SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Ada Rindu


__ADS_3

Sebelum kembali ke Jogja, Via menyempatkan menjenguk Lia. Ia berusaha keras menepis sakit hati dan amarah yang kadang masih menyelip. Bagaimana pun, Via masih manusia biasa yang memiliki rasa marah dan benci. Apa lagi tindakan Lia memang sangat keterlaluan.


Farhan pun sama. Ia sepakat dengan Via untuk bersama-sama mengubur rasa benci dan sakit hati, tak akan menampakkan di depan Lia.


Tak lupa, Via menyempatkan membeli buah tangan untuk Lia. Farhan tersenyum bangga mengetahui yang Via beli untuk temannya.


Wajah Lia tampak lebih segar dibandingkan hari sebelumnya. Senyum pun mengembang di bibirnya begitu melihat Via dan Farhan memasuki ruang perawatannya.


Saat itu memang bukan jam bezuk. Namun, Via dan Farhan mendapat dispensasi khusus. Dokter mengizinkan pasangan suami istri itu menjenguk di luar jam bezuk  mengingat perkembangan  Aurelia setelah dikunjungi Farhan dan Via.


“Assalamualaikum, Lia. Apa kabarmu hari ini?” sapa Via.


“Baik Via. Kamu sendiri sehat?” balas Lia.


“Alhamdulillah, kami sehat. Aku seneng melihat kamu terlihat segar hari ini,” ucap Via.


“Iya. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Sejak kemarin aku merenung yang kamu katakan. Hingga tadi malam, aku masih membenci mamaku. Tapi, aku pikir buat apa membenci mamaku? Aku malu kepada kalian. Aku sudah begitu banyak menyakiti kalian. Bahkan, nyawa Mas Farhan nyaris melayang. Aku memang sangat dendam.”


Lia menutup wajahnya. Ia terisak-isak penuh penyesalan.


“Lia, sudahlah. Kami kan sudah  mengatakan kalau kami sudah memaafkanmu. Sebelumnya, kami pun marah, benci akan kelakuanmu. Namun, kami sudah berdamai dengan diri kami sendiri. Marah dan benci membawa energi negatif. Kami mencoba menepis marah dan benci kami,” tutur Via lembut.


Via mengambil tisu. Dibersihkannya wajah Lia dengan lembut.


“Lia, kami mau pamit, nanti kami kembali ke Jogja. Kami berharap kamu bisa tenang menghadapi masalah ini. Ambil hikmah di balik semua peristiwa!” kata Farhan.


“Iya, Mas. Aku akan coba mengikuti yang Via katakan.” Lia menyahut lirih.


“O ya, aku sudah menyampaikan kepada Om Candra agar kamu dibimbing dalam keagamaan. Insya Allah, besok Om Candra akan menyampaikan kepada Kepala Lapas. Kamu mau mengisi hari-harimu dengan belajar agama?” ucap Via.


Lia mendongak. Ia menatap Via tak berkedip.


“Bagaimana? Kamu mau belajar agama?” tanya Via lagi.


“Iya, aku mau. Aku memang nggak pernah belajar mengaji. Salat pun hanya untuk formalitas ujian di sekolah. Aku sudah sangat jauh dari Sang Maha Pencipta. Aku banyak dosa,” ujar Lia lirih.


“Lia, dengarkan aku! Kau mungkin juga tahu kalau aku dulu nggak beda jauh sama kamu. Aku jarang salat. Namun, bunda membimbingku dengan telaten. Bunda meyakinkan kalau Allah Maha Pengampun. Kita harus yakin kalau Allah akan membuka pintu ampunan asal kita mau bertobat,” ucap Via meyakinkan.


Lia mengangguk. Via dan Farhan tampak lega melihat reaksi Lia.


“O ya, kubawakan ini untukmu. Semoga kau bisa memanfaatkannya.” Via menyerahkan paper bag kepada Lia.


Dengan tangan sedikit gemetar, Lia menerima lalu membuka paper bag dari Via. Matanya terbelalak melihat isinya. Air mata kembali mengalir di pipi tirusnya.


“A—aku sudah lama tak menyentuhnya. Te—rima kasih, Via,” bisik Lia.


“Sama-sama. Aku senang kalau kamu memanfaatkannya,” sahut Via sambil tersenyum.


Farhan menyentuh bahu Via. Ia memberi isyarat agar Via segera berpamitan.


“Lia, kami pamit, sebentar lagi kami harus berangkat ke bandara. Kuharap kau baik-baik saja. Isi hari-harimu dengan belajar ilmu agama, mendekatkan diri kepada Sang Khalik,” ucap Via.


“Iya. Terima kasih, ya. Maafkan aku. Aku janji mengingat dan melaksanakan yang kau katakan,” sahut Lia.


“Insya Allah,” ucap Farhan.


Lia menatap Farhan heran. Via tersenyum melihatnya.

__ADS_1


“Kalau berjanji, biasakan untuk mengucap insya Allah. Kita tidak tahu yang Allah rencanakan untuk kita,” jelas Via.


Lia mengangguk. Ia sedikit paham yang Via maksud.


“Sudah, ya! Kamu jaga diri, jangan melakukan tindakan yang merugikan diri kamu sendiri!” pesan Via.


“Iya, Via. Terima kasih banyak, ya! Kamu juga diri baik-baik. Mas Farhan, jaga Via, ya!” ucap Lia.


“Assalamualaikum.” Via dan Farhan mengucapkan salam bersama-sama.


“Waalaikumsalam,” jawab Lia. Ia melambaikan tangan saat Via dan Farhan sampai ke pintu.


Via dan Farhan bergegas menuju tempat parkir. Mobil Pak Candra yang membawa mereka melaju sedang menuju rumah.


Jelang zuhur, mereka sudah sampai bandara. Tidak hanya Via dan Farhan sekeluarga, keluarga Agus pun ikut serta. Bahkan, mereka juga bertemu keluarga Doni yang ternyata pulang dengan pesawat yang sama.


*


Sudah sebulan semenjak kepulangan dari Medan,  Agus bekerja di salah satu kantor cabang Kencana Grup. Ia menempati rumah yang Farhan belikan, tak jauh dari kantornya. Adik-adik Agus juga sudah bersekolah di Jogja. Sementara ibu Agus mendapat fasilitas berobat gratis di rumah sakit yang dipimpin dokter Haris.


Satu per satu masalah berat terlewati Via dan Farhan. Mereka mulai menikmati hari-hari penuh kebahagiaan, mengikuti tahapan perkembangan Baby Zayn yang semakin lucu.


Memasuki liburan semester, Azka sudah berada di kediaman dokter Haris. Hari kedua libur, ia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk jalan-jalan.


Motor maticnya melaju agak kencang menyusuri jalanan Kota Gudeg. Ruko Azrina yang menjadi tujuannya.


“Assalamualaikum,” ucap Azka.


“Waalaikumsalam. Eh, Mas Azka. Kapan pulang?” sahut Salsa. Ia tengah sendirian di toko Azrina.


“Kemarin. Kamu sendirian? Ratna ke mana?” Azka balik bertanya.


Gadis itu meninggalkan Azka. Ia melayani pembeli yang baru datang. Sambil melayani, sesekali Salsa melihat Azka melalui ekor matanya.


“Mbak, ada ukuran XL untuk model ini?” tanya ibu-ibu yang tengah memilih gamis.


Salsa masih diam. Ia tidak mendengar pertanyaan dari ibu-ibu.


“Mbak, Mbaknya kok diam? Ada nggak?” tanya orang itu lagi.


“Eh, iya. Bagaimana, Bu? Ibu tanya apa? Maaf, maafkan saya,” sahut Salsa gugup.


“Mbaknya melamun, ya? Ini, Mbak. Gamis model ini tapi ukurannya XL. Ada nggak?” Ibu itu mengulang lagi pertanyaannya.


“Oh, sebentar saya cek, masih apa tidak.” Salsa segera menuju penyimpanan barang, mencari gamis yang diminta pengunjung toko.


Tak berapa lama, ia membawa gamis yang diinginkan si ibu. Ia menyerahkannya sambil meminta maaf lagi.


“Maaf, ya. Ini ukuran XL, Bu,” kata Salsa.


“Oh iya, Mbak. Tadi Mbak melamun apa?” tanya ibu itu ramah.


“Ah, enggak. Nggak ada apa-apa, Bu. Ibu jadi ambil gamis ini?” Salsa mengalihkan pembicaraan. Ia meresa berdebar melihat tatapan Azka meski hanya sepintas.


“Iya, Mbak.” Ibu itu mengeluarkan tiga lembar pecahan ratusan ribu.


“Sebentra, Bu. Saya ke atas dulu ambil uang kembalian. Ternyata uang receh habis.” Salsa beranjak hendak ke lantai dua.

__ADS_1


“Memang butuh pecahan uang berapa?” tanya Azka.


“Lima belas ribu, Mas. Saya mau tanya Mbak Ratna dulu.”


“Nih, aku ada,” ucap Azka sambil menyodorkan dua lembar uang kepada Salsa.


“Terima kasih, Mas. Nanti biar Mbak Ratna ganti uang Mas Azka.”


Salsa menyerahkan uang dari Azka beserta paper bag berisi gamis kepada si pembeli. Orang itu bergegas meninggalkan toko.


“Mas Azka mau minum apa?” tanya Salsa.


“Nggak usah, aku belum haus,” jawab Azka datar.


Salsa kembali ke tempat kasir. Tak lama kemudian, Ratna turun.


“Eh, ada Mas Azka. Sudah lama? Kangen sama Ratna atau Salsa atau ....” Ratna tak melanjutkan ucapannya.


Hanya kalimat canda yang biasa. Namun, bagi Salsa itu luar biasa. Mukanya memerah.


“Kangen semuanya,” sahut Azka cepat.


“Cieee... Kalau kangen, bawa oleh-oleh buat Ratna nggak, nih?” canda Ratna lagi.


“Bawa. Nih ungkapan kangen,” ucap Azka sambil membentuk hati menggunakan tangan.


Ratna tertawa renyah. Ia sudah terbiasa dengan gurauan Azka, makanya tak pernah baper.


“Mbak, tadi pinjam uang Mas Azka Rp. 15.000,00 untuk kembalian. Nanti ganti, ya!” kata Salsa.


“Ah, uang segitu sih  nggak ada artinya buat bos. Ikhlas kan, Mas?” tanya Ratna.


“Iya. Apa sih yang enggak buat kamu?” sahut Azka.


Salsa mendadak merasa tak enak hati. Ada kecemburuan menyelinap di hatinya.


“Rat, temanmu mau liburan ke Jogja, nggak?”


“Teman yang mana?” Ratna mengernyitkan kening.


“Yang waktu itu datang kuanterin ke sini,” jelas Azka.


Ratna terbahak mendengar penjelasan Azka. Ia merasa lucu terhadap tingkah laku Azka.


“Bukannya punya kontaknya, Mas? Kenapa nggak tanya langsung saja?” tanya Ratna sembari tersenyum menggoda.


“Ah, aku cuma nanya saja. Barang kali kamu tahu. Nggak juga nggak apa-apa,” elak Azka.


Dada Salsa terasa sesak. Ada perih menggores hati.


“Ah, sebentar. Ini ada panggilan Sepertinya dari dia nih, Mas.” Ratna mengambil gawai dari sakunya.


Azka terlihat berbinar mendengar ucapan Ratna. Sebaliknya, Salsa semakin merasa sakit. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Tak mungkin ia melarang Azka jatuh cinta kepada seorang gadis.


*


Bersambung

__ADS_1


Maaf, ya sekarang terbitnya nggak pagi. Untuk besok, kuusahakan update sebelum jam 7. Makanya, dukung terus dengan klik like dan tinggalkan koment ya! Terima kasih


__ADS_2