.


“Bunda basa-basi dululah. Tanya kabar dia, tanya rencana liburan, baru suruh dia liburan ke Jogja. Mas Azka yang super duper tampan siap menjemput dan mengantar Tuan Putri Meli Syahrani.”


Bu Aisyah mencebik mendengar ucapan Azka yang tingkat kepedeannya over dosis. Jemarinya terus menari di atas layar ponselnya.


Untuk beberapa saat, keduanya terdiam. Bu Aisyah sedang asyik berkirim pesan. Sementara, Azka menanti dengan harap-harap cemas. Tak lama Bu Aisyah mengirimkan screenshoot percakapannya dengan Meli kepada Azka.


“Tidak usah tanya Bunda apa yang kami bicarakan. Buka sendiri kiriman Bunda. Oke?” ucap Bu Aisyah.


Azka segera membuka pesan dari bundanya. Ia buka screenshoot  percakapan Bu Aisyah dan Meli. Seketika senyum lebar mengembang di bibirnya.


“Waduh, putra Bunda pasti berbunga-bunga. Sebentar lagi berbuah, Bunda tinggal metik,” canda Bu Aisyah.


“Ih, Bunda nih. Nggak apa-apa kan dia nginep di sini sama Anjani?” tanya Azka.


“Kamu kan bisa baca jawaban Bunda untuk Meli. Dan, kamu juga nggak usah maksa kalau dia mau nginep di rumah Via.


“Iya, iya. Siap, Bun.”


 


 


***


Di ruko, Salsa masih lebih banyak diam. Mira prihatin melihatnya. Namun, sepertinya Salsa belum ingin bercerita.


“Mbak Mira, Salsa, aku mau keluar dulu. Sa, pinjem motor kamu, ya!” pamit Ratna.

__ADS_1


“Memang mau ke mana, Mbak?” tanya Salsa.


“Ke toko alat tulis. Stok peralatan tempur sudah menipis. Mumpung toko kita nggak buka full. Nggak apa-apa kan, aku pinjam motormu?”


“Iya, biasanya juga gitu. Hati-hati, Mbak!” ucap Salsa.


Setelah Ratna pergi, Salsa menutup pintu. Ia kembali ke lantai 2. Mira tengah menikmati mi rebus instan.


“Kamu nggak makan, Sa?” tanya Mira.


Salsa menggeleng. Selera makannya memang sudah lenyap.


“Eh, beneran nggak lapar? Masalah bikin kamu kenyang, ya?” canda Mira.


Salsa hanya menunduk. Ia kembali melamun.


“Sa, masalah itu untuk dihadapi dan diselesaikan. Bukan dihindari,” nasihat Mira.


“Salsa bingung, Salsa juga malu,” keluh Salsa.


“Kalau kamu percaya kepadaku, ceritakanlah! Aku siap mendengarkan dan menjaga rahasiamu. Insya Allah,” ucap Mira mantap.


Salsa menatap lekat mata Mira. Ia mencari kejujuran di sana. Setelah beberapa detik, ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


“Mbak Mira, sebelum Mbak Mira menikah dengan Mas Edi, Mbak Mira pernah jatuh cinta? Mbak Mira pernah pacaran?” tanya Salsa lirih.


“Wah, beneran ini masalah percintaan. Tebakan Ratna nggak meleset. Bakat dukun juga tu anak.”


“Kalau jatuh cinta, pernah, pacaran tidak,” jawab Mira,


“Mbak Mira pernah jatuh cinta sama cowok selain Mas Edi?”


Mira mengangguk sambil tersenyum.


“Tapi, cintaku bertepuk sebelah tangan. Perasaanku tak berbalas. Akhirnya, cintaku layu sebelum berkembang,” kata Mira tenang.


“Berarti Mbak Mira pernah patah hati? Siapa cowok yang bikin Mbak Mira patah hati? Apa Salsa mengenal orang itu?” tanya Salsa berapi-api.


Lagi-lagi Mira tersenyum. Ia menggenggam tangan Salsa lembut.


“Itu masa lalu. Aku sudah menguburnya. Biarlah hanya orang tertentu yang tahu. “


“Apa cowok itu tahu kalau Mbak Mira nenyukainya?” Salsa masih penasaran.


“Insya Allah enggak.”


“Dia sudah menikah?”


Mira mengangguk. Senyumnya masih saja terkembang.


“Dia sudah bahagia bersama keluarga kecilnya. Aku juga sudah bahagia menjadi istri Mas Edi. Eh, kok jadi aku yang banyak cerita? Masalahku kan sudah selesai, sudah jadi masa lalu. Kamu tuh yang masih punya masalah,” ucap Mira.


Salsa terdiam. Ia masih terlihat ragu. Ia menatap mata Mira lagi, mencari kepastian di sana. Mira memberikan senyum meneduhkan.


*


Bersambung


Kira-kira apakah Salsa bisa move on seperti Mira? Mohon bersabar menunggu episode berikutnya! Jangan lupa klik like dan tinggalkan koment, ya. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2