SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Bulan Madu Berakhir


__ADS_3

Setelah wudu, Farhan menyiapkan sajadah. Ia mendekati Via yang tengah bersiap untuk salat.


"Kita berjamaah. Tunggu Mas salat sunah dulu!" bisik Farhan ke dekat telinga Via.


Usai berdoa dan merapikan sajadah, Farhan membimbing Via duduk di tempat tidur.


"Mas mau minta maaf untuk yang kemarin. Mas khilaf, lagi-lagi cemburu kepada Doni. Entahlah, setiap melihat anak itu, Mas teringat ketika dia menyatakan perasaannya kepadamu. Makanya, Mas terbakar cemburu ketika melihat kalian berduaan."


Via tidak menjawab. Ia menatap mata suaminya, mencari kejujuran ucapan pria itu.


"Beneran Mas menyesal. Mas kemarin khilaf. Tolong maafkan Mas, ya," pinta Farhan.


"Terus, ke depan kalau lihat Doni cemburu lagi, marah-marah nggak jelas?" tanya Via ketus.


"Masya Allah, ni istriku kenapa, ya? Biasanya dia lemah lembut, kok sekarang garang begini? Seperti Kak Ros di Upin Ipin," batin Farhan.


"Mas berusaha untuk tidak cemburu asal itu dalam batas wajar," jawab Farhan.


"Memangnya kemarin nggak wajar? Sudah melewati batas?"


"Ya Allah, tolong beri kesabaran. Jangan sampai aku terpancing emosi! Tahan, tahan."


Farhan mengambil nafas panjang.


"Sedikit, waktu minta diambilkan gambar itu," jawab Farhan lagi.


Via terdiam. Dalam hati ia membenarkan hal itu.


"Sebenarnya, kemarin Mas berusaha untuk tidak marah. Eh, Dek Via malah kabur. Mas panik banget nyari-nyari. Mas Edi juga. Dia langsung menghubungi anak buahnya untuk ke Bali secepatnya mengawal kita," lanjut Farhan.


"Mas nggak marah tapi sinis. Via merasa Mas tengah memojokkan Via."


"Iya, Mas minta maaf," kata Farhan dengan nada rendah.


"Hati Via sakit. Apalagi tadi malam Mas ngomongnya pakai aku kamu. Sudah gitu, Mas bentak Via. Sedih banget, Mas," ucap Via diikuti isak lirih.


Farhan segera mendekap tubuh Via. Diusapnya kepala sang istri tercinta.


"Maafkan Mas yang lepas kontrol, ya! Mas nyesel banget."


Via mengangguk. Meski isaknya masih terdengar, hatinya mulai tenang.


"Via juga minta maaf, Mas," ucap Via di sela isaknya.


Farhan meraih dagu Via, diarahkan ke wajahnya. Dengan mesra dikucupnya kening belahan jiwanya.


"Sudah, jangan menangis lagi! Pagi ini kita nggak usah ke mana-mana, ya. Kita di kamar saja," pinta Farhan.


Via menatap Farhan. Sorot matanya menunjukkan ia keberatan.


"Mas tadi malam sudah menghubungi Mas Edi untuk cancel acara kita. Takutnya Dek Via masih ngambek."


"Ih, siapa yang ngambek?" cibir Via.


"Terus, kalau mendiamkan Mas seperti tadi malam namanya apa?" ledek Farhan.

__ADS_1


"Marah."


"Oh, istri Mas gitu marahnya," ledek Farhan lagi.


"Ish, Mas nyebelin. Kalau dibatalkan, kita ngapain coba? Masa seharian di kamar?" protes Via.


"Tadi malam kan kita nggak ada kegiatan olah raga. Kita ganti sekarang, ya!" Farhan mengerling nakal.


Via pura-pura merajuk. Ia membelakangi Farhan.


"Hei, tidak boleh menolak ajakan suami karena ngambek. Mau dilaknat malaikat?" Farhan menarik lengan Via.


"Mana panggilan mesranya? Sejak kemarin nggak ada tuh."


"Ah, iya. Cinta juga sama dong! Cinta, kita olah raga dulu nanti jalan-jalan di Denpasar saja. Siangnya baru ke Sukowati. Bagaimana?"


Mata Via berbinar mendengar penjelasan Farhan. Ia lega karena tidak berada di kamar seharian.


"Beneran, Hubbiy? Kita nanti jalan-jalan beli oleh-oleh, ya! Di Pasar Sukowati aku mau beli kerajinan tangan buat Ratna, Salsa, juga Mbak Mira. Ayah, bunda, dan Mas Azka dibelikan apa, ya?"


"Kok Mas Azka? Dia adik iparmu. Jangan panggil mas!" Farhan protes.


"Ah, Via kan masih sering lupa karena awalnya panggil mas. Tuaan dia, sih," ujar Via membela diri.


"Mulai sekarang, biasakan panggil dek!" tandas Farhan.


"Hubbiy cemburu?"


"Ish, Mas hanya meluruskan aja. Udah, ah kita bicarakan tentang kita saja. Soal oleh-oleh nanti pilih di sana saja."


Farhan merebahkan tubuh Via ke atas kasur yang empuk. Ia menyusul di sampingnya. Tangan Farhan pun mulai pemanasan olah raga pagi.


Tak seperti biasanya, Via kalap melihat pernak-pernik yang ia jumpai. Meski ini bukan pertama kalinya Via mengunjungi pasar ini, tetap saja ia menyukai kerajinan yang dijual di pasar tersebut.


Bagasi mobil pun penuh dengan barang belanjaan Via. Ia sendiri hanya beli tas dan mukena. Barang-barang lain akan ia bagi-bagikan kepada keluarga dan teman-teman.


Baru saja mereka akan masuk ke mobil, Farhan merasakan getaran pada saku celananya. Ia mengambil benda kotak pipih yang menjadi sumber getaran.


Pada layar ponselnya tertulis Bunda memanggil. Ia pun menggeser gambar telepon hijau untuk menerima.


"Assalamualaikum, Bunda," ucap Farhan.


"Waalaikumsalam. Kalian sehat, Nak?"


Terdengar jawaban dari seberang. Farhan mengetuk ikon loud speaker agar Via ikut mendengarkan.


"Alhamdulillah, semua sehat. Bunda juga ayah baik, kan? Dek Azka sudah berangkat?" tanya Farhan.


"Alhamdulillah, kami baik, adikmu sudah berangkat. O ya, kalian pulang besok sore?" tanya Bu Aisyah lagi.


"Iya, insya Allah. Bunda mau pesen oleh-oleh?"


"Enggak. Bunda cuma mau mastiin kalau kalian pulang besok."


"Bunda sudah kangen?" canda Farhan.

__ADS_1


"Iya. Tapi, ada yang lebih penting dibanding kangen. Nih Tante Asih dan Rara datang. Mereka cuma nginep dua malam."


"Om Alif nggak ikut?" tanya Farhan.


"Om kamu sedang di Solo. Jumat pagi ke sini jemput anak istrinya. Ya sudah, Bunda cuma mastiin itu. Berarti kalian bisa ketemu Tante Asih dan Rara."


"Insya Allah, Bun."


"Bunda tutup dulu. Jangan lupa, jaga Via baik-baik! Assalamualaikum," ucap Bu Aisyah menutup pembicaraan.


"Waalaikumsalam," jawab Farhan diikuti gerakan tangan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.


"Siapa Tante Asih?" tanya Via.


"Istri Om Alif. Om Alif itu saudara Bunda yang sulung. Sudah lama nggak ketemu karena baru saja kembali dari Australia. Lima tahun tinggal di sana. Anaknya dua, yang sulung cowok dan sudah menikah. Yang kedua cewek, sebaya Azka, masih single. Anaknya ...." Farhan tampak ragu melanjutkan.


"Anaknya kenapa?" kejar Via tak sabar.


"Besok Cinta tahu sendiri."


"Kalau begitu, Via kembali dulu beli oleh-oleh buat mereka," kata Via sambil melangkah cepat ke dalam pasar lagi.


Farhan hanya geleng kepala melihat kelakuan istrinya. Ia segera menyusul Via.


Bagasi mobil pun akhirnya semakin sesak dengan barang belanjaan Via.


Esoknya, mereka menyempatkan mengunjungi Danau Tamblingan dan Danau Buyan. Karena cukup jauh, mereka berangkat pagi-pagi setelah sarapan.


Akhirnya, keinginan Via terwujud. Hanya Bukit Asah yang tidak mereka kunjungi. Namun, Via tetap merasa puas.


Menjelang pukul 13.00 WITA, Via menyiapkan koper mereka. Semua pakaian ditata rapi dalam koper.


"Berangkat bawa 2 koper, pulang bawa 2 gerobak," canda Farhan.


"Hubbiy ngeledek, nih. Itu kan oleh-oleh buat banyak orang," kilah Via.


"Iya, Mas tahu. Untunglah kemarin penjualnya bersedia ngasih fasilitas packing. Semua sudah rapi dalam kardus," ujar Farhan. Ia tersenyum geli membayangkan nanti di bandara mendorong troli berisi kardus-kardus.


"Mas Edi sudah siap belum? Kita berangkat sekarang saja, yuk!" ajak Via.


"Sudah nggak ada yang tertinggal?" Farhan mengingatkan.


"Insya Allah sudah," jawab Via mantap.


Mereka keluar dari kamar dan turun. Ternyata Edi sudah bersiap. Oleh-oleh yang Via beli sudah tertata dalam bagasi mobil.


"Mas Edi memang top. Kita baru turun, ternyata semua sudah dibereskan. Kita tinggal berangkat, deh," puji Via.


Edi hanya tersenyum. Ia membukakan pintu mobil untuk pasangan yang baru berbulan madu.


***


**Bersambung


Ada yang menanti mereka di rumah Bunda Aisyah. Konflik lagi nih.

__ADS_1


Nantikan episode selanjutnya. Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen. Vote berapa pun author terima dengan senang hati.


Terima kasih buat teman-teman yang telah menyumbangkan vote**.🙏


__ADS_2