SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Merancang Esok


__ADS_3

Meli menarik nafas lega. Hatinya terasa  dipenuhi bunga-bunga. Kembali bibirnya mengembangkan senyum bahagia.


“Me—li tidak keberatan, Bunda. Tapi, Meli nggak tahu orang tua Meli setuju apa tidak,” kata Meli lirih.


“Alhamdulillah,”ucap Bu Aisyah lega, “Tentu hal ini harus kamu bicarakan dengan ayah ibumu, Kalau mereka sudah aa keputusan, beri tahu Bunda. Kami akan ke Jember bila orang tuamu setuju.”


Pembicaraan mereka terhenti. Ketukan pintu kamar membuat Bu Aisyah beranjak untuk membuka.


“Bunda di sini rupanya. Ayah nyariin, tuh. Lagi ngapain, sih?” Ternyata Azka yang mengetuk pintu.


“Ada deh. Kepo banget. Ayah di mana?” sahut Bu Aisyah sembari mengedipkan sebelah matanya.


“Bunda kelilipan? Sini, Azka lihat,” ujar Azka polos.


Bu Aisyah ganti memelototi anak bungsunya itu. Mulutnya menggelembung menahan gemas.


“Sudah, sana bilang ayah kalau Bunda ada di sini. Ayah di mana?”


“Ayah di teras. Bunda sama siapa?” Azka penasaran.


“Kepo, ah. Sudah sana, bilang ayah kalau Bunda bentar lagi turun,” ucap Bu Aisyah seraya mengibaskan tangan, memberi isyarat agar Azka segera pergi.


Mendapat isyarat seperti itu, Azka justru makin penasaran. Kepalanya dijulurkan untuk melihat ke dalam kamar. Sayangnya, posisi Bu Aisyah menutup akses Azka mengetahui orang yang tengah bersama bundanya.


“Bunda pelit,” sungut Azka.


Cowok itu meninggalkan kamar dengan langkah gontai. Bu Aisyah senyum-senyum sembari menggelengkan kepala. Lalu, ia kembali ke dalam menemui Meli.


“Azka memang kadang kekanak-kanakan. Tapi, Bunda lihat cocok sama kamu. Sama-sama seru. Kalau kalian jadi menikah dan tinggal di sini, tentu rumah ini hangat, Bunda tak lagi kesepian,” gumam Bu Aisyah.


Meli tersipu. Ia tidak bisa menanggapi ucapan Bu Aisyah karena pikirannya sedang dipenuhi bermacam angan.


“Ayo, kita turun! O ya, besok kalian jadi jalan-jalan? Rencana ke mana saja?”  Ucapan Bu Aisyah menyentak Meli dari angan yang melambung.


“Aa—mungkin ja—di, Bunda. Meli ngikut saja.”


“Kalau begitu, sekarang kita ke ruang keluarga, yuk!” ajak Bu Aisyah.


Kedua perempuan beda generasi itu meninggalkan kamar. Mereka berjalan bersama menuju ruang keluarga.


Baru saja mereka masuk, Via dan Anjani menyusul. Keduanya sedikit terkejut mendapati Bu Aisyah terlihat begitu dekat dengan Meli.


“Bunda sudah dari tadi? Mas Farhan sudah pulang?” tanya Via.


“Belum. Bunda nggak tahu Farhan sudah pulang apa belum. Ayahmu masih di teras?” Bu Aisyah ganti bertanya.


“Nggak tahu. Sejak tadi Via bersama Anjani di perpustakaan.”


“Ayah di sini,” kata seorang pria dari dekat pintu.


Pak Haris melangkah masuk diikuti Azka. Meli terkesiap sesaat melihat cowok itu. Dadanya berdegup kencang. Ia segera menundukkan kepala.


“Sini, kumpul sini! Ka, ambil cemilan, dong!” perintah Bu Aisyah.


Azka mengurungkan niatnya duduk. Ia pergi ke dapur.


“Farhan belum pulang?” tanya Pak Haris.


“Mungkin pertemuan dengan klien belum selesai,” sahut Via.

__ADS_1


Pak Haris mengangguk-angguk. Ia menoleh ke Bu Aisyah.


“Sepertinya ada yang mau Bunda bicarakan?”


“Iya, Yah. Besok Ayah ada acara, nggak?” tanya Bu Aisyah.


“Enggak. Kan besok libur nasional. Paling dokter jaga yang berangkat. Praktek juga tutup. Kenapa? Bunda mau mengajak tamasya?” Pak Haris tampak bersemangat.


Bu Aisyah menoleh ke Via yang tengah memangku Zayn.


“Kalau kita liburan bareng, gimana? Via kemarin mau pergi ke beberapa objek wista. Iya, kan?”


“Iya. Mumpung ada Meli dan Anjani, kita ajak ke obwis Jogja. Rencana sih ke Paris ....” Jawaban Via terjeda.


“Paris? Kita mau ke Prancis? Tapi, kami nggak punya paspor.” Meli menyahut cepat.


Mereka tertawa melihat reaksi Meli. Namun, Bu Aisyah segera mengusap Meli agar gadis itu tidak salah tingkah apalagi minder.


“Paris yang kumaksud bukan kota di Perancis. Maksudku, itu kependekan dari Parangtritis, nama pantai di Jogja,” terang Via.


“Oh, kirain mau ke Perancis. Jauh amat,” ucap Meli.


Mereka kembali tertawa hingga ada suara yang membuat mereka berhenti.


“Seru amat? Sampai-sampai Farhan salam nggak ada yang jawab,” kata Farhan.


“Waalaikumsalam. Maaf, kami beneran nggak tahu,” ucap Via merasa bersalah.


Via bangkit dari duduknya menyambut Farhan. Ia menyalami suaminya dan mengajari Zayn mengikuti.


“Damai banget lihat Mas Farhan sama Via. Seneng kali, ya, punya suami perhatian begitu. Adem dilihat,” batin Meli.


Setelah mencium tangan ayah bundanya, Farhan bergegas ke atas diikuti Via. Tak lama kemudian, Via sudah kembali lagi. Ia hanya menyiapkan baju ganti untuk Farhan.


“Kita bisa ke Glagah lalu Congot dan hutan bakau. Bagaimana?” usul Via sambil meletakkan pantatnya ke sofa.


“Boleh juga.” Baru saja Pak Haris akan menanggapi, Azka masuk membawa minuman dan camilan.


“Cie...ini calon suami idaman ni,” goda Via.


“Iya, dong! Suami siaga, suami yang nggak manja. Makanya, perlu dicarikan istri segera,” sahut Azka.


“Beneran sudah siap, Ka? Ayah, siap kan melamar gadis untuk jadi menantu kedua kita?’ Bu Aisyah menanggapi.


Pak Haris tersenyum lebar. Ia paham arah pembicaraan istrinya. Sempat diliriknya gadis yang tertunduk dengan pipi merona.


“Tentu saja Ayah sangat siap. Kalau Azka siap, gadis itu siap, calon besan siap, sekarang pun ayo kita berangkat melamar!” tantang Pak Haris.


Semua orang tertawa kecuali Meli. Gadis itu hanya tersenyum dengan kepala sering  tertunduk. Tentu saja itu tak luput dari perhatian Anjani.


“Qwah, seru banget, nih. Pantesan tadi Farhan salam nggak ada yang dengar. Memang lagi bahas apa, sih?” tanya Farhan sambil memposisikan duduk di samping Via.


“Ayah dan bunda mau melamar. Kamu dan Via,  siapkan seserahan yang akan dibawa! Ratna, Mira, dan Salsa suruh bantu,” ucap PakHaris datar.


Farhan terkejut. Ia tak mengira ayahnya seserius itu.


“Beneran? Kapan, Yah?” tanya Farhan.


Bu Aisyah terkekeh melihat reaksi Farhan.

__ADS_1


“Belum jelas, Han. Tunggu pihak sana memberi lampu hijau. Begitu lampu hijau menyala, kita langsung tancap gas,” kata Bu Aisyah.


Meli tersenyum mendengar ucapan Bu Aisyah. Anjani mengerutkan dahinya. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Meli.


“Yang mau kita lakukan dalam waktu dekat itu tamasya bareng. Besok bisa ikut, kan?” ucap Via.


“Boleh. Mas sudah bereskan semua pekerjaan tadi. Anjani dan Meli setuju?”


“Kami ikut saja, Mas,” jawab Anjani.


Meli hanya mengangguk. Dia benar-benar bukan Meli yang biasanya.


Setelah berbincang banyak hal untuk hari esok, mereka beranjak ke kamar. Anjani tak sabar untuk menanyai Meli banyak hal.


“Kamu kok jadi aneh, sih? Kayaknya malam ini ada yang berubah. Ke mana Meli yang cerewet, yang konyol? Aku perhatikan kamu jadi irit bicara,” cecar Anjani begitu mereka masuk kamar.


“O ya? Sejak kapan kamu jadi pengamat?” Meli menanggapi dengan santai.


Anjani mendengus kesal. Namun, ia belum menyerah untuk mengorek keterangan dari sahabatnya.


“Apa yang Bu Aisyah bicarakan sama kamu waktu kamu berdua dengan beliau? Tentang perasaan kamu ke Mas Azka?” Anjani mencecar lagi.


“Kepo!” jawab Meli singkat.


Anjani benar-benar geregetan dengan sikap Meli. Dia menginginkan Meli yang biasanya.


“Mel, kalau Kak Mario melamar aku, menurut kamu terima nggak?” tanya Anjani.


“Hah, Kak Mario melamar kamu? Kenapa kamu nggak cerita ke aku? Kapan dia melamarmu?” ganti Meli yang mencecar Anjani.


Anjani tersenyum. Pancingannya berhasil.


“Kamu sendiri nggak mau cerita tentang Bu Aisyah,” jawab Anjani santai.


“Iya deh. Tadi Bu Aisyah menanyakan kesediaanku jadi menantunya. Tadinya aku bingung karena aku masih ingin kuliah. Kan sayang kuliahku ditinggal. Masa cita-citaku jadi sarjana harus kandas. Kayak lagu Evi Tamala saja,” tutur Meli.


“Terus, keputusanmu bagaimana? Kamu menolak? Atau kamu menerima dengan syarat?” kejar Anjani.


“Kata Bu Aisyah, kalaupun aku menikah dengan Mas Azka, kami tetap menyelesaikan pendidikan kami. Bahkan, aku diizinkan tetap di Jember dengan konsekuensi LDR-an.”


“Kamu setuju?”


Meli mengangguk. Senyum bahagia tersungging di bibirnya.


Melihat kepala Meli mengangguk, Anjani melongo. Ia tidak mengira sahabatnya berani membuat keputusan besar dalam waktu singkat.


“Apa Paman Roni dan Bibi Fatimah setuju?” tanya Anjani ragu.


“Belum tahu. Besok kalau aku pulang akan kutanyakan. Kalau mereka setuju, aku akan mengabari Bunda.”


Anjani terpana. Menikah. Ia pun hampir menjalaninya. Dan sekarang, dia tidak tahu kapan ia akan menjalani proses yang dinamakan pernikahan.


Keduanya pun sama-sama terdiam. Angan-angan tentang masa depan membuat mereka terhanyut dalam lamunan. Tak terasa, mereka pun akhirnya masuk ke alam mimpi.


 


 


*

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa tetap dukung karya recehku ini. Juga karya Kak Indri Hapsari yang berkisah tentang Meli dan Anjani di Cinta Strata 1. Terima kasih.


__ADS_2