SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR

SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR
Melewati Hari di Rumah Sakit


__ADS_3

Setiap hari, Via


selalu menengok bayinya di ruang peristi. Selain melepas kangen, ia juga


memantau perkembangan anaknya sekaligus menyerahkan ASI yang ia peras.


Terkadang, ia berjalan sendiri tanpa ditemani Bu Inah. Ia tidak mau lagi menggunakan kursi


roda. Meski jalannya sangat pelan, Via tidak lagi merasakan nyeri yang teramat


sangat.


Tentu saja, ia sebenarnya tidak sendirian. Setidaknya, ada dua pasang mata mengawasi dari kejauhan. Mereka adalah bodyguard yang ditugasi Edi mengawasi Via. Edi tidak


mau kecolongan seperti yang Farhan alami. Edi tidak yakin kalau rumah sakit pasti aman dari para penjahat.


Memang, Edi sengaja menempatkan para bodyguard secara sembunyi-sembunyi. Ia tahu kalau Via tidak nyaman diikuti para bodyguard.


Seperti saat ini, ia berjalan sendirian ke ruang peristi. Bu Inah agak tidak enak badan.


“Assalamualaikum, Mbak Nana. Shift pagi, nih?” sapa Via kepada perawat ruang peristi yang tengah bertugas.


“Eh, Dek Via. Iya, bareng Bu Yani dan Bu Tuti. Mereka sedang ke instalasi bedah. Ada tindakan operasi caesar. Silakan duduk dulu,” jawab gadis yang mengenakan name tag


bertuliskan Ferdiana.


“Ini ASI untuk dedek, Mbak. O ya, dedek nggak rewel, kan?”


“Enggak. Dia anteng banget, kok. Asal sudah kenyang, biasanya dia nggak rewel,” jawab Nana.


“Perkembangannya bagaimana?” tanya Via lagi.


“Termasuk bagus. Sekarang kadar bilirubinnya sudah normal. Mulai hari ini, dedek tidak perlu disinar lagi. Mudah-mudahan pernafasannya juga membaik,” jawab Nana. “Mau lihat dedek sekarang?”


Nana memberikan baju khusus warna biru kepada Via. Ibu muda itu segera memakainya. Ia segera masuk ke ruangan perawatan bayi-bayi yang mengalami masalah.


“Itu pasien baru, Mbak?” tanya Via sambil menunjuk bayi mungil di samping bayinya.


“Iya. Itu extreme preterm. Baru 27 minggu. “


“Berarti masalahnya lebih kompleks, ya?” Via mengamati bayi yang baru beberapa jam


dilahirkan.


“Iya. Kemungkinan ibunya stress berat ditambah ia terjatuh di kamar mandi. Kandungannya tidak bisa dipertahankan, bayinya harus segera dilahirkan. Kalau tidak, nyawa ibu dan bayi terancam,” jelas Nana.


"Seperti aku, ya? Kata dokter Wibowo kandunganku tidak bisa dipertahankan, kelahiran dedek tidak bisa ditunda hingga usianya 34 minggu.”


“Iya, Dek. Itulah pentingnya ibu hamil menjaga aktivitas, pola makan dan pikiran agar bayi tidak lahir prematur.”


Via mendengarkan penjelasan Nana sambil memperhatikan bayinya. Ia menatap bayi mungil itu terus-menerus. Dia merasa bersalah karena kurangnya berhati-hati hingga anaknya terlahir prematur.


Mata Via berkaca-kaca mengingat proses kelahirannya. Ia memang stress berat. Kematian suami yang mendadak ditambah rasa bersalahnya kepada Edi dan Mira yang tertunda prosesi lamarannya, hingga ucapan Eyang Probo tentang Azka yang menaruh hati


kepadanya.


“Dek Via melamun?” tanya Nana sembari menepuk bahu Via.


“Eh, eng—nggak ... enggak kok. Via cuma lagi berfikir betapa luar biasanya Allah dalam menciptakan makhluk mungil ini.” Via mencoba mengelak.


Nana tertawa kecil mendengar jawaban Via. Ia melanjutkan pekerjaannya.


“Mbak Nana mau ngapain?” tanya Via sambil menatap Nana tak berkedip.


“Mau ganti popok bayi Nyonya Alicya. Sepertinya dia pup,” Jawab Nana tanpa menoleh.


Perawat yang masih muda itu terlihat begitu cekatan mengganti popok sekali pakai. Via terus memperhatikan Nana.

__ADS_1


“Kok nglihatinnya gitu? Mau belajar?” Nana menawari Via.


“Memang boleh?” tanya Via antusias.


“Hehe...untuk bayi prematur  begini, jangan deh! Dek Via bisa belajar memandikan bayi nanti sore untuk bayi normal dulu, ya,” kata Nana.


“Oh, ada memandikan bayi juga?” Via makin antusias.


“Iya, tapi yang untuk bayi normal. Maksud aku bayi yang lahir cukup bulan dan memiliki berar badan di atas 2.500 gram.”


“Ya, aku paham yang Mbak maksud. Mamang kalau bayi prematur nggak dimandiin?”


“Dimandikan, tapi tidak setiap hari,” jawab Nana.


Setelah beberapa menit, mereka keluar. Nana menuju meja kerjanya. Ia mengisi beberapa catatan pasien.


Sejak sering mengunjungi ruang peristi, Via memang akrab dengan para perawat di ruang


tersebut. Ia paling akrab dengan Nana karena usia gadis itu tidak terpaut jauh


dengannya. Selain itu, Nana juga ramah.


Via sering ngobrol dengan Nana. Bahkan, kadang ia curhat dengan perawat itu.


Ketika perawat lain datang, Via berpamitan. Ia kembali ke kamarnya. Langkahnya yang sangat pelan kadang menarik perhatian orang yang ia jumpai. Namun, Via tidak memedulikannya.


Sesampai di kamar, Bu Inah tidak sendirian. Ada Edi dan kakeknya di sana. Via sengaja tidak segera masuk, ia mendengarkan percakapan Edi dan Pak Adi.


“Candra sudah mencari tahu keberadaan Tedi?” terdengar suara Pak Adi bertanya kepada Edi.


“Sudah, Tuan. Sore itu saya mengirimkan alamat Tedi kepada Tuan Candra, beliau langsung menyuruh beberapa orang mencari Tedi ke rumahnya.” Edi terdengar menjawab


dengan sopan.


“Bagaimana hasilnya? Tedi sudah ditemukan?” tanya Pak Adi lagi.


“Apa mereka sudah bertemu keluarga Tedi?”


“Sudah, Tuan. Kata keluarga Tedi, anak itu tidak pulang sudah lebih dari tiga bulan. Sekitar empat bulan yang lalu, Tedi memang pernah pulang. Hanya sebentar, dua atau tiga


hari, saya tidak ingat persisnya.”


Suasana menjadi hening sesaat setelah Edi menjawab pertanyaan Pak Adi.


“Berarti, setelah berpisah dengan Farhan, Tedi tidak sampai ke rumah. Begitu, Ed?” suara Pak Adi terdengar agak lirih.


“Benar, Tuan. Itu yang membuat saya khawatir. Kebersamaan Tedi dan almarhum sudah dilihat anggota Kelelawar Hitam. Mungkin saja ia menjadi target mereka untuk meminimalkan saksi,” jawab Edi.


“Bagaimana dengan kemungkinan Tedi bagian dari mereka?” Pak Adi mengajukan pertanyaan yang membuat jantung Via berdebar sangat kencang.


“Ma—maksud Tuan, Tedi seorang pe—nyusup, begitu?” suara Edi terdengar bergetar. Sepertinya, ia tidak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu.


“Ya, begitulah. Kenapa dia meninggalkan Farhan? Bisa saja itu suatu trik agar dia selamat. Dia sudah tahu kalau mobil Farhan akan kecelakaan sehingga ia menghindar.”


Edi tidak menanggapi ucapan Pak adi. Via melihat Edi seperti berpikir. Akhirnya, Via


memutuskan untuk masuk dan ikut membicarakan kasus kecelakaan yang menimpa suaminya.


“Apa polisi sudah bisa memastikan penyebab kecelakaan yang menimpa Mas Farhan?” tanya Via sembari melangkah masuk.


Edi dan Pak Adi tampak terkejut dengan kehadiran Via. Mereka tidak menyangka kalau Via mendengar percakapan tentang kasus kecelakaan itu.


Edi menatap Pak Adi meminta izin untuk menjawab. Kakek kandung Via itu mengangguk memberi persetujuan.


“Sudah, Mbak. Seperti dugaan saya, kecelakaan itu memang bagian dari skenario mereka. Mobil yang dinaiki Mas Farhan bocor karena paku yang mereka sebardi jalan. Dipastikan Mas Farhan menambal ban begitu melihat ada tukang tambal ban. Saat melepas ban mobil, mereka menyabotase rem mobil sehingga rem blong. Mereka juga membuka


sedikit tutup tanki bahan bakr sehingga ketika ada guncangan keras tutup tanki terbuka, bahan bakar pun keluar membasahi mobil,” jelas Edi panjang lebar.

__ADS_1


Via terlihat geram. Kakeknya pun demikian.


“Tedi harus segera ditemukan. Kita harus memastikan dia bersih atau tidak. Jangan sampai ada penyusup di antara orang-orang kita,” gumam Pak Adi.


***


Azan ashar baru saja berkumandang. Bu InaVia sendiri berniat ke ruang peristi lebih awal. Ia ingin belajar memandikan bayi.


Dengan langkah perlahan, ia menuju ruang perawatan makhluk mungil yang baru lahir. Ia tampak begitu bersemangat.


“Mbak Via? Tumben sudah ke sini?” tanya seorang perawat yang berusia sekitar 40 tahun.


“Iya, Bu. Saya ingin belajar memandikan bayi. Boleh, kan? Tadi Mbak Nana mengizinkan,’ jawab Via sambil menatap penuh harap.


Perawat itu tersenyum. Ia tak mungkin menolak begitu saja permintaan menantu kepala rumah sakit.


“Mbak Via melihat dari dekat saja dulu, ya. Silakan Mbak Via mengamati cara memandikan bayi yang benar. Sementara, Mbak Via jangan langsung praktik!” kata si perawat.


“Takut mencederai bayi, ya?” ujar Via sambil menahan senyum.


“Selain itu, Mbak Via juga belum boleh menahan beban berat, apalagi dari posisi jongkok ke berdiri. Jahitan pada luka bekas operasi bisa bermasalah,” jawab perawat.


Via mengangguk paham. Ia menurut. Kali ini dia hanya memperhatikan para perawat memandikan bayi-bayi mungil yang menggemaskan. Via juga memperhatikan perawatan sesudah bayi dimandikan.


Setelah semua bayi dimandikan, Via ke inkubator bayinya. Ia menatap bayinya dengan tatapan haru. Bayinya terus bergerak.


“O iya, bayi Mbak Via dari tadi belum tidur. Ia seperti gelisah,” kata seorang perawat sambil


memberikan susu kepada bayi di dekat inkubator bayi Via.


“O ya? Kemarin-kemarin pernah seperti ini?” tanya Via.


“Tidak. Bayi Mbak Via jarang sekali rewel. Dari tadi pun dia tidak menangis, tetapi ia tidak tidur,” jawab perawat.


“Sayang, Dedek kenapa nggak mau bobok? Dedek kangen Bunda? Nih Bunda sudah di dekat Dedek. Atau ingin pulang? Sabar, ya! Bunda juga sudah ingin membawa Dedek pulang,” kata Via kepada bayinya.


Bayi Via terus menggerakkan tangan dan kakinya. Via tersenyum melihatnya.


“Atau Dedek kangen ayah? Bunda juga. Kita harus sabar, ya!” suara Via berubah parau. Tak


lama kemudian, air mata sudah menggenang di pelupuk.


Tepukan lembut perawat membuatnya tersadar untuk tidak hanyut dalam kesedihan. Ia kembali berdialog dengan bayinya. Via juga melantunkan sholawat dengan suaranya yang


merdu. Lama-kelamaan, bayi Via terlihat tenang, matanya terpejam.


“Dia ingin mendengar suara bundanya baru mau tidur,” gumam perawat sambil tersenyum.


Via pun memutuskan kembali ke kamarnya. Ia berpamitan kepada para perawat.


Saat di depan ruang peristi, Via berubah pikiran. Ia ingin berjalan-jalan sebentar. Ibu muda itu melangkahkan kaki perlahan ke lobi.


Mata Via menyipit


saat melihat sosok yang ia kenal. Seorang pria yang tengah berdiri di depan IGD


sambil memainkan ponselnya.  Ia sudah


cukup lama tidak bertemu dengan pria itu. Namun, ia masih tetap mengenal meski


dari jarak jauh. Via  berjalan mendekatinya.


***


Bersambung


Hayo, tebak siapa dia!

__ADS_1


Kemarin udah aku turuti update lbh dari satu episode. Mana nih dukungan buatku? Klik like, ketik koment, klik bintang 5 juga vote (seikhlasnya 🤭).


__ADS_2